Usai bercinta bersama kekasihnya Eric duduk di sofa yang ada dikamarnya, ia memikirkan Mila yang tadi keluar apartemennya dalam keadaan marah besar.
"Ada apa sayang? sepertinya ada yang mengganjal dipikiranmu" tanya Gista perempuan itu.
"Kamu tau siapa perempuan tadi?" tanya Eric.
"Memang siapa anak kecil itu?" tanya Gista.
"Dia Mila" ucap Eric.
"Mila? Mila selingkuhanmu itu? Mila putri pengusaha besar itu?" tanya Gista.
"Ya... dan ini masalah besar sayang, kamu dengarkan tadi, dia memutuskan hubungan kami, kamu tau sendiri dia aset yang sangat berharga untuk kita" ucap Eric.
"Ya Tuhan bagaimana ini, ini salahku mengajakmu bermain disini" ucap Gista.
"Gapapa sayang, aku akan mengajaknya bicara dan semoga saja dia bisa memaafkanku" ucap Eric.
"Aku harap begitu" ucap Gista.
Eric memikirkan cara agar Mila bisa kembali ke pelukannya lagi, selama ini ia mendekati gadis itu hanya untuk keperluannya dan Gista. Mila yang sangat royal bisa dimanfaatkan Eric, dan selama ini Mila lah yang menyokong dana untuk lelaki itu dan dana tersebut juga mengalir ke rekening Gista.
---
"Lo boleh pulang dan kembali lagi nanti malam, jam 7" ucap Mila begitu tiba dirumahnya, ia pun berlari masuk menuju kamar namun dihadang sang mama tiri.
"Mila ada apa sayang?" tanya Santi mama tirinya.
"Gak usah sok peduli tante" ucap Mila dengan ketus seraya menaiki tangga menuju kamarnya.
Santi menghampiri Kevin yang berdiri diambang pintu.
"Apa yang terjadi Vin? sepertinya Mila habis menangis" ucap Santi.
"Non Mila tadi memergoki pacarnya bersama perempuan lain di apartemen" ucap Kevin.
"Mereka bertengkar?" tanya Santi lagi.
"Bukan bertengkar nyonya tapi putus, tepatnya non Mila yang memutuskan hubungan mereka" ucap Kevin.
"Baguslah... akhirnya dia putus juga dari pacarnya yang gak benar itu. Ya sudah Vin, silahkan kalau kamu mau ambil makan" ucap Santi.
"Permisi nyonya" Kevin berlalu menuju dapur.
Di dapur Kevin mengambil makan siangnya yang memang dipersiapkan khusus untuk para pegawai dirumah itu.
"Mas... tadi non Mila kenapa?" tanya Sumi art yang bekerja dirumah itu.
"Kepo" ucap Kevin, ia membawa piring makannya ke teras kursi makan khusus art yang ada didapur itu.
"Ih mas, kasih tau dong" ucap Sumi dengan centilnya.
"Gue lagi makan Sumi" omel Kevin.
"Ya udah habis makan ceritakan ya mas" ucap Sumi lagi.
"Gak" ucap Kevin seraya melahap makan siangnya.
Usai makan siang Kevin segera pulang dan tepat jam 7 malam Kevin tiba kembali dirumah majikannya.
"Mau kemana non??" ucap Kevin saat Mila sudah kembali rapi dengan pakaian santainya.
"Antar gue keliling Jakarta" ucap Mila.
"Baik, silahkan non" seperti biasanya Kevin membukakan pintu belakang untuk majikannya.
"Gue didepan aja" Mila membuka pintu jok depan lalu masuk.
"Gapapa non duduk didepan??" tanya Kevin begitu ia sudah duduk di kursi kemudi.
"Ya gapapa, gak ada larangan kan? ya udah jalan deh, gak usah banyak omong" ucap Mila.
"Maaf non, ini mau kemana" ucap Kevin.
"Jalan aja dulu" ucap Mila.
Perlahan mobil meninggalkan halaman rumah, dan sesuai permintaan Mila akhirnya Kevin membawa gadis itu mengelilingi kota Jakarta, sampai akhirnya Mila minta berhenti di sebuah taman kota.
Mila hanya duduk diam didalam mobil dengan lamunannya.
"Saya mengerti apa yang non rasakan, sakit rasanya di khianati orang yang kita cintai, saya pun pernah merasakannya non. Dan mungkin dengan cara ini Tuhan memperlihatkan bagaimana keburukan kekasih non itu, mungkin ini yang terbaik bagi non menjauh dari lelaki itu" ucap Kevin.
"Gue kira dia setia dia baik, tapi ternyata dia jauh dari itu semua, dia selingkuh dan parahnya lagi dia..." Mila tak sanggup melanjutkan kalimatnya, air matanya menetes saat ingat akan penghianatan sang kekasih.
"Sabar non, yakinlah ini yang terbaik buat non. Jangan lagi menangisi lelaki seperti itu rugi non, masih banyak lelaki lain yang jauh lebih baik dari si Eric itu" ucap Kevin.
"Lo benar, meskipun menyebalkan lo baik juga ternyata" ucap Mila, ia menghapus air matanya.
"Mau pulang sekarang non?" tanya Kevin.
"Ya" angguk Mila.
Tiba dirumahnya Mila dihadang sang papa dan mama tirinya.
"Dari mana?" tanya Mattew.
"Jalan aja pah keliling-keliling, kalau gak percaya bisa tanya tuh supir" ucap Mila.
"Papa dengar pulang sekolah tadi kamu menangis, ada apa sayang?" tanya Mattew.
"Laporan dari mana pah?" tanya Mila kesal.
"Mamamu bilang begitu" ucap Mattew.
"Gapapa kok hanya masalah kecil, oh ya kasih tau istri papa kalau belum tau detailnya gak usah laporan sama papa" ucap Mila kesal.
"Mamamu lapor karena dia khawatir denganmu Mila" omel Mattew.
"Khawatir? masa sih? kepo aja kali" ucap Mila ia pun berlalu menuju kamarnya.
Mattew dan Santi menatap punggung Mila yang menaiki anak tangga.
"Maafkan Mila ya mah" ucap Mattew.
"Gapapa pah, aku mengerti kok, dia belum bisa menerima kehadiranku dirumah ini" ucap Santi.
"Hhh... sampai kapan anak itu seperti ini, dengan pikirannya yang dangkal" gumam Mattew.
"Gak usah dipikirkan pah, aku akan sabar" ucap Santi.
"Ya semoga saja pikirannya segera terbuka dan melihat ketulusanmu sayang" ucap Mattew.
"Amin" ucap Santi.
"Kita ke kamar" Mattew tersenyum penuh arti.
"Ayolah" ucap Santi, ia memeluk lengan suaminya menuju kamar.
♥♥♥