Ashana tak bisa menolak keinginan Rakyan untuk mengantarnya pulang. Ia hanya ingin menghindari perdebatan yang menyedot perhatian banyak orang di rumah sakit. Rakyan memang keras kepala dalam semua hal. Suasana di dalam mobil terasa begitu dingin dan hening. Tak satu pun yang bersuara. Sampai akhirnya Ashana pun mengaduh karena merasa kesakitan akibat tendangan kedua bayi yang ada di dalam perutnya. “Aduh.” Ashana meringis seraya mengusapi perutnya. Rakyan yang panik pun segera menepikan mobilnya. “Sakit, Nak.” “Kenapa, Shan?” tanya Rakyan khawatir. Ashana hanya menanggapinya dengan gelengan yang sama sekali tak menjawab pertanyaannya. “Sha, aku mohon jangan kayak begini. Aku khawatir sama kamu.” “Lanjut aja nyetirnya,” ucap Ashana. Rakyan terlihat menghela napasnya. Wanita itu terkeju

