Rebecca POV
“Kamu serius? Kamu mau kita cerai hanya karena Catherine kembali padamu?” tanyaku, tidak percaya dengan kenyataan bahwa dia akan menceraikanku hanya karena seorang wanita yang dulu pernah meninggalkannya di saat ia berada di titik terburuknya.
“Kumohon, Rebecca. Jangan terlalu mempersulit,” katanya, ia berhenti bicara sejenak, seolah mencari alasan lain untuk membenarkan tindakannya itu. “Clara membutuhkan ibunya, dan aku melakukan ini demi dia,” lanjutnya sambil mengalihkan pandangan dariku.
“Apa? Clara butuh ibunya? Bukankah selama ini aku sudah berusaha menjadi ibu yang baik untuknya? Memangnya apa salahku padanya?” tanyaku, tak kuasa menahan tangis.
“Rebecca, kumohon, aku minta maaf karena telah membuatmu menderita, tapi aku masih mencintai Catherine dan... dia juga setuju untuk menikah denganku. Itu artinya kita tidak bisa terus bersama, Rebecca. Lagi pula Catherine sedang sakit keras, dan yang dia inginkan saat ini hanyalah berada di dekat Clara,” jelasnya.
“Apa maksudmu, Rowland? Bagaimana kamu tahu banyak tentang kondisi Catherine saat ini? Apa selama ini kamu bertemu dengannya di belakangku? Apa jangan-jangan kamu pergi selama beberapa hari kemarin karena bertemu dengannya?” tanyaku, lagi.
“Aku tidak akan menyangkalnya, Rebecca. Pada akhirnya, aku harus jujur padamu. Sebenarnya, Catherine meneleponku sekitar sebulan yang lalu ketika dokter mengatakan bahwa dia hanya punya waktu enam bulan untuk hidup dan dia ingin menghabiskan hari-hari terakhirnya bersama putrinya. Aku satu-satunya orang terdekat yang dia kenal, terlebih lagi, ini adalah satu-satunya kesempatan bagi Clara untuk mengenal ibu kandungnya,” jelas Rowland.
Aku tak percaya dengan apa yang barusan kudengar, aku tidak pernah menduga akan mendengar Rowland mengucapkan kata-kata kejam seperti itu kepadaku.
Meskipun hatiku hancur, aku tidak bisa marah padanya, kenapa? Karena akulah yang jatuh cinta padanya sejak awal, bahkan walau aku tahu dan sadar kalau pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak yang bisa berakhir kapan saja. Aku tetap terpikat padanya.
Sebenarnya yang paling membuatku sedih adalah karena keluarga bahagia yang aku bayangkan untuk bayiku yang belum lahir mungkin tidak akan pernah terwujud.
Meskipun aku sangat ingin menceritakan tentang kehamilanku, aku tidak bisa, karena dia sudah memutuskan untuk bersama ibu dari anak pertamanya. Aku tidak ingin menahannya dengan alasan apa pun agar kami tetap bersama.
Detik inilah aku sadar bahwa aku telah selesai, aku sadar bahwa meskipun aku telah melarikan diri dari rumah untuk memulai hidupku yang baru di kota ini, aku masih saja membuat kesalahan yang justru kembali membuat hatiku hancur.
“Apakah sungguh ini yang kamu inginkan, Rowland? Apakah Catherine yang kamu inginkan? Aku menanyakan ini padamu karena... jika aku menandatangani dokumen-dokumen ini, tidak akan ada jalan kembali untukmu,” kataku, sambil menguatkan hatiku agar terlihat tetap tegar, walau sebenarnya aku berharap dia berkata bahwa dia bercanda dan bahwa semua ini hanyalah lelucon.
“Maafkan aku, Rebecca, aku masih mencintai dan menginginkan Catherine kembali, dialah satu-satunya yang ada di hatiku, aku tidak bisa kehilangan dia lagi,” jelasnya.
Sambil mengembuskan napas berat, aku bangkit dari kursi yang kududuki sambil mengusap mataku.
“Kamu bisa mendapatkan apa pun yang kamu mau, Rebecca. Rumah ini, separuh perusahaanku, apa saja yang kamu mau, sebut saja,” tawarnya.
“Apa yang membuatmu berpikir kalau aku butuh sesuatu darimu?” tanyaku, kesal karena dia mengira uang adalah alasan aku tinggal bersamanya selama bertahun-tahun.
“Itu bagian dari kesepakatan kita, dan aku tidak ingin melanggarnya. Aku akui bahwa kamu telah mendukungku dengan cara yang belum pernah dilakukan orang lain, dan adil rasanya jika kamu mengambil apa yang seharusnya kamu terima. Kamu berhak, Rebecca,” ujarnya.
Aku tidak mengerti, dia sendiri tahu betapa aku telah banyak membantu dan mendukungnya selama bertahun-tahun. Tapi mengapa dia begitu tega menyuruhku pergi dari sisinya.
“Jangan khawatir, Rowland Anderson, aku akan baik-baik saja tanpa hartamu. Sekarang, berikan saja aku pena. Aku akan menandatangani surat cerai itu,” kataku, dan kulihat ekspresi terkejut di matanya.
Saat pena itu ia letakkan di atas meja, aku segera mengambil pena tersebut dan menandatangani dokumen, dalam hitungan detik aku selesai.
“Aku akan segera pergi dari rumah ini dan memindahkan semua barang-barangku,” kataku, segera melangkah pergi, tapi dia mendadak mencekal lenganku.
“Rebecca, kumohon, jangan pergi malam ini. Sekarang sudah terlalu larut, kamu bisa pergi besok pagi, aku akan membayar hotel mana pun yang kamu pilih untuk menginap selama kamu belum mendapatkan apartemen,” ujarnya, memohon.
Gila sekali dia masih mengira aku mau mengambil uang recehnya.
“Ini bukan tentang uang dan hartamu, Rowland. Ini tentang menemukan kebahagiaanku, tapi aku tidak bisa lagi mendapatkannya darimu ataupun di rumah ini,” cakapku, mencoba untuk melepaskan tanganku dari cengkeramannya, tapi dia menarikku kembali, menahanku untuk tidak pergi malam ini.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan percikan dari sentuhannya, saat dia menatap mataku dengan tenang. Ya Tuhan, aku hampir bersumpah bahwa pria ini kukira mencintaiku, tetapi ternyata tidak.
Maksudku siapa yang melepaskan orang yang mereka cintai? Jika dia tega menyuruhku pergi dari hidupnya, itu artinya dia tidak mencintaiku. Selama ini aku sudah salah mengira, sejak awal aku hanya pemuas nafsu dan pengganti ibu dari anaknya.
“Tolong tinggallah malam ini, demi Clara, aku tidak tahu apa yang akan kukatakan padanya ketika dia tidak melihatmu besok pagi.”
“Katakan saja padanya bahwa ibu kandungnya sudah kembali, kamu bisa menjelaskan padanya bahwa aku hanyalah seorang pengasuh anak, dan seperti semua pembantu yang bekerja di sinu, pengasuh anak ini juga harus pergi,” kataku sambil menarik tanganku dari genggamannya, kemudian segera berjalan ke kamarku sebelum dia bisa menghentikanku lagi.
Aku mengunci pintu kamar tidur kami begitu aku masuk ke dalam, dan setelah itu semua emosi yang aku coba tekan meledak bagai gunung yang memuncratkan lava. Aku menangis sesak.
Tubuhku bergetar hebat karena rasa sakit yang tak dapat kuobati, kupikir aku akan mati lemas karena aku tidak bisa bernapas akibat air mataku yang mengalir deras. Dadaku juga sesak seperti ada batu besar yang mengganjal di tenggorokan.
Aku mencintainya, aku sangat mencintainya, dan sungguh menyakitkan saat dia tega menyakiti hatiku dengan cara yang begitu miris.
Hari ini seharusnya tidak berakhir seperti ini; hari ini seharusnya menjadi awal baru bagi kami; aku seharusnya menceritakan semua tentang kehamilanku kepadanya. Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku tidak sekuat itu dan tidak berdaya seperti yang ia kira dan bahwa aku mengandung anaknya. Sebuah bukti cinta yang telah kami berdua bagi selama bertahun-tahun ini.
Air mataku semakin deras mengalir saat aku mengingat semua masa-masa indah yang telah kami lalui bersama. Dia tidak pernah membuatku menangis sampai hari ini, dan meskipun aku ingin membencinya karena telah menyakitiku, aku tetap tidak bisa membencinya, aku menyalahkan diriku sendiri karena telah jatuh cinta padanya.
Apa yang kupikirkan selama ini? Bahwa ia akhirnya akan menjadikan aku istrinya padahal selama ini ia hanya melihatku sebagai seorang pembantu? Hatiku sakit setiap kali memikirkannya. Kupikir akhirnya aku menemukan tempat bahagiaku, tetapi itu semua hanya ilusi.
Aku menangis tersedu-sedu hingga tak mampu lagi, sampai akhirnya aku pun tertidur.
***
Aku terbangun keesokan paginya dengan perasaan lelah dan berharap semua yang terjadi sebelumnya hanyalah mimpi buruk, tetapi semua itu adalah kenyataan.
Aku bangun dari tempat tidur dan mengemas semua pakaianku ke dalam tas. Setelah selesai, aku mandi untuk membersihkan diri, dan dalam hitungan menit, aku sudah selesai dan siap untuk pindah dari tempat yang dulu aku sebut rumah.
Aku mengambil ponselku dan memesan taksi untuk datang menjemputku dari sana karena aku tidak ingin ada hal yang mengingatkanku padanya.
Aku mengeluarkan koperku ke ruang tamu dan kulihat dia sedang berbaring di sofa, indikasi jelas bahwa dia tidur di sana sepanjang malam.
“Rebecca, kamu sudah mau pergi?” ujarnya, membersihkan sisa-sisa kantuk di matanya.
Dia memeriksa jamnya untuk melihat bahwa sekarang sudah hampir pukul delapan pagi. Aku tahu Clara pasti masih tidur karena hari ini adalah hari Sabtu.
“Ya. Aku akan pergi sekarang,” jawabku. “Ada saus ayam dan nasi di kulkas, kamu bisa memanaskannya di microwave untuk Clara saat dia bangun nanti,” kataku, sedikit sedih karena aku mungkin tidak akan pernah bisa bertemu Clara lagi.
“Kamu akan pergi ke mana? Apa kamu sudah memiliki tempat tujuan?” tanyanya.
“Aku bisa pergi ke mana saja, asal jangan di tempat yang tidak menginginkanku,” jawabku sambil berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis.
“Tolong jangan berkata seperti itu lagi. Kamu tahu kalau aku sangat peduli padamu, hanya saja ini sedikit rumit, dan aku melakukan ini demi Clara,” cakapnya, dan aku memutar bola mataku dengan kesal.
Bukan hal yang baru lagi bahwa Rowland akan melakukan apa pun untuk membahagiakan anaknya. Namun, apa yang dilakukannya saat ini adalah karena ia masih memiliki perasaan terhadap mantannya.
“Ambil ini,” katanya sambil meraih sakunya dan mengeluarkan buku ceknya. Dia cepat-cepat menuliskan tanda tangannya di selembar kertas dan merobeknya untuk diberikan kepadaku.
“Ini cek kosong, kamu bisa tulis apa saja, dan bank akan mengabulkannya,” ujarnya sambil mengulurkan tangannya, menyerahkan selembar kertas yang merupakan cek ke arahku.
“Aku tidak mau menerimanya,” tolakku, membuatnya tampak tak senang dengan penolakanku barusan.
“Kumohon, Rebecca, kamu masih istriku...,” pintanya.
“Mantan istri,” koreksiku.
“Tetap saja, aku tidak ingin kamu berakhir di jalanan, dan aku tidak ingin melihatmu melakukan pekerjaan yang akan membuatku merasa buruk padamu. Aku mohon, ini adalah hal yang terakhir yang bisa kulakukan untukmu,” cakapnya, memelas, dan dengan berat hati aku mengambil cek itu dan memasukkannya ke dalam tasku.
Tepat pada saat itu, aku mendengar suara ketukan di pintu; dalam hitungan detik, pintu terbuka, dan seorang wanita muda mendorong masuk kursi roda Catherine, wanita itu masih tampak sangat cantik dan sehat terlepas dari kenyataan bahwa ia duduk di kursi roda.
Sekalipun sudah lima tahun sejak terakhir kali aku melihatnya, dia tetap tampak cantik dan sangat mudah untuk mengatakan bahwa dia menjalani kehidupan yang baik.
“Rowland, kenapa dia masih di sini?” tanyanya dengan suara lemah dan kaget ketika melihatku berdiri di depannya.
“Ya, dia baru saja akan pergi,” jawab Rowland.
“Aku tidak sadar kalau aku akan diusir,” kataku terus terang kepada Rowland.
“Jangan konyol, Rebecca. Tidak ada yang mengusirmu di sini,” dia memperingatkan, tetapi kami berdua tahu kebenarannya.
“Oh, Rowland, tolong bantu aku mengambil tasku dari mobil. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Rebecca atas semua yang telah ia lakukan untukku dan bayiku Clara,” katanya dengan suara lemah.
Rowland mengangguk sebelum kemudian ia keluar dari pintu. Begitu Rowland keluar dari pintu, suara Catherine kembali normal.
“Halo Rebecca, atau haruskah aku memanggilmu pengasuh?” panggilnya dengan seringai jahat di bibirnya.
“Halo, Catherine,” jawabku sambil bersiap menghadapi hal terburuk yang mungkin terjadi.
“Oh, jadi sekarang kau bahkan punya nyali untuk memanggilku dengan namaku. Ya, kurasa itu yang akan aku dapatkan ketika pembantuku dengan lancangnya memutuskan untuk mengambil alih posisiku sebagai nyonya di rumah ini,” cakapnya.
“Aku tidak pernah merebut posisimu, kau meninggalkannya dan menelantarkan bayimu sendiri, ingat?” tukasku sambil memperhatikan dia memutar matanya dengan acuh tak acuh.
“Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan dalam kepalamu yang besar dan gemuk itu, tetapi aku ingin kau segera pergi dari sini dan terima saja fakta bahwa aku sudah kembali untuk mengklaim apa yang seharusnya menjadi milikku. Jika aku melihatmu berada di dekat suamiku atau putriku, aku akan memastikan kau membusuk di penjara di mana tidak ada anggota keluargamu yang miskin itu yang akan mengunjungimu,” katanya mengancam.
“Wah, inikah ucapan terima kasih yang seharusnya aku terima darimu karena telah merawat anak yang kau tinggalkan sejak bayi hingga sekarang?” tanyaku, jelas-jelas merasa jijik dengan sikapnya.
“Berhentilah bersikap seolah-olah kau tidak dibayar untuk melakukan pekerjaanmu sebagai pembantu, kau bahkan mendapat upah tambahan dengan meniduri lelakiku. Kau seharusnya sangat bangga pada dirimu sendiri karena bagaimana mungkin seorang wanita jalang yang jelek dan gemuk sepertimu bisa menarik lelaki seperti Rowland? Lelaki seperti Rowland tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita sepertimu. Tidak peduli seberapa keras kau berusaha merayunya, dia pasti akan mengusirmu dengan alasan sekecil apa pun yang bisa dia temukan. Rowland selalu mengejar wanita cantik, ramping, seksi, dan bertubuh seksi sepertiku, terlepas dari seberapa banyak kesalahan yang telah aku buat. Jangan lupa, kau datang ke sini sebagai pembantu, sialan, pernah menjadi istrinya adalah bonus yang menurutku sejujurnya harus kau bayar karena itu memberimu kesempatan untuk merasakan lelaki tampan sepertinya,” oceh Catherine dengan nada mengejek.
“Kesempatan apa yang sedang kamu bicarakan?” Rowland, yang baru saja kembali ke ruang duduk, bertanya dengan wajah khawatir.
“Sayang, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Rebecca karena telah mempertemukanku kembali dengan putriku. Itu berarti segalanya bagiku. Sulit mendapatkan pembantu yang setia dan pekerja keras seperti dia kan,” ujarnya, suaranya tiba-tiba kembali seperti orang sakit dan sekarat dengan air mata yang menetes dari matanya.
Sungguh munafik!
Aku ingin sekali memberi tahu Rowland bahwa wanita ini tidak mencintainya dan bahwa dia hanya di sini untuk menghabiskan uangnya seperti yang pernah Catherine lakukan di masa lalu, tetapi aku menahan diri. Rowland sudah memilih wanita itu daripada aku, dan aku pikir, Rowland pantas menanggung akibat dari keputusannya, kelak.
Tepat pada saat itu, suara mobil dari luar memberi tahuku bahwa taksi yang aku pesan telah tiba.
“Itu taksiku,” kataku sambil membawa tas dan koperku.
Rowland berusaha datang untuk membantuku membawa barang-barangku, tetapi ia dihentikan oleh teriakan minta tolong Catherine yang tiba-tiba saja berseru.
Rowland langsung menarik kembali langkahnya ke tempat Catherine berada dan aku melihat senyum sinis mengembang di bibir Catherine.
“Perutku sakit, tolong bawa aku ke kamar tidur, aku perlu istirahat,” katanya kepada Rowland.
Aku melihat Rowland menggendongnya dari kursi roda dan segera menaiki tangga menuju kamar tidur, kamar tidur yang dulu aku dan Rowland tempati, kulihat tangan Catherine melingkari leher Rowland dengan manja.
Sambil menghela napas dalam-dalam dan menahan air mata, aku keluar dari ruang tamu dan segera masuk ke dalam taksi.
“Selamat pagi, Nyonya,” sapa sopir taksi itu begitu aku duduk.
“Tolong segera pergi dari tempat ini,” kataku kepada pengemudi itu.