____ Kalau surganya perempuan bebas lembur, surganya cowok ya ngeliatin perempuan cantik lagi kerja____ Bos
Aku mendengus, bisa – bisanya sahabat kuliah menghubungiku hanya untuk memberi ucapan belasungkawa atas statusku yang berubah menjadi jomblo menggenaskan.
" Sdah deh, gandeng saja si bos. " Ujar Tasya terkikik," jodoh lo kali, An."
" Jahat begitu, ogah ah!" Aku menarik selimut, hari ini izin ngantor. Mendadak tadi malam pusing dan tidak enak badan.
" Ntar sayang loh, baru ngerti."
" Jujur deh Sya, daripada gue menyayangi si bos sialan itu, mending gue menyayangi kucing gue di rumah." Aku tak terima." Tapi aneh juga, ngajak gue dinner malem ini, emang di enggak lembur?"
" Biasanya?" Tasya membalikkan pertanyaan padaku.
" Dia kan bos, ongkang – ongkang kaki aja di kursi terima beres. Terus tuh Sya, dia bilang udah pernah laku. Masa sih duda?"
Tasya tergelak, habis aku menjadi bahan leluconnya." Duda? Wow? " Ia berdecak takjub." For your information : biasanya kalau nikah sama duda, bakal kepentok restu, lo mulai deh ancang – ancang alasan."
" Alasan?" keningku berkerut, terkadang sahabat sialan itu memang suka muter – muter kalau diajak ngobrol.
" Lo gimana sih, alasan buat nyokap dan bokap nerima si bos lo. Tajir kan?"
" Memangnya ada bos miskin? Tapi untuk apa juga gue memikirkan alasan, siapa gue dihidup dia." Aku frustasi, memikirkan Bagas semata. Rasanya terlalu lelah memikirkan nasib hidup, cinta dan keluarga. Kalau dibawa ke hati, bisa – bisa aku gantung diri.
" Misalkan gue punya kakak atau abang, setidaknya belum ketemu jodoh punya batu loncatan. Lah ini, gue anak semata wayang, urusan asmara pun payah. Sial banget nasib gue, Sya." Rutukku dibalik selimut, masih menelpon Tasya di Jakarta.
BIG BOSS
" Kamu nggak takut sendirian?" suara yang aku kenal sudah kembali, pamitnya salat Magrib di musala tempat kami makan malam.
" Tidak tuh." Jawabku datar, menoleh ke sebelah. Si bos terlihat lebih santai, kaos oblong berwarna hitam dipadukan celana sebatas lutut. Nyaris aku memuji wajah tampannya, sebab di kantor selalu memakai stelan kemeja atau jas.
" Suntuk?" tanyanya lagi padaku, merapikan rambut yang acak – acakan.
OH MY GOD, Bagas sih lewat kalau yang begini.
Aku mengangguk malas, " lumayan."
" Habis makan, bagaimana kalau nonton?"
Lagi – lagi aku dibuat tersedak, Arkan selalu bersikap seenak jidat. Setelah mengajaknya dinner, walau sepanjang jalan hanya mengatakan makan malam biasa dan sekarang nonton bareng? Ada yang tidak beres sepertinya dari Arkan.
" Bapak bawa kekasih?" Aku sengaja menyindirnya.
" Saya bawa kekasih, kamu mau jadi obat nyamuk?' Arkan membalikkan pertanyaan." Kamu ditemani siapa di dalam?"
" Ya sendirilah, tolong ya Pak. saya ini jomblo masih hitungan hari, tidak se – ngenes Bapak dong."
Arkan manggut – manggut." Saya temani malam minggu kamu, mengurangi spesies makhluk di dunia yang galau melulu." Arkan meletakkan tas selempang di sebelahku, mengeluarkan handphone seperti biasa, sibuk sendiri.
" Lain kali ngajak nonton tuh kabarin, kan bisa persiapan. Kucel begini, Bapak enggak malu?"
Arkan terkekeh." Saya ngajak nonton doang, bukan ngajak kencan malam mingguan lho An, heboh benar."
Aku menggerutu, menatap Arkan tak suka." Bahagiakan aku sekali – kali apa salahnya?" Aku sudah tidak formal berbicara pada Arkan, biar saja. Sudah lepas Atribut kerja, sekarang kami menjadi teman di luar kantor.
" Alasan kamu kerja untuk apa An?" Tiba – tiba manusia hutan bertanya, aku tengah memesan makanan hanya menatap sekilas dan membaca lagi.
" Nyari uang." Jawabku singkat, menunjuk menu yang sudah aku pilih pada waiters.
" Oh, bukan nyari jodoh?"
" Ya kali, perusahaan biro jodoh. Tapi enggak salah juga dicoba, Bapak sendiri kerja untuk apa?"
" Bukan urusan kamu." Katanya fokus pada handphone.
Aku kesal mendengar jawabannya, memutar bola mata malas setelah menyadari Arkan tengah menatapku." Kenapa juga mesti nanya, kalau Bapak sendiri juga nggak mau ditanya. Aneh deh,"
" Oke." Suara Arkan seperti enggan menjawab.
" Aku tuh tipe perempuan mandiri." Dengan percaya diri aku membanggakan sosok Andini Sahara, yang tidak lain adalah diriku sendiri.
" Keluarga kamu bagaimana? Lalu kamu tidak capek diomelin saya terus?"
" Aku dari keluarga sederhana," aku menahan diri memakan menu pembuka, beralih menilai akan jawaban Arkan." Kalau Bapak nanya capek atau tidak diomelin melulu, besoknya aku pasti didepak dari kantor, masih butuh pemasukan untuk dua tahun ke depan." Kataku seperti ketakutan, si – bos mulai nyari umpan nih.
" Dengar enggak gosip – gosip di kantor, saya lagi menyayangkan Mas Ardi yang bakal diganti dari tim perencanaan. Kamu enggak kepikiran resign gitu?"
" Enggak, bapak ngotot banget minta aku resign, aku emang nggak pantas ya gabung di tim Bapak?" Heran deh, kenapa akhir – akhir ini aku seperti didiskrimanasi oleh Arkan, padahal kontrak kerja masih ada dua tahun lagi loh.
Arkan diam dan aku pun ikut diam, menikmati menu makanan yang kami pesan masing – masing. Aku berusaha tidak ambil pusing atas pertanyaan tadi, biasa bos memang suka basa – basi demi melihatkan identitas diri. Ya, seperti itulah menenangkan diri agar besok pagi aman – damai berangkat ke kantor.
" Oh, aku ingat." Ujarku tiba – tiba." Maksud Bapak apa sih, heboh sekantor gara – gara jemari aku di sana."
" Jemari kamu yang mana?"
Aku mendelik, seakan –akan Arkan tidak merasa terlibat akan permasalahan yang sedang dibahas.
" Kemarin Mbak Talita memperlihatkan story Bapak, berhubung aku tidak menyimpan kontak Bapak, jadi tidak bisa melihat." Aku menjelaskan," izin dulu dong, hampir aja disidak satu jam oleh Mas Ardi, kenal banget cincin yang biasa aku pakai."
" Cincin apa sih?" Kening Arkan berkerut, menjauhkan piring kosong.
Aku menghela napas kesal, sudah tersidak masih saja berpura – pura." Bapak jangan kucing – kucingan deh, aku tahu kok pemilik little girl itu. Cincin itu punya aku juga, Bapak nyari perhatian anak kantor?"
Arkan manggut – manggut, tatapannya mengedar ke kiri – kanan." Ya, lucu saja."
" Apanya?" aku makin tidak mengerti.
" Kamu bilang, cincin itu punya kamu. Mana?" matanya menatap padaku, sedikit mengejek karena jemariku sudah kosong dari cincin.
Aku menginjak kaki Arkan, tidak sengaja namun seperti kesempatan." Dari Bagas, untuk apa aku pakai lagi. Sudah putus, tapi aku tetap kenal kok."
" Terserah kamu deh, saya malas mau berdebat." Katanya lagi.
Darahku diubun – ubun, menahan kesal sampai gigiku beradu.
" Sudah?" Arkan bangun, mengambil dompet dari saku celana." Ke mobil duluan saja, saya ke kasir sebentar."
" Ngapain ke mobil Bapak?" Aku meraih tas, menatap Arkan cukup tajam.
" Kamu menolak saya ajak nonton?" Langkah Arkan terhenti, tidak jadi menuju meja kasir.
Aku mengangguk cepat," mendadak aku ngantuk. Bapak cari saja cabe – cabean di luar, yang bisa diajak happy – happy."
Arkan berdehem." Oh, gitu?" bariton suaranya memberat, tangannya sudah disaku celana.
" Apanya yang gitu?" bukan aku yang lambat mencerna, bicaranya Arkan yang nggak berbobot.
" Ya sudahlah, pulang sana. Besok pagi nggak usah ngantor." Kata – katanya pedas, aku sampai bergidik ngeri atas pemecatan tidak formal barusan.
" Bapak barusan mecat aku, benar enggak sih?" keringat dingin membasahi sekujur tubuh.
Arkan mengangguk." Benar, kalau kamu menolak menemani saya."
" Aku ini kacung bukan gundik! Gimana sih, Bapak ingin menjatuhkan harga diriku sebagai perempuan?" ucapku sedikit berteriak, tidak terima ucapan Arkan tadi.
" Lho, saya nggak anggap kamu seperti itu kok. Nawarin kamu nonton juga niatnya baik, setidaknya ngobatin demam malarindu kamu ke mantan." Jelasnya santai, aku batuk – batuk mendengarnya.
" Aku murni demam karena lemburan, bukan ditinggal mantan." Lirihku, berharap Arkan mendengarnya.
" Enam bulan saya ajak lembur, baru hari ini kamu enggak ngantor. Wajar nggak? Harusnya tiap bulan kamu ada izin sakit dong."
Aku malas berdebat, selain menyebalkan si – bos memang terlalu nyinyir privasi orang lain.
" lebih baik tukar job ke admin gosip, cocok untuk Bapak." Kataku berlalu, menuju mobil Arkan.
Arkan masuk keantrian, membayar bill tagihan atas pesanan tadi, sikapnya tetap santai seperti tidak ada kejadian. Itulah kelebihan si big – bos, dinyinyirin satu kantor juga tidak peduli, hatinya sudah mati atau memang bawaan nge – bos di atas langit tujuh. Dia punya kantor, dia punya kuasa.
TBC