Mentari pagi menyambut Azalea di pagi hari ini. Satu minggu berlalu dengan begitu cepat. Kini Azalea sudah nampak tidak murung lagi, dia sudah mengikhlaskan kepergian Arman dan mulai menetapkan hatinya untuk jodohnya kelak entah siapapun itu. Usai membantu Ibunya menyiram bunga-bunga di halaman depan, Azalea langsung pergi ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Namun, niatnya untuk mandi urung saat dia melihat amplop berwarna biru pemberian Dimas waktu itu yang katanya dari Arman. Amplop itu tersimpan di atas meja belajarnya yang belum sempat dia baca. Azalea mengambil amplop itu dan membukanya, ternyata sebuah surat. Azalea membaca surat itu diatas sofa yang ada di kamarnya. Dia langsung membuka lipatan kertas yang berisi curahan hati Arman. Sontak air matanya

