Karina POV Sikap Brahm semalam sungguh menyayat hatiku, seharusnya aku yang marah dengan caranya menutupi hubungannya dengan Meira. Bahkan jika Brahm memintaku untuk menjadikan Meira istri keduanya, aku bisa apa lagi. Kehidupan rumah tanggaku dengan Brahm hanya bertahan pada secarik kertas saja, tidak lebih. Kalau Brahm lebih memilih Meira, maka aku yang akan menyerah dan melepaskan Brahm. Saat Brahm menghampiriku semalam, rasa senang menghampiri namun hanya sekejap saja karena ternyata Brahm masih memojokkanku dan berkata seakan akulah biang permasalahan diantara kami. Mataku terbangun kembali dan kulihat masih pukul 5 pagi. Semalaman menangis membuatku tidak bisa tidur pulas, akhirnya kupaksakan unutk bangun dan bersiap-siap. Di kamar mandi, aku memikirkan hidupku kini. Hidup terkekan

