"Ayolah jantung! Tolong jangan seperti ini. Jangan berdetak di luar kehendakku!" lirih Ariel.
Jika Hazel sampai tahu bagaimana debaran jantung Ariel diakibatkan karenanya. Mungkin pria dingin itu akan melompat kegirangan. Bahkan bisa sampai terbang ke langit ke tujuh. Karena tujuannya membuat Ariel jatuh hati hampir terjadi.
"Astaga! Kenapa aku masih di sini. Bisa-bisa aku kena semprot lagi sama pria dingin sekaligus gila itu," gumam Ariel bangkit berdiri dan berjalan menuruti banyaknya anak tangga.
Setelah menyadari tugas apa yang telah Hazel berikan. Ariel bergegas mencari di mana pantry berada. Ia harus segera membuatkan atasannya teh hangat. Jika tidak, jangan harap hari-harinya akan tenang.
"Maaf Mas, mau tanya."
Baru saja keluar dari area tangga darurat, Ariel bertemu dengan seorang office boy.
"Iya Mba, boleh. Mau tanya apa ya, Mba?" sahut office boy itu bertanya pada Ariel.
"Pantry sebelah mana ya, Mas. Saya mau bikin teh buat Si Pria Es," balas Ariel tidak sadar dengan sebutan yang ia berikan pada Hazel.
"Pria Es?" office boy itu tidak sengaja berucap.
"Eh maaf, Mas. Maksud saya Pak Hazel, direktur utama di perusahaan ini," jelas Ariel.
"Oh gitu." office boy hanya menganggukkan kepalanya. "Kalau mau ke Pantry, Mba jalan lurus, belok kiri, lurus, setelah itu belok kiri. Di situ Pantry berada," sambung office boy itu menjelaskan sambil menggerak-gerakkan tangannya menunjukkan arah Pantry.
"Oke. Makasih banyak, Mas," ujar Ariel mengucapkan kata terima kasih.
Kemudian, langsung berjalan menuju tempat di mana ia harus membuat teh hangat. Namun baru beberapa langkah, ia dikagetkan dengan suara deheman seseorang yang sangat ia kenali.
"Ehem-ehem!"
Ariel bergegas menoleh ke belakang dan mendapati atasannya sedang melipat kedua tangannya di d**a. Menatapnya dingin seperti elang yang hendak menerkam mangsanya.
"Bagus! Disuruh bikin teh malah asyik ngobrol," protes Hazel.
"Pak Hazel ngapain di sini? Katanya minta dibuatkan teh. Ini saya on the way mau bikin tehnya loh, Pak," kata Ariel tidak membalas ucapan atasannya. "Dasar pria es tidak sabaran!" umpat Ariel dalam hati.
"Pak Hazel, ya? Bukannya tadi kamu bilang pria dingin? Atau memang saya yang salah dengar?" balas Hazel membahas nama panggilan yang diberikan oleh Ariel untuknya barusan.
Ternyata semenjak Ariel berbicara pada seorang office boy, Hazel sudah berada di sana, dan menyaksikan percakapan mereka.
"Ha ... ha ... ha ... " Ariel tertawa sumbang. "Pak Hazel apaan, sih. Paling juga Bapak yang salah dengar. Masa iya saya manggil Bapak pria es," elak Ariel mendorong bahu atasannya dengan ekspresi tegang.
"Bisa saja kamu ngelesnya. Cepat buatkan tehnya, saya tunggu kamu di ruangan saya!" kata Hazel dingin, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Ariel.
"Dasar pria dingin!" gumam Ariel yang sayangnya bisa didengar oleh Hazel.
"Apa kamu bilang?"
Sudah beberapa langkah menjauh tapi, Hazel masih bisa mendengarnya. Setajam itukah pendengarannya, jika ada orang lain yang berkata buruk padanya.
"Tidak, Pak Hazel. Silahkan kembali ke ruangan Bapak dan saya akan segera membuatkan teh hangat untuk Bapak," kata Ariel mengusir secara halus.
Sementara Ariel pergi ke Pantry, Hazel pun kembali ke ruangannya. Pria itu duduk di kursi kebesarannya sambil membolak-balikkan berkas. Dahinya sedikit berkerut dengan tangan yang tidak berhenti memainkan tombol bolpoin.
Karena terlalu fokus pada pekerjaannya, ia sampai tidak sadar ada seseorang yang beberapa kali mengetuk pintu. Setelah Ariel meletakkan cangkir di meja, baru lah Hazel tersadar bahwa ada orang lain di ruangannya.
"Astaga, Ariel! Tolong ya, kalo masuk ke ruangan saya ketuk pintu dulu. Jangan main masuk saja seperti ini. Memangnya kamu pikir kamu hantu yang bisa keluar masuk ke ruangan saya seenaknya saja." tukas Hazel panjang lebar tanpa mengetahui kesalahannya. Keterkejutannya mampu merubahnya menjadi pria cerewet.
"Ya ampun, Pak Hazel! Bisa-bisanya Bapak menyamakan saya dengan hantu," protes Ariel tidak terima.
"Saya itu sudah mengetuk pintu hampir ratusan bahkan ribuan kali. Tapi, Pak Hazel saja yang bolot tidak mendengar saya mengetuk pintu. Jadi, saya langsung masuk saja, daripada nanti saya kena semprot sama Bapak, karena terlalu lama membuat tehnya."
Ariel sedikit mendramatisir banyaknya ketukan pintu yang ia berikan. Tidak lupa pula untuk membalas ucapan Hazel yang dengan seenaknya menyamakannya dengan hantu.
"Apa kamu bilang?! Saya bolot?!"
Hazel jauh lebih tidak terima dibandingkan dengan Ariel. Bagaimana bisa ada seseorang yang berani mengatainya bolot. Terlebih seseorang itu merupakan bawahannya sendiri, membuat Hazel naik pitam.
"Bapak sendiri yang memulai. Kenapa Bapak menyebut saya hantu? Padahal Bapak sendiri yang salah karena tidak mendengar saya mengetuk pintu. Jadi, sekarang kita impas," balas Ariel mengipas-ngipas wajahnya merasa hawa ruangan semakin panas. Ia tersenyum seolah ucapannya memang benar.
"Apa katamu, impas? Kamu ini satu-satunya bawahan yang tidak tahu sopan santun!"
Untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang berani melawannya. Terlebih seseorang itu adalah Ariel Aruna, wanita yang beberapa hari ini berhasil ia ancam. Ia tidak tahu jika Ariel berani melawannya tanpa takut akibat yang akan diterimanya.
"Jangan marah-marah Pak, nanti cepat tua. Lebih baik Bapak minum dulu tehnya," kata Ariel sambil menyodorkan cangkir teh ke hadapan Hazel, atasannya.
"Astaga, Ariel! Tadi kamu mengatai saya bolot dan sekarang mengatai saya tua?" Hazel tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Tuhan, tolong aku! Kenapa aku dihadapkan dengan wanita tidak tahu sopan santun ini?" bisik Hazel dalam hati. Sepertinya ia lupa siapa yang membawa wanita itu.
"Sudah jangan banyak mengeluh. Ini minum tehnya dulu supaya Bapak lebih relaks," kata Ariel kembali menyodorkan cangkir teh itu.
Hazel menghela nafas kasar, melirik dingin ke arah Ariel, dan menerima cangkir teh itu, kemudian langsung menyesapnya perlahan. Ia pikir Ariel wanita yang mudah ditindas, tapi ternyata ia salah. Justru wanita itu mampu membuatnya darah tinggi.
"Kamu boleh keluar," ujar Hazel setelah meletakkan cangkir teh itu ke meja. Ia tidak ingin lebih kesal lagi jika terus-menerus berhadapan dengan Ariel.
"Baik Pak, terima kasih. Kalau begitu, saya permisi keluar," balas Ariel undur diri.
Beberapa saat setelah Ariel keluar, Hazel terlihat hilang fokus. Sesekali ia mendengus kesal karena tidak bisa melanjutkan pekerjaannya. Pria itu menghempaskan tubuhnya bersandar di kursi kebesarannya. Menengadahkan kepalanya dengan mata yang tertutup rapat sambil memijit pelipisnya yang terasa pening.
"Kenapa harus ada wanita aneh seperti dia? Kenapa aku harus memaksanya menjadi sekretarisku?" batin Hazel.
Ia mempertanyakan keputusannya sendiri untuk menjadikan Ariel sebagai sekretarisnya. Belum ada satu hari, bahkan satu jam pun belum ada. Namun, Ariel sudah berhasil membuat seorang Hazel mengalami kesulitan.
Sepertinya Hazel merasa menyesal, telah memaksa Ariel untuk menjadi sekretarisnya. Bagaimana tidak? Baru satu kali Ariel membalas ucapannya, Hazel sudah mengeluh.