Chapter 20

2437 Kata
Aleandro jatuh terduduk, darahnya mengalir deras dari lengan kanannya, sementara Navaro mendarat disisiku, menarik belati di bahuku dalam sekali sentakan dan merenggut Sally dari pelukanku. Navaro membalik tubuh Sally, mengeluarkan belati dan menutup luka itu dengan tangannya. Cahaya lembut keluar dari tangan Navaro dan lama kelamaan luka di punggung Sally menutup. Dan saat luka itu menutup sempurna, raut kepedihan muncul di wajah sang malaikat. Sally sudah tidak tertolong lagi. Navaro langsung berdiri dengan Sally dalam dekapannya. Kepedihan itu masih terukir jelas disana. Kedua sayap Navaro kembali mengembang, dan dia langsung terbang tanpa mengucapkan apapun, bahkan kemarahan sekalipun. Aku masih memandangi langit setelah kepergian Navaro saat Zac muncul disebelahku. “Kau sudah melakukan kesalahan, Wren. Tapi aku tidak akan menghukummu karena bukan aku yang menetapkan hukum itu.” Ujar Zac pelan. “Apa kau ingin menuntut tanggung jawab Wren, Aleandro?” Aku menatap Aleandro, masih tidak percaya kalau dia yang selalu mengatakan akan melakukan apapun untukku malah mengabaikan permohonanku_yang sangat egois_kali ini. Aleandro masih menekan luka bekas panah itu, luka itu masih mengalirkan Sarah dan ada bekas aneh di sekeliling panah itu. Saat itulah aku sadar kalau luka Aleandro akan sulit sembuh karena panah malaikat menyebabkan luka bakar dalam. “Aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin kembali ke rumahku.” Ucap Aleandro datar.   Sentuhan Navaro di lenganku membuyarkan lamunanku tentang kejadian masa lalu. Ya. Sejak kejadian itu, hubunganku dengan Aleandro tidak pernah membaik. Aku sendiri tidak tahu apa alasannya hanya saja rasanya tidak bisa kembali ke masa lalu. Dan Navaro, ya, seminggu setelah kejadian itu dia lebih sering muncul di sekitarku dan mengikutiku sampai aku menerimanya di rumahku, dan dia memutuskan untuk menjadi temanku, memberikan bantuan untukku sejauh yang dia bisa karena apa yang pernah aku lakukan untuk mereka setengah milenia yang lalu. “Aku ingin sekali melihat raut wajah Aleandro saat itu. Sudah lama sekali dia tidak menunjukkan emosinya.” Ujarku pelan, benar-benar lupa dengan masalah Lily. “Aku mungkin membencinya sampai saat ini karena sudah memburuku, tapi aku tidak berharap kau juga membencinya karena aku tahu hubungan kalian sangat dekat dulu. Dan sejujurnya aku lebih membenci Archard karena dialah yang membunuh Sally.” Aku mengangguk pelan. “Ada beberapa hal yang tidak bisa di perbaiki meski kita berusaha keras untuk melakukannya. Dan sepertinya hubunganku dengan Aleandro adalah salah satunya.” “Ada beberapa hal yang kelihatannya tidak bisa berubah tapi pada kenyataannya dapat diubah dengan mudah. Hubunganmu dengan Aleandro memang salah satunya.” Balas Navaro tidak mau kalah. Ucapan Navaro entah kenapa mengingatkanku kenapa aku disini. “Aku harus menyelamatkan Lily.” Seruku tiba-tiba, dan sama mendadaknya dengan ucapanku, Navaro menyentuh dahiku sambil menggumamkan maaf sebelum aku kembali kehilangan kesaSaranku lagi.   Keesokan harinya aku benar-benar murka pada mereka semua. Mereka memperlakukanku seakan aku hanya anak kecil yang tidak bisa melakukan apapun dan butuh perlindungan. Dan yang paling membuatku kesal adalah mereka jelas-jelas memamerkan kekuatan mereka dalam mengendalikanku sesuka hati mereka, termasuk Navaro, hanya karena aku memang belum pulih sepenuhnya untuk bisa melawan mereka. Dan untuk nama terakhir ini, aku tahu kalau dia cukup menderita melihatku seolah menjadi tawanan. Setelah bersikap penuh amarah, akhirnya aku terpaksa melunak. Aku sadar percuma saja melawan ketiga makhluk sialan itu dengan amarah karena mereka jelas-jelas bisa menghentikanku dengan mudah saat kondisiku seperti ini. Belum lagi kenyataan kalau Archard memberi informasi tentang Lily. Dia memberitahuku kalau Lily terakhir kali ditemukan di Whiteheaven, hanya satu hari perjalanan dari Carlisle, tapi butuh berhari-hari kalau dari London. “Jadi, apa aku boleh pergi mencari Lily ke Whiteheaven sekarang setelah kalian sepakat berbaik hati tidak menahanku seperti seorang pesakitan di tempat tidur?” Tanyaku sinis. “Kami mungkin memang menahanmu, tapi kau jelas bukan seorang pesakitan yang harus di tahan. Ini semua demi kebaikanmu, Wren.” Ujar Zac cukup membuatku kaget karena dia tidak menggunakan nama manusiaku, “Seperti itulah yang dipikirkan Aleandro.” Tambahnya kemudian amat sangat tenang. Aku berjalan mendekati Zac dan Aleandro, berdiri dengan jarak yang sama untuk keduanya. “Bisakah kau mengatakan padanya_langsung ataupun dengan bertukar pikiran_kalau aku lebih suka dia bicara sendiri, bukan melalui orang lain. Seorang vampir tua sepertinya yang sudah menyandang gelar eksekutor lebih lama daripada usia manusianya seharusnya berani mengungkapkan apapun yang ada dalam pikirannya. Apapun yang terjadi setengah milenia yang lalu itu jelas sudah lama dan sudah menjadi bagian masa lalu. Kalau dia masih peduli padaku seperti aku peduli padanya, dia tidak akan membiarkan orang lain menyuarakan pikirannya.” Aleandro masih tidak bicara. Kali ini aku dengan tegas menatap wajahnya. “Aku akan pergi kalau memang tidak ada yang ingin protes lagi.” Putusku lalu berbalik saat akhirnya aku mendengar Aleandro bicara_benar-benar bicara, tidak melalui pikiran lagi. “Pergilah, dan tolong berhati-hatilah. Bawa pedang itu bersamamu karena aku sudah menyaksikan sendiri betapa bergunanya pedang itu.” Ucap Aleandro pelan, nyaris berupa bisikan. Aku tersenyum puas, dan kemudian menatap Zac dan Navaro bergantian. “Aku akan ikut denganmu. Kau bisa membawa Lily pulang, dan kalau kita beruntung, aku akan mengurus Reynard kalau dia menemukan kita. Lagipula, kalau memang Lily ada di Whiteheaven, akan cukup sulit membawanya pulang kalau dia tidak ingin pulang. Tapi aku selalu punya hak khusus untuk bisa menjemput siapapun dari tempat itu.” Putus Navaro tenang. “Baiklah. Walaupun sejujurnya aku ingin sekali ikut denganmu, tapi ada masalah yang harus kuselesaikan. Dan dia pasti akan melindungimu.” Ujar Zac pasrah. “Whiteheaven mungkin aman, tapi berhati-hatilah begitu keluar dari sana.”   *Lily POV* Sejak meninggalkan Wren di Carlisle, aku terbang tanpa arah, berhenti saat lelah. Dan tiba-tiba saja aku sudah sampai di barat Inggris. Kota kecil tempat aku dibesarkan, Whiteheaven. Selama perjalanan itu aku sama sekali tidak mendapatkan serangan apapun, tapi bukan berarti mereka sudah melepaskanku. Karena itu setibanya di Whiteheaven, aku langsung bergegas menuju panti asuhan tempatku dulu ditampung. Sudah hampir 5 tahun aku tidak mengunjungi tempat ini. Aku hanya berharap kalau Mrs. Nicole masih ada disana. Sepanjang ingatanku, aku sama sekali tidak pernah punya kenangan akan siapa orang tuaku. Aku hanya tahu kalau aku dibesarkan disini dan keluar saat usiaku menginjak 15 tahun_belum cukup dewasa untuk dapat bertanggung jawab pada diri sendiri menurut pemerintah_karena aku memaksa untuk hidup mandiri. Dan selama itu pula satu-satunya sosok ibu yang kukenal adalah Mrs. Nicole yang mungkin saat ini sudah menginjak usia 44 tahun. Sebenarnya ada orang lain yang membuatku menyuAleandro tempat ini selain Mrs. Nicole. Seorang gadis yang beberapa tahun lebih tua dariku. Dia memiliki beberapa kemiripan denganku, salah satunya adalah kami berdua adalah anak kesayangan Mrs. Nicole, dan anak itu_nyaris_tidak pernah sakit sama sepertiku. Tapi kenyataan ini lebih karena anak itu sering membuat sendiri ramuan untuk tubuhnya. Dia selalu berkata kalau itu adalah vitamin. Aku menatap bangunan sederhana di hadapanku ini. Bangunan yang bahkan lebih kecil dari rumah Wren ini tidak berubah sejak terakhir kali aku datang. Warna catnya sudah pudar, bekas coretan ada dimana-mana. Tapi itulah yang membuat tempat ini nyaman. Aku meraih besi bundar di pintu yang berfungsi sebagai ketukan dan mengetuk beberapa kali sampai aku mendengar sahutan di dalam. Dan beberapa detik kemudian pintu besar itu mengayun terbuka dan sesosok tubuh muncul. Gadis itu akan terlihat cantik kalau noda hitam di wajahnya itu tidak ada. Aku cukup resah saat dia hanya berdiri diam menatapku, menganalisis apakah dia mengenalku. Tapi sepertinya aku yang mengenalnya lebih dulu karena_walaupun noda hitam itu hampir menutupi seluruh wajahnya_aku dapat melihat dengan jelas parut kecil berbentuk aneh di dahi kirinya. “Elizabeth?” Ucapku hati-hati. Gadis itu memicingkan matanya, berusaha mengenaliku saat tiba-tiba wajah seriusnya berubah menjadi wajah kaget sekaligus bahagia. “Lily? Ya Tuhan! Ini benar kau?” Serunya yang langsung menghambur memelukku. Aku membalas pelukannya, tidak peduli dengan noda hitam di wajah dan bagian tubuhnya yang lain. Kalau Sara sudah kuanggap sauSaraku, maka Elizabeth adalah orang yang akan menjadi kakak sulung bagiku. “Kau menghilang.” “Kau juga” “Lupakan, sekarang ayo masuk. Mrs. Nicole pasti akan senang melihatmu... Walau mungkin juga akan sedih.” Sambungnya pelan dan beberapa kata terakhir diucapkan dengan sangat pelan hingga hanya kalelawar-lah yang mungkin bisa mendengarnya dan aku jelas bukan kalelawar.   Malamnya aku tidur di kamar Elizabeth, gadis itu masih belum masuk kamar padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Seingatku, Elizabeth tidak suka tidur terlalu larut. Dan benar saja, 10 menit kemudian, Elizabeth sudah masuk ke kamar. Dia bergegas ke kamar mandi untuk mandi_salah satu kebiasaan Elizabeth yang ternyata tidak dilupakannya_sebelum tidur. “Kau sudah tidur, Lily?” Tanya Eliza_aku lebih suka menyingkat namanya_begitu aku merasakan ranjang berderit menahan beban tubuhnya yang sebenarnya tidak seberapa. “Belum. Aku sedang berpikir.” Sahutku pelan sambil berbalik menghadap Eliza. “Bagus. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu.” “Sepertinya ini serius.” “Mungkin. Begini, aku tahu dari Mrs. Nicole kau memang lumayan sering datang kesini, tapi kunjunganmu kali ini mendadak dan kau tidak membawa apa-apa. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau kabur dari sesuatu?” Aku terdiam. Sejak dulu Eliza selalu bisa melihat isi hatiku, entah dia menyadarinya atau tidak. “Aku tahu ada yang salah, Lily. Katakan padaku.” “Entahlah, Eliza. Sulit untuk dijelaskan. Rasanya ini... Ini... Aneh.” “Kau selalu bisa menceritakan apapun padaku, seaneh apapun. Karena sejak dulu kita memang aneh.” Ya, sejak dulu, aku dan Eliza memang paling aneh. Kami tidak pernah sakit, luka yang kami derita selalu lebih cepat sembuh dibanding siapapun. Karena itu kami dijauhi oleh anak-anak yang lain. “Percayakah kau kalau aku bilang aku setengah malaikat?” Tanyaku sedikit takut, dadaku berdegup kencang saat ini. “Aku percaya.” Sahut Eliza terlalu cepat menurutku untuk sebuah fakta yang nyaris tidak bisa diterima akal sehat manapun. Aku langsung bangkit dan duduk, menatap Eliza dengan mata terbelalak, tercengang. “Kau percaya?” “Kalau aku tidak percaya baru aneh, Lily. Kau memang memiliki Sarah malaikat.” Ujar Eliza sangat tenang. Seharusnya Eliza-lah yang terkejut, tapi ternyata aku yang shock mendengarnya. Eliza tahu kalau aku setengah malaikat. Pertanyaannya, sejak kapan dia tahu kenyataan ini? “Sejak kapan?” “Apa?” Tanya Eliza balik. “Sejak kapan kau tahu aku memiliki Sarah malaikat, Eliza? Tuhan tahu kalau tidak seorangpun yang memberitahukannya padaku, dan aku baru tahu belakangan ini!” Eliza meremas tanganku. “Sejak pertama kau ditinggalkan disini. Kalau bisa, kami ingin merahasiakannya selama mungkin, Lily. Ini bukan hal yang mudah untuk dibicarakan, nyawamu yang jadi taruhannya.” “Kami?” Eliza mengangguk. “Aku tidak tahu diluar sana ada berapa orang yang mengetahuinya sejak kau keluar dari sini 7 tahun yang lalu, tapi selama itu, hanya aku dan Mrs. Nicole yang tahu rahasia ini.” “Oh, ada banyak sekali yang tahu rahasia itu sekarang. Dan mungkin sudah bukan rahasia lagi. Apalagi kenyataan kalau aku sekarang sedang dikejar Angels Hunter. Segelku sudah terlepas, Eliza.” “APA?!?” Seru Eliza langsung melompat dari tempat tidur. Akhirnya dia bisa terkejut juga. “Segelmu sudah terlepas? Tapi itu tidak mungkin, Lily. Segel itu dibuat untuk... untuk...” “Untuk menjauhkanku dari vampir. Dan segel itu hanya bisa lepas dengan Sarah vampir.” Ucapku menyambung ucapan Eliza yang terputus. “Ya, Eliza, aku tahu. Segel itu berhasil melindungiku dari vampir yang ingin membunuhku, dan ya vampir itu mati. Tapi segel itu tidak melindungiku dari cinta. Aku mencintai seorang vampir, Eliza. Dan dengan Sarahnya lah aku melepas segel terakhir itu.” Dengan sangat tenang aku melepas sarung tangan yang selalu kukenakan sejak meninggalkan Wren. “Dan ini adalah buktinya.” Eliza mengamati tato kuno itu, wajahnya mengernyit ngeri. “Kau berpasangan dengan vampir. Ya Tuhan!! Lily, ayahmu menyegelmu agar kau menjauhi makhluk itu! Dan kau malah berpasangan dengannya!” Seru Eliza tidak percaya. “Kau bilang kau dikejar Angels Hunter, bukan? Kalau begitu tenang saja, dia tidak akan bisa menyentuhmu disini. Selama kau disini kau aman. Tapi masalah pasanganmu ini... Ya Tuhan...” Nah, ini aneh. “Kenapa Angels Hunter itu tidak bisa menyentuhku disini? Bahkan dia menyerangku saat aku di rumah Navaro!” “Aku tidak tahu siapa itu Navaro, tapi yang jelas tempat ini dibawah kekuasaan Mrs. Nicole. Bahkan Icarus tidak akan menyentuhmu disini kalau dia tidak ingin memicu perang dengan Dewan Tinggi. Siapapun boleh datang kesini, tapi tidak satupun yang bisa membawa orang yang tinggal disini secara paksa. Hanya beberapa orang yang kutahu memili izin untuk membawa penghuni Whiteheaven secara paksa.” “Dewan Tinggi?” “Kumpulan para penguasa makhluk abadi dari berbagai kaum. Ada vampir, Oracle, Were, Angel, Incubus, Gargoyle, Troll, dan banyak lagi.” “Siapa kau? Siapa Mrs. Nicole sebenarnya? Kalian bukan manusia biasa sama sepertiku. Siapa kalian?” Eliza kembali naik ke ranjang dan duduk bersila. Dia menatapku tulus. “Maaf kalau selama ini kami merahasiakan banyak hal darimu. Tapi percayalah, tidak ada yang kami inginkan selain kebahagiaanmu. Mrs. Nicole adalah seorang Oracle, Lily. Orang yang sangat dihormati diantara semua kaum, begitu juga aku.” Jelas Eliza pelan. “Ya Tuhan! Aku pernah bilang pada Wren kalau aku tidak percaya pada vampir, dulu. Tapi lihatlah, sekarang yang kau katakan lebih mirip dongeng daripada apa yang kualami beberapa bulan terakhir. Bagaimana mungkin manusia tidak tahu tentang keberadaan banyak makhluk gaib ini?” “Oh, mereka tahu, Lily. Hanya saja karena ini memang diluar logika manusia, maka para manusia lebih cenderung menganggap kalau ini semua hanya legenda. Mereka tidak akan mau mengakui kalau ada vampir atau bangsa lain yang berkeliaran di sekitar mereka dan mungkin membahayakan mereka. Tidak. Manusia lebih sering menutup mata terhadap masalah sekitarnya yang diluar logika.” “Wren selalu mengatakan kalau legenda itu adalah fakta. Dia benar.” Eliza mencondongkan tubuhnya ke arahku. “Dari tadi kau menyebut nama Wren. Apa Wren yang kau katakan ini adalah sang vampir bukan? Pemimpin klan Libra?” Aku mengangguk pelan. “Apakah dia juga pemilik tanda itu?” Sekali lagi aku mengangguk. “Dia vampire hunter, Lily. Dia pembunuh bayaran. Dia membunuh kaum nya sendiri. Dulu maupun sampai hari ini. Hidupnya terkutuk.” “Dia tidak seburuk yang kau kira, Eliza. Wren cukup baik, dan dia mencintai klan-nya.” “Vampir adalah makhluk paling menjijikkan di dunia. Mereka hanya tahu bagaimana cara memuaskan kebutuhan mereka. Baik itu Sarah ataupun nafsu mereka.” Aku menggeleng cepat. “Tidak semua, Eliza. Sebagian vampir, setidaknya yang kukenal mungkin jauh lebih beradab daripada manusia itu sendiri. Mereka saling menolong, tidak memburu manusia, bahkan sejauh yang kutahu, di London tidak ada vampir yang bisa memangsa manusia dengan paksa.” “Apa dia mencintaimu?” Wren? Mencintaiku? Yang aku tahu dia memang memiliki tato yang sama. Tapi cinta? “Aku tidak yakin.” “Aku mengerti. Kau bisa tinggal disini selama apapun yang kau inginkan. Tidak ada tempat lain yang lebih aman dibandingkan Whiteheaven.” Ucap Eliza pelan, “Sekarang tidurlah. Besok akan jadi hari yang panjang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN