Bab 6. Salah Paham

1527 Kata
Di kamar inilah awal pertemuan Karina dan Brahm. Pertemuan yang tidak pernah diharapkan Karina, tapi tidak dengan Brahm. Dirinya memang sengaja membuat semua jebakan dengan tujuan menjadikan Karina sebagai istri sahnya. Namun Brahm berpikir kalau perbuatannya adalah sebuah suratan takdir. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, dengan siapa kita menikah, dengan siapa kita akan berbahagia. Semua adalah misteri Tuhan dalam hidup manusia. Bagi Brahm Tuhan yang memang berencana, namun kita sebagai manusia yang harus berusaha agar rencana Tuhan dapat tercapai pada hidup umatnya. Brahm berdiri dan mendekati Karina yang masih menangis meratapi nasibnya. Membelai pucuk kepala wanita itu bermaksud untuk menenangkannya, namun Karina menepis tangan Brahm. “Aku akan membiarkanmu sendiri, makan sarapanmu. Ponselmu boleh kamu pakai, jangan coba-coba mencari cara untuk kabur, karena aku sudah meretas ponsel milikmu. Hubungi mantan suamimu dan minta penjelasan tentang status kalian. Menjelang sore aku akan kembali lagi.” Setelah itu, Brahm keluar meninggalkan Karina dengan membawa serta kekesalannya. Kemudian terdengar kembali suara derit kunci memutar. Yang artinya Karina tetap menjadi tawanan di dalam kamar tersebut. Tangis Karina menemaninya mencicipi sarapan pagi yang sudah disiapkan, bagaimanapun ia harus mengisi perutnya yang sudah berteriak lapar. Karina melihat kembali ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Beranjak kearah kasur lalu duduk, ia mengambil ponsel miliknya untuk menelpon seseorang yang masih menjadi suami bagi Karina.. Nada sambung demi nada sambung terdengar di telinganya, terus menerus demikian hanya nada sambung yang cukup lama, namun tidak diangkat. Pantang menyerah, Karina mencoba menelponnya lagi dan tidak diangkat, ia terus melakukan hal yang sama sampai empat kali. Air mata sudah tumpah ruah berjatuhan, rasa takut terus menderanya, menyangkal dalam hati kalau ketakutan atas tuduhannya terhadap Charles salah. Tapi, kenyataannya sang suami tidak menjawab panggilannya. Tidak seperti kebiasaan Charles yang akan dengan cepat menerima panggilan masuknya seberapa sibuknya ia bekerja. Akhirnya Charles mengangkat panggilan telepon darinya namun Karina tidak mendengar suara sambutan Charles menjawab. "Halo, Charles. Kamu dimana, Sayang. Kenapa kamu tinggalin aku disini? Katanya kamu mau kasih kejutan buat aku. Jangan bilang kalau ini kejutannya. Cepetan ke sini, Charles. Aku takut." Rajuk Karina dengan suara bergetar menahan isakan tangisnya. Rasa kecewa mulai hinggap karena hanya desahan nafas di sebrang sana. Lama kelamaan Karina geram dengan tingkah suaminya. "Charles! Semalam kamu, kita.. Kenapa aku tidak mengingat kalau semalam kamu membawaku ke…" Merasa geram karena Charles tidak juga memberikan jawaban, Karina berteriak dengan pilunya. "Charles!! Kenapa kamu diam saja!! Jawab!" Lirih dengan isak tangisnya semakin menggelegar. Akhirnya suara Charles pun terdengar terbata-bata, rasa bersalah menyergapinya saat ini. "Aku, aku..." Mendengar suara suaminya menjawab, nada bicara Karina memelas kembali. Masih berharap ini mimpi, Charles hanya sedang mengerjainya dengan melakukan sandiwara yang sangat tidak lucu ini. "Tolong jemput aku. Kenapa aku dikunci disini. Ini sudah tidak lucu lagi Charles! Kita bicarakan dirumah. Aku butuh penjelasanmu. Ayo datang ke sini, aku kangen sama kamu, aku takut, Charles." "Maafkan aku Sayang, aku terpaksa melakukan ini untuk kebaikan kita berdua." "Kebaikan apa maksudmu? Kebaikan perusahaan kamu maksudnya!" Charles mencoba tegar dan memberanikan diri menjawab pertanyaan Karina. Bagaimanapun semuanya sudah terjadi, nasi sudah menjadi tepung. Tidak mungkin lagi Charles mundur. "Aku berhutang besar pada seorang CEO yang ternyata cara berbisnisnya seperti mafia, karena aku tidak dapat membayar hutangku, maka aku menyerahkan kamu kepadanya sebagai jaminan." Telinga Karina tidak dapat mempercayai perkataan suaminya yang menganggap dirinya seperti sebuah barang. Selesai sudah kesabarannya terhadap Charles. "Apa Salahku, Charles!! Kenapa kamu tega!! Aku ini istri kamu, bukan barang!" Tangis Karina pecah kembali meratapi kekecewaannya. "Aku terpaksa, Sayang. Kelak jika aku dapat membayar hutangku, aku akan menikahimu kembali." Ucapan Charles memberikan sebuah kepahitan atas kenyataan yang harus Karina telan setelah kekecewaan yang belum terobati. Semudah itu Charles mempermainkan sebuah pernikahan hanya demi menyelesaikan masalahnya. "Apa maksud kamu dengan menikahiku kembali? Kita ngak bercerai kan? Please, Charles. Jangan buat aku gila." Karina semakin bertambah bingung dan frustasi karena masih menyangkali perkataan Charles. "Waktu kamu tidak sadarkan diri kemarin, kita sudah menandatangani surat perceraian kita sekaligus aku menyetujui pernikahan kamu dengan pria itu karena syarat yang diminta di surat perjanjian seperti itu." “Kenapa kamu mau menyetujuinya!” “Waktu aku tandatangan, aku tidak memperhatikan poin penting itu, Sayang. Maafkan aku.” Charles pun segera mematikan ponselnya dengan mengakhirinya dengan berucap, "Sekali lagi mohon maafkan aku. Percaya padaku, kalau aku akan menikahimu." Hati Karina begitu hancur dengan semua yang didengarnya, bagai dihujam dengan pisau bertubi-tubi, hidupnya sudah dihancurkan dengan dijual sendiri oleh suaminya. Disusul dengan kenyataan bahwa ia sudah bercerai dari Charles. Betapa tega suaminya sendiri sudah mentah-mentah menipu dan menjualnya seperti barang dagangan yang tidak berharga. "Apa salahku sampai suamiku sendiri tega melakukan hal ini. Terus, semalam... Apa dia yang sudah melakukannya." Arg! Aku bisa gila!” Karina kembali menangis, duduk di lantai bersandar di sisi kasur. Kesadarannya menurun karena lelah menangis, akhirnya Karina tertidur di atas lantai. Brahm tidak tenang melakukan pekerjaannya, sebelum makan siang, ia meminta asistennya untuk membatalkan semua meeting dan menggantikan pekerjaannya di kantor. Brahm kembali ke ruangan untuk menemui wanita yang sudah menarik dunianya sejak awal mereka bertemu kembali. Karina adalah wanita yang sudah berhasil membuatnya hilang fokus mengurusi bisnisnya hari ini. Saat membuka pintu kamar, Brahm menggelengkan kepalanya saat melihat Karina sedang tertidur di lantai. Brahm melangkah mendekati dan mengangkat tubuh Karina ke atas ranjang. Kemudian ia melihat ponsel yang tergeletak di lantai. “Kamu pasti terluka dan kecewa. Tapi itu hanya sementara. Setelah ini aku akan memastikan hidupmu akan berbahagia bersama denganku.” Tersadar karena sentuhan di pipinya, Karina membuka mata. Sontak terbangun dan membangunkan diri duduk menarik selimut menutupi tubuhnya yang masih berpakaian lengkap. “Aku bawakan makan siang. Sarapan kamu ngak habis, nanti kamu sakit. Sekarang kamu temani aku makan siang. Tidak ada penolakan.” Perintah Brahm. Bukannya menurut, Karina malah mengajukan pertanyaan kepada pria yang ia tidak tahu siapa namanya. "Siapa nama loe?" Tanya Karina dengan ragu. “Kamu boleh panggil aku Brahm." Jawabnya dengan angkuh menatap dingin ke arahnya. “Kenapa loe mau terima gua waktu suami gua nawarin istrinya ke loe? Gimana nasib istri loe di rumah kalau tahu suaminya kayak gini?“ Brahm menatap dalam melihat bola mata coklat yang sudah melembut itu. Rasa lega setidaknya Karina sudah tidak meluapkan emosinya seperti tadi walaupun perkataannya masih ketus. "Aku sudah menikah namun tidak secara resmi, dan bukan urusanmu aku mau atau tidak menerimamu. Satu hal lagi, dia bukan suami kamu, sekarang aku suami kamu. Jangan pernah mencoba untuk menghubunginya lagi setelah ini. Karena aku yakin kamu pasti sudah membencinya, bukan?" Air mata Karina jatuh mengalir, ia tidak dapat membendung rasa sedihnya dengan nasib yang menimpa dirinya saat ini. Karina seperti mendapat kilatan ingatan malam tadi, saat Charles membuat Karina mabuk, dan meminta Karina menandatangani beberapa dokumen yang diakui dari mulut Charles sebagai ikrar janji cinta mereka, Karina yang dalam pengaruh alkohol mengikuti kemauan Charles tanpa merasa curiga sedikitpun. ‘Aku bukan orang jahat. Mengapa harus menerima hukuman seperti ini.’ hati Karina menangis meratapi nasibnya. Tiba-tiba sebuah tangan membelai pipinya, menyapu air mata Karina dengan lembut. Karina menatap Brahm yang sedang membelainya. Tatapannya berbeda saat awal mereka bertemu tadi. Tatapan kali ini lebih lembut dan menghangatkan hati Karina. "Aku tahu kamu pasti hancur dan sedih, tidak akan ada wanita yang siap jika mengalami posisi kamu. Namun, terima saja nasibmu sekarang. Aku pastikan hidupmu akan jauh lebih baik dari sebelumnya, asal kamu selalu menuruti perintahku. Apapun kebutuhanmu akan aku sanggupi, asalkan kamu selalu tampil cantik alami dihadapanku, rawat dirimu sebaik mungkin." "Maksud loe?" "Kamu istri sahku sekarang dan aku hanya minta kamu harus menuruti semua keinginanku di saat aku pulang ke rumah ini. Yah, ini rumah yang akan kita tinggali bersama terhitung mulai hari ini. Malam ini kamu akan tinggal dan tidur sekamar seranjang denganku. Satu lagi, pakai bahasa sopan ketika bicara denganku." Karina hanya menunduk, ia tidak menjawab ataupun menyangkal, berusaha beradaptasi dengan nasib yang ada dihadapannya sekarang. Pasrah dan mencoba memahami situasinya. Mungkin kata yang lebih tepat saat ini untuk mengamankan dirinya sendiri. "Setelah makan siang, ganti pakaianmu. Gaun mu sudah kusediakan di kamar mandi. Jangan lama-lama, aku tunggu 1 jam. Mandi dan rias wajahmu secantik mungkin." Perintah Brahm sambil beranjak menuju meja tempat makan disediakan. Namun pikiran Karina saat mendengar perintah Brahm barusan menyangka kalau Brahm sedang menyuruhnya membersihkan diri, berdandan cantik untuk bersiap-siap melayaninya sejam lagi. Tentu saja dalam pikirannya, hal ini terlalu cepat. Apalagi harus melayani seorang laki-laki yang baru dikenalnya, sangat tidak mungkin. Mata nyalang Karina menatap Brahm mengibarkan permusuhan kembali dengan laki-laki itu. “Jangan loe pikir dengan bersikap baik, terus gua mau aja tidur sama loe! Ngak akan!” Penolakan dan perkataan Karina tentu saja memantik jiwa seorang Brahm yang tidak pernah ditolak keinginannya. Brahm berusaha mengendalikan emosinya, ia memejamkan mata dan mengepal tangannya kuat lalu kembali menatap tajam pada wanita itu. Brahm yang tadinya duduk bersiap untuk makan siap, beranjak kembali mendekati Karina yang masih duduk diam di ranjang. Setengah menunduk berbisik di telinga Karina. “Kalau aku mau menikmati tubuh kamu, tidak perlu aku bersikap sebaik ini sekarang. Kamu lupa kalau aku bisa dengan mudah membuat kamu berada dalam genggamanku hanya dengan sekali tarikan.” Kemudian ia memundurkan kepalanya, menatap serta mengusap pipi Karina. “Atau mungkin kamu mau mencobanya sekarang?” Godanya menyeringai. “Kamu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN