Hancur, sedih dan terluka. Itulah yang dirasakan oleh Yasmin, betapa bejatnya lelaki itu melakukan hal keji itu kepadanya. Yasmin menangis semakin menjadi, ia jijik kepada tubuhnya sendiri karena sudah ternodai. Memperhatikan Yasmin yang sudah menangis menahan kesakitan dirinya, pria itu menjauhkan badan dari Yasmin. "Menjauh dariku! Aku gak sudi disentuh pria brengs*k sepertimu! Kenapa kamu tega malakukan ini kepadaku? Siapa kamu?" Segala tanya Yasmin curahkan, masih belum tahu jelas karena matanya ditutup. Detik berikutnya Yasmin berjingkat, ketika sebuah tangan menyentuh dan mengelus perut buncitnya. Rasa jijik makin bertambah. "Oh anakku ... tak kusangka jika kamu tumbuh di rahim ibumu, Nak," ungkapnya, bahkan dengan lancang melabuhkan kecupan. Kepalan tangan Yasmin ia tahan, and

