BAB 24 – RAHASIA YANG TERUNGKAP
Pagi itu, Exelina terbangun di dalam pelukan Grayson. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui tirai besar penthouse, menciptakan siluet lembut di wajah pria yang masih terlelap itu.
Dia mengamati garis tajam rahangnya, napasnya yang teratur, dan bagaimana tangannya masih melingkar di pinggangnya, seolah-olah enggan melepaskannya bahkan dalam tidurnya.
Namun, ketenangan itu hanya berlangsung sesaat.
Drrt. Drrt.
Ponsel Exelina bergetar di atas nakas. Ia meraihnya dengan malas, tetapi saat melihat notifikasi di layar, jantungnya mencelos.
"Exelina Gladhine: The Dark Past of a Rising Star in Fashion Industry."
Matanya membelalak saat melihat tajuk berita yang terpampang di berbagai portal media. Jemarinya bergerak cepat membuka artikel, dan napasnya tertahan saat membaca isinya.
Mantan korban bullying yang kini hidup dalam kemewahan. Tapi apakah Exelina benar-benar berhasil bangkit dengan usahanya sendiri? Atau ada seseorang yang mendanai jalannya ke puncak?
Sumber anonim mengungkap bahwa wanita ini memiliki hubungan tersembunyi dengan dunia bawah tanah. Apakah ini alasan mengapa CEO terkenal, Grayson Cole Walker, begitu terobsesi padanya?
Darah Exelina mendidih. Ia tahu siapa dalang di balik ini.
Liam.
"What the f*ck?"
Suara serak Grayson membuatnya tersadar. Pria itu baru saja bangun, dan melihat ekspresi Exelina, ia tahu ada sesuatu yang salah.
Exelina menoleh padanya, matanya penuh dengan kemarahan dan frustrasi.
“We have a problem.”
---
Grayson Melawan Balik
Satu jam kemudian, Grayson berdiri di depan jendela kantornya, ponsel menempel di telinganya.
“Find out who leaked this.” Suaranya dalam dan tajam. “Aku tidak peduli bagaimana caranya, tetapi dalam 24 jam, aku ingin nama pelakunya.”
Dari balik meja, Exelina duduk dengan ekspresi kosong, menatap layar laptopnya yang penuh dengan berita yang membicarakan dirinya.
"Ini menjijikkan." gumamnya pelan.
Grayson menutup panggilan teleponnya dan berjalan mendekatinya. "Liam sudah melewati batas."
Exelina mengangkat alis. "Baru menyadarinya sekarang?"
Pria itu menyentuh dagunya, memaksanya menatap ke arahnya. "Kau tidak perlu khawatir. Aku akan mengurus ini."
Exelina menghela napas panjang, matanya masih menunjukkan kemarahan yang terpendam. "Bukan hanya tentangku, Grayson. Ini juga tentangmu. Mereka menghubungkan namamu denganku. Reputasimu bisa rusak."
Grayson tertawa kecil, tetapi tak ada humor di matanya. "Reputasiku lebih kuat dari ini, Nonaku. Tapi aku tidak bisa membiarkan mereka menyentuhmu."
Exelina menatapnya dalam-dalam. Ada sesuatu dalam caranya melindungi yang terasa lebih dari sekadar obsesi.
"Lalu, apa rencanamu?" tanyanya akhirnya.
Grayson menyeringai, ekspresi licik yang hanya muncul ketika dia sedang merencanakan sesuatu yang besar.
“Aku akan mengajarkan Liam bahwa ada konsekuensi untuk setiap perbuatannya.”
---
Sementara Itu – Markas Liam
Liam duduk di sofa sambil menikmati segelas whiskey, menonton berita tentang Exelina di layar TV besar di hadapannya.
"Dia pasti panik sekarang." gumamnya puas.
Namun, sebelum ia sempat menikmati kemenangannya lebih lama, ponselnya berdering.
Saat melihat nama yang muncul di layar, senyumnya perlahan menghilang.
Grayson Walker.
Dengan ekspresi tenang, Liam menjawab. "Grayson. Aku tidak menyangka kau akan meneleponku secepat ini."
Suara di ujung telepon terdengar tenang, tetapi tajam seperti pisau. "Aku hanya ingin memastikan kau menikmati kemenangan kecilmu, Liam."
Liam menyeringai. "Oh, aku sangat menikmatinya. Kau tahu, dunia perlu tahu siapa sebenarnya wanita yang kau pertahankan mati-matian."
Hening sejenak.
Lalu suara Grayson terdengar lagi, kali ini lebih dingin. "Aku harap kau juga menikmati detik-detik terakhir sebelum aku menghancurkanmu."
Liam tertawa kecil. "Kau tidak bisa menghancurkan seseorang yang sudah terbiasa bermain kotor, Walker."
Grayson tersenyum di ujung telepon, meskipun Liam tak bisa melihatnya. "Aku tidak akan menghancurkanmu dengan cara biasa, Liam. Aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa menyentuh Exelina lagi. Tidak secara fisik. Tidak secara reputasi. Dan pasti tidak secara bisnis."
Liam mendadak kehilangan senyumnya.
"Aku sudah memberimu peringatan, tapi kau terlalu bodoh untuk mendengarkan."
"Apa maksudmu?"
Grayson tidak menjawab langsung. Sebaliknya, dia hanya berkata satu kalimat yang membuat darah Liam membeku.
"Check your bank accounts."
Liam dengan cepat meraih laptopnya, mengetik dengan panik. Tetapi ketika layar menunjukkan saldo rekeningnya, napasnya tertahan.
Akun-akun offshore-nya diblokir. Investasi utamanya dibekukan. Bahkan beberapa kontrak bisnisnya telah dibatalkan.
"You son of a—"
"You wanted to play dirty, Liam?" suara Grayson terdengar penuh kepuasan. "Then let’s see how long you last in the mud."
Panggilan berakhir.
Liam menatap layar laptopnya dengan kemarahan membara.
Permainan ini belum berakhir.
Dan dia akan memastikan bahwa Grayson dan Exelina akan membayar harga yang lebih besar.
---
TO BE CONTINUED…