"Jimi"Jinmin.. Jinmin..." Kau memanggilnya dengan suara lirih. Pita suaramu serak karna terlalu lelah. Keringat dingin mengucur di pelipis Jinmin. Matanya terpejam namun terlihat gelisah seakan mengalami mimpi buruk. Pun dia membuka matanya perlahan dengan napas terengah ketika sadar. Menatapmu dan merasa lega bukan main. Senyum tipis terukir di bibirnya. Amber nya memberikan sorot sayu padamu. Tangannya yang melingkar di pinggangmu dieratkan –menarik tubuhmu lebih mendekat. Mempersempit jarak sampai tidak ada ruang di antara kalian. Berbaring bersama di atas kasur mu. Di balik selimut tebal yang membungkus tubuh telanjang kalian. Jam menunjukan tepat pukul setengah dua belas malam. Begitu hening kecuali suara napas kalian yang terdengar mengisi kamar mu. Jinmin meletakan kepalanya di

