Andara: Thanks ya, Yo.

1971 Kata
Berada dikeramaian tidak menjadikan hati gue langsung terhibur dan menjadi baik-baik saja, gue kini masih saja merasa hampa dan sepi meskipun gue juga sudah dtemani Romeo. Memang, sekali dua kali gue mulai membaik namun di satu sisi gue juga merasa hampa. Kini saja gue menatap kosong lapangan di gedung olahraga. Di samping gue Romeo sedang menguap berkali-kali, mungkin Romeo bosen karena gue cuekin. Gue  tidak menangis saat ini, namun rasanya lebih hampa dari pada menangis. Jika menangis gue bisa lega dan rasanya selesai ketika sudah selesai menangis, namun kini gue bingung untuk menangis dan tidak. Gue ngerasa kayak gue ngapain aja seminggu ini, bisa-bisanya gue ngerasa sebegitu capek dan hampa. Sebenernya apa yang gue tuju? Penampilan peleton dari sekolah gue sudah berakhir, gue menatap nanar Bagas yang berdiri di sana, berdiri di baris paling depan, memimpin penghormatan terakhir dari mereka setelah tampil. Jika dulu gue enggak jatuh, mungkin suara lantang gue akan memenuni GOR. Tapi, semuanya juga sudah terlanjur terjadi dan gue enggak mungkin menentang takdir, kalian tahu sendiri kan? Memberontak pada takdir itu benar-benar melelahkan. "Beli es teh yuk," Romeo berdiri dari duduknya. Kini seakan ia kembali segar setelah ngantuk akut. Gue berdiri, "Yuk." mungkin dengan keluar mencari udara gue bisa merasa lebih baik. Toh gue juga bersama orang terbaik bagi gue saat ini. Gue berjalan bersama Romeo menuju luar gedung. Menuju tempat jajanan yang ramai karena memang sedang ada acara, jadi banyak pedagang yang mampir untuk jualan di sini. Gue dan Romeo menuju kedai yanh menjual es. "Lo udah makan?" tanya gue ketika Romeo selesai memesan minum. Romeo menggeleng, "Belum, gue aja baru bangun tidur tadi." "Iya mentang-mentang libur tidurnya puas banget." "Puas apanya, gue baru merem subuh." Romeo menguap. Gue mendadak berubah ekspresi, gue jadi enggak enak ganggu Romeo tidur. "Ya, maaf." gue memelankan suara gue. Kenapa sih lo malah merepotkan orang, iya emang Romeo orang yang tepat lo ajak ke sini, tapi kan enggak ganggu dia juga. "Gapapa, kalem aja. Lagian gue juga males harus tidur dempet-dempetan sama kunyuk kupret." Romeo duduk di bangku samping gue. Kini dia menutup kepalanya dengan hoodie yang gue yakin itu milik Haikal, soalnya kayak enggak asing. "Maaf ya, ganggu lo pagi-pagi." gue tetep mengatakan ini lagi. Lalu Romeo melirik gue. "Justru lo menyelamatkan gue." ucap Romeo meyakinkan, namun kemudian dia menguap lagi. Pasti ngantuk berat, gue aja yang tidur jam 2 subuh ngantuk banget paginya apalagi dia yang tidur aja cuma sebentar doang. "Dua es teh dan dua mie ayam atas nama Romeo tampan!" teriak penjual. Gue yang mendengar langsung kaget. Bisa-bisanya Romeo memakai nama embel tampan di pesanannya. Dengan pedenya, Romeo berdiri mengambil mie ayam, menenteng dengan cengiran meski dilihat oleh banyak pasang mata pembeli. "Mie ayam datang," Romeo menaruh mangkuk mie ayam di depan gue. Ayam bumbu nampak terlihat menggunung karena isiannya yang banyak. Gue mendadak lapar, di saat sedih makan gurih manis adalah tepat. Romeo kini juga menyodorkan kecap, saos tomat dan sambal di depan gue. "Makan yang banyak ya mak macan." sepertinya mode usil Romeo mulai aktif, nyatanya sejak tadi dia suka banget nyari gara-gara. "Lo juga makan yang banyak ya. Kasihan." ucap gue menimpalinya, sembari mengeluarkan saus tomat di mie ayamnya. "Kenapa?" "Soalnya kan lo gila. Hahahaha." saus tomat di mangkuknya kini menggunung tinggi, warna oranyenya merubah kuanya juga oranye. "Eh ni anak!" Romeo membalas dendam dengan mengeluarkan kecap di mie ayam gue. Banyak banget, sampe pekat. "Makan tuh semur ayam!" tambahnya. Bukannya marah gue malah ketawa. "Makasih ya Romeo, tahu aja gue suka banget pake kecap banyak." seperti memasukan bola pada gawangnya, balas dendamnya malah membantu gue. "Tambahin sambel nih!" kini ia menyendokkan sambal segunung. Gue segera melindungi mie ayam tersayang gue. "ROMEOOOO!!!!" gue akhirnya menyerah. Sebel juga kan kalo endingnya mie ayam gue pedes. "Ya udah mari kita makan, berantem sama lo bikin gue makin laper." Romeo mengusaikan peperangan. "Oke deal, jangan ada yang ganggu lagi." gue menyetujuinya. Kini mulai mengunyah mie ayam favorit gue, pakai kecap banyak. Kini kami sibuk dengan makan masing-masing, gue udah enggak mau ganggu Romeo karena nanti endingnya gue juga yang kena, dan sepertinya Romeo juga menepati janjinya untuk enggak ganggu gue. "Eh Kak Romeooo!" tiba-tiba ada seseorang yang mendekat dan itu suara perempuan. Gue langsung menoleh, mendapati seorang cewek yang menggunakan seragam peleton lomba. "Kok enggak bilang kalo ke sini." itu Andini, salah satu adek kelas gue di paskib, gue sempat lupa soal dia karena sedih. "Eh ada Kak Andara juga," sapanya pada gue. Gue membalasnya dengan senyum, lalu melanjutkan makan mie ayam. Gue enggak terlalu dekat sama Andini soalnya. "Hehe, tadi datangnya telat, mau chat takut ganggu." jawab Romeo ramah. Andini kini duduk di bangku kosong di samping Romeo. "Tapi Kak Romeo lihat kan aku tampil?" "Lihat dong, bagus banget." Romeo memberikan jempolnya ke Andini. Obrolan mereka terlalu asik sampe gue bingung gimana ikut serta. Gue yang sejak tadi tidak dianggap tetap melanjutkan makan mie ayam. "Kak Andara di sini ya, aku chat Kak Bagas ya, biar ke sini juga." celetuk Andini. Gue yang mendengar kata Bagas langsung menangkis ucapan Andini. "Jangan deh." "Lho kenapa? Kak Bagas nyariin Kak Andara tahu." Andini sepertinya tidak mau mendengarkan gue. Berlaku seenak hatinya, padahal gue lagi males banget ketemu sama anak paskib, apalagi sama Bagas. Dalam hitungan menit Bagas sudah datang, bersama dengan anak-anak paskib lainnya. Ini Andini chat Bagas doang apa chat satu peleton sih, kenapa ke sini semua, mana ada Pak Bakri lagi. Gue lagi enggak pengen baper-baperan, semoga enggak ada tangis menangis deh, tapi gue lihat mereka datang aja gue udah agak sesak. Padahal baru aja gue seneng bisa berantem sama Romeo. "Hallo, Andaraaa! Kok enggak bilang sih kalau ke sini." Kak Ela berteriak ke arah gue, memeluk gue dengan erat. “Hehe, kalian pasti sibuk, jadi ya udah langsung datang aja.” Jawab gue. Sebenarnya gue juga enggak pengen ngabarin kalian, tapi keburu ketahuan jadi gini deh. Anak-anak paskib langsung duduk di sekitar meja gue dan Romeo, sepertinya mereka akan berada di sini selama istirahat deh. Terlihat Pak Bakri menghampiri penjual. “Kalian pesen apa aja?” Pak Bakri menawarkan ke anak-anak paskib. Anak-anak paskib langsung heboh ketika akan makan mie ayam. Nahen langsung berdiri memesan es teh. “Kaki lo udah baik-baik aja kan And?” kini Kak Reno mendekat, Kak Reno emang tahu gimana cara bertanya dengan baik. Gue merasa enggak sakit hati, tapi tetap agak sesak sih di d**a kalau mengingat momentnya. “Baik-baik aja kok Kak, udah bisa jalan.” Kini gue sudah mulai bisa mengatur hati gue, gue udah bisa ngobrol dengan baik dengan mereka, gue juga sudah merelakan semua. “Udah bisa jalan sekarang?” Kak Reno mengulangi kata-kataku. Gue mengangguk mengiyakan. “Tapi kayaknya jangan sekarang deh And, besok aja jalannya.” Tambah Kak Reno yang membuat gue semakin bingung. “Lah? Kenapa harus besok sih Kak?” gue semakin tidak mengerti dibuatnya. “Soalnya kalo sekarang ada Kak Ela, kalau besok kan bisa nih jalan bareng.” BOOM, ternyata Kak Reno melawak, gue ketawa keras dan Kak Reno mendapat jambakan keras dari Kak Ela. “Bisa-bisanya ya modus ke Andara! Kan dia udah kamu anggep adek sendiri!” Kak Ela bersuara, meski hanya bercanda namun sikap cemburunya membuat gue ketawa bukan main. “AMPUN IBU NEGARA!” Kak Reno berteriak ampun. Kak Ela melepaskan, gue sebenarnya juga enggak baper dibercandain Kak Reno, yak an memang udah gue anggap kakak sendiri. Ketika gue selesai bercanda, gue menoleh ke arah Romeo, takutnya dia bakal merasa dikucilkan, namun gue salah gue malah melihat Romeo sibuk ngobrol sama Andini. Setelah lama Romeo nemenin gue, gue sampai lupa kalau Romeo juga deket sama Andini. •••             Gue berhasil, menguatkan diri sendiri dan enggak nangis. Nyatanya, gue sampai selesai tetap bisa tersenyum, meski ya di hati tetap ada perasaan aneh, perasaan yang enggak bisa gue jelaskan pakai kata-kata. Acara selesai, sekolah gue berhasil jadi juara pertama dalam perlombaan ini, latihan lebih dari satu bulan benar-benar membuahkan hasil. Namun ketika gue melihat Bagas memegang trophy itu gue merasa agak sesak lagi. Kalau enggak ada Romeo yang selalu ngajak gue bercanda, mungkin gue bakal dramatis. Memang ya, terkadang ketika kita ingin mencoba baik-baik saja adalah tidak menanyakan hal yang permasalahannya, bukannya baik-baik aja yang ada malah makin nangis dan makin sedih. Memang menangis itu perlu tapi yang berlebihan itu juga enggak baik kan.             Kini gue membonceng Romeo, menuju pulang ke rumah. Sudah cukup menyenangkan hari ini.             "Mau mampir gak?" ujar Romeo ketika mengendarai. kami kini sudah berada di jalan raya, sudah hampir dekat dengan rumah gue. "Kemana?" tanya gue, kepala gue melongok ke depan. Sepertinya Romeo juga sudah terbiasa dengan aktivitas yang gue lakukan, nyatanya dia keliatan santai banget. "Ke tempat biasa, tempat yang mengisi ketenangan." Ternyata tempat ketenangan bagi Romeo adalah gazebo di taman kota. Gazebo yang sama di mana gue dan Romeo kunjungi tiap pulang sekolah minggu ini. Gue duduk di tepi gazebo, sedangkan Romeo sudah masuk ke dalam, menyenderkan badannya di pilar. "Kenapa ngajak ke sini?" tanya gue pada Romeo. Ya memang sih di sini enak, tapi kenapa Romeo ngajak mampir di saat tubuhnya butuh istirahat. "Gapapa sih, gue ngerasa lo lagi males pulang ke rumah, sendirian lagi terus kepikiran lagi. Ya udah gue ajak ke taman kota, lumayan liat cewek-cewek lari." jawabannya membuat gue langsung mengernyit di akhir kalimat, tapi di satu sisi gue juga kaget dengan pemikirannya yang terlalu jatuh namun tepat. Romeo kayak psikolog tahu enggak, suka banget menebak kondisi seseorang dengan tepat. "Ya udah gapapa sih," gue turun dari gazebo, mengeluarkan ponsel dan memotret bunga yang ada di bawah gazebo. "Tapi btw, makasih ya atas semunya." Gue sengaja menjauh darinya, soalnya agak canggu    ng sih kalo ngomong kalimat ini harus pakai tatap-tatapan mata. Nanti gue baper. "Sama-sama, tapi cuma bilang makasih doang? Enggak ada apresiasi apa gitu." sepertinya Romeo mulai menjadi-jadi deh jailnya. Gue menoleh cepat ke arahnya, "Pamrih nih?" "Bukannya pamrih, tapi gue pengen makan siomai." Romeo nyengir, ia menunjuk abang-abang siomai di depan parkiran taman. "Kalau mau bilang makasih, sekalian beliin ya." meski terlihat tidak tahu diri, tapi bagi gue Romeo emang udah baik sama gue. Ya udah, akhirnya gue memutuskan untuk pergi. "Ya udah gue mau ke sana." gue berdiri, mengibas-ngibas rok gue yang kotor kena rumput. "And, saosnya banyakin! Jangan pake kol ya!!" teriak Romeo. Gue mendengus, udah nyuruh masih riques lagi. Untung baik. Gue berjalan menuju penjual siomai. Karena cuaca hari ini cerah, matahari sore ini benar-benar cantik, pukul 4 sore matahari masih menyoroti. Rasanya benar-benar hangat jika suasana sore seperti ini terus menerus. "Mang beli 10 ribu ya, bagi dua. Yang satu saosnya banyakin gak pakai kol, yang satu kecapnya banyakin tapi lengkap." ketika gue selesai menyampaikan pesanan. Penjual itu langsung meladeni gue. Gue menoleh ke arah gazebo, namun gue tidak melihat Romeo. Gue bergeming, palingan juga rebahan. Tidak butuh lama, gue sudah selesai membeli siomai dan es teh. Gue kembali ke gazebo, kaki gue udah baik-baik aja sekarang. Meski tiga hari kemaren sempat kambuh, tapi sekarang gue udah benar-benar sembuh, dan gue juga berharap hati gue juga sembuh. “Yo, ini siomainya,” gue sampai di gazebo. Namun gue hanya melihat Romeo tertidur, dia bahkan sama sekali tidak bangun ketika gue sentuh badannya. Akhirnya dari pada mengganggu Romeo gue duduk di sampingnya, menaruh siomai dan es teh. Gue menatap Romeo dengan seksama, bahkan gue bisa mendengar dengkuran halus darinya. Bisa-bisanya dia bisa tertidur dalam waktu kurang lima menit, padahal Cuma gue tinggal bentar buat beli siomai lho. “Pasti lo capek banget ya, maaf ya udah ngerepotin lo.” Gue bergumam, menatap Romeo yang masih terpejam. Orang yang ada buat gue selama ini, gue enggak menyangka ada orang sebaik Romeo, orang sepositif dan sehebat dia. Tanpa Romeo mungkin gue enggak akan bisa duduk dan tersenyum seperti ini. “Thanks ya, atas semuanya.” Ucap gue pelan, sembari tersenyum karena matahari sore ini juga mendukung suasana hangat dan bahagia. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN