"Ndu, kamu tahu Pak Ari?" Mata Irhen membulat sempurna seolah hampir copot dari tempatnya.
"Katanya dia di mutasi." Kata-kata Irhen penuh penekanan dengan suaranya yang dalam, ia berharap hanya Rindu yang mendengarnya.
Irhen sudah memberondong Rindu dengan gosipnya pagi ini. Gadis itu ditarik ketika ia baru saja menyimpan tasnya di dalam loker dan siap untuk bekerja di mejanya seperti biasa. Kata mutasi sekarang terdengar sedikit mengerikan bagi Rindu setelah Irhen menceritakan bahwa kata itu hanya digunakan untuk mereka yang menghilang dari perusahaan karena sudah melakukan kesalahan dan akan berakhir di rumah sakit, itu juga kalau mereka cukup beruntung.
Tapi meski begitu Rindu tetap saja merasa bahwa Chris tidak sejahat itu, apa yang Irhen dengar pasti hanya gosip yang beredar di antara para karyawan yang tidak bertanggung jawab terlebih ketika Rindu ingat bagaimana Chris tersenyum kepada ayahnya tadi malam dan bersikap ramah seolah mereka berdua cukup dekat, andai saja Irhen mengetahui hal itu ia mungkin akan menginterogasi Rindu lebih gila daripada kemarin.
"Ndu, kamu kayaknya nggak takut sama sekali ya dengar cerita aku?" Irhen tampak keheranan karena Rindu hanya diam mendengar ceritanya namun seolah isi kepalanya tidak ada di sini bersama raganya.
Rindu hanya tersenyum tipis mengobati rasa kecewa Irhen karena ceritanya tidak dianggap serius oleh temannya itu sampai Irhen kembali mengingatkan Rindu bahwa Chris bukanlah orang yang bisa ia dekati.
"Kan aku udah bilang kalau aku sama Pak Chris itu nggak ada hubungan apa-apa dia cuma tolongin aku karena aku karyawannya, nggak lebih." Rindu mencoba meyakinkan Irhen tentang penjelasannya tempo hari. "Dan di sekitar Pak Chris juga pasti banyak perempuan luar biasa yang lebih masuk akal untuk ia dekati."
Namun Irhen tampak tidak setuju, ia memutar bola matanya dan melipat tangan di d**a menatap Rindu. "Kita tahu betul kalau enggak ada cowok kamu itu, berapa banyak karyawan di sini yang akan menyatakan cinta ke kamu."
"Itu dua hal yang berbeda, selera mereka mungkin kayak aku. Tapi Pak Chris?" Rindu menggelengkan kepala sebagai tambahan jawaban darinya.
"Tapi, Ndu ...."
Rindu membawa tumpukan berkas yang akan diserahkan ke departemen lain untuk di follow up dan melambai pada Irhen tanpa menoleh pada temannya itu, bagi Rindu kekhawatiran Irhen terlalu berlebihan. Chris bahkan mungkin hanya menganggapnya angin lalu saja.
Gadis itu membuka sudut berkas yang ia bawa, memeriksa apa semuanya sudah benar dan tidak terlewat sembari menunggu lift terbuka. Gadis itu melangkah masuk ketika bunyi lift terdengar dan pintunya terbuka sedang ia hanya menunduk melihat berkas miliknya kemudian berbalik dan menekan tombol di mana lantai yang ia tuju.
Rindu terkejut hingga bahunya tersentak ketika melihat bayangan Chris memantul pada dinding lift, bahkan pria itu berdiri tepat di belakangnya. Rindu langsung menggeser tubuhnya ke sisi sebelah kanan lift dan sedikit membungkuk sebagai permintaan maaf. Ia tidak tahu ada Chris di sana dan kesalahan yang ia buat pasti cukup fatal mengingat Chris tidak suka seseorang berlaku tidak sopan kepadanya. Rindu bisa melihat seorang pria yang berdiri di samping Chris memberinya isyarat agar Rindu menjaga sikapnya namun Chris tidak bereaksi, ia bahkan tidak menatap Rindu sama sekali seolah keduanya tidak pernah saling bersinggungan. Suara denting lift berbunyi dan Chris keluar lebih dulu meninggalkan Rindu sendirian di dalam sana, lututnya langsung lemas saat itu juga.
Garis wajah Chris yang tegas memang terlihat menyeramkan namun setiap kali melihat iris matanya yang biru, Rindu selalu tahu bahwa ada sisi lembut dari pria itu meski tidak ia tunjukkan, ada perasaan aneh yang membuat Rindu betah menatap matanya.
Rindu menyerahkan berkas ke departemen keuangan namun di sana tengah ramai, mereka tidak lagi berbisik namun berbicara dengan lantang mengenai mutasi Pak Ari, orang yang sama yang Irhen sebutkan namanya pagi ini. Dari sekilas yang Rindu dengar, pria itu membocorkan data perusahaan kepada perusahaan pesaing.
"Istrinya bilang, semalam Pak Ari dipanggil ke rumah Pak Chris."
"Loh, si Anto juga sama. Semalem sepulang kerja kita lagi minum kopi dan asistennya Pak Chris suruh dia datang ke rumahnya."
"Terus si Anto juga sekarang enggak masuk?"
Pembicaraan itu terlalu jelas Rindu dengar bahkan sampai-sampai Rindu lupa tujuannya datang ke ruangan tersebut untuk apa.
"Rindu?" tegur seorang perempuan yang duduk pada salah satu meja di ujung ruangan, wanita berkacamata itu tampak memijat kepalanya berkali-kali ketika Rindu menghampirinya.
"Bu Dyah, ini ada berkas dan beberapa surat yang dikirim pagi ini."
"Eum, simpan di situ. Makasih ya Rindu."
Rindu mengangguk kemudian berjalan pergi setelah tugasnya selesai, tapi sampai ia pergi pun pembicaraan tentang Pak Ari belum juga selesai. Rindu penasaran juga mendengar cerita mereka karena sejujurnya Rindu masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Pak Bowo sudah berdiri di depan meja resepsionis dengan sebelah tangannya bersandar pada meja dan sebelah lainnya bertolak pinggang. Ia tengah berbicara dengan Irhen dan seorang perempuan yang mengenakan pakaian hitam putih.
"Nah ini dia." Pak Bowo langsung melambaikan tangan ketika membalik tubuhnya dan melihat Rindu yang berjalan ke arah mereka. "Rindu, sini!"
Rindu membungkuk sedikit selagi berjalan mendekat. Pak Bowo tampak menyapanya sambil tersenyum padahal pria itu biasanya mengomel pada Rindu bahkan meski Rindu tidak melakukan kesalahan sehingga ia dan Irhen selalu mengolok-oloknya di belakang.
"Ini Indah, dia akan training selama 3 bulan untuk bagian resepsionis. Saya akan tempatkan dia satu shift dengan kamu dan kamu yang bertanggung jawab atas kinerjanya."
Bagian resepsionis memang memiliki dua shift kerja dan pergantian shift dilakukan setiap satu bulan sekali tapi anehnya ia lebih sering dipasangkan dengan Irhen, dari gosip yang ia dengar melalui Irhen, tentu saja, itu karena Pak Bowo memiliki hubungan spesial dengan Nella, salah satu staff resepsionis juga dan ia selalu menempatkan Nella dengan sahabatnya. Fory.
Pak Bowo mungkin berpikir hubungannya tidak diketahui orang lain, padahal Rindu dan Irhen sudah pernah memergoki mereka satu mobil dan tertawa bersama dengan akrab seperti bukan hubungan antara atasan dan bawahan.
"Padahal istrinya Pak Bowo galak banget loh!" Begitu komentar Irhen ketika satu waktu mereka melihat pemandangan itu.
"Pantes si Nella masuk middle terus biar dia bisa nyaman kalo mau berduaan." Atau komentar lain dari Irhen. "Kerjaan si Nella sama Fory kan dikit, kita itu tumbal, Ndu! Tumbal!!"
Rindu mendapat banyak asupan gosip setiap kali bekerja bersama Irhen, tapi ia harus bersyukur juga karena Irhen orang yang menyenangkan sebagai teman.
"Rindu! Kamu dengar saya bicara, kan?"
Rindu yang tengah melamun langsung terkejut ketika Pak Bowo menyebutkan namanya dengan penuh penekanan.
"Baik, Pak."
Pak Bowo kemudian meninggalkan meja resepsionis dan kembali ke ruangannya membiarkan Rindu dan Irhen menyapa gadis baru itu. Indah baru saja lulus kuliah dan langsung melamar ke berbagai tempat tapi impiannya memang bekerja di PT Royal Telecom ini. Gadis itu tampak cerdas dan bersemangat, Rindu cuma berharap ia bisa memiliki teman lain dan Indah tidak terlalu merepotkan.
"Ndu, kamu dari departemen keuangan, kan?" tanya Irhen penasaran, gadis itu bahkan menggeser Indah dan mendekat pada Rindu.
Rindu mengangguk sambil menautkan kedua alisnya dengan lucu menatap Irhen.
"Bener kan yang aku bilang tadi?" Irhen menatap Rindu menunggu jawabannya dengan tidak sabar.
Rindu hanya mengangkat kedua bahunya tanpa mengatakan apa pun dan membuat Irhen semakin penasaran saja.
"Mereka pasti lagi ngebahas Pak Ari, kan?" Irhen masih belum puas dan memberondong Rindu dengan pertanyaan yang sama.
"Iya, katanya dia di mutasi."
Irhen langsung bertolak pinggang ketika Rindu menanggapi ocehan Irhen dengan santai.
"Sumpah yaa si Rindu, ini serius banget loh!" Irhen menekan semua kalimatnya dengan nada suaranya yang pelan.
"Pak Ari itu siapa, Kak?" tanya Indah yang sejak tadi mendengarkan mereka. Irhen dan Rindu tidak menyadari kehadirannya dan sekarang mereka jadi diam, keduanya sepakat untuk tidak membuat anak baru itu berspekulasi negatif di hari pertamanya bekerja.
Rindu tidak mengatakan apa pun kepada Irhen karena ia tahu pemikiran Irhen bisa membuatnya berpikir serupa, apalagi berita semacam itu semakin kencang berhembus. Rindu mencoba untuk tidak percaya kecuali ia melihat langsung kegilaan itu di depan matanya.
Chris bersandar pada sofa dalam ruang kerjanya, kepalanya menengadah dengan matanya yang tertutup dan tangan yang ia rentangkan di kedua sisi.
"Kau sudah membereskan mereka?"
"Sudah, dokter Tyo juga sudah datang. Mereka akan pulih dalam satu minggu," jawab seorang Pria berbadan tinggi dengan kacamata yang ia gunakan, pria itu berdiri di samping sofa dan tangannya tidak pernah lepas membawa tablet yang berisi seluruh jadwal kerja Chris setiap harinya, ia juga orang kepercayaan yang mengetahui segala tindak tanduk Chris dalam dunia bisnis. Termasuk bagaimana pria itu menghancurkan orang yang mengkhianatinya.
Chris tidak tersentuh hukum, ia tahu bagaimana bermain aman meski di tepi jurang, ia tahu harus melakukan apa saat dirinya dalam bahaya, pria itu tidak pernah kehilangan fokusnya sendiri.
Chris membuka matanya kemudian menegakkan tubuhnya dengan kedua siku yang berpangku di atas lutut. "Kalau keadaan mereka sudah pulih, kita bisa mengajak mereka bermain golf lagi, bukan?"
Pria berkacamata itu tidak terkejut mendengar ucapan Chris meski di dalam kalimatnya terdengar sebuah kengerian yang jelas. Ini bukan kali pertama dan ia tidak pernah membantahnya.
"Saya juga sudah mendapat informasi tentang perempuan yang Anda minta."
"Benarkah?" Chris langsung menegang ketika asistennya itu berbicara mengenai wanita yang ia cari selama beberapa tahun terakhir ini. "Jelaskan!"