That Awkward Eye contact

1093 Kata
"Maaf Pak, beliau ingin bicara dengan anda." ucap Asna sambil menyerahkan ponselnya. Lelaki berwajah Chinese ini mengernyit, "Komplain lagi?" sambil meletakkan list order pakaian bulan ini. Setelah dijawab dengan anggukan, Chris segera meraih ponsel itu dan menyahut, "Halo? Ah, Pak Surya. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Iya, kami yang kurang teliti saat mengecek produk di tahap finishing." "...." "Iya, pak. Saya yang bertanggung jawab. Itu murni kesalahan kami—" Chris mengkode Asna untuk mendekat, “Iya, tenang saja bapak. Akan segera kami tindaklanjuti.” "...." "Baik, silakan bapak kirim detail kerusakan produk beserta jumlahnya. Untuk biaya permak akan ditanggung oleh kami." lanjut Chris. "Selamat siang." Ponsel itu ia kembalikan. Chris segera menginstruksikan Asna untuk mengadakan rapat. Rapat besar—harus dihadiri oleh seluruh karyawan perusahaan termasuk para penjahit, packing, bordir, dan lainnya. Chris tak melakukan hal semacam ini tanpa alasan. Rapat besar hanya diadakan ketika kondisi perusahaan sedang darurat. Jumlah komplain selama beberapa bulan terakhir terus meningkat. Walaupun dampaknya belum terasa sekarang, namun ia yakin akan memengaruhi kepercayaan para customer yang sebelumnya sering melakukan repeat order. Tolong jangan lupakan pengalaman berbisnisnya sejak usia dua puluh. Ia sudah lebih dari paham tentang situasi ini. Tepatnya pukul sepuluh pagi, ribuan karyawan dari berbagai tim telah berkumpul di lokasi bekas packing yang telah dirombak menjadi aula rapat. Mereka duduk di kursi yang berjajar melintang sambil menunggu wakil direktur utama—Christian, menyampaikan pidatonya. Farisma kebagian duduk di paling depan karena para senior memilih kursi belakang. Ditemani Nova, mereka menyimak pembicaraan oleh Chris yang hanya berjarak dua meter di depan. Pria berkulit pucat itu membuka pidatonya dengan lantang, menggema dengan mikrofon. "Pertama, saya ingin memohon maaf karena mengganggu para rekan di tengah proses kerja. Saya tahu rapat ini akan menghambat target harian, namun saya ingin meminta beberapa menit waktu bapak-ibu demi kelancaran di masa mendatang." Chris menundukkan kepalanya sebagai gestur permohonan maaf. Di sana ada Farisma yang tersenyum kecil; tiba-tiba merasa bodoh. "Begini, bapak-ibu. Kita semua, adalah rekan kerja. Saya membutuhkan kemampuan kalian untuk mempertahankan perusahaan. Dan kalian pun membutuhkan saya untuk terus bekerja. Bukan begitu?" ucap Chris yang dijawab serentak oleh para pekerja. "Tempat saya betul di kantor, tapi saya tidak punya skill untuk mengolah semua order itu menjadi produk siap jual. Saya membutuhkan bapak-ibu, rekan-rekan yang mungkin baru lulus, dan semua yang ada di sini." Pak Chris ganteng, bisik Nova yang dihadiahi tepukan paha oleh Risma. “Lihat deh, rambutnya.” Risma tak mengiyakan, tetapi Nova juga tidak salah sih. Hari ini Chris memang terlihat lebih menawan dari biasanya. Pria berwajah oriental itu melepas kacamatanya dan beralih ke lensa kontak. Tubuh tegapnya dibalut setelan kasual dengan sepatu putih dan celana bahan. Ada satu-dua anak rambut yang jatuh di keningnya. Tertata rapi hingga tak menutupi pesona jidat yang menambah kesan maskulin itu. Risma menggigit bibirnya. Tampan paripurna. "Orang-orang itu tidak sedikit lho bu, yang menyumpah pada saya. Banyak kalimat kotor yang saya terima selama komplain mereka, cacian, segala macam. Tapi saya terima aja, karena itu memang salah saya sebagai leader, "Saya tahu kalau produk yang mereka terima masih ada yang bolong, jahitannya miring, nggak rapi. Nggak sekali dua kali, namun sering kali—apalagi dalam sebulan terakhir." Risma tenggelam pada sorot milik Chris. Pembawaannya begitu tenang seolah-olah sedang memberi kuliah umum pada mahasiswa. Tak serta merta memojokkan karyawan sebagai pihak yang paling salah. Meskipun Chris pernah berpikir bahwa aktivitasnya di garmen ini kurang atraktif—tak semenarik kegiatannya mengelola bisnis kuliner, ia tetap menjalankan apa yang diamanatkan ayahnya. Usai pidato itu selesai, rapat dilanjutkan oleh kepala bagian tim jahit—Pak Rudi, yang berperan vital dalam menjaga kualitas produk, dengan pidato lagi. Orang ini tipe yang melebihkan omong kosong daripada aksi, dan Risma tak pernah mempedulikan omongan lelaki itu kecuali saat bekerja. Farisma masa bodoh dengan celoteh Pak Rudi, baginya wajah pak Christian jauh lebih segar untuk dinikmati. Saat ini Chris tengah sibuk menjawab telepon di belakang petinggi kantor. Dirinya berdiri menyamping dengan tangan kiri memegang ponsel dan catatan kecil di tangan kanan. Rahangnya terlihat tegas dengan sorot mata yang serius. Sialnya lagi, kedua lengan kemeja itu digulung hingga siku dan memperlihatkan urat-urat tangan yang maskulin. Sebuah Apple Watch berwarna gold melingkar cantik di pergelangannya yang putih. Chris adalah definisi dari sempurna. Oh, sial. Dia menoleh. Risma buru-buru mengalihkan pandangan. Ia terkejut bukan main ketika tatapannya bertemu manik hitam milik Chris yang terbungkus kelopak mata sipit itu. Tiba-tiba saja dirinya terserang gugup hingga tenggorokannya mengering. Gadis itu berpura-pura menyimak pidato pak Rudi yang sebenarnya tak ia mengerti satu pun. Ia menggigiti bibir bawah sambil berharap pria itu tak berpikiran aneh Namun ketika Risma mencoba menoleh lagi— Chris masih memandangnya. Ia belum mengalihkan pandangannya. Pria itu dengan nanar memandang mata bulat milik Risma. Dia sukses membuat gadis itu hampir tersedak dengan canggung. Sungguh konyol, tapi muka kucel gadis itu lucu. Akhirnya Chris berhenti menatapi Risma usai mengangguk pelan, menarik senyuman, lalu berkedip dengan cantik. Farisma tersedak ludahnya sendiri. Pria itu bisa benar-benar membunuhnya usai satu tatapan. *** 20.00 WIB Usai memarkirkan mobil di garasi, Chris melepas sepatu putihnya dan duduk di teras rumah. Menyamankan posisi lalu merogoh ponsel yang berdering sedari tadi. Ia langsung menjawab, “Iya, iya. Nanti gue kirim lewat email aja gampang, kan? Nggak usah buru-buru, lagian—” Belum selesai mulutnya bicara, Chris mendapati sebuah motor berhenti di depan rumahnya. Tak nampak jelas siapa, namun ia tahu bahwa sosok itu adalah wanita. Bisa Chris lihat dari celana high waisted dan sweater merah muda yang melekat di tubuhnya. Ia sendirian. Berdiri di depan gerbang. Dengan tubuh kaku. “Bentar, gue tutup dulu. Nanti sambung lagi.” ponsel itu masuk ke saku. Chris berjalan pelan ke depan. Sedikit mengintip dari celah gerbang. “Maaf, cari siapa, ya?” Pria bermata sipit itu sepenuhnya membuka gerbang. Wanita itu tertutup kaca helm. Diam beberapa detik dengan tangan gemetar kecil. “Bisa saya bantu?” Gadis itu membuka kaca helmnya, “Pak Chris?” Mereka berpandangan. Mata Christian mengernyit samar sebelum akhirnya mengingat sosok itu. Farisma, yang pernah ia wawancarai, yang tiap hari bekerja di perusahaannya. Terlepas dari itu, Chris dengan gentle membiarkan Risma memasuki pekarangan rumahnya. “...Iya, ada perlu apa?” Momen ini tampak sangat janggal. Bagaimana motor butut gadis itu mengikutinya sampai sini? “Nggak lama kok, pak. Cuma mau ngembaliin ini,” Risma merogoh tasnya. “Kartunya ketinggalan.” Chris terkejut bukan main. Kartu berlogo MasterCard dengan nomor seri persis miliknya, ada di tangan gadis itu. “Ya ampun, kok bisa! Kamu nemu di mana?” Risma tersenyum canggung. Ia menyerahkan benda tipis itu sebelum menjelaskan, “Jadi begini…”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN