Paket Undangan

1132 Kata
Happy Reading Melewati kemacetan Surabaya ketika jam pulang kantoran adalah hal sederhana yang menyenangkan. Bagaimana tidak, jarak rumah dengan kantor yang biasanya kutempuh kurang dari dua puluh menit ketika jalanan lengang kini menjadi dua kali lipatnya. Mobil honda jazz putih terparkir sempurna disalah satu cluster di sebuah perumahan yang berada di daerah Surabaya bagian selatan. Nashwa Zahira nama pemberian kedua orang tuaku dengan panggilan kesayangan dari mereka yaitu Nana. Umurku dua puluh enam ditahun ini dan masih berstatus single sejak putus dengan pacarku lima tahun yang lalu. Catet, single bukan jomblo. Aku menjadi workaholic sejak lulus dari strata-1 jurusan perbankan kemudian diterima di salah satu bank milik pemerintah dalam naungan BUMN. Empat tahun terakhir bekerja disana sebagai teller ditahun pertama hingga ketiga dan sekarang menjadi teller kordinator di tahun keempat. Memasuki rumah berukuran 45 yang sudah kutempati sejak tiga tahun terakhir dengan mengikuti sistem KPR yang dibantu Papi saat pembayaran DP dan melanjutkan cicilan dengan memotong 30% dari gajiku. Awalnya mendapat penolakan dari Mami karena harus tinggal terpisah dengan mereka, namun Papi berusaha meyakinkan dan akhirnya bersedia melepasku untuk tinggal sendiri. Tok tok tok Terdengar suara ketukan pintu ketika baru meletakkan tas jinjing di meja rias kamarku. "sebentar" kataku dengan sedikit mengeraskan suara "permisi, dengan mbak Nashwa?" kata seorang kurir ketika aku membuka pintu "betul" "ini paketan untuk mbak Nashwa" katanya sambil menyerahkan sebuah kotak berbungkus plastik warna merah berukuran sedang. Setelah membubuhkan tanda tangan kemudian kurir tadi pamit dan aku kembali masuk dengan tanya siapa pengirim paketan ini. Duduk di sofa ruang tamu sambil menyenderkan punggung dan membuka kaitan kancing atas untuk melonggarkan leherku yang terasa pegal setelah seharian bekerja. Setelah membuka paketan yang isinya beberapa potong kain brokat, kain batik, sebuah scraft dan undangan. "apalagi ini?" lirihku pelan yang sudah mengetahui jelas siapa pengirimnya Mengambil ponsel androidku yang terletak didalam tas kemudian mencari sebuah nama dan segera mendialnya. Tidak lama suara dari seberang telepon menyapa "Halo Na, tumben telepon" "Mi, ini anak gadisnya yang telepon lho. Kok nggak ada tanya kabar atau apa gitu?" keluhku ketika mendapatkan suara Mami dengan sedikit sini saat aku menelepon "kan kamu jarang telepon rumah kalau masuk hari kerja. Wajar dong Mami kaget" kata Mami dengan enteng "Iya, Mami selalu benar" aku mengalah "itu pinter" "ini Mami ngirimin paketan kain?" tanyaku "Iya, kamu cepetan jahit Na. Acaranya kurang dari satu bulan lagi" pinta Mami "Nana gak usah hadir ya Mi... Cukup Mami, Papi, Mas sama Adek aja" "enak saja, ini acaranya Pakde kamu gak datang. Mas-mu sudah memastikan gak bisa hadir masa kamu gak hadir juga?" "males Mi, masa dalam setahun mau tiga kali jadi pagar ayu" Begitu berlanjut obrolanku dengan Mami seputar tarik ulur dengan berbagai alasan agar dapat menghindari acara pernikahan yang akan diselenggarakan oleh saudara tertua dari Mami. Hingga satu penekanan dari Mami diujung teleponnya. "Mami gak mau denger alasan apapun, kamu harus datang dengan memakai baju yang sudah Mami kirimkan lewat kurir" Demikian dan selesai. Hidup terpisah selama tiga tahun dengan Kedua orang tua mengajarkanku banyak hal. Seperti mengatur waktu, keperluan sehari hari, keuangan dan sebagainya. Sudah menjadi kewajiban setiap pagi menyetel alarm jam 5 untuk bangun kemudian menyiapkan baju kerja dan selanjutnya memasak untuk makan siang. Untuk sarapan hanya berbekal roti dua lembar dengan pilihan berbagai selai serta satu gelas s**u cokelat menjadi menu wajib setiap pagi. "bawa bekal makan apa nih mbak?" tanya Intan salah satu teller ketika jam istirahat siang tiba. Kami sedang duduk berhadapan. "sayur bening sama ikan dan gorengan aja kok" jawabku dengan membuka beberapa kotak makanan berjejer disalah satu meja pantry yang terdapat di kantorku. Sudah menjadi kebiasaan juga membawa bekal makan siang hasil masakanku tadi pagi. Bukan setiap hari juga bawa makanan dari rumah. Kalau lagi males, pingen makan diluar atau bahan makanan habis baru makan siang diluar atau pesan lewat go food. "ayok makan bareng Tan" ajakku padanya "makasih mbak, lagi diet aku" jawabnya dengan meneguk air dalam botol hingga tandas. "kamu kok niat banget diet. Hidup itu dinikmati tan" kataku "pacarku bilang aku gendutan" "pacar kamu bilang gitu?" tanyaku dengan dijawab dengan anggukan "baru juga jadi pacar" lanjutku dengan menyendokkan nasi beserta kuah ke dalam mulut. "dia kan udah oversize mbak, makanya aku diminta gak boleh gendut" ceritanya yang membuatku speachless. Ada ya laki laki yang berstatus pacar meminta perempuannya diet sedangkan ia enak tanpa ada pantangan? Itu pacar atau Ibu tiri? Tck, tega sekali. Meletakkan sendokku kemudian menatap Intan secara intens. "dan kamu mau melakukannya Tan?" "kenapa gak dia aja yang diet, kok nyuruh kamu" "namanya juga cinta mbak, gak tau aku nurut aja" katanya dengan diakhiri dengan kekehan Hari ini pulang cukup larut karena mengerjakan rekapitulasi akhir bulan dan menjelang pukul delapan baru sampai di rumah. Sebentar, pandanganku tertuju pada rumahku yang pintunya sedikit terbuka dengan suara gaduh disana. Setelah memarkirkan mobil berjalan memasuki rumah dengan melepaskan sepatu highheels lima senti kemudian menentengnya. "ya ampun... Salma..." terkejut dengan apa yang kulihat. Pandanganku tertuju pada ruang tamu yang berantakan berbagai CD playstation dan ceceran bungkus makanan ringan. Belum lagi volume keras yang keluar dari speaker yang membuat telingaku berdenging. "mbak Nana kok baru dateng?" Mengambil remote kemudian mengecilkan volume suara dan memberikan tatapan tajam pada Salma, Adikku. "Iya, lembur akhir bulan" kataku ketus sambil memunguti sampah jajanan yang berada diatas karpet ruang tamu "kamu jorok banget sih" tidak tahan dengan sampah berukuran kecil yang berada disela karpet. "habisnya laper banget" katanya terkekeh sambil melihatkan gingsulnya. "kenapa gak pesan makanan?" "gak punya duit, stok jajanan mbak Nana banyak jadi aku makan. Mbak aku chat gak dibales" "gak sempat buka hape" "jangan ngambek dong" "gimana gak kesel pulang kerja lihat rumah berantakan gini" berdiri dan berkacak pinggang didepannya "yaudah aku beresin deh, mbak ganti baju. Sekalian pesen go food" "awas kalo gak bersih" ancamku kemudian berlalu ke kamar untuk membersihkan diri dengan sebelumnya sudah memesan menu makanan melalui go food. Selesai membersihkan diri kemudian berganti baju berbahan kaos dengan hot pants. Dimeja tamu sudah berjejer beberapa kantung plastik berisi kotak makanan yang kupesan tadi. "gak boleh makan di ruang tamu. Bawa ke meja makan" titahku pada Salma kemudian ia turuti tanpa menyela. Kami makan dalam diam, Salma melahap satu paket nasi berisi daging saos lada hitam kesukaannya sedangkan aku memilih dengan saos barbeque. "mbak, aku nginep disini ya?" pintanya ketika selesai meneguk minumannya "kenapa? Kamu berantem sama Mami?" tebakku "capek dapet ceramah agama Mami tiap hari. Atau aku pindah sama mbak aja disini" "enak aja, gak boleh" Kami tiga bersaudara. Mas Ilham anak sulung kemudian Aku dan Salma anak bungsu. Mas Ilham bekerja di luar kota, sedangkan aku memilih tinggal terpisah meskipun masih dalam satu kota dengan orang tuaku. Salma sebagai anak terakhir harus tinggal dengan Mami dan Papi, jadi aku tidak setuju jika Salma ingin tinggal bersamaku. Karena sudah jelas akan mendapat penolakan dari Mami. . . . To be Continued Ayaya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN