Bab 4 : Adik-Kakak Zone!

1320 Kata
          Hari demi hari terlewati. Pagi ini aku akan menghadiri acara perpisahan kelas XII. Aku akan hadir dan memberikan ucapan selamat atas kelulusannya, meskipun pada kenyataannya aku tidak mau berpisah dengannya.          "Azalea! Ibu gak suka lihat kamu berpenampilan dengan membuka aurat seperti ini nak, ganti ya sayang." ucap ibu menghampiriku sambil memegang tanganku. "Ibu! Sudah berapa kali sih Lea bilang? Azalea belum mau berpakaian syar'i," Aku melepaskan tangan ibu,"sudahlah bu! Azalea mau pergi!" lanjutku dan berlalu pergi meninggalkan Ibu.       ***         Aku memasuki gedung serba guna itu, di mana tempat duduk serta panggung kecil sudah tertata rapi. Saat hendak masuk, seseorang dari arah belakang menabrakku. Hampir saja Aku terjatuh, akan tetapi orang tersebut malah menahan tubuhku. Dan seseorang itu adalah Dimas. "Ck! Lo itu nyebelin banget sih! Kalau jalan tuh lihat-lihat dong! Punya mata gak sih?" tukasku. "Yaelah sorry kali, galak amat sih lo!" balasnya. Aku terbelalak kaget ketika baju yang dikenakan Dimas sama sepertiku. "Ini lagi warna baju ngapain sih pake samaan kayak gue?" "Lo kali yang nyamain! Ogah banget baju samaan sama nenek lampir kayak lo!" "Dimaasss!! Dasar cowok nyebelin!" ucapku sambil mencubit tangan Dimas, dan Dimas pun meringis kesakitan. Tiba-tiba Kak Bagas memanggilku. "Dek!" ucap Kak Bagas sambil melambaikan tangannya ke arahku. "Eum ... Kakak manggil aku?" tanyaku. Kak Bagas pun mengangguk. "Cowok sok alim kayak gitu, masih saja di deketin!" ucap Dimas pelan namun terdengar olehku. "Bilang saja klau lo cemburu!" ucapku sambil menjulurkan lidah ke arah Dimas. Aku pun meninggalkan Dimas dan menghampiri Kak Bagas. *** "Ada apa ya Kak?" tanyaku menghampiri Kak Bagas. "Kamu cantik Lea," puji Kak Bagas sambil tersenyum, sontak membuatku tersipu malu. Pasti pipiku sudah merah bak kepiting rebus. "Makasih Kak," ucapku tersenyum. "Sama-sama dek. Sebagai tanda perpisahan, Kakak mau ngasih hadiah buat adek sebagai ucapan terima kasih karena cerpen kamu banyak dinikmati dan memotivasi murid sekolah ini, nih ambil!" ucap Kak Bagas sambil menyerahkan kado tersebut. "Eum ... Kak sebelumnya makasih tapi mending itu hadiah simpen aja Kak!" "Gak boleh gitu! Nih pegang!" Aku pun langsung menerima pemberian hadiah dari Kak Bagas. "Kamu itu sudah Kakak anggap sebagai adik kandung Kakak sendiri, jadi jangan sungkan-sungkan ya terima hadiah dari Kakak." lanjut Kak Bagas sambil mengelus rambutku. Sementara Aku hanya terdiam dan menunduk sambil menggigit bibir bawahnya menahan air matanya supaya tidak terjatuh. Oh Tuhan ... Ternyata selama ini Kak Bagas hanya menganggapku sebagai seorang adik? Tidak lebih!       Air mataku tidak dapat terbendung lagi, sehingga lolos dari kedua mataku dan membasahi kedua pipiku. "Dek! Hei kok kamu nangis?" tanya Kak Bagas khawatir. Lalu dia menghapus air mataku dengan kedua ibu jarinya. "Aku gak apa-apa kok Kak," ucapku sambil tersenyum kepada Kak Bagas. Ingin menunjukkan kalau diriku baik-baik saja. "Beneran kamu gak apa-apa dek?" tanya Kak Bagas lagi. "Iya Kak, Lea cuma sedih aja. Nanti gak bakal ketemu Kakak lagi di sekolah," dustaku. Setelah itu aku pergi meninggalkan Kak Bagas. Aku memilih duduk di kursi yang sudah tersedia, karena acara perpisahan kelas XII akan dimulai. Dari arah belakang kursi seseorang menyodorkan tisu untukku. Tanpa menengok siapa orang yang menyodorkan tisu itu, Aku langsung menerimanya. Ingin sekali rasanya aku pulang. ***           Dimas benar-benar kesal melihat pemandangan yang sama sekali tidak ingin dia lihat. Di mana Dimas melihat Azalea menangis dan Bagas menghapus air matanya itu. Ingin sekali Dimas yang berada di posisi itu. Hatinya benar-benar emosi, karena orang yang dia sayangi menangis. Dimas tidak suka melihat Azalea menangis, dia tidak ingin Azalea menangis. Tangannya sudah mengepal, dia ingin sekali memukul Bagas, namun niatnya urung saat seorang MC memberitahu kalau acara akan dimulai, terlebih kepala sekolah sudah datang.           Dimas mengikuti Azalea dari belakang dan dia pun duduk di kursi yang sudah tersedia, tepatnya duduk di kursi belakang Azalea. Dimas tidak tega mendengar isak tangis Azalea, dia langsung merogoh sakunya untuk mengambil tisu dan ternyata tisunya tinggal satu. 'Ck! Tisunya tinggal satu, ah bodo amat lah! Yang penting ada!' ucap Dimas di dalam hatinya. Lantas dia pun langsung memberikan tisunya kepada Azalea.        Azalea langsung menerima tisu darinya tanpa menengok ataupun mengucapkan terima kasih untuknya. Sehingga membuat Dimas mengangkatkan kedua alisnya. "Udah belum nangisnya? Yakin nih gak mau bilang thanks gitu sama gue?" ucap Dimas. Sontak membuat Azalea kaget, dan dia pun menengok ke arah Dimas. "Jadi lo yang ngasih tisu? Kalau tahu gitu, tadi gue buang aja!" "Dasar ya cewek manja, cengeng dan gak tau terima kasih!" ledek Dimas. Sehingga perkataan Dimas membuat Azalea menangis kembali. Ia jadi teringat dengan ayahnya yang selalu menyebutnya 'putri manja'.     Dimas pun khawatir, karena Azalea menangis kembali dan dia bingung harus dengan cara apa agar Azalea berhenti menangis. Teman-teman Dimas melihat ke arahnya termasuk Andre sehingga membuatnya malu. Dia ingin memberikan tisu, namun tisunya sudah habis dan di dalam sakunya hanya ada permen karet. "Eh Lea! Udah dong jangan nangis, malu tuh teman-teman gue pada lihatin lo! Yang ada nanti timbul fitnah kalau gue ngapa-ngapain lo," Azalea tidak berhenti menangis, dia masih tetap terisak menangis. Sehingga Dimas merasa khawatir. "Yaelah lo mau apa sih? Tisu gue udah habis, nih adanya permen karet!" lanjut Dimas sambil memberikan permen karetnya kepada Azalea. Azalea pun berhenti menangis dan dia langsung memakan permen karet dari Dimas. Melihat Azalea memakan permen karet, tapi dia sekarang sudah lega, karena Azalea berhenti menangis dan membuat Dimas tenang. "Lo doyan permen karet?" tanya Dimas penasaran. Azalea hanya mengangguk. "Yaelah kalau dari tadi gue tahu lo doyan permen karet, udah aja gue kasih permen karet jangan tisu!" racau Dimas. Azalea tidak menanggapinya, dia malah asik membuat bubble gum. "Kelakuan lo kayak anak kecil tau gak!" ledek Dimas. Azalea langsung menatap ke arah Dimas dan langsung mencubit tangan Dimas. "Aw ... sakit tau!" ucap Dimas sambil mengusap-ngusap tangannya. "Biarin! Habis lo nya bikin gue sebel terus sih, dasar cowok nyebelin!" ucap Azalea sambil menjulurkan lidahnya, "Oh ya, thanks atas tisu dan permen karetnya." lanjut Azalea sambil tersenyum kepada Dimas. Dan itu merupakan senyuman pertama dari Azalea buat Dimas. Sehingga Dimas sangat senang, karena senyuman Azalea sungguh manis. "Gue lebih seneng kalau lihat lo tersenyum ketimbang lo nangis! Soalnya muka lo jelek kalau lagi nangis, hahaha..." ucap Dimas sambil tertawa. "Dimaaasss!" ucap Azalea sambil mencubit lagi tangan Dimas. Dimas terus-menerus tertawa membuat Azalea kesal. "Dasar cowok nyebelin!" lanjutnya dan ia pun mengabaikan Dimas serta pindah tempat duduk. ***         Setelah acara semuanya sudah berjalan dengan lancar, Aku langsung keluar gedung dan membuka hadiah dari Kak Bagas di kursi panjang di depan gedung serba guna itu. Saat aku hendak membuka hadiah dari Kak Bagas, tiba-tiba Khanza datang dan mengagetkanku. "Woy Lea!" "Khanza! Kamu tuh ya bikin aku kaget aja!" "Hehe ... Sorry, oh ya tadi kamu ke mana? Ih kesel! Aku nyariin kamu tau!" Aku hanya diam sambil memegang kotak kado itu, aku tidak ingin Khanza tahu kalau aku tadi menangis gara-gara Kak Bagas menganggapku seorang adik tidak lebih. Terlebih aku tengsin, kalau Khanza sampai tahu. "Ciee ... ciee, kado dari siapa tuh? Dari Kak Bagas ya?" ucap Khanza. "Hem ... Ini hadiah atas cerpenku!" "Oh gitu, buka dong Lea!" pinta Khanza. Aku pun langsung membukanya dan ternyata hadiah itu sebuah agenda berukuran sedang berwarna biru muda dan pena beserta kartu ucapan yang mana di kartu ucapan itu bertuliskan. 'Tulislah apa yang kamu rasakan dan teruslah berkarya untuk memotivasi orang lain.' Aku pun tersenyum membaca kartu ucapan pemberian dari Bagas itu kemudian aku terdiam. Lagi-lagi Khanza mengagetkanku. "Ciee ... senyum-senyum terus yang dapet hadiah dari Kak Bagas," ucap Khanza sambil mencolek pipiku. "Apaan sih Khanza!" Aku langsung mencubit pipi Khanza. "Aw ... Sakit Azalea!" "Biarin!" ucapku sambil menjulurkan lidah kepada Khanza. Berhubung acara perpisahan kelas XII selesai dan waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku dan Khanza pun memutuskan untuk pulang bersama. Hari ini aku benar-benar merasakan kecewa kepada diriku sendiri, karena aku telah berharap lebih kepada Kak Bagas yang nyatanya Kak Bagas hanya menganggapku sebagai adik tidak lebih. Aku benar-benar menyesal telah mengharapkan seseorang yang sama sekali tidak mengharapkanku. Untuk sekarang aku berjanji aku tidak akan mengharapkan Kak Bagas lagi dan mencoba melupakannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN