BAB 19. Pembullian berlanjut

1165 Kata
Sesuai dengan janjinya kepada Devara, Vina kini menjemput Devara ke ruangan Pak Bono. Ia memeluk anaknya dan mengelus d**a Devara. “Kamu, harus lebih sabar lain kali yah, Nah. Kita pulang sekarang?” ajak Vina kepada Devara. “Iya, Ma. Tapi, mobil Devara?” tanya Devara yang baru saja ingat jika hari ini, dia membawa mobilnya ke kampus. “Biarin aja tinggal di sini, mama sudah kasih uang dua ratus ribu ke Mang Deden,” bisik Vina. “Hah?! Kok, Mama-“ Ucapan Devara langsung dipotong sama Vina dengan meletakkan jari telunjuknya ke bibir Devara. “Jangan ramai-ramai. Biarin aja, mending kasih dua ratus ribu buat Mang Deden, bisa buat beli beras untuk istri dan anaknya. Yuk, kita pulang.” Vina langsung menggandeng Devara yang bingung dengan ucapan mamanya. “Kok, kayak nggak asing yah, kalimat yang Mama bilang tadi,” batin Devara pada dirinya sendiri. Dalam perjalanan Devara kembali berbincang dengan Vina. “Ma, Arumi dimana?” “Lagi makan es kacang merah sama papamu,” jawab Vina sambil menyetir. “Loh, kok makan es, Ma? Kan nggak boleh, Ma. Ayo, kita susulin mereka, Ma.” Devara seketika panik. “Ck ck ck, Dev. Rumi itu pergi sama Papa. Apa kamu lupa? Papa itu dokter, hah? Masa sama Papa sendiri nggak percaya sih kamu?” ucap Vina sambil mengacak-acak rambut anaknya. Devara lalu terdiam, ia merenungi dirinya yang terlalu mengkhawatirkan Arumi. Ternyata mencintai seorang sahabat yang menganggap dirimu sebagai saudara itu sangat menyiksa. Entah bagaimana lagi, caranya Devara untuk bisa mengungkapkan perasaannya. Devara selalu berpikir, jika dirinya nekat menyatakan cintanya suatu saat nanti, apa Rumi akan bersikap sama, seperti Rumi yang sekarang. Melihat anaknya tampak berpikir keras, Vina mengusap lembut kepala Devara. “Cinta itu memang menyiksa, Nak. Di kala kita tidak bisa memilikinya atau bahkan saat kita tidak bisa mengungkapkannya. Mama tau, entah sejak kapan kamu memiliki perasaan itu, tapi Mama tau, ketulusan cinta kamu kepada Arumi begitu besar.” Vina lalu menoleh dan tersenyum melihat Devara yang tercengang seolah tertangkap basah sedang mencuri. “Tenanglah, ini akan menjadi rahasia kita, Nak. Ada satu rahasia Mama yang akan Mama ceritakan juga sama kamu, Dev.” Devara lalu memperbaiki posisi duduknya dan melihat Vina dengan seksama. “Airlangga Hudayono, itu nama papanya Demas. Dia dulu pernah pacaran sama Mama, sebelum Mama bertemu dengan Papa kamu, Nak.” Mulut Devara seketika terbuka lebar sangking kagetnya. “What?!” pekik Devara. Vina mengangguk dan terkekeh melihat reaksi anaknya. “Iya, dulu kami pacaran kurang lebih lima tahun. Karena Opa kamu adalah seorang pejuang idealisme dan pengkritik para pejabat jaman itu, tentu saja hubungan Mama dengan Airlangga tidak disetujui. Mama dulu juga pernah mengalami apa yang dialami oleh Arumi. Mama dijadikan taruhan sama Pratiwi, istri Airlangga yang sekarang. Siapa yang bisa membuat Mama putus dengan Airlangga maka Pratiwi akan memberikannya imbalan. “Hingga akhirnya teman-temannya berlomba-lomba untuk menjjatuhkan Mama di hadapan Airlangga. Tapi, tidak ada yang berhasil, Airlangga terlalu mencintai Mama dan percaya sepenuhnya kepada Mama. Hingga akhirnya Pratiwi menggunakan kritikan Opa kamu, menjadikannya sebagai senjata untuk menjatuhkan mama di hadapan kedua orang tua Airlangga yang saat itu juga menjabat sebagai anggota DPR. Sedangkan Pratiwi adalah salah satu anak Menteri pada jaman itu. “Pratiwi berhasil memisahkan Airlangga dan Mama. Hingga saat mereka arisan dan membayarkan uang taruhan kepada Pratiwi, Airlangga menangkap basah semuanya. Airlangga marah, membabi buta seperti kamu. Dia memukuli semua teman-teman Pratiwi yang laki-laki pastinya. Tapi, tetap saja saat itu Airlangga kalah dengan tuntutan orang tuanya. Dia dijodohkan dengan Pratiwi dan akhirnya menikah.” Vina lalu kembali tersenyum melihat Devara yang masih melongo. “Lalu, apa Mama, sangat sakit hati?” Pertanyaan bodoh Devara meluncur dari mulutnya begitu saja hingga membuat Vina terbahak bukan main. “Tentu saja Mama sakit hati, patah hati. Sampai dua tahun kemudian bertemu dengan seorang Dokter muda yang sangat tampan, berpendirian dan sangat penyayang juga lembut. He is so gentlement. Dia Papa kamu. Papa kamu juga dulu hanya mendengar nama Airlangga saat Mama menceritakan tentang masa lalu Mama. Tapi, baru tadi Papa bertemu langsung dengan Airlangga.” Vina kembali tertawa. “Rotasi Bumi ini, memang terkadang tidak bisa diprediksi, Devara.” Devara lalu mengangguk mendengar ucapan mamanya. “Iyah, Ma, benar. Untuk Arumi, saat ini lebih baik Devara mendampinginya sebagai sahabat dan saudara saja, Ma. Devara takut, jika menyatakan perasaan Devara, Arumi justru akan menjauh.” Devara kembali memijit keningnya dengan pelan. “Mama yakin, Devara pasti bisa membaca situasi dan menetukan langkah yang harus diambil dengan bijak,” ucap Vina menguatkan anaknya. “Terima kasih, Ma.” *** Keesokan harinya, Arumi berangkat menuju ke kampus terpisah dengan Devara. Bukan tanpa alasan tapi, karena memang Arumi ngotot untuk membantu Heri membeli kacang kedelai di pasar dan memilihkan kualitas yang terbaik untuk rumah produksi orang tuanya. “Yang ini, Pa. Yah sudah, Rumi berangkat dulu yah, Pa,” pamit Rumi kepada Heri papanya. “Hati-hati, Nak,” teriak Heri sambil melambaikan tangannya kepada Arumi yang berlari menuju ke Halte Bis. “Arumi sudah besar njih Mas. Yah Allah, anak itu selalu saja rajin dan nggak ada malunya ke pasar bantu orang tuanya.” Bu Teguh begitu kagum kepada Arumi. “Iya, Bu. Saya sangat bersyukur punya Arumi.” Heri tersenyum haru melihat Arumi yang baru saja memasuki Bis menuju ke kampusnya. Siapa yang menyangka jika di kampus Arumi sudah menjadi pergunjingan hebat. Akibat ulahnya Bunga, semua mahasiswa menatap jijik dan jengkel kepada Arumi setiap kali bersisipan dengannya. “Ada apa, sebenarnya?” batin Arumi, suasana hatinya sudah merasakan firasat yang buruk. “Welcome to the class, si anak bakul tahu yang paling cantik. Si paling bisa buat dua cover boy kampus kita baku hantam hanya gara-gara kegatelannya.” Bunga berteriak sambil menepuk-nepuk tangannya saat Arumi memasuki kelasnya. “Apa maksud, Loe?” tanya Arumi, to the point. “Gak usah berlagak polos deh loe, Rum. Masa iya, loe nggak tau, kalau kemarin Devara baku hantam sama Demas hanya gara-gara kelakuan loe.” Bunga mulai memutar balikan fakta. “Kelakuan, gw? Maksudnya?” Arumi lalu menaruh tas ranselnya dan berjalan mendekat serta berdiri di hadapannya Bunga. “Eh, nggak usah deket-deket juga, kali. Gw, alergi sama orang miskin kayak, loe! Denger yah, Loe uda buat Demas masuk ke rumah sakit. Ngomong apa loe sama Devara, hah?! Ngadu apa loe sama Devara, sampai Devara mukulin Demas kayak itu. Loe jadi cewek miskin tau diri dikit, napa? Kalo loe emang suka sama Demas buat apa loe selalu dekat-dekat sama Devara. Loe mau rambang dua cowok sekaligus gitu? Jadi pacar loe? Serakah amat loe. Oh, bukan serakah, murahan banget loe!” Bunga lalu mendorong bahu Arumi. “Jalang banget sih loe, Rum!” sahut teman-temannya yang lain. “Miskin, nggak tau diri, anjir!” teriak yang lainnya. “Open BO nggak Loe, Gw mau dong, Rum.” Suara lain yang melecehkan juga terdengar jelas ditelinga Arumi. Semua, seisi kelas membulli Arumi. Air mata Arumi lalu terjatuh, ia melihat sekelilingnya terus saja berisik, berebut untuk mengolok-oloknya, untuk membuatnya sakit hati. “DIAM KALIAN SEMUA!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN