Kini, Emira, Lyra beserta suami dan juga mama Emira sudah berada di rumahnya.
Tadi, mama Emira saat sampai tidak langsung pulang ke rumah, akan tetapi mampir terlebih dahulu ke rumah Rasya untuk menjemput anak-anaknya. Tidak lupa mama Emira mengucapkan terimakasih pada mama dan papa Rasya saat akan pamit untuk pulang.
"Ma, gimana keadaan papa? Kok mama udah pulang?" Itu yang pertama Emira tanyakan pada sang mama.
"Biar mama istirahat dulu." Lyra yang menjawab.
Raut wajah Mama Emira pun tampak murung. Emira mengamati. Ada apa kira-kira?
Mama Emira malah memasuki kamarnya. Tidak merespon pertanyaan putrinya. Oh.. oke, mungkin mama masih capek. Biar nanti Emira tanyakan lagi kalau lelahnya sudah hilang.
Emira dan Lyra berada di dapur. Berniat membuat makanan untuk makan siang. Tapi, Lyra pikir mendingan pesan online aja atau jalan ke depan ke warung padang.
Pesan makanan online akhirnya yang mereka putuskan. Dan selama di dapur Lyra hanya membuat minum teh hangat untuk suami dan sang mama.
Emira yang mengantarkan teh hangat ke kamar mama. Saat membuka pintu, Emira melihat mama sedang membolak-balik kertas yang berupa surat-surat penting sepertinya. Emira melihat kertas-kertas berserakan di lantai keluar dari map nya. Apa yang mama cari? batin Emira.
"Ma, nge teh dulu nih ma." Ucap Emira hati-hati. Emira merasa suasana hati sang mama sedang tidak baik.
Mama Emira tidak merespon, masih fokus pada kertas-kertas di depannya.
Emira letakkan saja teh hangatnya di atas meja nakas. Lalu Emira keluar kamar mama.
Emira menuju ruang keluarga dimana di sana ada Lyra dan suaminya. Mungkin kakak tau kenapa mama tiba-tiba pulang. Emira pun bertanya. " Kak, sebenernya ini lagi ada apa sih kak?"
"Nanti aja, kamu juga bakalan tau."
"Kenapa gak bilang sekarang aja sih? Aku penasaran banget, kak. Mama aku ajak ngomong tapi gak respon sama sekali. Apa mama marah sama aku?"
"Bukan, mama lagi ada masalah sama papa."
"Masalah sama papa? bukannya papa lagi sakit?" mana bisa buat masalah, apalagi sakitnya sampai gak sadarkan diri dan harus dapat perawatan intensif di Rumah Sakit. Papa paling sedang nggak berdaya. Bagaimana ceritanya bisa buat masalah sama mama. Komunikasi aja sepertinya belum ada.
"Ck, nanti aja. Biar mama sendiri yang bilang."
"Kakak nginep?"
"Nggak tau, pengennya balik Bandung. A Dema ada meeting penting besok pagi. Aku juga ada kuliah."
Seketika Emira menoleh ke Lyra. "Kuliah?!"
Lyra tidak merespon keterkejutan adiknya. Dia menatap layar HPnya. "Sayang!" Begitu Lyra memanggil suaminya. Yang langsung Dema tatap ke arah Lyra istrinya. "Meeting besok bisa ditunda nggak?"
Mengabaikan Emira yang masih tidak percaya bahwa Lyra melanjutkan kuliah. Padahal dulu hal yang paling ditentang oleh mama dan papa nya adalah Lyra lebih mementingkan percintaannya dari pada menimba ilmu setinggi-tingginya agar kelak bisa menjadi orang yang sukses.
"Sepertinya nggak bisa, sayang. Nanti malem aku pulang, kamu di sini dulu sampai mama membaik. Besok selesai meeting, aku ke sini lagi." Begitu ademnya suara Dema bicara pada Lyra. Berbanding terbalik malahan kalau dirasa-rasa.
Emira menyimak saja, padahal penasaran sekali dengan bagaimana Lyra bisa kuliah setelah menikah.
"Ya udah kalau gitu, kalau kamu capek besok, ke sini nya gak usah buru-buru."
Dema mengangguk, "Doa in aja, rapat besok berjalan lancar."
Makanan yang Lyra order tadi akhirnya datang. Terdengar suara kurir yang memanggil dari luar gerbang. Lyra pun beranjak untuk mengambil makanan dari sang kurir. Tidak lupa Lyra memberikan tip untuk kurir. Hingga mereka sama-sama mengucapkan 'terima kasih' dan mengucapkan 'sama-sama'. Lyra berterima kasih karena sudah di antarkan makanan pesanan dan Kurir berterima kasih karena di beri uang tip sepuluh ribu oleh Lyra.
Hmm, sepuluh ribu bagi kurir atau ojol itu sangat berarti.
Lyra menyiapkan makanan di meja makan. Kalau kaki Emira tidak cidera, pasti Lyra sudah teriak minta bantuannya. Kali ini biar Lyra sendiri yang menyiapkan.
Emirapun tertatih berjalan menuju kamar mama. Dema yang melihat Emira berjalan dengan berpegangan tembok pun menawarkan "Mau dibantu jalan enggak?"
Emira menoleh ke arah Dema. Sungguh Emira dan Dema tidak se akrab itu. Emira masih merasa canggung dengan kakak iparnya itu. Sebab, dari dulupun jarang sekali ngobrol. Entah berapa kali, mungkin dua.. atau 3 kali. Itu juga singkat sekali. Mereka yang sudah menjadi ipar seperti tidak saling kenal.
"Ng.. Nggak usah kak, makasih." jawab Emira, senyumya pun terlihat canggung.
Dema mengangguk, berjalan melewati Emira menuju meja makan.
"Ma, makan dulu yuk. Udah dateng tu makanannya." Sudah jam 1 siang, Emira pun sudah lapar. Tapi, Emira malah melihat sang mama menangis. Mama duduk di pinggir ranjang. Kertas yang tadi berserakan sudah tidak ada. Mungkin sudah di rapikan ke tempat semula. Tapi, Emira melihat ada sebuah Map coklat yang berada di atas meja nakas.
Mama menyeka air mata yang mengalir di pipinya dengan tangannya.
"Ma, ada apa?" Emira hampir ikut menangis. Hatinya terasa ikut bersedih. Padahal belum tau penyebab sang mama menangis.
Mama hanya menggelengkan kepala.
"Makannya aku bawa ke sini aja ya."
"Kamu makan aja dulu, nanti mama nyusul."
"Mama beneran nggak kenapa-napa?" Melihat wajah mama yang pucat, Emira jadi khawatir.
"Enggak, Ra. Sana kamu makan dulu."
Emira tidak tau, kalau dari semalam mama sama sekali belum makan.
Melihat seorang wanita yang berada di ruang perawatan sang suami, yang saat itu tangan wanita itu tengah menggenggam tangan sang suami tercinta. Membuat mama Emira seketika hatinya hancur berkeping-keping. Air matanya luruh. Apalagi setelah tau, bahwa wanita itu ternyata adalah istri suaminya juga. Astaga, di Surabaya suaminya menikah lagi. Bagaimana ini, apa yang harus dilakukan. Suami yang sedang sakit tidak berdaya. Haruskah mama Emira teriaki karena telah berselingkuh?. Tidak, mama Emira hanya menatap penuh luka saat itu, sang suami yang menyadari keberadaan istrinya langsung melepaskan genggaman wanita yang merupakan istri barunya.
"Ma.." panggilnya lemah.
"Udah, nggak usah bicara. Kamu lagi sakit. Biar aku yang bicara sama dia." menatap wanita muda yang tadi menggenggam tangan suaminya. "Bisa kiata bicara? Ayo, keluar sebentar. Aku tidak akan lama."
Wanita itu melihat ke arah suaminya, kemudian berdiri. Mama Emira berjalan keluar ruangan di ikuti wanita yang telah merebut suaminya.
"Kamu, ada hubungan apa dengan suamiku?. Aku mohon jawab dengan jujur. Maka permasalahan tidak akan panjang. Jujur sama saya, hubunganmu apa dengan dia?"
Dengan perasaan ragu dan malu wanita itu enggan menjawab. Hanya menunduk, merasa berasalah pada istri laki-laki yang juga adalah suaminya.
"Jawab!" Penuh kekesalan mama Emira mengeratkan rahang, agar tidak teriak di area Rumah sakit ini.
"Saya.. saya istrinya." Jawab wanita itu penuh ketakutan.
Apa?!! Istri?!! Semula, mama Emira berfikir bahwa wanita dihadapannya itu hanya sekedar dekat dan tidak sampai menikah. Tapi, mama Emira sungguh tidak menyangka, jawaban yang keluar dari mulut wanita itu benar-benar menghancurkan harapannya.
"Kamu sudah menikahinya?"
Diangguki oleh wanita di hadapannya dan terus menunduk tidak berani menatap mama Emira.
"Sejak kapan? Kapan kalian menikah?" Emosi mama Emira masih ber api-api. Rasa ingin menjambak, menampar bahkan menghajar wanita itu sangat kuat sekali. Tapi mama Emira masih bisa menahan, mengingat sedang berada diamana ia sekarang.
"Dua tahun lalu." Jawab wanita itu ketakutan.
"Hah?!! Dua tahun? Dan aku nggak tau apa-apa selama itu?". Oh tidak, ini mustahil. Bahkan curiga pada kesetiaan suami pun, tidak selama itu. Mama Emira menaruh kepercayaan penuh bahwa suaminya akan setia selama di Surabaya. Tapi, ternyata tidak. Suaminya dengan lihai nya berselingkuh tanpa tercium busuknya oleh istrinya.
Ini tidak bisa di tolerir, mama Emira akan menceraikan suaminya.
"Apa kamu tidak tau kalau dia sudah punya istri dan anak? Kenapa kamu mau dinikahinya? Hah? Dengan tatapan penuh emosi mama Emira mencecar wanita itu.
Wanita itu semakin mengkerut oleh kemarahan mama Emira.
"Saya... saya terpaksa."
"Terpaksa katamu?. Apa suamiku yang memaksamu?"
Wanita itu menggeleng. "Bukan, tapi keadaan yang memaksa saya. Saya orang nggak punya, mas Herlambang selalu membantu saya saat saya dan keluarga saya kesusahan. Dibalik kebaikan dia, ternyata, dia ada rasa sama saya. Akhirnya dengan kondisi keluarga saya yang sedang terpuruk, mas Herlambang datang melamar saya. Ayah saya juga memaksa agar saya menerima, demi kehidupan yang lebih baik."
Mama Emira tidak habis pikir, bagaimana bisa orang punya pikiran seperti itu. Demi kehidupan yang lebih baik, tapi menghancurkan kehidupan orang lain.
Akh... Mama Emira hengkang dari hadapan wanita itu. Sebelum dirinya kalap dan menyerang wanita dihadapannya.
Mama Emira meninggalkan rumah sakit. Tanpa kembali ke ruangan suaminya. Mama Emira berfikir bahwa, ini semua telah usai. Pernikahan dengan suaminya telah selesai. Rambatan nyeri yang meretakkan hati mama Emira rasakan sepanjang ia berjalan. Menyetop taksi dan membawanya ke hotel. Mama Emira lelah, menangis sepanjang perjalanan.
Hingga supir taksi berfikir bahwa ada keluarga yang meninggal dunia di rumah sakit tadi. Habis, ia melihat penumpangnya terus menangis di dalam taksinya.
Mama Emira akan menginap semalam di hotel. Lalu nanti ikut penerbangan pertama untuk kembali ke Jakarta.