"Lihat-lihat, cowok itu ngelihat ke sini." Shu-Shu menyenggol lengan temannya ketika Justine melihat ke arah mereka.
Justine sudah berada di sini hampir satu jam, bertemu dan mengobrol sana-sini, dari yang penting sampai yang cuma basa basi. Namun, tidak ada niat segera pergi.
Bukan karena dia nyaman di sini, tapi ada sosok cewek yang sangat sesuai seleranya, sayang cewek itu sedari tadi hanya duduk di pojok bersama dua temannya yang tidak terlalu jelas wajahnya karena remang-remang.
Sebagai orang yang selalu berada di pusat perhatian, Justine tidak mungkin secara terang-terangan menghampiri wanita itu karena akan langsung menimbulkan spekulasi, apalagi biasanya asal dia melihat wanita sedikit lebih lama, orang-orang yang mengerti akan secara sadar menawarkan sendiri.
"Kamu suka dengan cewek itu?" tanya Dani yang sedari tadi berusaha sok kenal sok akrab, padahal Justine ingat mereka baru ketemu sekali saat dia baru mendapatkan peran baru di mana saat penandatangan kontrak kebetulan dia sedang bermain di perusahaan kakeknya. Jadi, jika bukan karena Dani adalah artis dari perusahaan kakeknya Joe, Justine males menanggapi ocehannya dari tadi.
"Lumayan." Justine memalingkan wajahnya, tidak boleh terlihat terlalu berminat.
"Yang paling pinggir namanya Ze? Itu artis pendatang baru juga di JJ entertainment, tapi belum ada film atau iklan besar yang dia kerjakan, masih figuran istilahnya."
"Yang satu itu temannya, namanya Winnie, aku belum sempat ngobrol lama, kalau yang satu lagi sepertinya temannya juga."
Justine hanya mengangguk, lalu menoleh ke arah sutradara, "Aku rasa wanita itu cocok untuk peran yang lebih penting." Justine berbisik.
"Ah, anda memang berpandangan bagus, saya akan mengatur peran yang lebih banyak untuknya." Dalam industri film dan televisi, tidak sekali dua kali investor ingin memasukkan artis yang mereka mau agar ikut membintangi film mereka. Asal tidak mengacaukan peran penting yang sudah ditentukan sebelumnya, hal itu tidak akan berpengaruh banyak, jadi permintaan Justine bukan hal yang sulit dan segera di setujui oleh direktur.
Tinggal atur penulis skenario agar menambahkan adegan untuk Ze dan semuanya beres.
Justine hanya mengangguk dan kembali mengobrol dengan beberapa orang seolah-olah pembicaraan tadi tidak pernah ada.
Sementara pandangan Justine sudah teralihkan lagi, Shu-Shu yang sedari tadi juga melihat Justine dengan penuh minat akhirnya mengembalikan fokusnya pada ke dua temannya, di mana Ze sebagai artis ternyata memiliki toleransi yang rendah terhadap alkohol, terbukti dengan wajahnya yang sudah memerah padahal baru minum setengah gelas, sedang Winnie sebagai supir mereka, sama sekali tidak minum karena tidak mau sampai di tilang jika mengendarai mobil dalam keadaan mabuk.
"Aku ke toilet bentar ya." Winnie habis makan kue yang tidak sengaja ada cream yang mengenai tangannya, jadi dia merasa risih dan ingin mencuci tangan.
"Perlu aku anterin enggak?" tanya Ze yang sudah setengah mabuk.
"Enggak usah, aku bisa cari sendiri." Winnie segera keluar dari kotak dan mencari arah toilet.
"Eh, Ze, kamu sadar enggak sih dari tadi dilihatin terus sama cowok yang namanya Justine itu."
"Oh, iya kah?" tanya Ze tidak sadar karena agak mabuk.
"Iya, kayaknya dia suka sama kamu deh."
"Ah, enggak mungkin! Di sini masih banyak artis yang lebih cantik dariku." Kalau para petinggi film ada yang suka padanya, tidak mungkin dia masih jadi figuran sampai saat ini.
"Lebih cantik banyak, tapi selera orang kan beda-beda, mungkin Justine suka yang type sepertimu," ucap Shu-Shu.
"Iya juga sih, tapi enggak usah banyak berharap kali, lagian suka aja belum tentu cinta kan? plus aku udah punya pacar dia bilang tahun depan bakal lamar aku, jadi enggak usah cari penyakit." Ze memang punya kekasih di kota Bogor yang juga anak tetangganya.
"Tapi, bukannya kamu lagi berantem ya sama dia."
"Iya sih, tapi kan ini bukan masalah besar." Ini hanya kendala saat punya hubungan ldr.
"Besar atau enggak yang namanya cowok, apalagi jauh, enggak menjamin dia bakal setia, bukannya nuduh ya, tapi kamu sendiri yang bilang kalau sudah seminggu ini cowok kamu cuek 'kan? Kalau aku jadi kamu sih wajar curiga."
"Tapi, aku percaya padanya, kita udah pacaran sejak SMA."
"Pacaran lama enggak jaminan, apalagi klo ada rekan kerja yang bikin nyaman. Duh ... jangan terlalu percaya deh sama cowok, lagian katanya semua artis yang pernah dekat dengan Justine bakal jadi artis besar, memangnya kamu enggak mau jadi artis terkenal?"
"Ya maulah."
"Ya udah cuek aja, kamu tahu enggak si Faya Dania yang langsung bisa keluarin album setelah beberapa saat dekat dengan Justine."
"Masa sih? Ko aku enggak tahu." Ze sebagai artis seharusnya lebih banyak tau tentang dunia yang dia geluti, tapi kenapa malah Shu-Shu yang paling update soal gosip.
"Tadi, pas kamu ke toilet aku denger beberapa artis pada ngegosip itu, bayangin kalau Justine benar-benar suka sama kamu, bukannya kamu bisa langsung jadi pemeran utama film, langsung terkenal pasti." Shu-Shu mengompori.
"Tapi, aku enggak terlalu bisa acting." Salah satu alasan Ze masih menjadi figuran, sebenarnya selain wajahnya yang meskipun cantik namun masih banyak yang lebih cantik dari dia, Ze benar-benar tidak memiliki kemampuan acting sehingga sulit melejit.
"Semua juga enggak bisa pada awalnya, tapi begitu jadi orang penting, pasti akan jadi luar biasa." Shu-Shu menyemangati temannya, membuat Ze mulai berpikir sepertinya menyenangkan jika dia juga bisa jadi artis terkenal.
"Ze, ini kartu kamar, kata sutradara kamu di suruh ke sana! Tahu kan apa yang harus dilakukan?" Seorang wanita yang merupakan staf di samping sutradara menghampiri Ze dan berbisik, meski begitu Shu-Shu yang ada di sebelahnya tetap bisa mendengar.
"Apakah itu Justine?" tanya Shu-Shu penasaran.
Staf hanya memandang Shu-Shu tanpa menjawab dan malah langsung pergi sehingga di mata orang lain, dia hanya datang menyapa Ze dan temannya lalu pergi, seperti yang dia lakukan pada artis dan aktor kecil di sana.
"Astaga, bener kan tebakan aku, Justine suka sama kamu, maka dengan ini kamu pasti akan segera jadi artis terkenal, selamat ya Ze." Shu-Shu terlihat sangat senang, tapi hatinya sebenarnya penuh rasa iri karena bukan dia yang diminati.
"Tapi aku sudah punya pacar."
"Memang kenapa? Please lah Ze, ini bukan kampung halaman dan kamu pasti udah lebih tahu seperti apa persaingan di dunia hiburan, jika kamu tidak berani ambil resiko kamu akan tenggelam apalagi ini Justine lho bukan cuma bos kaleng-kaleng, sekali kamu nemenin dia dijamin kamu akan langsung terkenal." Jika itu Shu-Shu, tidak perlu diminta kalau Justine minat dia akan dengan aktif menawar diri, siapa yang bisa menolak pesona pria tampan dan kaya.
Walau tidak jadi kekasih, sekedar teman ranjang juga sudah merupakan kemewahan yang pasti tidak semua orang bisa mendapatkannya, Shu-Shu sangat iri dengan keberuntungan Ze, seandainya Justine sukanya sama dia, pasti dia tidak perlu lagi ketemu klien g***n yang jelek dan buncit, tapi suka m***m.
Ze masih ragu, tapi perkataan Shu-Shu benar-benar mempengaruhi, di tambah alkohol dalam tubuh yang juga mengambil akal sehat darinya.
"Udah, sana pergi, kamu nunggu apa? Jangan sampai Justine tersinggung, bisa-bisa nanti kamu langsung di blacklist dari dunia entertainment." Shu-Shu menakuti.
"Ya udah, aku pergi dulu kalau begitu." Ze ketakutan.
Kalau dia di blacklist bagaimana dia mencari uang? hidup di kota sangat sulit tanpa pekerjaan pasti apalagi kalau sampai di blokir, bisa balik kampung dengan keadaan miskin dia dan pasti jadi bahan omongan tetangga yang julid.
Tidak!
Ze harus sukses dan jika dengan cara ini dia bisa mengubah nasibnya, Ze rela melakukannya.
"Oke-oke, pergilah." Shu-Shu mendorong Ze agar segera pergi, bertepatan dengan Winnie yang kembali.
"Lho, Ze mau ke mana? Toilet?" tanya Winnie tapi Shu-Shu mendorong Ze pergi dan menarik Winnie mendekat ke arahnya.
"Dia agak mabuk katanya dan mau langsung istirahat di kamar hotel yang di sediakan kru. Jadi, kita bisa balik berdua saja." Shu-Shu berbohong, karena dari mereka bertiga Winnie paling agak kuno soal pergaulan bebas anak muda. Padahal sebagian SPG seharusnya dia adalah yang paling sering bersentuhan dengan hal-hal itu, tapi anehnya sampai sekarang Shu-Shu bahkan tahu bahwa Winnie masih perawan, tidak seperti dia dan Ze yang sudah kehilangan mahkotanya sejak lama karena saat pacaran tidak bisa menahan diri.
Makanya dari pada Winnie nanti jatuhnya malah banyak tanya, Shu-Shu memilih untuk berbohong.
"Oh, ada kamar buat kru juga? Kita bisa nebeng semalam enggak? Aku capek dan males nyetir."
"Mana bisa, Ze cuma figuran. Jadi, dia sekamar juga enggak sendiri ada beberapa orang lain juga, kalau kita ikut nginep mana muat tempatnya." Shu-Shu beralasan.
"Ya sudah balik kalau gitu, aku sudah bosen di sini." Winnie merasa tidak pada tempatnya tanpa kehadiran Ze, karena mereka memang bukan bagian dari industri ini.
"Oke, aku juga udah ngantuk, ayo pulang." Shu-Shu tidak keberatan, namun dalam hati berharap Ze akan berhasil malam ini, karena jika Ze berhasil otomatis mereka akan memiliki waktu berinteraksi dengan Justine sebagai teman Ze.
Siapa tahu suatu saat Justine juga akan berminat padanya, meski kelihatan mustahil, tapi asal ada usaha Shu-Shu yakin akan ada hasil.