Nara berdiri di perbatasan hutan seraya menatap Moa yang tengah duduk di salah satu dahan pohon. "Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi, apa lagi yang kau tunggu? Kau bisa ikut denganku sekarang," ujar Moa. "Tidak bisa, Moa. Sebentar lagi, perjanjian kita akan berakhir sebentar lagi dan jika kau berhasil bertahan hingga hari itu, maka aku akan ikut denganmu dengan sukarela." Moa terdiam tanpa melepaskan pandangannya dari Nara. "Kau sedang mempersiapkan jebakan untukku? Kau sedang menunggu waktu yang tepat untuk menikamku dari belakang?" Nara menggelengkan kepalanya. "Aku tidak merencanakan apa-apa." Gadis itu perlahan tersenyum. "Mungkin benar, aku yang sekarang memang lemah," batin Nara. Ya, dia lemah. Dia berjalan terlalu jauh dan dia tidak seharusnya melakukan hal ini. Pe

