Orang-orang mulai berdatangan di hari mereka dimakamkan. Kerabat, teman, tetangga, kolega, bahkan orang yang Risma tak pernah lihat wajahnya pun datang. Di antara mereka, yang paling histeris adalah Tante Dinda. Wanita itu menyalahkan dirinya sendiri sambil memukul-mukul kepala. Meraung, berteriak, dan tak berhenti mengucap "Maafin Tante, Ris..." sambil berlutut di kaki Risma. Air matanya mengotori celana gadis itu. "Tante salah karena nggak jagain ayah kamu..." Kira-kira sudah satu jam ia berperilaku seperti itu. Beliau juga menangis di samping peti mati orangtuanya. Sementara itu, Farisma—putri dari mendiang, sama sekali tak menumpahkan kesedihan. Risma hanya duduk sambil menatap kosong ke orang-orang. Mengamati tangisan mereka. Diam-diam ingin mengusir semuanya agar ia bisa tidur ta

