Bab 23 : Sepercik Senyuman

1334 Kata

"Azalea .... Azalea ...!" gedoran pintu dan suara Ibu yang keras membangunkanku ke alam sadar. "Iya, bu..!" dengan badan lemas, Aku berjalan membuka pintu dan perlahan membuka mata. "Ya Allah, ya Rabbi, anak Ibu dari tadi ditungguin rupanya tidur. Cuci muka dulu sana! Setelah itu turun, makan siang!" repet Ibu. "Emh..., " jawabku menutup pintu kembali.  "Capek ya, Lea?" tanya Kak Riyan. "Sejak kapan, Kakak ada di sini?" tanyaku menghampirinya di ruang makan. "Tadi pagi, yang semangat dong makannya, padahal Tante Anisa masak ini semua dengan semangat yang membara lho!" kata Kak Riyan membanggakan masakan Ibu. "Pantas rasanya enak, gak seperti masakan Kak Riyan waktu dulu. Kebanyakan garam, Haha..." "Emang bener tah Azalea? Mas Riyan pernah masak?" tanya Kak Sinta. Kak Riyan dan Kak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN