Mau tidak mau, akhirnya Steve mengikutiku juga. Begitu sampai di dalam, Papa langsung saja menyambutnya dengan sangat antusias. Entah bagaimana caranya, sampai mereka bisa sebegitu akrabnya. "Duduk Steve! Anggap saja rumah sendiri." Lagi-lagi Steve hanya tersenyum, lalu memilih duduk di sofa kosong yang berhadapan dengan Papa. Sementara aku sendiri, hanya berdiri sambil bersandar di pegangan sofa Papa. "Gimana sekolah kamu?" tanya Papa akhirnya. "Biasa aja, Pak! Tetap nggak ada guru yang seasik Bapak," jawab Steve. Mendengar itu, Papa kontan tertawa dan bertanya tak percaya, "Ah... Masa?" Steve mengangguk, sementara aku masih tetap tak mengerti dengan keakraban mereka. "Kalian kok akrab banget gitu, sih?" "Jelaskan, Steve!" pinta Papa, singkat, padat dan jelas. St

