Arumi maupun Demas seketika mengunci mulutnya ketika Devara menangkat suatu ucapan Demas yang mencurigakan. “Rum, ada kejadian apa di puncak, hah?” bisik Devara, jantungnya bergemuruh hebat. “Yang jelas, nggak seperti yang loe pikirkan, Dev. Gw bisa jaga diri gw. Gw, masih perawan! Anjir!” desis Arumi kesal dengan wajah panik dan kecurigaan Devara. Mendengar ucapan Arumi, Devara sedikit bernafas lega. Walaupun pada akhirnya Devara harus mendapatkan lirikan tajam dari Arumi. “Udah deh, Dem. Loe pergi aja dari sini, gw mau kuliah.” Arumi lalu meninggalkan Demas yang sudah tertunduk lemas. “Rum, please Rum, maafin gw,” Demas masih memohon dengan lirih. “Bagaimana mau mikirin masa depan kalau urusannya setiap hari hanya minta maaf doang. Nggak ngerti gw, sama orang kayak loe, Dem. Sorry ya

