BAB 8 |VANYA HIJRAH

2194 Kata
—Jadilah wanita sederhana yang cara berpakaiannya diatur oleh agama bukan dunia. — *** PAGI ini satu sekolah digemparkan oleh perubahan penampilan Vanya yang berjilbab dengan rok dan seragam berlengan panjang. Semua siswa yang menemui Vanya di lorong sampai rela berhenti untuk memperhatikan perubahan cewek itu, beberapa juga memuji Vanya secara langsung. “Vanya, kamu cantik banget kalau pakai jilbab.” “Ciee, yang sekarang berjilbab.” “Ya ampun, Vanya cantik ya kalau begini!” Vanya merespon berbagai pujian yang dilontarkan teman-teman dengan anggukan kepala malu. Vanya pikir dengan berpenampilan seperti ini anak-anak bakal menghujat Vanya tetapi yang ada mereka justru lebih senang melihat Vanya yang sekarang. “ALHAMDULILLAHIRABBILALAMIN!!” Vanya memutar bola mata ketika Pak Sodikin keluar dari dalam kelas dan langsung mengucapkan syukur begitu melihat Vanya. Pak tua itu seolah tengah melihat setaan yang akhirnya mau bersujud pada Adam, menyebalkan. “Akhirnya ratu galak yang satu ini mau insaf juga.” Tuh kan, Vanya semakin bete saja bertemu Pak Sodikin pagi ini. “Kenapa saya harus ketemu bapak sih!” Vanya mengomel dengan wajah tertekuk kesal. Pak Sodikin bukannya tersinggung malah balas memuji Vanya, “Kamu cantik banget Vanya, kalau begini mah saya yakin Akbar bakal langsung suka sama kamu.” Tumben-tumbenan guru setengah baya ini memuji Vanya dan tidak balas menceramahi Vanya karena kata-katanya yang tidak sopan. Vanya jadi curiga dan alhasil menyipitkan mata menatap was-was Pak Sodikin, “Bapak nggak lagi butuh bantuan saya kan?” Pak Sodikin tertawa keras-keras mengetahui Vanya yang cepat peka. “Kamu tahu aja sih kalau bapak lagi butuh bantuan.” Vanya menghela napas lelah, beruntung Pak Sodikian guru Vanya sendiri, kalau enggak sih pasti sudah Vanya tinggal. “Mau Vanya bantuin apa Pak?” tanya Vanya. “Itu!” Pak Sodikin menunjuk buku lks yang bertumpuk-tumpuk di meja ruang kelas yang tadi sempat dimasukinya. “Bapak lupa kemarin ketinggalan di sana,” alasannya. Vanya mengedikkan bahu tidak masalah, dia sudah sering bawa piring banyak kalau sedang bantuin Mbok Yem di kantin, jadi kalau masalah bawa buku gini sih menurut Vanya tugas gampil. “Bawain ke perpustakaan ya!” “Ha? Perpustakaan?” Vanya menelengkan kepala hampir ingin memprotes Pak Sodikin yang ternyata sudah kabur duluan. Vanya mendesis jengkel, “Dasar! Guru agama tapi suka nyusahin orang. Ke perpustakaan lagi? Sama aja gue balik lagi dong, iishhh...” gerutu Vanya di sepanjang perjalanan menuju perpustakaan yang jaraknya lumayan jauh dari lorong kelas. “Vanya?” Rahma tanpa sadar memanggil Vanya ketika tidak sengaja melihat gadis itu di persimpangan saking terkejut melihat perubahan tampilan Vanya. Mendengar ada yang memanggil, Vanya lantas menoleh dengan susah payah. Melihat kerepotan cewek itu Rahma pun menghampiri Vanya dan membantu membawa buku-buku itu setengahnya. “Eh, makasih ya Ra udah dibantuin.” Rahma menjawab berupa senyuman. “Aku nggak nyangka kamu bakal berubah secepat ini.” Vanya mengedikkan bahu, dia juga terkejut pada dirinya sendiri yang akhirnya memilih ke jalan ini. Daripada membahas soal perubahannya, Vanya lebih ingin bertanya tentang keberadaan Gerald. “Gimana kabar Gerald? Udah dua hari semenjak malam itu, dia nggak masuk sekolah.” Sirat mata Rahma berubah sedih saat Vanya bertanya. “Dia ditahan di kantor polisi selama satu minggu buat nebus kesalahan.” Mata Vanya terbelalak kaget. “Ditahan? Emang dia salah apa?” Rahma tiba-tiba merasa bersalah mengingat alasan Gerald ditahan dalam penjara. “Dia ketahuan ikutan balap motor liar. Dan itu salah gue,” jawab Rahma. Dahi Vanya mengernyit, “Salah lo?” Rahma mengangguk, lalu menceritakan kejadian yang sesungguhnya. “Waktu itu aku juga ikutan balapan sama Gerald. Karena polisi tiba-tiba dateng ke sana, Gerald langsung bawa aku pergi pakek motor papaku sedangkan dia ninggalin motornya di sana. Motornya yang ditinggalin disita polisi dan dijadikan barang bukti kalau Gerald memang mengikuti balap motor liar waktu itu.” Vanya setengah tidak percaya mendengar cerita Rahma, apalagi setelah tahu kalau cewek itu ikutan balap motor liar. Agaknya perkataan Bella tempo hari benar, Rahma ternyata tidak sepolos yang ia kira. “Gerald ditahan di kantor polisi mana?” tanya Vanya, ia pikir perlu mengunjungi Gerald karena semenyebalkan apapun cowok itu, Gerald sudah dua kali menyelamatkan nyawanya. Tapi Rahma tidak suka dengan pertanyaan Vanya, Rahma menyukai Gerald dan ia tidak suka apabila Vanya menemui Gerald di kantor polisi. Maka ia pun melarangnya, “Kamu jangan ke sana.” Kening Vanya berkerut heran, “Kenapa?” “Kamu bisa ikut dicurigai polisi. Lebih baik kita tunggu sampai Gerald dibebaskan dan masuk sekolah lagi kayak biasanya,” jawab Rahma, yang sebenarnya hanya alasannya saja agar Vanya dan Gerald tidak bertemu di kantor polisi. *** Meski pertandingan antar sekolah sudah selesai, tapi ekstrakulikuler tetap berjalan seperti biasanya setiap minggu. Dan minggu ini pertama kalinya anak basket latihan tanpa ditemani kapten tim mereka yang masih mendekam di penjara. Aga, Juna dan yang lainnya baru selesai latihan duduk selonjoran di lantai indoor lapangan basket. Mereka kurang semangat hari ini karena tidak ada Gerald. Aga pun bertanya ke teman-temannya, “Gue penasaran gimana ceritanya Gerald bisa ketahuan balap motor liar dan berakhir di kantor polisi? Apa ini ada hubungannya sama cewek yang ngalahin Gerald malam itu?” Juna mengeplak Aga sembari menyahut, “Amnesia lo? Cewek yang kemarin itukan Rahma, anak IPA II-B. Dia sahabat Gerald dari kecil, jadi nggak mungkin Rahma yang laporin Gerald ke polisi.” “Ayaaaang…” Tiba-tiba Ani datang menghampiri mereka dan menyodorkan segelas botol mineral untuk pacarnya Aga. Aga yang lelah, letih, lemas seketika kembali semringah didatangi pacarnya. “Hai sayang, makasih yah minumannya,” balas Aga sebelum kemudian meneguk minuman dari Ani. Juna dan anak basket lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kemesraan mereka yang diumbar-umbar. “Kalian pada ngomongin apa sih? Kok serius amat?” tanya Ani, melempar pandang ke Juna. “Kita lagi bahas Gerald,” jawab Juna. Ani sontak teringat cerita Vanya saat di kelas tadi. “Oh iya! Tadi Vanya juga cerita ke gue, katanya Gerald ditahan di kantor polisi selama seminggu karena ketahuan ikut balapan.” Aga menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya, menyuruh pacarnya duduk disitu sementara Juna menanggapi ucapan Ani, “Syukur deh kalau cuma seminggu. Gue udah khawatir Gerald bakal dihukum lebih lama. Ngomong-ngomong, Vanya di mana? Perasaan tadi nggak lihat dia ikut latihan cheers.” Ani mendengus murung, “Vanya udah hijrah, jadi resign dari tim cheers.” Juna terkekeh, “Jadi bener ya gosipnya kalau Vanya udah berhijab? Gue belum sempet ketemu orangnya langsung, tapi bayangin si ratu galak pakai hijab, entah kenapa gue rasa nggak cocok,” selorohnya, memicu anggota basket lainnya tertawa cekikikan. Ani melotot mendengar sahabatnya diejek, “Jangan sembarangan lo kalau ngomong! Justru menurut gue Vanya nggak kelihatan serem lagi kalau pakai hijab.” “Kamu kira selama ini Vanya genderuwo kok kelihatan serem?” celetuk Aga. Ani memukul lengan Aga kesal, “Ish, bukan gitu maksud aku. Maksudnya Vanya jadi nggak kelihatan galak lagi.” “Dia habis dapat hidayah dari siapa kok tiba-tiba mutusin buat berhijab?” tanya Juna, tak hanya cowok itu yang penasaran, nyaris satu sekolah mempertanyakan hal yang sama. Pasalnya tiada angin, tiada hujan, Vanya si ratu galak hanya dalam sehari semalam merubah penampilannya. Tentu saja semua siswa heran. “Mungkin karena Akbar.” Ani keceplosan. Tidak ada yang tahu fakta itu kecuali Ani dan Pak Sodikin, lalu sekarang Ani malah membongkarnya di hadapan anak basket. “Vanya suka Akbar?” Aga bertanya kaget. “Gue nggak nyangka, tipikal cewek kayak Vanya ternyata suka cowok alim kek’ Akbar,” timpal Juna. Ani gigit jari ketakutan, Vanya bisa marah kalau tahu Ani tidak sengaja membongkarnya. “Jangan bilang siapa-siapa, ntar kalian bisa dikepret Vanya kalau sebarin gosip tentang dia,” ujar Ani. *** Meski sudah mengubah penampilannya dengan berhijab, Vanya masih tak kapok main ke pesantren Nurul Iman. Tujuan Vanya sebenarnya baik, ia ingin belajar mengaji, tapi oonnya cewek itu memilih waktu yang salah. Pukul sembilan malam, gerbang utama pesantren sudah terkunci, alhasil Vanya memilih jalan pintas yakni memanjat pagar pembatas bak maling. Beruntungnya Vanya tidak ketahuan sampai cewek itu berhasil mendarat di area pesantren yang sepi. Vanya berkeliling lalu tidak sengaja mendengar suara mirip Akbar membaca Al-Qur’an di masjid, Vanya pun meluncur ke sana dan betapa senangnya cewek itu ketika seseorang itu benarlah Akbar. Akbar tidak sendiri, ia ditemani beberapa santri dan juga beberapa santriwati yang ikut mengaji di masjid. Ditengah keasyikan Vanya mengintip, cewek itu tiba-tiba dikejutkan oleh tepukan di pundaknya. “Kamu ngapain di sini? Ayo ikut masuk ke dalam.” Seorang guru perempuan, yang notabenya guru pesantren baru menyuruh Vanya bergabung mengaji di masjid karena mengira Vanya salah satu pesantren di Nurul Iman. Vanya tidak berkutik, ia diam saja sampai Bu Inayah kembali berkata, “Kok malah diam, ayo masuk.” Bu Inayah lantas menarik lengan Vanya dan menyuruhnya duduk di antara santriwati yang fokus dengan bacaan Al-Qur’an di tangannya masing-masing. Bu Inayah menyodorkan Al-Qur’an sementara Vanya menerimanya dengan bingung. “Saya belum lancar baca Al-Qur’an bu, karena itu saya ke sini untuk belajar mengaji,” kata Vanya sembari meringis. Pernyataan itu membuat Bu Inayah melotot kaget, beberapa santriwati yang tidak sengaja mendengar pun sontak menoleh keheranan. “Tidak apa-apa, sini biar ibu ajarkan.” Masih tak mengetahui apapun perihal siapa Vanya, Bu Inayah memutuskan mengajari Vanya membaca Al-Qur’an. Vanya pun mengangguk dengan senang hati lalu memerhatikan Bu Inayah mengajarinya. Kegiatan itu berlangsung sampai pukul sepuluh, anak-anak pesantren mulai meninggalkan masjid menuju asrama masing-masing. Di kesempatan itu, Vanya memberanikan diri menghampiri Akbar. “Akbar!” sapa Vanya. Akbar yang hendak menuju asrama sontak terkejut melihat Vanya. “Vanya? Kok kamu bisa ada di sini? Kamu panjat pagar lagi ya?” tanya Akbar. Vanya meletakkan jari di depan bibir, menyuruh Akbar diam. “Ssstt, jangan keras-keras ngomongnya.” Akbar mendengus sambil geleng-geleng kepala tidak habis pikir, sedangkan Vanya kembali berkata, “Berkat bu Inayah, aku jadi lumayan bisa baca Al-Qur’an.” “Bu Inayah pasti ngira kamu santri di sini, karena pakai hijab. Bu Inayah masih guru baru, dia belum hafal anak-anak di pesantren,” sahut Akbar. “Oh, pantesan aja bu Inayah kaget waktu denger aku bilang belum lancar ngaji.” “Sekarang sudah malam, mendingan kamu pulang sana gih,” perintah Akbar, sebelum cewek itu ketahuan Pak Sodikin dan membuat gaduh pesantren. “Aku bakal pulang sekarang asalkan kamu izinin aku masuk ekstrakurikuler rebana, gimana?” Vanya menaik-turunkan alisnya membujuk Akbar. “Bukannya kamu sudah ikut cheers?” Vanya bersedekap sambil mengerucutkan bibir, “Udah resign jadi anggota cheers, sekarang kan aku sudah berhijab, jadi aku mau menyesuaikan penampilanku dengan ikut ekstrakurikuler rebana. Boleh ya? Kamu kan ketuanya!” Vanya sedikit memaksa, ia ingin sekali satu eskul dengan Akbar. Apalagi alasannya kalau bukan demi dekat dengan cowok yang Vanya suka? Baru saja Akbar hendak menjawab, suara teriakan Pak Sodikin mendahuluinya. “VANYAAA!” Vanya melotot melihat Pak Sodikin muncul di kejauhan, sedangkan Akbar ikut panik karena Vanya ketahuan membobol masuk ke pesantren lagi. “Yaelah kenapa tuh orang selalu muncul sih!” gerutu Vanya, lalu berpaling menatap Akbar untuk pamit, “Aku pulang dulu yah, babay!” “Eh tapi—” Vanya langsung ngacir dari hadapan Akbar sebelum cowok itu selesai bicara. Vanya tidak ingin tertangkap Pak Sodikin karena malas dihukum, alhasil berbekal kelincahan yang dimilikinya, Vanya berhasil kabur dengan memanjat pagar tanpa kendala apapun. *** Pagi harinya, Vanya berangkat sekolah menaiki sepeda kayuh seperti biasanya. Hanya saja ia agak kesusahan karena belum terbiasa memakai rok sekolah panjang. “Biasanya bisa ngebut karena pakek rok pendek, sekarang pakek rok panjang kenapa jadi ribet gini sih! Huft… jadi lebih lama nyampe sekolah,” omel Vanya. Lalu bak’ mendapat karma atas perkataannya, tanpa sengaja rok sekolah Vanya nyangkut di rantai sepeda, membuat Vanya nyaris jatuh andai saja satu kakinya yang lain tak menahan. “Astaghfirullah! Tuh kan, dasar mulut!” Vanya menampar mulutnya sendiri karena tidak menjaga perkataannya, “Dapat karma kan jadinya!” sungutnya, lalu turun dari pedal sepeda secara hati-hati untuk mengeluarkan roknya yang tersangkut di rantai. Ditengah usaha Vanya tersebut, tiba-tiba tiga orang preman mendatangi Vanya. “Eh adik cantik lagi kesusahan ya?” “Mau abang bantuin?” Vanya melirik tajam tiga pria yang menggodanya. Berani-beraninya mereka ngegodain si ratu galak, mereka mungkin mengira Vanya anak polos karena penampilannya yang tertutup. “Apaan sih! Udah tua juga masih doyan ngegodain anak sekolah, najis tau gak!” sembur Vanya, sarkas. Ketiga preman itu lantas tertawa mendengar ucapan pedas Vanya. “Galak amat sih dik. Jangan galak-galak, nanti nggak punya pacar loh.” Sementara itu di sisi lai dari arah jalanan, Gerald yang kemarin baru saja bebas dari penjara dan hari ini kembali masuk sekolah tidak sengaja melihat kejadian itu. “Masih pagi ada aja preman yang gangguin anak sekolah,” kata Gerald dari balik helm yang dikenakannya. “Kasihan banget mbak berjilbab itu, dia pasti ketakutan. Coba aja kalau yang jadi sasarannya Vanya, udah dibikin mampus tuh mereka.” Gerald mendadak tersenyum-senyum sendiri memikirkan Vanya, sudah seminggu mereka tidak bertemu dan Gerald tidak sabar ingin bertemu dengan cewek itu di sekolah. Kira-kira, bagaimana reaksi Vanya saat Gerald bercerita dia menolong seseorang pagi ini? Vanya pasti takjub padanya, dan bisa saja cewek itu langsung jatuh cinta padanya. Gerald semakin semangat menjadi pahlawan. Sebagai cowok gentleman, Gerald pun menepikan motor sportnya. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN