Karina adalah seorang wanita berusia 26 tahun. Mempunyai wajah blasteran Tionghua Pakistan menambah nilai kecantikan yang terpancar. Matanya berwarna cokelat hazel, hidungnya mancung tinggi dan bibirnya yang merah ranum tidak terlalu besar ataupun imut. Rambutnya ikal panjang alami dicat dengan warna burgundy. Tingginya simetris dengan lekuk tubuhnya, ideal bagi tinggi seorang wanita.
Sejak berusia 12 tahun, Karina menjadi seorang yatim piatu. Kedua orangtuanya mengalami kecelakaan tunggal. Begitu yang diberitahu kepadanya oleh ibu angkat yang mengasuhnya sejak dirinya kehilangan keluarga. Hidup berdampingan dengan keluarga barunya, merupakan sebuah tantangan baru bagi Karina. Walaupun Rina, ibu angkatnya menyayangi Karina dengan tulus tetapi tidak dengan anggota keluarga di dalam rumah itu.
Keterpaksaan membuatnya bertahan menghadapi caci dan maki dari mertua Rina yang tinggal serumah dengannya, karena mertua Rina merasa Karina adalah duri dalam daging bagi cucu-cucunya kelak. Apalagi Rina adalah seorang janda, pikiran sang mertua keuangan Rina tentu saja akan terganggu dengan bertambahnya beban ekonomi dalam keluarga.
Keadaan membuat Karina menjadi sosok remaja mandiri dan berusaha mencari penghasilan dengan cara membuat materi soal dan jawaban bagi teman sekelasnya untuk persiapan tes sekolah. Penghasilannya ia tabung bersama uang saku yang sering diberikan oleh Rina.
Saat kuliah Karina mendapatkan beasiswa, sehingga tidak membebankan ibu angkatnya. Hingga dirinya mempunyai pekerjaan sambilan sebagai administrasi, Karina memutuskan tinggal di sebuah kos-an dekat kampusnya. Setidaknya dirinya tidak lagi mendengarkan sindiran ataupun ucapan ketus di dalam keluarga ibu angkatnya.
Berlatar belakang kurangnya perhatian dan haus akan perhatian serta kasih sayang membuat Karina mempunyai cita-cita sederhana, ia hanya ingin dicintai dengan tulus. Doa yang selalu ia panjatkan kepada Yang kuasa setidaknya masa depannya dipenuhi dengan kebahagiaan dan bermandikan perhatian dari pria yang akan menemaninya seumur hidup.
Brahm, pemuda berusia 30 tahun, seorang CEO yang memimpin beberapa klub besar ternama dan beberapa kantor property lainnya. Berwajah tampan blasteran asia bule dengan rahang tegas dan sedikit jambang yang dibiarkan tumbuh tipis, dengan tinggi 185cm, mempunyai postur tubuh tegap, punggung lebar.
Ditinggalkan kedua orangtuanya saat remaja dulu, memaksa merubah sikap Brahm menjadi sosok yang keras dan tegas. Saat papa Brahm meninggal ototmatis dirinya menjadi pewaris utama. Namun karena saat itu usianya baru beranjak 16 tahun, dirinya harus menghadapi kenyataan kejamnya dunia bisnia. Orang-orang yang disangkanya sebagai partner kepercayaan sang papa, justru sekaligus sebagai orang yang menusuk ketika mengetahui Damian meninggal.
Jiwa pemimpin yang mendarah daging disertai tempaan kerasnya dunia yang terpaksa harus ia pelajari, membuatnya menjadi sosok pemuda tegas, berwibawa. Tatapan matanya mampu mengintimidasi lawannya menjadi ketakutan dan berharap berlalu dari pebisnis bertangan dingin ini.
Berwajah tampan, dilengkapi paket tubuh atletis dan sikapnya yang dingin, membuat setiap wanita yang melihatnya akan mencoba untuk menarik perhatian Brahm hanya demi sebuah tatapan mata elang yang menggoda tersebut. Brahm sebenarnya pemuda yang baik hati, namun anak buahnya sering memakai namanya untuk berbuat diluar peraturan bahkan terkadang bertindak sedikit kejam, karena seperti itulah dunia bisnis. Brahm sendiri tidak bisa melarang mereka namun juga tidak membenarkan perbuatan tersebut, sehingga ia menerima dijuluki seorang mafia bisnis.
Dalam hidupnya hanya ada seorang wanita yang pernah menyentuh hati Brahm hingga memutuskan untuk menetapkan hatinya kepada wanita tersebut. Sayangnya, Brahm tidak pernah mengungkapkan perasaannya karena takut tertolak. Seorang pemuda pujaan wanita ini bahkan bisa merasa takut di tolak.
***
Kejadian panas kedua antar Karina dan pria yang sampai sekarang tidak diketahui identitasnya oleh Karina masih terus membekas dalam bayangannya. Dirinya akan menikah namun justru bayangan pria itu yang selalu saja muncul dalam mimpinya. Tidak mungkin juga Karina mencintai pria jadi-jadian itu bukan?
Sementara rencana Brahm semakin mendekati akhir, dirinya sudah tidak sabar untuk segera mendapatkan Karina. Beberapa bulan menahan diri dari godaan bayangan wajah Karina sungguh menyiksa dirinya sebagai laki-laki normal, sedangkan ia tidak akan mau menyalurkan hasratnya kepada wanita manapun bahkan dengan seseorang yang masih merasa berstatus istri Brahm.
“Leon, kamu desak laki-laki itu untuk segera memberikan keputusannya, sampai akhir bulan ini kalo sampai belum ada keputusan, berkas hutangnya kita limpahkan ke kepolisian. Sebenarnya aku tidak mau berurusan dengan polisi, ribet nanti malah makin panjang urusannya, jadi kamu atur dengan laki-laki itu secepatnya. Cara apapun kamu pakai selama tidak bersinggungan dengan hukum.“
“Oke bos, aku akan atur.”
Ketika ingin berbalik badan, Leon membatalkan niatnya dan menanyakan sesuatu yang mengganjal pikirannya mengenai kasus aneh ini. “Ehm, apa bos setuju dengan isi surat perjanjiannya? Bos mau poligami nih ceritanya.“
Brahm tidak menjawab, hanya menunjukkan seringai tatapan mata tajam tanpa segaris senyum kepada Leon. Melihat reaksi Brahm, Leon hanya tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya merasa sudah salah bicara dengan sang bos sekaligus sahabatnya dari kecil.
“Oke bos. Ngak nanya lagi.” Sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat, Leon segera berbalik dan melangkah keluar sebelum kepalanya digantung di depan gedung kantor ini.
“Ingat jangan sampai ada masalah kali ini, dan satu hal lagi, Meira tidak boleh tahu tentang hal ini.“
“Siap Pak.” Ucap Leon tanpa berbalik badan dan terus melangkah menuju pintu. Leon adalah sahabat terbaik dan terdekat di sisi Brahm. Orang kepercayaan Brahm yang ia tahu akan selalu membela dirinya kapanpun ia membutuhkan bantuannya.
Brahm mempunyai seorang istri yang hanya dinikahi secara agama dank arena perjodohan. Istrinya bernama Meira, mereka belum dikaruniai anak. Awalnya Brahm berusaha untuk mencintai Meira, namun karena sebuah kesalahan yang diperbuat Meira membuat Brahm membencinya dan mulai menjauhinya sejak itu.
Memimpikan cinta sejati menghampirinya dan menikah dengan seorang pangeran seperti dalam dongeng putri kerajaan, merupakan impian seorang Karina. Bertemu dan dicintai oleh Charles yang selalu memuja dirinya merupakan jawaban atas impiannya.
Namun sayang, impian itu hanya sampai sebuah pesta pernikahan. Arti dari bahagia sampai maut memisahkan, rasanya hanyalah sebuah lelucon yang tidak pernah dibayangkan oleh Karina. Pria yang diharapkan akan menjaga dan melindunginya, justru adalah pria yang menjerumuskan Karina berada dalam kehancuran yang mematahkan diri Karina tentang arti sebuah ikatan suci.
Kejutan yang dijanjikan suaminya kepada Karina nyatanya menjadi awal mula kehidupan seorang Karina berubah seketika. Impian putrid yang selalu dilindungi dan dicintai dengan tulus oleh sang pangeran, nyatanya bukanlah ada dalam diri suaminya itu.
Disebuah kamar, Karina menikmati sentuhan demi sentuhan jari-jari lembut yang mengabsen bagian demi bagian tubuhnya. Dalam pengaruh obat yang ditaruh dalam minumannya membuat Karina berhalusinasi jika saat ini dirinya sedang memadu kasih dengan suaminya. Bahkan dalam ketidaksadarannya Karina merasa nyaman dan seperti pernah merasakan rengkuhan lengan berotot pria dihadapannya ini. Lumatan demi lumatan yang ia rasakan seperti dalam adegan dalam mimpinya.
“Sebenarnya kamu siapa? Kenapa kamu selalu menggodaku?” Tanya Karina dengan mata sendunya menatap Brahm.
Awalnya Brahm panik merasa dirinya ketahuan oleh Karina, namun detik kemudian Karina tersenyum sambil memejamkan mata membuat Brahm mengetahui Karina sedang berhalusinasi.
Nyatanya laki-laki yang sedang menikmati madu manis tubuh Karina yang akan membuat hari-harinya terperangkap dalam genggaman laki-laki tersebut. Brahm yang sudah menguasai dan menyicipi tubuh indah Karina berjanji tidak akan melepaskan wanita yang sudah berhasil membangkitkan kembali hasrat kejantanannya yang pernah mati.
“Kamu bukan lagi miliknya, tapi milikku. Tidurlah dengan nyenyak karena esok hari, kamu harus belajar untuk mencintaiku dengan caraku, suka atau tidak suka.” Ucap Brahm bermonolog seraya menatap wanita yang baru saja memuaskan dirinya, membenarkan helaian rambut di depan wajah Karina.
Ia mencium kening Karina dan berikrar dalam hati tidak akan melepaskan wanita yang menjadi pilihannya sejak dulu. Malam ini adalah malam di mana Brahm menjadi gila, sisi buas yang ia pendam akhirnya dapat tersalurkan dengan wanita yang ingin ia lindungi sejak dulu. Cinta? Entahlah, belum terpikirkan olehnya apakan perasaaannya saat ini adalah cinta. Biar waktu yang menjawab semuanya.
“Apa kita benar-benar sudah melakukannya? Kamu berani sekali datang dalam mimpiku dan terus menggodaku seperti ini. Nanti suamiku marah.” Gumam Karina melantur dalam pelukan Brahm.
Brahm terkekeh dengan igauan Karina. kemudian ia beranjak dari ranjang setelah mengecup kening Karina, memakai pakaiannya kembali dan keluar. Inginnya Brahm untuk tidur di samping Karina, namun ia sadar waktunya belum tepat.
Terdapat dua penjaga yang berjaga di depan kamar itu. “Kunci pintu ini, jangan biarkan siapapun masuk kecuali aku!” Perintahnya kepada dua penjaga tersebut.
Silaunya cahaya mentari yang menyapa, memaksa mata Karina untuk terbangun dan membuka kelopak matanya. Perlahan-lahan ia mengulurkan tangannya ke samping, terasa dingin. Keningnya berkerut, tidak biasanya sang suami terbangun lebih dulu dari dirinya. Dengan malas Karina membuka matanya, mengumpulkan kesadarannya seraya melihat sekitarmua.
‘Kayaknya aku ngak ingat pernah ganti seprei deh.’ Batin Karina bermonolog menyadari corak pelapis kasurnya yang berbeda.
Bola mata Karina hampir keluar ketika menyadari dirinya sedang tidak berada di dalam kamar rumah mereka, Jantungnya seketika seperti menabuh gendering ketika menyadari kulit tubuhnya merasa dingin. Perlahan membuka selimut dan melihat ke dalam. Membuatnya semakin terkejut karena tubuhnya polos tanpa memakai sehelai benangpun. Hanya tertutup selimut.
‘Astaga! Di mana aku?’ Terkejut melonjak duduk dari tidurnya.
Karina mencoba berpikir positif kalau dirinya telah menghabiskan malam panas dengan suaminya di kamar yang dirinya tidak tahu tempatnya. Seluruh kamar ini tidak berjendela, hanya terdapat satu pintu.
Karina bergegas turun mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai, memakainya secepat mungkin. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi mencari seseorang dalam pikirannya. Tetapi hasilnya nihil.
‘Apa dia cari sarapan yah? Tapi ini di mana? Kenapa gua ngak ingat yah semalam ngapain sama Charles. Trus dia mau ngasih kejutan, kejutan apa?’
Malas menjawab semua pertanyaan yang berputar dibenaknya, Karina memutuskan untuk keluar kamar mencari tahu di mana dirinya berada dan mencari keberadaan sang suami.
Ketika tangannya memutar pegangan pintu, ternyata terkunci. Tidak terlihat kunci menggantung di pintu itu.
‘Loh, kok ngak ada kuncinya.’
Karina mulai mendorong-dorong pintu kamar itu.
“Buka pintunya, aku mau keluar! Kenapa aku dikunci?”