Kupejamkan mata sejenak, dan mulai berkonsentrasi. Kubayangkan Mama dengan sepenuh perasaan. Mama yang dulu selalu menyuapiku makan, Mama yang dulu tak pernah lelah menggendongku ke mana-mana, Mama yang dulu selalu mengantarkanku ke sekolah, Mama yang dulu mengajariku menari, dan Mama dengan kasih sayangnya yang tak terhingga. Perlahan kubuka mata. Dan tak dapat kupercaya, ternyata Mama sudah ada di depanku. Walaupun tak persis ada di hadapanku, namun posisinya tak jauh dari tempatku berdiri. Ia tengah duduk diam di salah satu dari deretan kursi tunggu yang ada di bandara ini. Wajahnya tertunduk dan tanpa ekspresi. "Mama?!" Aku berteriak. Suaraku bergetar menahan tangis dan haru. Setelah bertahun-tahun panggilan itu kusimpan dalam hati, kini saatnya aku kembali mengucapkannya. W

