Pernikahan

1124 Kata
Yaselin yang menantang, Meri yang melakukan. Malam itu juga ia mengutus orang suruhannya untuk mengurus segala persiapan pernikahan Elang dengan Yaselin. Dengan segala aturan yang diatur oleh pemerintah agar posisi Yaselin sama kuatnya dengan Widya agar menjadi alat baginya untuk menjadikan perikanan Elang yang sekarang sebagai satu-satunya pernikahan. Meri yang telah muak dengan segala tingkah laku Widya akan menyingkirkannya secara perlahan dengan bantuan Yaselin. Ya, meskipun Meri harus banyak-banyak berdoa agar Yaselin mau membantu dan benar-benar mau menjadi istri Elang untuk selama-lamanya. Tidak tau dapat kekuatan dari mana, Meri yang tadinya lemas dan terbaring di ranjang rumah sakit, kini sudah duduk. Mengatur dan menata ruang rawatnya agar layak dijadikan tempat Yaselin dan Elang untuk melakukan akad nikah. Dengan semangat pula Meri menghubungi beberapa orang untuk menjemput keluarga Yaselin, terutama ayahnya. Agar pernikahan antara Elang dan Yaselin bisa segera dilangsungkan. Cukup banyak orang yang diutus Meri. Maka banyak pula uang yang ia keluarkan demi sebuah pernikahan yang sangat mendadak itu. Diantara orang suruhan Meri, yang memiliki tugas cukup sulit mencari keberadaan Widya untuk mendapatkan tanda tangan wanita itu. Sebagai tanda Widya mengizinkan Elang untuk menikah lagi. Widya yang mendapatkan surat pernyataan tersebut tentu saja tersentak. Ingin rasanya ia mengajukan protes karena perjanjian awal Yaselin dan Elang hanya menikah siri dan bercerai begitu anak mereka lahir. Sekarang? "Widya, cepat! Bos sudah menunggu di dalam. Jangan lagi menunda, kalau kamu tidak ingin kontrak itu batal ditandatangani," tegur seorang wanita kepada Widya yang masih menatap surat pernyataan. Di tangannya ada ponsel yang digunakan untuk menghubungi Elang. Widya ingin memastikan terlebih dahulu pernikahan seperti apa yang akan dilakukan Elang dan Yaselin. Sebelum ia menandatangani surat pernyataan tersebut. Namun sayangnya sampai teguran terakhir, Elang tak kunjung menerima panggilan darinya. Dengan berat hati Widya bangkit dan menandatangani surat tersebut. Langsung menyusul sang manager untuk mengurus kontrak kerjanya agar bisa menjadi brand ambassador untuk produk yang telah lama ia impikan. *** Disaat Widya mulai mengurus segala urusan pekerjaannya, Elang justru menatap nanar pada ponsel yang ada di tangannya. Membiarkan Widya menghubunginya, tanpa ada niat sedikitpun untuk menerima panggilan tersebut. Elang yang terlanjur sakit hati, tidak ingin menerima panggilan apapun dari Widya agar kuat menjalani pernikahan dengan Yaselin. Seandainya diterima, bisa dipastikan hati Elang kembali meronta, menolak keras pernikahan paksa ini. Maka dari itu, demi kewarasan Elang memilih abai, membiarkan dua orang wanita menata wajah dan penampilannya. Sedangkan di sudut kamar rawat lainnya, ada Yaselin yang sedang dirias pula. Gadis itu mengenakan kebaya yang dipesan Meri secara dadakan dari butik langganannya. Biar mahal karena dipesan secara dadakan, tak apa, yang penting Elang dan Yaselin bisa menikah secara resmi. Bisa memiliki foto pernikahan mereka sendiri jika suatu saat nanti Widya sudah mengalah dan pergi. *** Suasana ruang rawat Meri mulai ramai, dipadati dengan beberapa orang yang siap menjadi saksi dari sebuah pernikahan yang katanya, hanya siri saja. Namun melihat dari siapa saja yang hadir, Elang tidak yakin ini hanya pernikahan siri. Karena ia menangkap kehadiran seorang pria paruh baya, yang dikenal sebagai RT di daerahnya tinggal. "Jangan heran, Mama tidak ingin anak yang dikandung Yaselin nantinya dikuasai Widya. Meski tak memilikimu secara utuh, setidaknya anak kalian nanti tau siapa wanita yang menghadirkan dia ke dunia." Meri menepuk pelan pundak Elang. "Jangan bantah dan turuti saja karena ini ibumu. Tanpaku kamu tidak akan pernah ada di dunia ini, Lang." Elang meringis. Tepukan sang ibu sangat pelan, tentunya tidak ada dampak apapun yang ia rasakan. Hanya saja kata-kata yang keluar dengan suara lembut itu, sangat menusuk. Memporak-porandakan kesetiaan yang selama ini pria itu pupuk sepenuh hati. Elang berani bersumpah demi apapun. Tidak pernah sekalipun terbersit di benaknya memiliki dua orang istri. Menikah lagi, dengan wanita lain. Mendapatkan restu dari ibu dan istrinya pula. Sungguh miris, kesetiaan yang selama ini ia ukir kini runtuh karena kehadiran Yaselin. "Semua sudah siap, ayo menikah!" ajak Meri. Membuyarkan lamunan Elang, yang duduk di tepi ranjang. Entah berapa lama Elang termenung. Kini Yaselin sudah duduk di samping ayahnya dengan kebaya putih bersih, membalut tubuh rampingnya. Bukan hanya itu, wajah cantik Yaselin pun telah dirias sedemikian rupa dengan riasan tipis saja agar tak mengubah kecantikan alami yang ia miliki. Sesaat Elang tertegun. Menatap gadis yang beberapa jam lalu masih ia rendahkan. Dicaci dan ia sebut sebagai gadis kampungan. Sekarang? Mengatupkan mulutnya saja Elang tidak mampu. Andai saja Meri tidak menepuk lengannya, mungkin Elang masih menikmati kecantikan yang dimiliki Yaselin. "Sah." "Sah." Satu kata yang menggema secara bersahutan di ruang rawat VIP tersebut. Sebagai penegas akad nikah yang baru saja diucapkan Elang telah resmi menjadikan Yaselin sebagai istrinya. Acara sederhana itu ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan ayah Yaselin. Sesuai janji, setelah Yaselin resmi menjadi istri Elang maka ayah Yaselin akan mendapatkan penanganan medis secara layak. Ini satu-satunya bagian yang membuat Yaselin tidak menyesal telah menjadi istri bayaran. Terserah lah bagaimana hidup yang akan dijalani, asalkan keluarganya bisa hidup layak. Melihat Meri menepati semua janji, Yaselin ingin berkorban lebih jauh agar hidupnya semakin baik terutama pengobatan sang ayah. "Tunggu, kalian tidak boleh menikah sebelum menjelaskan tentang surat yang aku tandatangani tadi," ucap Widya yang baru saja masuk ke ruang rawat Meri. Wanita itu tampak terengah-engah, seakan baru saja selesai melakukan lomba lari. Penampilan Widya juga tampak acak-acakan, seperti baru saja bangun tidur dan langsung menuju rumah sakit. Elang yang melihat penampilan sang istri menautkan alisnya. Baru pertama kali ia melihat Widya berada di tempat umum dengan penampilan seburuk itu. Sebagai model terkenal, Widya selalu menjaga image dan berpenampilan menarik meski hanya keluar untuk membeli lontong sayur. Sekarang? "Pernikahan apa?" Meri menyahut. Menatap sinis kepada Widya yang mendekatinya dan Elang. "Pernikahan Elang dan Yaselin, lah, Ma. Siapa lagi?" dengus Widya, sembari mengatur laju napasnya. "Oh, kenapa memang? Kamu mau batalin?" "Enggak, aku nggak mungkin ingkar janji untuk itu. Tapi, tolong jelaskan dulu apa maksud surat yang aku tandatangani. Itu saja. Kalau sudah jelas, mereka bisa menikah." "Surat itu sebagai bukti kalau kamu izinkan Elang untuk menikah lagi." Meri mengangkat satu tangannya agar Elang diam. "Kalau tidak ada surat itu, maka Elang dan Yaselin tidak bisa menikah." "Loh, kok nggak bisa, Ma? Nikah siri setahuku tidak perlu itu semua. Kecuali Elang …" "Menikah secara agama dan hukum negara!' Meri menekankan setiap kata yang ia ucapkan. "T-tidak mungkin! Kalau begitu caranya, aku tidak rela Elang menikah lagi,Ma! Lebih baik aku …." "Punya anak? Bercerai dari Elang? Terserah apa mau kamu, itu tidak penting lagi Widya. Karena Elang dan Yaselin sudah selesai menikah." "A-apa? Tidak! Ini tidak mungkin. Bukannya mereka akan menikah pagi ini?" "Tidak. Mereka sudah menikah tadi subuh. Sekarang kamu siapkan bayaran untuk Yaselin." Widya menggeleng. "Aku tidak mau, Ma!" "Tidak mau bagaimana? Kamu sudah setuju dan sekarang ingin ingkar janji?!" "A-aku--" Widya menatap Elang. "Lang, aku mohon ceraikan Yaselin!" Elang menoleh. Matanya membulat mendengar keinginan Yaselin, yang tak pernah diduga sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN