Hari ketiga. Aku hampir kalah bahkan sebelum mata ini terbuka sempurna. Tubuhku terasa seperti tumpukan daging dan tulang yang dipaksa menyatu namun menolak untuk sinkron. Saat alarm ponsel berdering nyaring, aku hanya bisa menatap langit-langit kamar losmen yang retak.
Punggungku tidak hanya nyeri, rasanya seperti ada ribuan jarum yang tertanam di sepanjang saraf. Lengan bawahku membengkak, terasa berat dan panas. Bahkan hanya untuk sekadar mengubah posisi menjadi duduk, aku harus mengumpulkan tenaga seolah sedang mengangkat beban puluhan kilo.
Aku menghela napas panjang, membiarkan dadaku yang sesak sedikit melonggar.
"Berhenti saja..."
Suara itu muncul dari sudut tergelap pikiranku. Pelan, menggoda, dan sangat masuk akal.
Aku menutup mata kembali, membayangkan jika hari ini aku tidak muncul di gudang. Aku bisa tidur seharian. Menghilang lalu beristirahat.
Toh, tidak akan ada yang peduli. Tidak ada yang mencari. Dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena seorang kuli gudang bernama Reza absen satu hari. Dan mungkin... itu memang jauh lebih mudah.
Namun saat bayangan itu mulai terasa manis, jemariku yang kaku mengepal di atas kasur.
Kalau gue berhenti sekarang...
Wajah Ibu mendadak muncul. Tatapan matanya yang merendahkan, garis bibirnya yang melengkung penuh jijik. Suara tajamnya kembali terngiang, melabeliku dengan satu kata yang paling aku benci: Sampah.
Mataku langsung tersentak terbuka. Amarah yang sempat padam kembali memercik. Aku memaksa tubuhku untuk duduk. Sakitnya luar biasa, merambat dari pinggang hingga ke leher, tapi aku tidak peduli.
"Belum," bisikku pada kesunyian kamar. "Gue belum selesai."
Aku berdiri. Kaki ini goyah, gemetar menopang beban tubuh, tapi aku tetap tegak.
Suasana di gudang tetap sama. Brutal dan acuh tak acuh. Dunia di sini tidak peduli apakah semalam aku tidur nyenyak atau menangis kesakitan.
"Reza! Cepat, jangan melamun!" teriak Pak Hendra, suaranya seperti cambuk yang memecah kebisingan.
"Iya, Pak!"
Suaraku lebih parau hari ini.
Aku langsung menenggelamkan diri dalam tumpukan barang. Aku sengaja mematikan pikiranku, bergerak secara mekanis. Karena aku sadar, jika aku membiarkan otakku berpikir meski hanya sedikit, rasa capek ini akan langsung menumbangkanku.
Satu jam. Dua jam. Tubuhku bergerak otomatis seperti robot yang baterainya mulai melemah. Angkat, taruh, angkat lagi.
Tidak ada lagi semangat yang meluap-luap, tidak ada lagi amarah yang menggebu. Yang tersisa hanyalah kelelahan yang murni dan pekat.
Menjelang siang, ritmeku mulai berantakan. Aku melambat bukan karena malas, tapi karena otot-ototku sudah mencapai ambang batasnya.
"Oi! Jangan tidur sambil berdiri!" suara sinis itu kembali menusuk telinga.
Aku menoleh sedikit, menatap pria yang sejak hari pertama tak henti meremehkanku. Biasanya aku akan merasa panas dan ingin membuktikan sesuatu. Tapi hari ini? Aku bahkan tidak punya tenaga untuk sekadar merasa tersinggung. Aku hanya kembali bekerja, memperlakukannya seolah dia hanya bagian dari kebisingan gudang. Tanpa reaksi dan tanpa emosi.
Jam istirahat tiba. Aku terduduk lemas di sudut yang biasa. Nasi bungkus di tanganku terasa seberat batu, aromanya yang biasanya menggoda kini justru membuat mual. Aku menatapnya lama sebelum akhirnya meletakkannya di samping. Nafsu makanku menguap entah ke mana.
Kepalaku menunduk, tangan menggantung lemas di antara kedua lutut.
"Capek, ya?"
Aku menoleh perlahan. Seorang pria duduk di sampingku. Usianya mungkin sekitar tiga puluhan, badannya tidak segempal pekerja lain, tapi urat-urat di lengannya menunjukkan bahwa dia bukan orang sembarangan.
Aku tidak langsung menjawab, hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Dia membuka botol air mineral dingin, lalu menyodorkannya padaku.
"Nih, minum dulu."
Aku ragu sejenak, namun rasa haus yang membakar tenggorokan akhirnya menang. Aku menerimanya. "...Makasih."
Air dingin itu mengalir masuk, memberikan kejutan kecil yang menyadarkan kesadaranku.
"Nama gue Bima," katanya santai, sambil menyandarkan punggung ke dinding beton.
Aku mengangguk lemah. "Reza."
"Gue tahu. Dari kemarin lo jadi tontonan di sini," katanya dengan senyum tipis yang anehnya tidak terasa mengejek. "Biasanya anak baru sudah kabur di hari kedua. Lo masih di sini sampai hari ketiga. Lumayan."
Aku menunduk kembali, menatap lantai yang penuh debu. "Lumayan buat apa... kalau akhirnya nanti gue juga bakal tumbang."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Jujur dan pahit.
Bima diam sebentar, menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Lagi kepikiran buat berhenti?"
Aku tidak menjawab, tapi keheninganku sudah menjadi pengakuan yang paling jelas.
"Wajar," Bima mengangguk pelan. "Lingkungan sini memang keras. Nggak semua orang cocok jadi kuli di tempat begini."
Aku mengepalkan tangan yang kasar dan penuh lecet. "Gue harus cocok." Suaraku pelan, tapi ada nada putus asa yang kuat di sana.
Bima menoleh sepenuhnya, menatapku lebih serius. "Kenapa?"
Aku diam. Rahasia hidupku bukan untuk konsumsi publik. Tapi entah karena efek air dingin atau sorot matanya yang tenang, aku akhirnya bergumam, "Gue nggak punya tempat lain buat pulang."
Bima hanya mengangguk kecil, seolah kata-kataku baru saja menjawab sebuah teka-teki.
"Kalau gitu... jangan kerja pakai ego."
Aku mengernyit, bingung dengan arah bicaranya. "Maksudnya?"
"Lo maksa terus dari kemarin. Gue lihatin. Tenaga manusia itu ada batasnya, Za. Kalau lo pakai habis-habisan di awal cuma buat buktiin lo kuat. Ya lo bakal selesai sebelum gajian pertama datang." Jelasnya. "Kerja di sini itu pakai ritme. Bukan cuma pakai otot."
Aku terdiam. Perkataannya menghantam tepat di ulu hati. Selama ini aku hanya tahu cara bekerja sampai mati, tanpa tahu cara mengelola diri sendiri.
"Kalau lo mau bertahan lama di sini... jangan cuma mau jadi yang paling kuat. Harus pintar juga ngatur tenaga." Tambahnya.
Aku menatap Bima. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah, aku merasa sedang mendapatkan pelajaran yang benar-benar berharga. Aku mengangguk pelan. "...Makasih."
Bima mengangkat bahu, lalu berdiri. "Jangan makasih dulu. Buktiin saja lo bisa lewat hari ini tanpa pingsan."
Setelah istirahat, aku kembali ke tumpukan barang. Namun kali ini, aku tidak lagi meledak-ledak.
Aku mulai memperhatikan sekitar. Melihat bagaimana para pekerja lama mengangkat karung—posisi kaki mereka, cara mereka membagi beban ke pinggul, dan bagaimana mereka mengatur napas agar tidak cepat lelah. Aku mencoba meniru pelan-pelan. Tidak langsung sempurna, tapi aku merasakan perbedaannya.
Beban itu tetap berat, tapi aku tidak lagi merasa seperti sedang bertarung melawan maut di setiap angkatan. Lebih stabil. Lebih terkendali.
"Masih hidup lo?" suara sinis itu kembali muncul saat aku sedang menumpuk kardus.
Aku menoleh. Pria itu berdiri di sana, menunggu reaksiku. Tapi kali ini, aku tidak merasa terpancing. Aku hanya menatapnya sebentar dengan wajah datar, lalu kembali bekerja tanpa sepatah kata pun.
Karena tidak mendapatkan reaksi yang dia inginkan, dia justru terdiam dan pergi begitu saja.
Sore hari tiba. Matahari mulai condong ke barat, mengirimkan cahaya jingga ke dalam gudang yang pengap.
Aku masih berdiri. Masih bergerak da masih bernapas.
Mungkin aku bukan yang tercepat hari ini, dan jelas bukan yang terkuat. Tapi aku masih di sini. Dan untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup.
Langkahku saat keluar dari gerbang gudang masih terasa sangat berat, namun tidak sepayah kemarin. Aku berhenti sebentar, menghirup udara malam yang mulai turun.
Aku menarik napas sedalam-dalamnya. Hari ini, aku hampir saja menyerah. Hampir saja aku kembali menjadi sampah seperti yang mereka katakan. Tapi nyatanya, aku berhasil melewati garis finis hari ketiga.
Sekarang aku mengerti. Ini bukan soal siapa yang paling perkasa, tapi soal siapa yang paling mampu menahan rasa sakit hari demi hari.
Aku mengepalkan tangan, menatap jalanan di depan yang masih panjang.
"Besok... gue akan datang lagi."