Malam ini Alvin dan Meidina menghabiskan malam mereka dengan mengobrol di balkon kamar. "Mau sampai kapan kamu terpuruk dalam kesedihan, Mei? Apa nggak cukup, aku ada di sisi kamu dan kehadiran calon anak kita?" tanya Alvin di keheningan malam ini. Meidina bergeming, pandangannya menatap kosong langit malam. Alvin duduk di sisi kanan Meidina, lalu merebahkan kepala di atas paha Meidina. Tangannya mengusap perut Meidina dengan lembut. Menyadari siapa yang berada di dekatnya, makhluk yang tersimpan di perut Meidina melakukan pergerakan seolah ingin menggapai tangan yang berada di balik pelindungnya. Pandangan Meidina dan Alvin berserobok lalu keduanya hanya saling melempar senyum. Alvin bangkit dan duduk di samping Meidina. "Apa sifat Mei begitu serakah jika menginginkan kehadiran anak s

