Ini hari Minggu –weekend. Harusnya menjadi hari di mana kau berleha-leha. Kalau perlu tidur seharian. Tapi tepat di pukul sepuluh pagi –yang menurutmu masih sangat-sangat pagi untuk hari libur– pintu rumahmu diketuk berkali-kali. Sambil merutuki siapapun yang mengganggu hari tenangmu, kau bangkit dengan malas-malas untuk membukanya. Sebenarnya kau tahu jelas siapa itu. Tidak ada yang lain kecuali sepupu kesayanganmu, Kang Seulgi. Setidaknya dia selalu membawakan banyak makanan. Andai saja kau terlahir kaya dan cantik sepertinya. Kau membuka pintu. "Eonnie!" Serunya. Benar bukan tebakanmu. "Kau ini mengganggu saja," ujarmu dengan malas-malasan. "Sudah ayo masuk." Kau berbalik dan berjalan ke dalam. "Eonnie, kali ini aku tidak lama di sini kok." Keningmu berkerut. "Kenapa?" "Aku han

