Aku langsung melempar tubuh Alby ke seberang hingga menghantam rak-rak buku dan menghancurkannya. “Aku tidak peduli dia dari klan manapun, tapi kenapa harus Scorpio! Mereka yang membuat Alaric seperti ini! Mereka yang menyuntikkan perak cair itu ke tubuh Alaric dan membuat penyembuhannya berjalan sangat lambat bahkan setelah aku memberikan darahku!” Teriakku tepat di wajah Alby.
Alby meletakkan kedua tangannya dibahuku dan kemudian mendorongku menjauh. “Hanya Chale yang memiliki kemampuan sepertiku, Wren. Mungkin ada banyak dream hunter di dunia ini, tapi hanya kami bertiga yang bisa mengubah mimpi, Wren. Dream hunter hanya boleh ‘memakan’ mimpi dan dilarang keras untuk campur tangan terhadap mimpi orang lain. Hanya aku, Chale, dan Beltran yang memiliki kekuasaan untuk mengubah mimpi siapapun selain anggota klan kami sendiri. Hanya kami bertiga yang diberi kemampuan itu oleh para oneroi.” Ujar Alby tetap tenang bahkan setelah aku melemparkannya seperti tadi.
Aku menghempaskan tubuhku di pinggir ranjang Alaric dan menatap tubuh penuh luka yang kini hanya meninggalkan parut tipis di kulit pucatnya. “Suruh dia datang kesini. Kalau dia memang bisa membuat Alaric sadar, aku tidak keberatan kehilangan satu dari perlindunganku.” Putusku kemudian.
Ya, Alaric lebih berharga dari rumah yang kumiliki.
Dan beberapa menit kemudian Alby sudah kembali bersama seorang vampir dream hunter bernama Chale. Dream hunter itu terlihat sangat santai mengingat dia masuk ke rumahku. “Seandainya kau tidak terikat dengan klan ini, kau bahkan lebih dari sekedar cukup hanya untuk membangunkan vampir bodoh ini.” Ujar vampir itu yang ditujukan pada Alby.
“Aku memang ingin kau menyelamatkan, Alaric. Tapi katakan padaku apa alasannya? Kenapa kau bersedia membantu kami?” Tanyaku sambil berdiri diantara ranjang Alaric dan Chale.
Kulihat Chale tersenyum. “Aku berada di Scorpio bukan karena keinginanku, Wren. Anggap saja aku menanamkan kebaikan agar suatu saat nanti kau bisa membunuh Hector dan membuatku kembali menjadi dream hunter yang bebas.” Ujarnya ringan lalu berjalan melewatiku dan berhadapan dengan tubuh kaku Alaric.
Chale menyentuh dahi Alaric dengan tangannya dan tiba-tiba saja sosok Chale menghilang. Aku memang sering melihat cara kerja dream hunter saat melakukan perburuan mimpi, hanya saja selama ini Alby tidak pernah menghilang. Alby hanya perlu menyentuh dahi manusia seperti yang Chale lakukan tadi dan kalau dia sudah mendapatkan apa yang diperlukannya, Alby akan terlihat senang dan puas.
Tapi menghilang?
“Tinggalkan saja mereka. Ini bisa memakan waktu yang sangat lama. Kalau kau mempercayai Chale hingga dia boleh masuk kesini, maka berilah kepercayaan sedikit lagi dan tinggalkan mereka.” Bisik Alby sambil menyeretku keluar dari kamar Alaric.
Begitu sampai di lantai bawah, aku melepaskan tangan Alby. “Aku meninggalkan Alaric padamu. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu. Aku akan keluar sebentar.”
“Kemana kau akan pergi?” Tanya Alby sepertinya curiga dengan tujuanku.
Aku tersenyum sambil menepuk bahunya pelan. “Tenang saja, aku tidak berniat menantang siapapun. Aku hanya ingin menemui Navaro. Kemarin dia memintaku menemuinya.”
Kulihat ekspresi Alby sedikit melunak dan kemudian membalas senyumku. “Pergilah. Sampaikan salamku pada sang malaikat.”
Aku mengangguk dan kemudian segera keluar menuju garasi. Aku mengendarai Porsche putihku_yang sudah dimodifikasi_menuju salah satu rumah yang kumiliki Windsor. Perjalanan dari Maidenhead ke Windsor memang tidak memerlukan waktu lama, satu jam kemudian aku sudah sampai di rumahku yang sebenarnya sudah diambil alih secara sepihak oleh sang malaikat.
Rumah itu satu-satunya yang berbeda dari rumahku yang lain. Kalau rumahku yang lain memiliki dominan warna hitam atau warna gelap lainnya, yang bahkan kaca jendelanya juga kucat dengan warna hitam, maka rumahku yang satu ini benar-benar selayaknya rumah manusia dengan dominan warna putih. Aneh rasanya mengetahui kalau seorang vampir berada di rumah dengan pencahayaan penuh seperti ini. Tapi yang membuat rumah ini istimewa adalah teknologinya. Begitu aku memasuki rumah, seluruh jendela langsung tertutup oleh tirai hitam. Tidak ada cahaya matahari yang bisa masuk dan lampu-lampu mulai menyala memberikan penerangan buatan.
“Apa aku mengganggu tidurmu?” Tanyaku pada seorang pria yang sedang menuruni tangga dengan langkah malas.
Aku memang harus mengakui kehebatan malaikat di depanku saat ini. Dengan hanya mengenakan kemeja tanpa lengan kesukaannya serta jeans putih bersih, dia bahkan tetap akan terlihat seperti malaikat walau tanpa kedua sayap putih di punggungnya itu. Sosok sempurna malaikat tidak bisa dilihat oleh siapapun. Bahkan Navaro tidak pernah tampil dalam wujud sempurnanya dihadapanku. Menurutnya wujud sempurna malaikat tidak akan pernah bisa dilihat oleh siapapun selain sesama malaikat.
“Kau tahu kalau kita tidak pernah benar-benar tidur, Wren. Apa yang kau lakukan disini? Bukankah Alaric sedang terluka?” Tanya Navaro pelan lalu menguap lebar yang membuat sayapnya yang besar terentang hampir ke seluruh ruangan, dan dengan santainya dia melipat sayap putih itu dan kedua sayap itupun menghilang. “Untung kau mengungsikan semua perabotan tua itu karena aku pasti akan menghancurkannya setiap hari.”
“Ya. Dan Chale sedang mengurusnya. Aku hanya ingin mengunjungi teman malaikatku. Dan kalau dia bersedia, aku ingin mengajaknya keluar mengingat matahari sudah hampir tenggelam.”
Navaro memiringkan kepalanya dan kemudian sepertinya dia menyadari sesuatu. “Kau memasukkan vampir lain ke rumahmu?” Tanya Navaro seakan aku baru saja mengatakan akan mengakhiri kehidupan abadiku.
“Hanya Chale yang bisa menolong Alaric dan aku tidak keberatan kehilangan salah satu perlindunganku.” Jawabku cepat.
Navaro langsung memegang kepalanya. “Seandainya aku bisa sakit, maka kepalaku pasti sudah akan meledak saat ini.” Gerutunya kesal. “Bawa aku keluar, dan hindarkan aku dari kegilaan yang kau perbuat ini.” Ujarnya cepat dan entah sejak kapan, pakaian ditubuhnya sudah berganti menjadi kaos putih dengan jaket jeans pudar dengan bawahan celana jeans putih.
Tidak butuh waktu lama untuk memenuhi permintaan Navaro karena dia memang tidak memberiku kesempatan untuk menolak permintaannya. Beberapa menit kemudian, kami sudah bergabung dengan lalu lintas padat kota London.
“Sepertinya aku tahu kemana tujuan kita.” Ujar Navaro datar saat kami sudah memasuki lalu lintas London menuju tenggara kota.
Aku tersenyum pada temanku itu. “Hanya ingin melihatnya sebentar sebelum aku kembali bekerja.”
“Jangan bertemu lagi dengannya, Wren.” Ujar Navaro entah untuk keberapa kalinya sejak aku bertemu dengan Lily.
“Aku tahu kau melakukan ini karena kau bisa melihat masa depannya. Tapi bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau masa depan tidak akan bisa diubah? Aku tidak percaya takdir, teman. Jadi aku akan melakukan apapun yang ingin kulakukan sekarang.”
Kulihat Navaro membuang wajahnya dan menatap ke jendela di sampingnya. “Aku tidak bisa mengatakan seluruhnya. Yang bisa kukatakan adalah, kebersamaan kalian hanya akan mengundang pertempuran.”
“Hidupku atau lebih tepatnya matiku memang selalu mengundang pertempuran, Navaro. Selalu ada yang menantangku walau aku tidak pernah menantang siapapun. Karena aku sudah sangat puas dengan apa yang kumiliki saat ini.” Jawabku sambil terkekeh pelan. “Baiklah, sekarang apa kau ingin turun atau tetap disini?” Tanyaku begitu aku memarkir mobil di pelataran parkir umum tidak jauh dari toko Lily.
“Aku akan menunggumu disini saja. Aku rasa makhluk fana itu tidak ingin bertemu denganku.” Sahut Navaro datar.
“Jangan membawa lari mobilku, ya? Ini satu-satunya mobilku yang berwarna putih.” Ledekku lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju toko Lily.
Seperti biasanya, gadis itu berdiri di belakang meja kasir dan melayani pelanggannya dengan senyum. Dia memang gadis yang sangat biasa, tapi entah kenapa aku merasakan ada sesuatu yang berbeda darinya. Aku melangkah memasuki toko dan melihat wajah kagetnya menyambutku.
“Kenapa kau terlihat terkejut seperti itu, Lily?” Tanyaku sambil mencondongkan tubuh ke arah Lily.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Lily dingin.
“Kau selalu seperti itu. Padahal aku sudah merindukanmu seminggu ini.” Bisikku pelan lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh bibir bawahnya dengan ibu jariku kemudian menempelkannya ke bibirku. “Aku rasa ini cukup mengingat kau masih di tempat kerja. Aku tidak ingin berbagi waktu pribadi kita bersama orang lain.”
“Jangan macam-macam, Wren!”
Aku tersenyum. “Tenang saja, sayang. Aku masih tahu sopan santun kok untuk tidak menciummu disini.” Selaku cepat. “Jam berapa kau selesai hari ini?”
“Mengingat kau tahu hampir seluruh hal dalam hidupku, aku cukup terkejut kau bertanya seperti ini.”
“Aku berusaha bersikap sopan, Sayang. Tidak adil rasanya kalau aku tahu dengan mudah segala hal tentangmu. Aku-”
Kata-kata itu terhenti di bibirku saat aku menyadari kehadiran Navaro yang mendekat dengan cepat. Dan beberapa detik kemudian Navaro sudah membuka pintu dan berdiri disana dengan wajah serius. Walau kuakui, malaikat itu nyaris berwajah serius setiap harinya.
“Ada masalah, Teman?” Tanyaku sambil menghampiri Navaro.
“Ada yang lain dalam jumlah besar menuju kesini.” Ujar malaikat itu pelan.
“Apa Lily dalam bahaya?”
Navaro menggeleng, “Aku tidak tahu. Sudah terlambat untuk pergi, mereka akan sampai sebentar lagi, dan sampai sekarang aku tidak merasakan niat jahat mereka. Semoga mereka tidak datang kesi-”
“Dan ternyata mereka memang menuju kesini, Teman.” Tukasku saat melihat segerombolan pria dan wanita berjalan menuju toko Lily. Aku dan Navaro langsung menyingkir dari pintu dan berdiri diam tidak jauh dari Lily.
“Kalian pergilah. Aku akan sangat sibuk. Kalian hanya menggangguku dengan berdiri di depan meja kasir seperti ini.”
Aku dan Navaro saling berpandangan sebelum kami berdua menyingkir dari depan meja kasir dan berpindah tempat. Aku berdiri disisi Lily, hanya berjarak satu jangkauan lengan sementara Navaro memilih untuk duduk di salah satu kursi yang disediakan untuk pelanggan.
Gerombolan vampir laki-laki itu memasuki toko dengan langkah-langkah mantap. Saat itu juga aku tahu kalau para wanita yang bersama mereka adalah manusia yang kemungkinan akan menjadi santapan malam mereka. Salah seorang dari mereka yang mungkin adalah pemimpinnya langsung menyadari kalau ada makhluk tak berdenyut jantung lainnya yang ada disana dan langsung menatapku dan kemudian tersenyum saat menyadari betapa dekatnya posisiku berdiri dengan posisi Lily.
Aku langsung membalas senyumnya. Aku tahu apa arti senyuman itu. Dia tidak mengenaliku sebagai pemimpin klan Libra, tapi dia tahu adalah kalau aku adalah seorang vampir yang sedang berencana menjadikan seorang gadis kasir sebagai makan malamku. Kulihat dia juga menyadari kehadiran Navaro dan terlihat bingung sesaat sebelum memutuskan untuk mengacuhkan Navaro dan membiarkan manusia perempuan yang bersama mereka mencari apapun yang mereka butuhkan.
Dalam wujud manusia, Navaro memiliki denyut jantung layaknya manusia, tapi satu-satunya yang tidak bisa menyamarkan keberadaannya dari makhluk gaib lainnya adalah kenyataan kalau aura kehadirannya sama seperti makhluk tanpa denyut jantung lainnya. Satu-satunya kelemanahan malaikat yang kutahu adalah kenyataan kalau mereka tidak pernah bisa sepenuhnya menahan energi yang keluar dari tubuh mereka. Begitu selesai dengan urusan mereka, gerombolan itu segera membayar dan pergi begitu saja.
Aku masih memperhatikan kepergian kelompok itu saat Navaro sudah berdiri di hadapanku. “Mereka sudah pergi. Ayo kita pergi. Kau harus bekerja.” Ujar malaikat itu datar dan aku sadar kalau dia sempat melirik Lily sebentar.
“Tentu.” Sahutku cepat. “Sampai jumpa, Lily. Aku akan meneleponmu nanti.” Sambungku sambil menarik tangan Lily dan kemudian mengecup telapak tangannya hingga membuat wajah gadis itu memerah.
Benar-benar gadis polos. Melihat wajahnya yang memerah seperti itu membuatku ingin mengecup bibirnya seperti sebelumnya.
Aku melangkah keluar dari toko mengikuti Navaro. “Apa kau mau ikut denganku membereskan mereka? Tidak ada kelompok lain yang boleh mengotori daerahku.” Ujarku sambil berjalan bersisian dengan Navaro menuju parkiran.
“Boleh saja. Aku ingin menghilangkan stres atas perbuatanmu belakangan ini.” Jawabnya lebih terlihat bersemangat dari beberapa saat tadi.
Malaikat mungkin tidak boleh secara sengaja melawan vampir atau ikut campur tangan apapun pada urusan di dunia, tapi Navaro bukan malaikat biasa. Dia sering kali melanggar beberapa peraturan yang kuketahui dan menurutnya peraturan itu sama sekali tidak ada. Seperti sengaja memperpanjang usia manusia sama sekali tidak diizinkan, dan kalau Navaro ikut bersamaku menyelamatkan manusia-manusia itu, maka itu artinya Navaro dengan sengaja memperpanjang nyawa manusia. Terkadang aku berpikir kalau Navaro adalah seorang Archangel, malaikat tertinggi.
Tapi siapa yang tahu?
Beberapa saat kemudian dengan mudah kami menemukan gerombolan vampir itu di salah satu sudut kota London, di sebuah rumah kecil yang cukup terurus. Aku rasa ini tempat mereka biasanya membawa para manusia untuk menjadi santapan mereka. Sejak menjadi salah satu dari kaum abadi, aku selalu bertanya-tanya baik pada Navaro ataupun pada Zac kenapa makhluk abadi layaknya vampir dan malaikat memiliki wajah yang nyaris sempurna hingga bisa memikat manusia dan tidak satupun dari kedua orang itu yang menjawabnya hingga kini.
Aku dan Navaro memarkir mobil cukup jauh dari rumah itu. Kami baru saja turun dari mobil saat sebuah tangan menahan bahuku. “Izinkan aku yang melakukannya.” Ujar sebuah suara yang sangat kukenal.
Dibelakangku Alaric dan Alby berdiri bersama. Cengiran lebar terukir diwajah Alaric hingga menunjukkan taringnya. “Kau disini?” Tanyaku takjub melihat Alaric berdiri di dekatku tanpa sedikitpun menunjukkan tanda-tanda kalau dia nyaris mati dalam minggu ini.
Alaric membungkuk hormat dan kemudian tersenyum tulus. “Aku disini untuk membayar kesalahan atas Bristol.” Ujarnya yakin.
“Kau bahkan baru sadar, Teman.” Tukasku cepat.
“Biarkan dia, Wren. Bahkan dia juga sanggup melemparku ke dinding saat aku menghalanginya untuk mencarimu.” Tukas Alby, “Dua kali dalam sehari aku dilempar ke dinding. Dan hanya kalian yang berani melakukan itu padaku.” Gerutunya kemudian.
Belum sempat aku memutuskan apapun, dapat kurasakan kekuatan Navaro merembes keluar. “Aku butuh pelampiasan, Wren!” Serunya dan aku tahu dia sedang kesal. Membuat kesal malaikat biasanya tidak berakibat baik.
Sialan!
Di satu sisi teman baikku meminta kesempatan untuk melampiaskan kekesalannya, dan di sisi lain salah seorang anggotaku membutuhkan kesempatan untuk membayar kesalahannya.
Apa mereka pikir aku tidak ingin turun tangan langsung?
“Aku tahu kau juga ingin menghabisi mereka, Wren. Tapi aku sedang kesal hari ini dan aku butuh pelampiasan!” Ujar Navaro dingin, dan aku melupakan kalau Navaro memiliki kekuatan yang sama dengan Zac, membaca pikiran.
Aku langsung merangkulkan lenganku di bahu Navaro. “Seingatku ada lebih dari 4 vampir di dalam sana. Satu orang menghadapi satu. Kalau memang lebih dari 4 maka yang bisa menghabisi paling cepat berhak mendapatkan sisanya. Bagaimana?”
“Aku ingin semuanya!” Tukas Navaro bahkan sebelum Alaric dan Alby mencerna apa yang kukatakan.
“Ayolah, teman. Kita harus adil, bukan? Lain kali kau akan mendapatkan kesempatan one man show. Tapi tidak malam ini. Rasa bersalah Alaric sangat besar hingga dia akan melakukan apapun yang kuminta.” Ujarku hanya dalam pikiran agar hanya Navaro yang bisa mendengarnya.
Navaro menatapku kesal. “Terserahlah. Kau berhutang padaku, ingat itu!” Ujarnya pasrah dan langsung berbalik, bersiap memulai apapun untuk menghilangkan sedikit kekesalannya.