Perang tanpa akhir

423 Kata
BAB 40 – PERANG TANPA BATAS Grayson yang Murka Grayson berdiri di ruang konferensi kantornya, dikelilingi oleh orang-orang kepercayaannya. Lucas ada di sisinya, bersama beberapa kepala keamanan dan penasihat hukum. "Liam semakin berani," suara Grayson dingin dan tegas. "Dia menyerang butik Exelina di New York dan ini bukan hanya peringatan—ini deklarasi perang." Salah satu kepala keamanan, Marcus, berbicara, "Kami sudah menyelidiki. Serangan itu dilakukan oleh kelompok bayaran. Mereka bukan amatir." Lucas menyela, "Dan kami mendapatkan informasi bahwa Liam tidak hanya berencana menghancurkan bisnis Exelina. Dia ingin sesuatu yang lebih." Mata Grayson menyipit. "Apa maksudmu?" Lucas menyerahkan berkas yang berisi laporan intelijen. "Dia ingin menjadikan Exelina miliknya. Dengan kata lain… dia berencana menculiknya." Ruangan menjadi sunyi. Grayson mengepalkan tangan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "That bastard." Tanpa membuang waktu, ia berdiri. "Perketat keamanan Exelina. Aku ingin penjagaan penuh di sekelilingnya. Tidak ada yang bisa mendekatinya tanpa seizinku." Lucas mengangguk. "Aku sudah mengirim beberapa orang ke Milan untuk memastikan keamanannya." Grayson berjalan ke jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota. Pikirannya kacau, tetapi satu hal pasti—Liam telah menyentuh batas yang seharusnya tidak boleh disentuh. Dan untuk itu, Grayson akan memastikan Liam membayar dengan nyawanya. --- Exelina dalam Bahaya Di Milan, Exelina baru saja keluar dari showroom-nya ketika seorang pria asing tiba-tiba mendekatinya. "Nona Gladhine?" suaranya lembut, tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Exelina waspada. "Siapa Anda?" tanyanya dengan dingin. Pria itu tersenyum. "Seseorang yang dikirim untuk memberikan pesan dari Liam." Jantung Exelina berdegup kencang. Ia mundur satu langkah, tetapi pria itu dengan cepat menarik tangannya. "Liam ingin bertemu denganmu, dan dia tidak menerima jawaban tidak." Sebelum pria itu bisa menariknya lebih jauh, sebuah suara keras terdengar. "Lepaskan dia." Dua pria bertubuh tegap, yang merupakan pengawal pribadi Grayson, langsung bertindak. Dalam hitungan detik, pria suruhan Liam sudah tersungkur di tanah, tidak sadarkan diri. Exelina menarik napas dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya. Seorang pria lain mendekatinya, mengenakan jas hitam dengan earpiece di telinganya. "Nona Gladhine, Tuan Walker mengirim kami untuk menjaga Anda. Kami harus segera membawa Anda ke tempat yang lebih aman." Exelina menggigit bibirnya. Ia tidak suka harus terus dilindungi, tetapi ini sudah di luar kendalinya. Ia mengangguk. "Bawa aku ke Grayson." --- Liam yang Semakin Gila Di sebuah tempat rahasia, Liam duduk dengan segelas whiskey di tangannya. Salah satu anak buahnya masuk dengan wajah ketakutan. "Kami gagal, Tuan. Pengawalnya terlalu kuat." Liam menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Aku harus mengubah strategi, rupanya." Ia menatap foto Exelina di ponselnya. "Jangan khawatir, sayang. Aku akan datang sendiri menjemputmu." --- TO BE CONTINUED…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN