Coba jalan – jalan, biar tidak ruwet dipikiran. Aku tak berhenti menyimpulkan senyum, rencana sabtu berjalan lancar. Walau hanya keluarga inti saja, Sigra begitu baik memperkenalkan aku pada keluarganya. Obrolan kami banyak nyambungnya daripada basa – basi, jauh berbeda dengan Arkan. Jam istirahat, aku gunakan untuk menemui keluarga Sigra. Cukup singkat dan kurang waktu, orang tua Sigra sangat pengertian. Keluarga mereka begitu agamis, aku masih jauh dari kata sempurna, tidak tertutup selayaknya kewajiban perempuan. Kemeja kantoran dan celana kerja, rambut terurai rapi. Adik Sigra, lebih muda dua tahun dari aku terlihat anggun menggenakan hijab, bahkan Mami dan Kakak ipar mereka sangat menjaga auratnya. Mulanya aku takut menemui, bukan apa – apa. Jelas sudah, mereka sulit menerima aku ya

