9

1380 Kata
Dan di sinilah akting mereka diuji. Taman bunga itu sudah penuh sejak mereka datang. Ara menggandeng lengan Mas Arga dan mencoba berlagak seperti biasanya. Mereka menyusuri deretan bunga warna-warni terbentang rapi, dari yang rendah sampai yang setinggi pinggang. Aroma manis dari bunga bercampur dengan bau makanan dari area buffet. Suara tawa, obrolan, dan musik dari speaker kecil menyatu jadi satu. “Heh! Pengantin baru dateng!” suara nyaring langsung menyambut begitu Ara dan Mas Arga masuk. Ara bahkan belum sempat respon, tiba-tiba Jinan sudah muncul dari samping dan langsung menarik lengannya. “Ya ampun Kak Ara, akhirnya! Lama banget sih kalian!” “Ini bukan kondangan gue ya, santai dikit napa,” jawab Ara sambil ketawa. Junan lalu ikut muncul dari belakang, tangannya menyodorkan minuman dingin. “Minum dulu Kak, biar nggak pingsan pura-puranya.” Bisiknya. Ara langsung nyengir. “Lo berdua tuh ya, baru ketemu udah nyerang aja.” Jinan ngakak. “Lah kita kan panitia hiburan.” “Panitia rusuh maksudnya,” timpal Junan. Mas Arga yang berdiri di samping Ara hanya melihat sambil menggeleng kecil. “Mas Arga!” Jinan langsung geser fokus. “Akhirnya resmi juga ya, Mas.” Mas Arga angkat alis tipis. “Resmi apanya?” Junan nyengir lebar. “Resmi jadi korban Kak Ara.” Ara langsung nyikut Junan pelan. “Ngaco banget.” Tawa mereka langsung pecah lagi. Dari arah tengah taman, Tante Mala berdiri dengan kebaya warna soft gold. Wajahnya terlihat cerah melihat keponakannya sudah datang. “Ra!” panggilnya begitu melihat Ara. Ara pun langsung berjalan jalan cepat, hampir setengah berlari. “Tante!” Kedua wanita itu dengan refleks berpelukan. “Selamat ulang tahun, Tante,” kata Ara. “Iya, makasih. Kamu cantik banget loh,” jawab Tante Mala sambil meneliti wanita di depannya itu dari atas sampai bawah. Ara nyengir. “Mas Arga loh, yang milihin.” Tante Mala langsung nengok ke arah Arga yang baru nyusul. “Wah, selera kamu bagus juga.” Mas Arga cuma senyum tipis. “Standar aja, Tante.” Di sisi lain, Papah Ara berdiri dengan jas rapi, sedang mengobrol bersama suami Tante Mala. Begitu melihat Ara di seberang, ia langsung melambaikan tangan. “Ra! sini,” panggilnya. Dan Ara tampa berpikir panjang lansung menghampiri sang Papah. “Gimana? Capek?” tanya nya. “Enggak kok, Pah.” Papahnya ngangguk, lalu melirik ke arah Mas Arga. “Kamu jaga Ara ya.” Mas Arga jawab singkat, "pasti lah, Om.” Ara tersenyum kikuk sambil menoleh ke arah laki-laki di sebelahnya. "Eh Ra, ini ada Om Ken, kemarin dia dateng loh ke nikahan kamu." Kata sang Papah sambil menunjuk seorang laki-laki yang sudah terlihat kepala empat. Sementara Ara dan Mas Arga hanya tersenyum dan menjabat tangan mereka secara bergantian. Untuk keluarga Ara sendiri, ia hanya dekat dengan keluarga Papahnya yang hanya memiliki tiga saudara, Papah, Tante Mala, dan Tante Indri (Mamahnya Mas Arga). Sementara keluarga dari pihak ibunya sudah tidak berhubungan semenjak kedua orang tuanya cerai dan hak asuh jatuh kepada sang Papah. Tapi untuk pesta ulang tahun Tante Mala sendiri sangat ramai di datangi oleh keluarga dari pihak suaminya. Bayangkan saja, Suami Tante Mala atau sebut saja Om Sean itu memiliki tujuh saudara yang masih berhubungan baik hingga sekarang. Belum lagi anggota arisan Tante Mala yang semuanya hadir memeriahkan acara ini. "Kayaknya lebih rame yah dari tahun lalu," bisik Mas Arga. Ara lalu mendekat. "Jinan mau dijodohin jadi keluarga calonnya dateng." "Loh, iya? Kan baru mau masuk kuliah." "Biasalah, tuh anak ketahuan nge club, makanya dijodohin. Kok Mas nggak tau sih?" Mas Arga lalu terkekeh, "udah jarang sih nelfon Tante Mala, kemarin cuman karena kamu mau nikah." Suasana terus berjalan ramai. Musik secara tiba-tiba diganti dengan lagu yang lebih upbeat. Beberapa orang mulai berdiri, ikut bernyanyi, bahkan ada yang joget kecil di area tengah. Jinan tiba-tiba kembali menarik Ara lagi. Membuat gandengan tangannya kepada Mas Arga terlepas. “Kak, foto yuk!” Ara langsung ketawa. “Foto mulu lo.” “Ya ini kan taman bunga, sayang kalau nggak dimanfaatin,” kata Jinan. Junan udah siap dengan ponsel. “Sini berdiri, gue yang fotoin.” Ara lalu berdiri di depan hamparan bunga warna kuning. Lampu kecil di belakangnya berhasil membuat efek hangat di foto. “Pose dong Kak, jangan kaku!” teriak Junan. Ara langsung bergaya lebay, menaruh tangannya di pinggang dan postur badan yang sengaja di lekukkan. Junan lalu tertawa lepas. “Ih jelek banget! Kek model gagal seleksi." Jihan lalu menyenggol keras. " Eh Chef Juna! Kak Ara kan emang pernah daftar audisi model, kocak! Nggak usah buka cerita lama deh lo." "Tau nih si Juna! Apa PC kemarin yang gue kasih gue ambil lagi yah?" Ara lalu melipat kedua tangannya sambil menatap galak. Junan lalu tertawa cengengesan, " hehe, jangan dong kak." Mas Arga yang berdiri agak jauh hanya tersenyum tipis melihat tingkah ketiga sepupunya itu. “Mas Arga sini!” teriak Jinan. Mas Arga langsung menggeleng keras. “Nggak mau ah, kalian aja.” “Mas, sekali doang!” maksa Junan. Ara lalu menengok. “Mas sini, biar nggak dibilang sombong.” Mas Arga pun menghembuskan nafasnya panjang lalu akhirnya berjalan mendekat. "Yeuuuu, giliran disuruh bini aja." Ejenk Jinan. "Yang kayak gini biasanya anggota komplotan SSTI." "Apaan lagi sih itu?" " Suami Suami Takut Istri!" Ujar Junan dengan keras lalu terawa sendirian. Jinan menilik sinis, "Haha lucu banget." ujarnya sarkas. "Buruan kali, bisa nggak sih ngak usah bertengkar dulu." Teriak Ara kepada si kembar saat Mas Arga sudah ada di sebelahnya. Jinan pun langsung balas teriak, “Deketan dikit napa!” Ara langsung refleks bergeser lebih dekat yang diikuti oleh Mas Arga tanpa komentar. “Ya gitu dong, natural dikit!” kata Junan sambil berjongkok mencari angle yang pas. Jinan lalu berkacak pinggang. "Mas Arga ih! Itu tangannya kenapa jempol kayak gitu sih? Lagi nyaleg apa gimana?" Ucapan Jinan itu lalu membuat Mas Arga menurunkan tangannya. Tapi itu malah semakin memperlihatkan kekakuan di antara keduanya. "Bininya di rangkul dong Mas, biar mesra!" Klik. Klik. Klik. “Cakep!” katanya puas. Ara langsung berjalan medekat ke arah kamera yang dipegang oleh Junan. “Coba liat hasil photograper abal-abal lo itu." Ujarnya sarkas. Sementara Mas Arga mengikuti, mengecek stu persatu gambar yang bagus. "Ada bakat juga yah kamu buat jadi kang foto." "Aelah Bang! Photograper kali bang bahasa gaulnya sekarang." "Iya iya, Photograper." Jinan tertawa kecil. "Nanti dikirim semua langsung aja file nya. Biar kalian aja yang edit." "Okkey deh. Kalian nggak mau gantian di foto?" Tanya Ara. Jinan lalu menoleh sinis ke arah kembarannya itu. "Gue ? Sama nih orang? Ogah!" " Gue juga ogah kali! Tiap hari ketemu bikin eneg!" Timpal Junan. Ara dan Mas Arga lalu menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah laku dua adik sepupunya itu. "Eh Junan, pinjam kamera lo dong. Mau fotoin bunga-bunga yang di sebelah sana." "Boleh sih, kebetulan mau makan dulu, laper." "Si Juna kudu isi tenaga dulu. Bentar lagi pasti disuruh Mamah fotoin anggota arisannya." Kekeh Jinan. Junan menyerahkan kameranya ke Ara dengan santai. "Atau bisa aja gue disuruh fotoin lo sama Bang Raden!" Ujarnya lalu berlari kencang ke arah meja makan. "Dih? Apa lo bilang?!" Dengan emosi Jinan menarik ke atas roknya lalu berlari menyusul Junan. "Oh, Raden itu yang mau dijodohin sama Jinan yah?" Tanya Mas Arga. Ara lalu mengangguk pelan. "Iya kali, Aku juga belum tau calonnya yang mana." ujarnya sambil mengalungkan tali kamera itu ke lehernya. "Mas kalau mau makan duluan aja, nanti aku nyusul, bentar doang kok ini." Mas Arga lalu mengangguk, " Yaudah aku ambilin makanan aja yah buat kamu, jangan lama-lama loh." "Iya-iya, aman kok." jawabnya sambil melangkah pelan, melewati jalur kecil di antara bunga-bunga. Suara musik mulai terdengar lebih jauh, digantikan oleh suara angin yang berhembus pelan. Ara berhenti di depan deretan bunga berwarna ungu. Lalu memencet tombol kamera dan mengecek hasil fotonya berulang-ulang. Ara lalu menunduk sedikit, mencoba mengatur angle. Sampai akhirnya— “Ra.” Suara itu datang dari belakang. Ara langsung membeku ketika mengenali pemilik dari suara itu. Tangannya yang memegang kamera mulai bergetar. Napasnya tertahan satu detik saat suara langkah terdengar mendekat menginjak rerumputan kering. “Ara.” Kali ini lebih dekat. Ara menutup matanya beberapa detik sambil mempersiapkan dirinya. Hingga akhirnya ia pun berbalik. Dan di sana. Arga. Berdiri tegak di antara bunga-bunga dengan tatapan yang membuat jantung Ara berdebar kencang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN