“Gw, gak bisa cerita, Rum. Untuk masalah yang satu, kenapa nggak loe tanyain langsung aja ke Demas,” elak Devara.
“Sejak kapan loe sama gw ada rahasia, Dev? Loe, kira gw bakal ngebela Demas gitu? Sekalipun dia cowok gw, tapi kalau dia salah, gw gak bakal ngebela dia atau pun leo, Dev. Sekarang bicara deh, ada masalah apa?” desak Arumi.
Devara menatap Arumi yang terlihat begitu penasaran. Tapi hati kecilnya melarang keras untuk membongkar pokok permasalah yang terjadi kemarin.
“Tanya aja sama Demas, gw pengen dengar dia jawab apa ke loe, Rum. Yuk, gw temanin masuk kelas.” Devara lalu mengambil tas Arumi yang ada di atas meja dan menggandeng Arumi.
“Yah sudah! Kalo loe, pakai rahasia-rahasiaan sama gw. Jangan harap gw juga bakal cerita masalah apa pun ke loe lagi, Dev.” Arumi lalu menghempaskan tangan Devara yang berjalan lebih dulu meninggalkan Devara dari belakang.
Hal tersebut tidak masalah bagi Devara, selama Arumi tidak merasa sedih atau sakit hati, kalau dimarahi hanya karena rasa penasaran, Devara sudah biasa. Kecemasan Devara juga bukan main, untuk menutup permasalahan yang kemarin terjadi, Devara juga tidak sungkan-sungkan mencari Bunga dan meminta bukti rekaman video yang ada di ponsel Bunga.
Saat itu Bunga tengah keluar dari ruangan kelasnya, Devara yang sedang menunggu Arumi ujian seketika langsung mengajar Bunga dan mencengkeram tangan Bunga dengan kuat. “Gw tau, apa yang tadi loe lakukan ke Arumi. Loe, mau gw tuntut dengan pasar perundungan dan penyebaran berita bohong serta perbuatan tidak menyenangkan hati?” ancam Devara.
“Lepasin, Devara! Lepasin!” perintah Bunga.
“Gw, juga gak peduli kalau harus masuk penjara paling satu atau dua minggu dengan menganiaya perempuan berkelakuan dajal kayak loe, Nga. Serius! Gw nggak bohong. Loe, tau kan? Siapa nyokap gw, heh? Bukannya selama ini loe selalu mencari tau latar belakang para mahasiswa yang ada di kampus ini, kan?” Rasa terintimidasi yang dirasakan Bunga membuatnya menyerah, apalagi wajah Devara benar-benar tidak ramah dan sangat dingin.
“Loe mau apa, Dev. Please! Kita bisa ngomong baik-baik kan? Jangan kayak gini, Dev. Please.” Bunga terlihat memelas kepada Devara.
Melihat reaksi Bunga yang ketakutan, Devara akhirnya mengendorkan cengkeramannya. Walau, tidak melepasnya sama sekali. “Gw cuman minta, jauhi Arumi. Jangan pernah ngebuli Rumi lagi, tanda tangani surat pernyataan di atas materai dan disaksikan oleh kuasa hukum gw, juga serahkan rekaman perkelahian gw dan Demas baik yang asli maupun salinannya. Setelah itu minta Bokap loe yang kaya rasa itu, untuk hubungi semua provider menarik dan memblokir video yang sudah terlanjur tersebar. Semua itu harus loe lakukan satu kali dua puluh empat jam, Bunga.”
“Mana bisa?! Loe gila, ini namanya mision imposible.” Bunga tidak terima dengan banyaknya permintaan Devara.
“I don’t care! Dalam satu kali dua puluh empat jam permintaan gw nggak clear. Jangan salahkan gw, kalau surat tuntutan dari firma hukum nyokap gw bakal mendarat dengan rapi di meja kerja Bokap loe, Bunga.” Devara lalu segera melepaskan cengkeramannya dari tangan Bunga dan berbalik meninggalkan Bunga yang terlihat sangat panik saat itu juga.
“Gila! Dia kira gw tukang sulap apa!” teriak Bunga.
“Loe kaya kan? Loe pasti bisa ngelakuin apa aja yang loe mau!” balas Devara sengaja juga berteriak agar didengar oleh Bunga.
Bunga seketika merasa setres dengan ancaman Devara, ia memilih untuk segera menuju ke kantor papanya dan meminta pertolongan untuk masalah yang satu ini. Sedangkan Devara kembali bergegas menunggu Arumi di depan kelasnya. Tak lama berselang suarra bel menandakan akhir jam kuliah berganti. Arumi keluar dengan menatap tajam kepada Devara.
“Idih, itu muka, serem amat.” Devara berusaha untuk mencairkan suasana di antara mereka.
“Gw, masih kesel yah sama loe, karena loe gak mau ngomong apa-apa ke gw masalah kemarin.” Arumi masih mengomel tidak puas.
“Ya, udah. Sekarang gw antar pulang, yuk.” Devara kembali merangkul Arumi tanpa memperdulikan wajah dan mood Arumi yang lagi buruk.
Mereka berkendara dan sampailah Devara juga Arumi ke tempat tujuan mereka. Arumi lalu turun dan langsung masuk ke rumah Devara tanpa dipersilahkan. Hal ini tidaklah asing, sudah menjadi hal yang lumrah bagi kedua keluarga ini, melihat tingkah anak mereka masing-masing.
“Tante Vina, Tante.” Arumi mencari ke sana ke mari Mamanya Devara.
“Iya, Sayang. Udah pulang? Yuk, makan dulu baru ke rumah kamu. Kebetulan mama kamu lagi ke rumah produksi, toko juga lagi ditutup itu. Nih, kunci rumah kamu, Rum. Habis makan baru boleh pulang.” Vina lalu mengambilkan dua piring kosong untuk anaknya dan Arumi.
“Makasi, Te. Tante, kemarin ke kampus juga nggak?” Arumi sengaja langsung bertanya kepada Vina tanpa memperdulikan reaksi Devara yang terlihat gelisah.
“Iya, itu Tante dipanggil sama Rektor. Gara-gara Devara mukul ketua BEM kampus kamu. Tapi masalahnya sudah selesai, dan kita semua sudah buat surat pernyataan untuk tidak membongkar masalah ini kepada siapapun. Tapi, karena Arumi uda seperti anak Tante, jadi yah gak apa, Tante ceritain yah,” ucap Vina sambil mengambilkan nasi buat Arumi dan Devara.
“Mama!” pekik Devara, takut jika Vina akan membocorkan pokok permasalahan yang terjadi.
Tetapi Vina tidak menghiraukan anaknya, justru tersenyum melihat Arumi yang sudah duduk dengan rapi bersiap mendengar cerita dari mama sahabatnya.
“Diem loe, Dev. Maaf, Te ... gimana Te, ceritanya?” tanya Arumi untuk yang kesekian kalinya.
“Jadi, kemarin itu Devara nggak sengaja dengar pembicaraan si Demas. Menurut pengakuan teman-temannya, Demas hanya bercanda. Dia intinya itu bercandain kamu Rum. Nah, Rumi tau kan? Gimana protektifnya Devara ke Rumi selama ini? Yah jadi Devara marah, Demas tidak terima. Maka terjadilah baku hantam yang tidak terelakkan itu.
“Tante, sampai ketemu sama orang tuanya Demas, loh. Ternyata Papanya Demas itu dulu mantan kekasihnya Tante. Hahaha! Dunia ini sungguh kecil, Tante tidak menyangka jika akhirnya kami dipertemukan lagi lewat anak-anak kami.” Cerita Vina justru mengalihkan perhatian Arumi dari pokok permasalah yang ada.
“Yah ampun! Kok bisa? Hahaha! Dunia sesempit ini, Te. Terus-terus, Te? Gimana dengan Om Soni?” Arumi sudah melupakan rasa penasarannya pada inti permasalahan yang ada, ia kini malah lebih tertarik dengan cerita masa lalu Vina.
“Om Soni sih, santai banget. Rumi pasti tau lah, gimana coolnya Om Soni.” Arumi terbahak mendengar ucapannya Vina. Keduanya kini malah asik bercerita, hingga Vina melihat anaknya sejenak dan mengedipkan matanya, tanda jika semuanya aman terkendali.
“Mama, memang paling bisa mengatasi keadaan genting,” batin Devara terkekeh melihat interaksi antara Arumi dan Vina.
Suasana kembali normal saat Vina mencairkan suasana hati Arumi dengan caranya yang luar biasa, tanpa harus membongkar kejadian yang sebenarnya secara detail. Kini Arumi dan Devara tengah berada di depan pintu rumahnya Arumi, keduanya bisa dikatakan sudah berdamai.
“Loe, gak marah lagi kan? Sama gw?” tanya Devara.
“Apa, sih? Susahnya cerita gitu, kayak tadi Tante Vina jelasin.” Arumi lalu membuka pintunya dan masuk.
“Loe tau kan? Gw kayak gimana, mana bisa gw menjelaskan kejadian kemarin seperti cara nyokap gw menjelaskan,” kekeh Devara diikuti dengan Arumi yang menggeleng melihat kelakuan sahabatnya.
Arumi lantas berjalan ke meja kasir dan membuka laci meja untuk bersiap menjaga toko. Tujuannya hanya ingin mencari buku stok dan pendapatan tadi pagi. Tapi tanpa sengaja sebuah surat dengan kop rumah sakit tempat Soni bekerja sekaligus tempat Arumi diopname beberapa bulan lalu terjatuh ke lantai.
“Eh, Surat apa ini?” tanya Arumi saat mengambil surat tersebut dari bawah meja.
“Arumi! Mama pulang!” Terdengar suara Citra memanggil anaknya, bersamaan dengan Arumi yang sudah memegang amplop surat tersebut di tangannya.
“Surat apa ini, Ma?”
“Jangan dibuka Arumi!”