Aku tahu kalau sekarang aku menjadi buruan Angels Hunter. Dan Navaro juga sudah mengatakan kalau dia tidak bisa benar-benar melindungiku. Sebagai malaikat, Navaro tidak mungkin memilih bermusuhan dengan kaumnya hanya untuk melindungiku. Tapi aku sudah berjanji pada Wren akan menunggunya. Aku menyukainya. Aku tidak tahu sejak kapan rasa suka ini memenuhi dadaku, tapi aku menyukai Wren. Aku tidak ingin membahayakannya hanya demi melindungiku, membahayakan klan yang kutahu sangat disayanginya.
“Wren memintaku mengajarimu, perempuan.”
Suara Navaro memecah lamunanku saat aku berbalik dan mendapati malaikat itu berdiri di pintu ruang baca. Aku melirik jam tanganku dan menyadari kalau sudah lebih dari sejam aku duduk diam disini.
“Berhentilah memanggilku dengan jenis kelamin seperti itu, Navaro. Aku punya nama, Lily.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kau tidak mau menyebut namaku!”
“Bukan urusanmu. Sekarang keluar dari ruangan itu. Aku harus mengajarimu sesuatu. Dan aku tidak bisa melakukannya di ruangan yang penuh barang-barang seperti ini.” Ujar Navaro lalu berjalan menjauhi ruang baca.
Dengan enggan aku mengikutinya. Kami berhenti di ruang tengah yang memang ruangan paling luas di rumah ini karena tidak memiliki perabotan apapun.
“Kita harus menguji sebatas mana kekuatan malaikat yang kau dapatkan. Tapi sebelumnya kau harus belajar mengontrol kekuatanmu. Semua kekuatan malaikat dan senjata malaikat bergantung pada emosi si pemilik. Kalau emosimu sedang meledak-ledak, maka tenaga yang keluar juga akan besar namun tidak stabil. Seperti sekarang, aku bisa dengan sangat jelas merasakan emosimu. Emosi kita hanya bisa dirasakan oleh sesama malaikat, tapi kehadiran kita bisa dirasakan oleh makhluk lain tergantung seberapa kuatnya kau mengontrol perasaanmu.”
Mengontrol emosi? Sekarang? Yang benar saja!
“Seharusnya kau tahu kalau aku adalah orang yang paling tidak bisa mengontrol emosiku sendiri. Jadi sepertinya ini akan sulit.”
Navaro mengangguk pelan. “Aku tahu, karena itu hal pertama yang kuajarkan adalah mengontrol tenaga karena itu yang paling sulit bagimu. Tapi mungkin nanti kau akan paham sendiri karena aku sendiri belajar dari pengalaman sehari-hari. Sekarang pikirkan kalau di punggungmu ada sepasang sayap. Pikirkan dan bayangkan kau mengembangkannya.”
“Ha?”
“Lakukan saja!” Sergah Navaro mulai kesal karena aku memang bukan tipe murid cerdas.
Aku masih tidak mengerti apa yang disuruh Navaro, tapi aku tetap membayangkannya. Beberapa detik pertama aku sama sekali tidak merasakan apapun. Tapi sedetik kemudian aku merasa seolah punggungku ditoreh oleh pisau bermata sangat tajam. Aku bisa merasakan ada sesuatu keluar dari punggungku dan rasanya sangat nyeri. Amat sangat. Aku terlalu takut untuk membuka matanya saat aku mendengar decak kagum meluncur dari bibir Navaro, dan saat itu lah aku memutuskan untuk melihat ‘benda’ apa yang keluar dari punggungku.
Kulihat tatapan Navaro terpaku pada ‘benda’ yang keluar dari punggungku. Entah kenapa aku yakin kalau aku memiliki sayap saat ini. Dengan sedikit menggerakkan bahu, aku berusaha menggerakkan sayapku yang ternyata mengepak dengan sangat bersemangat hingga aku meWrenang satu meter dari lantai.
“Tidaaaaaak!” Teriakku histeris dan bukannya berhenti, sayapku malah semakin semangat terus mengepak.
Dalam keadaan histeris itu aku masih sempat melihat Navaro mengembangkan sayapnya dan dengan mudah malaikat itu meraihku dan membawaku mendarat dengan mulus di lantai sebelum aku menembus langit-langit rumahnya. “Lihat sayapmu.” Ujarnya pelan, dan aku menangkap nada kagum dalam ucapannya.
Saat itulah aku baru sadar kalau warna sayapku bukan putih, tapi abu-abu lembut. “Warnanya...” Bisikku pelan.
Navaro melepaskanku begitu aku bisa berdiri tegak. “Supaya kau jangan salah paham. Setiap setengah malaikat yang memiliki darah manusia, tidak semua setengah malaikat memiliki sayap dan tidak semua setengah malaikat yang memiliki sayap punya warna seperti milikmu. Dalam hal ini karena ayahmu adalah Lucifer, maka seharusnya sayapmu berwarna hitam. Tapi kenyataannya tidak. Sayapmu berwarna abu-abu.”
“Apa artinya itu?”
“Entahlah. Aku tidak pernah melihatnya selama ini. Kau satu-satunya kasus. Praepositus.”
Hampir 3 jam kemudian aku benar-benar sudah bisa mengendalikan kedua sayapku. Aku dan Navaro berlatih halaman belakang rumah Navaro_walau sebenarnya Dragoste Hall adalah rumah Wren juga. Aku sadar kalau sayapku tidak sebesar sayap Navaro. Sayap Navaro benar-benar indah. Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan keindahan sayap miliknya. Dan menurut Navaro_yang sudah semakin baik dan ramah padaku_semua sayap malaikat berwarna putih bersih seperti miliknya kecuali sayap Lucifer_yang katanya adalah ayahku_berwarna hitam pekat.
“Aku ingin menjelaskan sedikit tentang ayahmu, Lucifer. Sebagai malaikat, dulu Lucifer terkenal dengan kekuatan dan kepandaiannya dalam musik. Kekuatannya menyamai kekuatan malaikat tingkat dua, sebagai pengendali kedamaian. Dalam musik, tidak ada yang bisa mengalahkannya di Regnum Angelorum. Aku rasa setidaknya, kau memiliki dari kedua kekuatan itu. Aku hanya tidak ingin kau terkejut kalau suatu saat ternyata tenagamu lebih besar dari sebelumnya.” Jelas Navaro cepat.
Sekarang aku tahu beberapa istilah yang beberapa kali Navaro paAleandro saat menceritakan tentang malaikat. Regnum Angelorum adalah sebuah tempat dimana terdapat banyak sekali malaikat dengan kasta-kasta tertentu, dengan kata lain Regnum Angelorum seperti kerajaan untuk para malaikat. Praepositus adalah kata yang mereka gunakan untuk menyebutkan kalau sesuatu itu spesial. Dan tadi Navaro juga sempat menyebutku sebagai Sanguine Mixta yang artinya adalah Sarah campuran.
“Terima kasih untuk semuanya, Navaro. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa kalau kau tidak ada. Tapi ada satu hal. Aku ingin minta tolong padamu.”
Navaro diam. Aku tahu kalau dia bisa membaca pikiranku dengan mudah. Wajahnya yang selalu tenang kali ini berubah drastis. Keterkejutan jelas muncul di wajah tampannya. “Kau tidak bisa melakukan itu, Lily Russell!” Bentak Navaro untuk pertama kalinya menyebut nama lengkapku.
“Aku harus, Navaro. Kau sendiri yang bilang kalau tidak mudah bagi mereka yang melindungiku. Bahkan kau sendiri tadi terluka. Aku tidak ingin Wren terluka apalagi mengorbankan klannya untukku! Tidak!”
“Tapi Wren memilih melindungimu! Dan tanda itu! Percuma saja kau menyembunyikannya dariku! Itu tanda Wren! Kau sudah berpasangan dengannya! Hanya Tuhan yang tahu siapa yang bisa memisahkan kalian!” Seru Navaro sambil menunjuk tanda yang muncul di punggung tanganku sejak 3 jam lalu.
Tanpa sadar aku mengelus punggung tangan kananku, tempat tato kuno itu terukir. “Wren tidak akan tahu. Aku akan meneleponnya nanti dan mengatakan kalau aku sudah menemukan pria yang kucintai. Dia pasti mengerti. Selama dia tidak tahu kalau aku punya tanda itu, dia tidak akan mempermasalahkannya.”
“Kau kira Wren sebodoh itu? Kau kira dia akan dengan mudah melepaskanmu meski kau tidak punya tanda itu? Sepanjang keabadianku, Lily, vampir adalah makhluk paling egois dan paling posesif yang kukenal. Dia tidak akan semudah itu melepas wanita yang sudah membuatnya mendapatkan tanda kuno itu. Aku bersumpah demi semua nama suci.”
“Aku mohon, Navaro... Tolong bantu aku kali ini saja. Aku yakin kau juga menyayangi Wren dan tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Karena itu bantu aku.”
Tanpa sadar aku membuat suasana hati malaikat manis itu memburuk. Awalnya aku tidak yakin, tapi setelah kuingat, langit selalu mendung saat suasana hati malaikat ini memburuk. Dan sekarang langit diatas kami mulai mendung. Suhu uSara menurun tajam, kabut mulai terbentuk. “Aku menyayanginya dengan cara yang tidak bisa dipikirkan oleh siapapun. Wren memiliki arti lebih dari teman bagiku. Apa yang dilakukannya dan tidak dia lakukan membuatku ada sampai saat ini. Aku menghormatinya walau seharusnya tidak. Aku tidak ingin terjadi apapun pada Wren. Bahkan malam ini aku mencemaskan pertarungannya. Tapi aku juga tahu lebih dari siapapun apa arti dirimu baginya. Membantumu hanya akan membuat Wren terluka dan aku tidak ingin itu terjadi.”
“Luka yang Wren alami karena aku tidak akan separah akibat kalau dia melindungiku, Navaro. Dia bisa saja kehilangan klan yang sangat dicintainya, dan terlebih lagi, dia bisa saja mati saat melindungiku! Itukah yang kau inginkan?”
“Nay. Tentu saja tidak. Aku akan membantumu, tapi aku tidak akan merahasiakan apapun dari Wren. Aku berhutang banyak padanya hingga aku tidak bisa membohonginya. Kita akan ke Carlisle, dan setelah itu kau bebas pergi kemanapun yang kau inginkan. Kekuatanmu adalah senjatamu saat ini. Seandainya Spathi Ourano belum kuberikan pada Wren, mungkin aku akan memberikannya padamu.” Putus Navaro enggan.
Aku tahu, membantuku sama saja mengkhianati Wren. Tapi kalau dengan begini Wren akan hidup dalam damai, aku tidak masalah harus menghilang. “Gratias.” Ucapku pelan dengan istilah yang biasa mereka gunakan sesama malaikat.
Navaro ternyata tidak membutuhkan alat transportasi apapun. Sebagai malaikat, dia memiliki kekuatan teleportasi. Dia bisa memperpendek ruang dan waktu.
“Aku bisa berpindah ruang dan waktu. Tapi aku tidak pernah melakukan perpindahan waktu karena itu akan mengacaukan kestabilan kehidupan. Dan sebagai malaikat, itu sangat dilarang. Karena itu setiap malaikat lebih sering menggunakan perjalanan ruang daripada perjalanan waktu.” Jelas Navaro seakan bisa membaca pertanyaan yang muncul di kepalaku.
Dalam beberapa menit kami sudah sampai di Padure Castel di Carlisle. Ada beberapa limosin terparkir di halaman depan dan ada dua helikopter terparkir manis di hanggar yang tidak jauh dari lapangan luas berumput yang mulai dipenuhi oleh orang-orang.
“Kita tidak salah? Bukankah ini lapangan baseball? Dan banyak sekali orang yang ada disini, Navaro.”
Navaro menarikku ke sisinya, berusaha menghilangkan auraku dengan kekuatannya. “Mereka semua adalah vampir, Lily. Dan kita tidak salah. Ini rumah Aleandro, walau dulunya juga rumah Wren.”
“Kenapa sepertinya setiap rumah yang kalian paAleandro adalah rumah Wren?” Tanyaku tiba-tiba.
“Karena Wren adalah vampir terkaya yang pernah kutemui. Bahkan sang nosferatu tidak sekaya Wren mengingat semua usaha yang Wren miliki.”
“Apa kau tahu dimana Wren?”
“Dia sedang menuju ke lapangan saat ini. Kau ingin melihatnya?”
Aku mengangguk cepat. Navaro kemudian membawaku mendekati lapangan dan menunggu di salah satu sudut gelap dan kemudian Navaro menunjuk seseorang yang sedang berjalan masuk ke lapangan dengan sangat cepat, nyaris meWrenang. Wren terlihat baik-baik saja. Dia juga membawa Spathi Ourano bersamanya. Melihat Wren seperti itu membuatku yakin dengan keputusanku.
“Sudah cukup, Navaro. Gratias tibi amicus. Aku harap kau bisa menjaga Wren. Aku pergi.” Pamitku berusaha untuk tidak menangis sambil bergegas menjauh dari lapangan.
Airmata yang sejak tadi berusaha kutahan akhirnya mengalir di wajahku. Wren, laki-laki yang menjadi cinta sejatiku harus kulepaskan bahkan sebelum aku sempat mengucapkan aku cinta padanya. Kehidupan dan klannya lebih penting dari kebahagiaanku. Aku ingin bersamanya, aku ingin menghabiskan hidupku disisinya. Aku tidak peduli dengan bahaya yang akan kuhadapi asal aku bisa bersama Wren, tapi tidak jika bahaya itu malah mengancam nyawa Wren dan klannya. Aku tidak bisa memintanya berkorban sebanyak itu.
Setelah cukup jauh dari rumah Aleandro, aku mulai mengembangkan sayapku. Dengan sekali kepakan sayap, aku berhasil terbang vertikal dengan mulus. Sekarang saatnya mengaplikasikan ajaran Navaro. Dengan sangat perlahan aku berusaha merentangkan sayapku selebar mungkin dan mengatur keseimbangan tubuhku. Dalam sekejap saja kini aku sudah berpuluh meter diatas tanah dengan posisi horizontal. Angin malam mengeringkan jejak-jejak air mata di wajahku. Aku harus kuat.
Aku tidak tahu akan kemana, yang bisa kupikirkan saat ini adalah terbang sejauh dan selama yang kubisa. Berharap Wren tidak mencariku dan bisa melepaskanku. Aku tahu kalau ini adalah yang terbaik untuk Wren dan klannya.
***
*Author POV*
Tidak ada yang lebih menakutkan dibandingkan seorang vampir grandmaster berusia hampir satu milenia yang sedang murka. Selamat dari serangan yang benar-benar nyaris mengambil keabadiannya membuat vampir itu semakin meningkatkan kekuatannya. Dan kini dia semakin kesal karena tidak tahu harus melampiaskan kemarahannya pada siapa. Rumah sang eksekutor sudah nyaris rata dengan tanah saat dia sadar dari masa kritisnya sehari yang lalu.
“Aku ‘mati’ selama seminggu dan tidak ada diantara kalian yang berusaha untuk membuatku sadar secepatnya! Sudah seminggu! Sudah seminggu Lily berkeliaran dengan Reynard memburunya! Entah dia masih hidup saat ini atau tidak!” Bentak Wren entah untuk keberapa kalinya sejak dia sadar.
“Sudah dua hari kau mengamuk seperti ini, Wren.” Tegur Navaro, satu-satunya yang berani duduk paling dekat dengan sumber amarah.
Wren menatap Navaro dingin, tatapan yang kalau diterima manusia akan membuat manusia itu memilih terjun dari pinggir jurang daripada menghadapi kemurkaan sang vampir. “Kalau kalian tidak menahanku, aku sudah mencarinya sendiri sejak kemarin!”
“Duduk dan tenanglah, Wren.” Ujar Zac tenang.
Wren menatap Zac dengan tatapan yang bisa diartikan dalam kata-kata sebagai: Pergilah kau ke neraka itu. “Kau menyuruhku tenang, Zac?!” Seru Wren dengan nada yang tidak akan pernah digunakan vampir manapun saat bicara dengan raja mereka.
“Ya, aku_menyuruhmu_tenang.” Ujar Zac penuh penekanan pada setiap suku katanya dan langsung menghempaskan Wren ke ranjang besar bertiang empat yang berjarak tiga meter di belakang Wren dan menahan vampir itu disana, tepat seperti yang dulu pernah Wren lakukan pada Elysia. “Kau tidak mendapatkan apapun dengan bersikap seperti manusia gua, Wren.” Lanjut Zac tetap sama tenangnya seolah dia tidak melakukan apapun pada Wren.
“Lepaskan aku, Zac! Aku bukan tahanan!”
“Aku akan melepaskanmu. Apa kau mau berjanji untuk bersikap sedikit lebih tenang?” Tanya Zac seakan sedang menghadapi anak kecil yang sedang memberontak.
Wren menolehkan kepalanya menatap Navaro. “Lepaskan aku, Navaro.” Bisiknya pelan.
“Aku tidak bisa sampai kau berjanji untuk bersikap tenang, Wren.” Jawab Navaro. Raut wajahnya bahkan lebih menderita daripada Wren. Seakan pilihan antara membebaskan Wren dan menahan Wren merupakan akhir dari dunia.
“Sialan kalian! Sudah hampir dua hari kalian menahanku di tempat ini seolah aku bisa menghancurkan dunia begitu aku berdiri dengan kakiku!” Geram Wren putus asa.
“Bukankah itu yang kau lakukan? Kau menghancurkan rumahku tidak lama setelah kau siuman dan menyadari kalau wanita itu pergi?” Tanya Aleandro datar.
Wren menatap satu persatu tamu tak diundang di kamarnya. Navaro duduk hanya dua meter dari tempat tidur di sofa yang sengaja ditariknya mendekati tempat tidur. Aleandro dan Zac duduk di sofa panjang di dekat jendela. Archard memilih untuk berdiri di pintu sementara Alby memilih duduk tenang di kaki tempat tidur Wren. “Siapa lagi yang ingin pamer kekuatan? Bagaimana kalau kau, Archard? Atau Alby mungkin?”
“Jangan sinis seperti itu, Wren.” Tegur Zac, “Kau hanya perlu berjanji bersikap tenang dan aku akan memastikan tidak seorangpun yang menyentuhmu_langsung ataupun tidak.”
Sialan! Navaro sama sekali tidak memandangku. Dan sepertinya dia juga sudah menderita melihatku seperti ini. Pikir Wren sama sekali tidak berniat berjanji apapun pada Zac.
“Berjanji sajalah, Wren. Kau tidak akan tersiksa.” Bujuk Alby sambil menatap Wren setengah memohon.
Wren balas menatap Alby. Bahkan tanpa Wren mengucapkan sepatah katapun, Alby sudah tahu arti tatapan itu. Dengan enggan dia memalingkan wajahnya dan menghadap kemana saja selama bukan melihat Wren.
Setengah jam kemudian akhirnya Wren berhenti memberontak. Sama sekali tidak ada hasilnya dia berusaha melepaskan diri dari kekuatan Zac bahkan saat Zac sedang tidak fokus padanya. “Kau menang, Zacarias! Aku berjanji akan bersikap baik selama kau melepaskan kekuatanmu!” Seru Wren dengan sengaja menyebut nama asli Zac yang membuat Archard dan Alby langsung tersedak udara.
“Coba kau bersikap seperti ini sejak tadi, aku tidak perlu meminta Aleandro bergantian denganku menahanmu.” Ujar Zac pelan. “Lepaskan dia, Aleandro.” Sambung Zac datar.
Setelah merasa kalau kekuatan tak kasat mata yang membelenggunya sudah tidak ada, Wren bangkit dari ranjangnya dan kembali berjalan hilir mudik di kamarnya. Ditatapnya satu per satu semua tamu di kamarnya. “Begini, aku harus menemukan Lily. Pagi sebelum pertarungan itu kami diserang. Kalau diingat jarak antara serangan dengan lepasnya segel Lily hanya beberapa jam. Padahal saat itu ada aku dan Navaro disana, tapi Angel Hunter itu tetap menyerang kami. Sepertinya dia tidak masalah kalau berhadapan dengan vampir dan sesama malaikat. Sekarang_anggap saja Lily masih hidup, karena kalau sebaliknya aku juga lebih baik mati_Lily sendirian, tidak ada yang bisa melindunginya, dan dia mungkin belum bisa mengontrol kekuatannya. Angels Hunter itu pasti akan memburunya tanpa mundur sekalipun. Sudah seminggu berlalu sejak segelnya terlepas. Seharusnya kalian mengerti.”ujar Wren berusaha tetap tenang walau kemarahan jelas masih dapat terlihat dari langkahnya yang menghentak dan tergesa-gesa.
“Kau berharap berhadapan dengan Angels hunter itu dengan kekuatanmu yang belum pulih ini?” Tanya Zac sinis.
“Apapun yang ingin kau lakukan, tolong lakukan setelah kekuatanmu sepenuhnya pulih, Wren. Kau bahkan pingsan setelah berhasil meratakan rumah Aleandro.” Ujar Navaro pelan.
Archard melirik Zac dan sedetik kemudian Zac mengangguk. “Harvey dan Jaye berhasil melacak jejak Lily. Sampai dua hari yang lalu. Mereka menemukan kalau jejak Lily berakhir di sebuah rumah di daerah Whiteheaven.” Jelas Archard datar, dia tahu kalau apapun yang dia katakan akan dianggap Wren sebagai perintah dari Zac. Tapi untuk kali ini, Archard sendiri yang meminta Harvey dan Jaye untuk mencari Lily, demi Wren.
“WHITEHEAVEN!” Sembur Wren penuh emosi saat dia kembali sadar kalau dia sudah berjanji pada semua yang ada disana untuk menjaga emosinya. “Whiteheaven hanya satu hari berkendara dari Carlisle. Tapi kalo dari London akan makan waktu berhari-hari!”
“Tidak kah kau sadar, Wren? Sudah seminggu, dan menurut Harvey, Lily baik-baik saja. Ada yang aneh, Wren! Seperti yang kau bilang, beberapa jam sejak segel Lily terlepas kalian langsung diburu bahkan di hadapan malaikat seperti dia.” Ujar Aleandro sambil menunjuk Navaro. “Pasti ada sesuatu kenapa Lily masih baik-baik saja sementara Angels Hunter berkeliaran di sekitarnya selama seminggu ini!” Sambung Aleandro lagi.
“Aku tidak percaya kalau kau tidak tahu alasannya, Aleandro.” Bisik Zac nyaris tanpa suara.