Chapter Six

1364 Kata
  "Maksudnya, lo mesti cium gue dulu!"   "APPAAAA?" Aku berteriak heboh dan berpura-pura kaget mendengar kalimatnya. "Gue? Cium lo?" Aku lalu tersenyum mengejeknya. "Nggak usah ngiimpi deh lo! Sampe kiamat juga gue nggak bakal mau cium lo. Najis!"   "Ya udah. Gue pulang." Steve berbalik badan dan berjalan menuju ke tempat di mana mobilnya diparkir. Aku lalu mengekor di belakangnya.   "Hah? Nggak boleh! Enak banget lo mau lari dari tanggung jawab gitu aja." Aku mengomel namun tak diperdulikan olehnya. Kupercepat langkahku  sehingga dapat menyalipnya. Kutarik dasi abu-abu yang melingkar di lehernya lalu kuseret dia dengan sekuat tenagaku menuju ke pohon di mana sepatuku tergantung di puncaknya.   "Heh! Gila lo, liar banget sih jadi cewek. Lepasin gue!"   "Ogah." Aku menjawab sambil terus menyeretnya.   "Kalo gini terus, gue bisa mati, b**o!"    "Hahaaa... Nggak usah lebay deh lo!"   "Lepasin gue, atau gue bakal kasar sama lo!" Ia berkata dengan memberikan penekanan di setiap katanya. Tapi aku tak perduli. Aku terus menyeretnya hingga jarak yang tersisa tinggal beberapa meter lagi dari tempat yang kutuju.   "Gue nggak akan lepasin lo, sebelum lo amb—" Kalimatku terputus ketika aku mendapati tangan kanan cowok itu bertumpu dan memegang erat pohon palem di belakangnya. Kutarik dasinya sekuat tenagaku sementara dia pun berusaha tetap bertumpu pada pohon palem yang ada di belakangnya. Dan tentu saja tenaganya jauh lebih kuat dari tenagaku sehingga membuatku terhempas ke depan dan mendarat di pelukannya.   Kedua bola mata kami saling bertatapan seperti kejadian di ruang seni tadi. Kembali dapat kurasakan detak jantung serta hembusan napasnya karena tak ada jarak lagi yang memisahkan kita berdua. Namun berbeda dengan kejadian tadi siang saat kurasakan detak jantungnya yang normal dan tenang, kali ini jantungnya berdetak lebih cepat dan tak beraturan. Begitu pula dengan detak jantungku yang semakin tak menentu.   Aku tersadar ketika tiba-tiba bibir Steve menyentuh, menekan dan mengecu phalus bibirku. Mataku terbelalak, sementara matanya terpejam dengan tenang. Hangat bibirnya begitu terasa di ujung bibirku. Namun dengan segera aku tersadar bahwa ini semua tidak boleh terjadi.   Aku dorong tubuh Steve, lalu aku sendiri mundur selangkah dari posisiku sebelumnya. Aku terdiam. Shock menyadari kejadian yang baru saja aku alami bersama Steve.   Apa yang telah kami lakukan? Bagaimana ini bisa terjadi? Pertanyaan itu bergantian dan terus menerus hadir dalam pikiranku.   Entah telah berapa lama aku melamun, dan tanpa kusadari tiba-tiba Steve sudah berada di depanku dengan menenteng sepasang sepatuku di tangan kirinya.   "Nih, sepatu lo udah gue ambil." Ia menjatuhkan sepatuku di depan tempatku berdiri. Sementara aku masih berdiri dengan tatapan kosong lurus ke depan.   "Hey! Kenapa sih lo? Sakit?"   "Tadi itu..." Aku mulai berkata perlahan. "Bibir lo, sama bibir gue..." Terdapat getaran dalam kalimatku yang terpotong-potong.   "He'em." Steve mengangguk, mengerti akan maksud kalimat yang tidak sempat kuteruskan.   "Berarti kita ciuman dong?"   "Ya bisa dibilang gitu," jawab Steve dengan disertai senyuman.   "Nggak. Nggak mungkin!" Aku membantah. "Gue nggak mungkin ciuman sama lo."   "Ya udahlah, terima aja! Kenyataannya kan kita ciuman?"   "Diem lo! Di antara kita nggak terjadi apa-apa. Nggak pernah, dan nggak akan pernah terjadi apa-apa!" Aku meyakinkan diriku sebisa mungkin bahwa tidak ada hubungan apa-apa antara aku dan Steve.   "Heh! Lo tuh harusnya bersyukur bisa dapat ciuman dari gue! Banyak tau, cewek-cewek yang ngarepin itu." Ia berkata dengan tegas dan penuh percaya diri.   "Dan lo pikir, gue sama kaya cewek-cewek yang lo maksud?"   "Kenapa sih lo?" Ia balik bertanya padaku. "Lo nggak suka kalo gue cium? Atau mau balas dendam?" Cowok itu kembali menanyakan dua hal itu secara bergantian. "Kalo lo mau balas dendam, silakan! Lo tinggal cium gue balik, beres kan?"   "Cium lo balik? Lo gila apa?" Aku bertanya masih terus menahan emosi yang semakin memuncak ini. Apa sih yang ada di pikirannya? Mungkin dia senang bisa berciuman denganku, tapi aku? Aku.. Aku.. Aku nggak bisa terima ini semua. Rasanya aku ingin menangis saat ini juga, memperlihatkan betapa tersiksanya aku karena kejadian tanpa direncanakan yang baru saja kualami. Aku sedih, kecewa, menyesal, marah. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu dalam diriku saat ini. Oh Tuhan.. Kenapa semua ini harus terjadi padaku?   "Kalo lo emang nggak mau, ya udahlah..." kata Steve biasa aja. Biasa aja? Apa dia tidak dapat merasakan betapa tersiksanya aku saat ini? Dasar cowok playboy! Nggak punya perasaan! "Lagian perjanjiannya juga emang kayak gitu kan? Gue ambilin sepatu lo, kemudian lo cium gue. Tapi berhubung lo nggak mau cium gue, jadi gue yang cium lo."   "Oh jadi lo sengaja nyium gue?" Aku bertanya menuntut penjelasannya. Dan tidak membutuhkan waktu lama, cowok itu langsung menjawab.   "Emang gue sengaja. Terus lo mau apa?"   PLAK! Habis sudah kesabaranku menghadapi cowok ini. Tamparan itu memberikan bekas berupa warna kemerahan di pipi kirinya. Aku tau tamparan itu nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perbuatan kurang ajarnya terhadapku. Bahkan sekeras apa pun tamparan itu, tetap saja tidak dapat menghilangkan kenyataan bahwa aku telah berciuman dengan cowok b******k ini. Tapi kenapa mesti cowok ini? Najis. Najis. Najis.   "Apa-apaan sih lo?" Steve mulai berbicara ketika rasa sakit di pipinya mulai mereda. "Itu cuma ciuman biasa, Nona... Cuma nempel doang. Lagian elonya juga nggak kenapa-napa kan?" Ia kembali bertanya, namun tak kupedulikan. Aku raih sepasang sepatu biru bertali itu dan segera meninggalkannya. Tak sanggup lagi rasanya aku terus bersama cowok b******k ini.   Setelah lima langkah di depannya, aku menghentikan langkahku dan sejenak menoleh ke arahnya yang berdiri di bawah pohon palem dua meter di belakangku. Kutatap matanya dan kuucapkan kalimat terakhirku. "Gue emang nggak kenapa-napa, tapi lo nggak tau betapa berharganya first kiss gue!"   "Apa? First kiss?" Ia bertanya seraya berteriak tak percaya. "Berarti lo belum pernah ciuman dong sebelumnya?"   Aku mengangguk beberapa kali dan setelah itu, aku kembali melangkah meninggalkannya. Menuju ke parkiran, lalu selanjutnya ke pintu gerbang dan pulang ke rumah. Namun cowok itu menghalangi langkahku ketika sampai di parkiran.   "La..." Ia berhenti untuk menarik napas. Namun ada yang aneh dengan cara dia memanggil namaku. La? Baru kali ini aku mendengar seseorang memanggil namaku dengan kata itu. Tidak salah memang, karena namaku Stella. Tapi biasanya orang-orang memanggilku Stell. Semua orang, keluarga, sahabat, teman-teman, atau siapa pun yang mengenalku selalu memanggilku dengan sebutan Stell kecuali cowok yang satu ini. Tapi anehnya aku tidak keberatan dengan panggilan itu, aku suka panggilan itu.   "Sumpah gue nggak tau kalo tadi itu first kiss lo. Seandainya gue tau lo belum pernah ciuman sebelumnya, gue nggak bakal lancang buat cium lo La." Ia berkata dengan tatapan mata yang begitu tulus, tatapan penuh penyesalan. Tapi percuma, semuanya sudah terlambat. Kalau kata pepatah, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Dan bubur nggak bisa berubah menjadi nasi kembali walau bagaimanapun caranya.   "Dan pada intinya..." Steve menghentikan kalimatnya untuk kembali menghirup oksigen yang ada di sekitarnya. "Gue minta maaf." Ia melanjutkan dengan tegas. Tatapannya masih mengarah ke kedua bola mataku. Mencoba menemukan harapan dari balik bola mataku. Harapan berupa kata bahwa aku memaafkannya.   "Lo pikir, dengan lo minta maaf terus gue dengan mudahnya bakalan maafin lo?" Aku bertanya di tengah-tengah kebencian dan rasa tersiksa yang membebaniku. Pikiranku melayang pada kejadian menyakitkan yang kualami hari ini bersamanya. Tanpa terasa, butir-butir kehangatan itu mengalir dari pelupuk mataku. Betapa jahatnya cowok yang berdiri di hadapanku ini? Apakah salahku padanya sehingga ia tega berbuat semua itu padaku?   Rasa bersalah itu terlihat jelas pada raut wajahnya. Terlebih-lebih saat ia melihatku menangis di hadapannya saat ini. Kami sama-sama terdiam hingga akhirnya aku kembali bicara di sela-sela tangisku. "Setelah semua yang udah lo lakuin ke gue hari ini? Setelah lo udah bikin gue ketakutan setengah mati gara-gara ngeliat lo buka baju di depan gue? Setelah lo udah nyembunyiin sepatu gue di puncak pohon? Dan terakhir, lo... Lo..." Aku tak sanggup mengucapkan beberapa kata berikutnya. Tangisku pecah. Aku menangis sejadi-jadinya. Entah sudah berapa tetes air mata yang telah kukeluarkan. "Lo udah nyuri first kiss gue!" Akhhirnya enam kata itu berhasil kuucapkan dengan sedikit berteriak.   "Gue rela ngelakuin apa aja, asalkan lo mau maafin gue," ucapnya dengan sungguh-sungguh. "Gue benar-benar nyesel, La... Please, maafin gue!" Ia sedikit memohon.   "Udah terlambat! Gue udah terlanjur benci sama lo." Aku menghapus air mata yang membasahi pipiku dengan menggunakan punggung tanganku. "Jadi jangan pernah lagi lo minta maaf sama gue, karena sampe kapan pun gue nggak bakal maafin lo! GUE BENCI SAMA LO!!"   Setelah itu aku bergegas pergi dari arena parkiran. Meninggalkan Steve sendirian dengan rasa bersalah yang terus menyelimuti hatinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN