Gedung PT Sinar Logistik berdiri kokoh di hadapanku, tampak jauh lebih besar daripada yang kubayangkan semalam. Cat dindingnya yang abu-abu sudah mulai mengelupas di sana-sini, namun denyut aktivitas di dalamnya terasa begitu liar. Truk-truk kontainer menderu keluar-masuk, dan orang-orang hilir mudik dengan langkah yang diburu waktu.
Aku terpaku sejenak di depan gerbang yang tinggi. Menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. Tempat ini jauh dari kata mewah. Tapi bagiku, ini adalah satu-satunya jembatan menuju hidup yang lebih manusiawi.
Aku melangkah masuk dengan langkah yang dipaksakan tegak. Seorang satpam bertubuh tegap langsung menghadang jalanku.
"Mau ke mana?" tanyanya ketus.
"Interview, Pak. Jadwal jam sepuluh pagi ini," jawabku berusaha tenang.
"Nama?"
"Reza."
Dia melihat daftar di papan klipnya dengan malas, lalu mengangguk singkat. "Masuk. Lurus saja, ruang HR ada di sebelah kanan."
"Terima kasih, Pak."
Aku melanjutkan langkahku.
Ruang HR tidak terlalu luas, pengap oleh aroma kopi instan dan sirkulasi udara yang buruk. Sudah ada lima orang kandidat lain di sana. Semua duduk mematung dengan tatapan lurus ke depan.
Seketika aku menyadari satu hal yang mencolok—mereka terlihat jauh lebih siap dariku. Kemeja mereka disetrika licin, sepatu mereka mengkilap dipoles semir. Sementara aku? Hanya mengenakan kaos polos yang agak pudar dan sepatu lama yang sudah mulai menipis solnya.
Aku mengambil tempat di kursi kosong paling ujung. Duduk diam menunggu giliranku. Salah satu kandidat di sebelahku melirik, matanya menyapu penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghakimi.
Dia menyeringai sinis.
"Serius lu mau kerja di sini dengan penampilan begitu?" bisiknya, cukup keras untuk membuat yang lain menoleh dan ikut tersenyum mengejek.
Aku cuma diam. Tatapanku lurus ke depan.
"Ini bukan kerja kantoran yang santai, bro. Ini angkat barang. Kuli. Yakin sanggup?" lanjutnya lagi, memancing tawa kecil dari temannya.
Aku tetap membisu, namun jemariku mengepal kuat di atas paha. Ini bukan pertama kalinya aku diremehkan. Dan aku tahu persis, ini bukan yang terakhir. Tapi mulai hari ini, hinaan mereka hanyalah bensin bagi api di dadaku.
Pintu ruangan terbuka. Seorang wanita dengan kacamata berbingkai tegas keluar.
"Reza?" panggilnya.
Aku langsung berdiri. "Iya, Bu."
"Masuk."
Aku melangkah ke dalam ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan berkas. Wanita itu duduk di belakang meja, usianya mungkin sekitar tiga puluhan. Tatapannya tajam, seolah sedang membedah isi kepalaku.
"Mana CV kamu?" tanyanya tanpa basa-basi.
Aku menyerahkan map cokelat berisi berkas seadanya. Dia membacanya dengan kecepatan yang luar biasa, sesekali alisnya berkerut tanda tidak puas.
"Kamu belum pernah punya pengalaman kerja tetap sebelumnya?"
"Belum, Bu."
"Kenapa? Umurmu sudah dua puluh empat tahun."
Aku terdiam sejenak. Aku tidak mungkin menceritakan drama pengusiran semalam atau bagaimana aku dikurung oleh keluarga sendiri selama bertahun-tahun. "Saya fokus membantu usaha keluarga, Bu. Jadi belum sempat mencari pekerjaan formal."
Dia mengangguk pelan, meski raut wajahnya menunjukkan dia tidak terlalu peduli dengan alasan itu.
"Kerja di sini sangat berat," katanya, nadanya datar namun menekan. "Angkat barang berat, shift panjang, dan kamu harus siap lembur kapan saja. Kamu kuat?"
"Kuat, Bu." Jawabanku meluncur cepat. Tanpa ragu sedikit pun.
Dia menatapku selama beberapa detik, mencoba mencari celah kebohongan di mataku. "Kalau saya minta kamu mulai detik ini juga, kamu siap?"
Jantungku berdegup kencang, seolah-olah baru saja mendapat suntikan adrenalin. "Siap, Bu."
Dia bersandar di kursinya, menghela napas pendek. "Lulusan SMA, tanpa pengalaman… jujur saja, kamu bukan kandidat terbaik yang saya punya hari ini."
Kalimat itu tajam, menusuk tepat di harga diriku. Tapi aku hanya diam, menahannya seperti aku menahan makian Anton selama ini.
"Tapi kami sedang kekurangan orang di lapangan," lanjutnya sambil mulai menulis di atas selembar memo. "Dan kamu kelihatan… sangat butuh pekerjaan ini. Benar?"
Aku mengangguk tegas. Tidak ada gunanya menyangkal kenyataan.
"Baik. Satu minggu masa percobaan. Kalau kinerjamu buruk atau kamu mengeluh lelah, silakan keluar sendiri tanpa perlu saya pecat."
Aku langsung menyambar ucapannya, "Saya tidak akan keluar."
Wanita itu mengangkat alis, sedikit terkejut dengan nada suaraku yang penuh intimidasi pada diri sendiri. Dia menyodorkan kertas memo itu. "Ke bagian gudang sekarang. Temui Pak Hendra."
"Terima kasih banyak, Bu."
Begitu aku menginjakkan kaki di area gudang, realita yang sesungguhnya menghantamku telak. Suasananya panas membara, bising oleh suara mesin forklift, dan debu berterbangan di bawah sorot lampu neon yang remang.
Karung-karung raksasa disusun setinggi langit-langit. Orang-orang bergerak seperti robot, cepat dan tanpa suara.
Seorang pria bertubuh besar dengan kulit legam mendekatiku.
"Anak baru?"
"Iya, Pak. Nama saya Reza."
"Panggil saja Pak Hendra," katanya singkat, matanya tidak sekalipun menatapku. "Jangan banyak tanya. Angkat itu, pindahkan ke palet nomor empat."
Dia menunjuk tumpukan karung goni di pojok ruangan. Aku langsung mendekat. Saat tanganku memegang karung itu, beratnya benar-benar di luar dugaan. Otot lenganku menegang hebat.
Aku menahan napas, memikul karung itu di pundak, lalu membawanya perlahan. Satu karung. Dua karung. Tiga karung.
Punggungku mulai terasa panas, nyeri yang tajam mulai merayap di sepanjang tulang belakangku. Tanganku gemetar, namun aku menolak untuk melepaskannya. Di sini, tidak ada yang peduli siapa kamu atau apa masalahmu. Di sini, kalau kamu lambat, kamu dianggap sampah yang menghambat jalannya roda perusahaan.
Jam demi jam berlalu. Kaosku sudah basah kuyup oleh keringat hingga menempel erat di kulit. Napasku mulai pendek-pendek.
"Baru mulai satu jam sudah ngos-ngosan begitu? Yakin kuat sampai sore?" Seorang pekerja lama lewat sambil membawa beban yang lebih berat, tersenyum meremehkan padaku.
Aku tidak membalas. Aku hanya memfokuskan seluruh sisa kekuatanku pada karung berikutnya.
Saat jam istirahat tiba, aku terduduk lesu di sudut gudang yang agak sepi. Aku membuka nasi bungkus murah yang kubeli tadi pagi. Tanganku gemetar hebat saat menyuap nasi, saking lelahnya otot-ototku.
Aku menatap tanganku yang kini kasar, kotor oleh debu gudang, dan memerah karena beban. Kilasan wajah Ibu kembali muncul di benakku—wajah yang memandangku seolah aku adalah kotoran di sepatunya.
"Sampah."
Aku menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Aku mengepalkan tangan yang kotor itu kuat-kuat.
"Kalau memang ini cara jadi sampah..." gumamku lirih, "Gue bakal jadi sampah paling mahal yang pernah ada."
Aku berdiri kembali, mengabaikan rasa nyeri yang menjerit di sekujur tubuh. Aku kembali ke tumpukan barang.
Tanpa keluhan. Tanpa banyak bicara. Karena aku tahu, ini hanyalah hari pertama dari sebuah perang panjang.