Romeo: Terbujuk Rayu

1591 Kata
"Hallo." ucap gue lirih memulai percakapan. Sedangkan dari seberang, bukannya gue mendengar suara jawaban, malah mendengar suara kresek-kresek. Apa Andara kepencet ya nelpon gue? Percuma dong gue percaya diri. Gue ingin menutup telepon namun diseberang sepertinya sudah ada tanda kehidupan. "Hallo, Yo." sepertinya Andara tahu kalau dia sedang menelpon gue. "Ada apa And?" tanya gue. Karena memang gue kepo Andara kenapa Andara nelfon gue. "Gue diteror sama Maura," jawab Andara. "Gara-gara urusan pangeran?" Maura enggak ada habis-habisnya membuat gue agar mau jadi pangeran. "Kenapa sih lo gamau jadi pangeran?" Kini Andara bertanya. Gue diam sejenak, sebenarnya apa yang membuat gue tidak mau ikut lomba tersebut? Tapi disatu sisi gue juga ogah, gue enggak suka dipandangi banyak orang, gue kaku banget. "Lo percaya diri Yo, lo juga pintar bahasa Inggris, apa yang kurang dari lo?" Ucapan Andara ada benarnya, itu cuma tampil di depan teman satu sekolah. Kenapa gue takut? "Mau ya..." kini suara Andara lembut, bahkan lebih lembut dari apapun. Gue berpikir kembali, Andara punya harapan besar untuk ini. Toh semuanya juga dilakukan bersama-sama, gue pasti dibantu banyak orang. Jadi apa yang gue khawatirkan. "Lo beneran enggak bisa jadi Putri And?" tanya gue akhirnya. Sebenarnya terlalu canggung sih gue ngomong ini. Takutnya Andara merasa gue ngarep banget sama dia. "Lo beneran mau sama gue?" ucap Andara dari seberang. Bahkan kini gue bisa mendengar tawa tipisnya. Gue juga bisa membayangkan seperti apa senyumnya sekarang. Mendadak gue merasa dekat kembali sama Andara, setelah berminggu-minggu tidak bersinggungan. Akhirnya malam ini gue sama dia teleponan, macam orang pacaran. Gue diam-diam berterima kasih sama Maura yang menyebabkan masalah ini. Mungkin tanpa adanya Maura, Andara enggak akan menelpon gue. "Gue sebenarnya oke-oke aja sih Yo, tapi masalahnya kan gue ketua. Gue enggak enak sama temen-temen gue di panitia." jawab Andara penuh penyesalan. Apa Andara juga mau jadi pasangan gue? "Terus gue sama siapa dong?" "Sama Maura aja." celetuk Andara. Gue mendengus. "Enggak mau ah kalau sama Maura, nanti ribet lagi. Gak mau gue." Andara tertawa dengan keras, bahkan suaranya bisa membuat gue menjauhkan telinga dari hp. "Beneran enggak mau sama Maura? Dia cantik loh." kini Andara sepertinya mulai senang menggoda. "Enggak mau. Bodo amat cantik." jawab gue jujur. Yang bikin gue menghindari dia tuh karena kelakuannya yang menyebalkan. Gue kayak dikejar-kejar rentenir tau nggak kalau berhubungan sama Maura. ••• "Aduhhhh tampan kali lah uda ini." ini sudah kali berapa Haikal meledek gue. Gue jengah banget. Bahkan gue menyesali apa yang gue putuskan kemarin bersama Andara dalam telepon kemarin. Kini gue benar-benar berdamping bersama Maura dalam ajang Pangeran dan Putri dengan tema pilihan baju adat Minang. Makanya dari tadi tuh Haikal nyebut gue Uda mulu. Maura yang sedang didandani Mamanya Viona nampak senang macam pengantin baru, sedangkan gue, sejak tadi duduk di bawah kipas karena baju adat yang gue kenakan rasanya panas. Pengen gue copot tapi Maura belum selesai. "Gue poto dulu, mau upload ke i********:. Alhamdulillah-temenku-akhirnya-soldout." Setelah memotret Rohman benar-benar mengunggahnya. Teman-teman macam apa kalian. Gue masih merengut, tidak ada aura bahagia sama sekali dalam wajah gue. Baju kurung warna merah ini seperti mengikat tubuh gue, meskipun longgar namun gue berasa tidak bisa bergerak bebas. Gue melihat Fauzan yang menatap songket gue dengan lekat. Tangannya memilin tiap tenunan di kain tersebut, wajahnya seperti orang desa datang ke kota. Heran bukan main. Viona dan Bimo datang bersamaan, tertawa renyah menatap calon pengantin baru ini. Sebenarnya gue juga males menyebut diri gue dan Maura sebagai pengantin baru, namun nyatanya memang nampak semacam itu. Kelas ini layak kamar pengantin yang digunakan merias, dan temen-temen gue yang berdatangan bak teman pengantin. Gue gondok banget. "Temenmu ini mukanya enak, Mama jadi seneng dandaninnya." ujar Mamanya Viona pada anaknya yang baru masuk. Dikata mukanya enak, Maura senang bukan kepalang. Tak bosan-bosannya dia mengintip wajahnya di kaca kecil. Maura selesai dandan, ia berdiri bak putri raja. Cantik sih, tapi gue udah sebel dan gak mood. "Yok sini Mas Romeo," Mamanya Viona sepertinya sudah siap merias gue. Gue datang dengan cemberut, "Tant, ini nanti Romeo enggak pakai maskara kan?" tanya gue takut. Soalnya tahun kemarin Bimo dikasih maskara. Gimana enggak horor coba kalau gue ikut ini. "Kalau kamu minta, tante kasih." Mendengar itu gue langsung kaget dan reflek menepi. Mamanya Viona horor banget sih. Setelah tahu gue ketakutan, mana ketawa lagi. "Udah sini duduk aja." Gue duduk, kini Mamanya Viona memberikan wajah gue primer. Rasanya lengket banget di wajah. Kemudian Mamanya Viona mengolesi fondation, warna wajah gue seketika berubah, agak tampan tapi juga agak pucet. Gue diam saja ketika didandani, kalau gerak-gerak terus yang ada dandanan gue bisa berantakan. Cukup mood gue aja yang berantakan, muka gue jangan sampai ikut serta. Andara datang dari arah pintu, tersenyum lebar melihat gue yang hanya bisa memaku. "Ganteng banget nih Uda," goda Andara, gue membatin. Iya gue emang ganteng, tapi nada bicara Andara enggak jauh beda sama Haikal, sama-sama mengejek gue. Kan gue jadi makin keki. Iya, gue memang kembali dekat sama Andara, namun gue harus membayar mahal untuk itu. Namun enggak papa lah, jadi pangeran kan enggak selamanya, gue cuma maju beberapa menit--kalau gue kalah-- kemudian udah. Tapi untuk ke depannya kan obrolan gue dan Andara tetap baik. "Masih lama tant?" tanya Andara pada Mamanya Viona. "Bentar doang kok, abis ngasih liptin kelar." jawab Mamanya Viona, tangannya masih sibuk merias wajah gue. Wajah gue terasa agak kaku setelah fondation terpasang. Namun gue enggak boleh ngeluh. Kini Mamanya Viona mulai memoles bibir gue dengan kuas kecil berwarna merah, mungkin itu lipstik yang dikatakan olehnya tadi. Ketika kuas itu menyentuh bibir gue, rasanya sedikit gatal, seperti asing. "Udahhh, nih lihat." Mamanya Viona menyerahkan kaca pada gue. Gue menatap wajah gue dengan lekat, tidak terlalu buruk. Gue malah mirip artis korea, warna fondation juga tidak terlihat begitu kontras dengan kulit gue, ya memang karena kulit gue enggak terlalu gelap jadi cocok. Ini ternyata alasan Maura jadiin gue model. "Ya udah yuk foto duu." kini Andara mengeluarkan ponsel, "Lumayan buat kenang-kenangan." Dikomando untuk foto, Maura langsung mendekati gue, dengan ribet memegang songket yang ia selempangkan, ia juga menata penutup kepalanya agar lebih rapi. "Zan, mana kain gue" ucap gue pada Fauzan, habisnya dari tadi dia tuh sibuk banget liatin tuh kain. Fauzan segera berlari ke arah gue, menyerahkan selempang. Lalu gue dan Maura siap berfoto. Maura menggandeng lengan gue, gue sebenarnya risih tapi sekarang Maura adalah pasangan gue, enggak mungkin gue menolak gamitan tangannya. Cekrek! Suara dari hp Andara terdengar nyaring. Gue memberikan senyum terbaik gue. "Sekarang sendiri-sendiri ya. Yuk Maura foto," ujar Andara ketika masih sibuk melihat hasil foto. Maura langsung berdiri, tegak dan cantik dengan baju adat yang ia pakai. Selesai foto, Andara langsung menyuruh gue untuk bergaya "Ayo Romeo! Pose!" komando Andara. Gue bergaya, gaya tampan dan gaya jamet. Andara tertawa, Andara juga mengajak gue selfie. Untuk pertama kalinya gue dan Andara berada dalam satu frame. Senyum gue lebar banget, Andara pun begitu. Mendadak mood gue yang berantakan agak terobati. ••• Sekarang perlombaan sudah dimulai, gue dan Maura berdiri di tepi panggung, di samping Maura yang pasti. Kelas kami mendapatkan nomor 14 dalam urutan tampil. Gue sekilas memandangi teman-teman gue berada. Berdiri bergerombol di bawah pohon mangga. Andara memberikan jempol ke arah gue. Entah kenapa hanya dengan itu semangat gue langsung bertambah. "Lo masih inget pidatonya kan Yo?" Maura menyenggol gue. Gue mendengus, macam diremehkan. "Inget ya, nilai bahasa Inggris gue lebih tinggi dari pada lo." "Tapi hafalan lo jelek." bahas Maura telak. Mood gue rusak lagi gara-gara nih bocah. Ayoo, enggak usah masuk final aja deh. Mending langsung keeliminasi aja. "Bentar lagi kita maju, udah enggak usah marah-marah." senggol Maura ketika melihat wajah gue ditekuk. Padahal kan yang bikim gue marah dia, bisa-bisanya dia ngomong gitu. "Selanjutnya! Nomor urut 14, Pangeran Romeo dan Putri Maura, dari Minangkabau!" heboh sang pembawa acara. Lalu Maura menggandeng tangan gue. Maju menuju ke arah panggung. Gue melangkah dengan sebiasa mungkin, namun dengan amat pelan dan elegan—katanya. Gue sampai di depan red karpet. Maura maju dan bergaya dengan energik namun elegan. "Hallo, saya Maura Citra Ayudia, dari kelas XI IPA 3." Kemudian Maura melenggang ke belakang. Wajahnya menatap gue, matanya seperti memberi kode untuk gue maju. Gue berjalan menuju depan juri, melenggang dengan gagah sesuai yang dicontohkan oleh Bimo kemarin. Gue juga menampakan senyum tipis yang lebih cenderung mirip canggung. "Hallo. saya Romeo Cakra Adiwara, Pangeran dari XI IPA 3." Ucap gue dengan tegas, tak lupa suara serak basah gue yang kalo tegas banget malah macam orang batuk parah. Tapi meskipun begitu tidak ada orang yang tertawa, mungkin mereka sudah hapal dengan suara gue dan lebih ke bodoh amat. Sembari gue berdiri, Maura datang dan tiba-tiba menggandeng tangan gue. Kami berdua hormat dengan menundukkan badan. Kemudian undur diri. Ketika balik badan, gue langsung menghela napas panjang. Satu babak berakhir, dan semoga ini juga menjadi babak terakhir. Setelah babak satu berakhir, gue duduk di bawah pohon mangga. Bahkan mereka sudah menyiapkan tempat duduk dan kipas untuk gue dan Maura. "Duduk dulu Uda, resepsinya belum dimulai nih." goda Haikal tiada habis. "Kalian tuh cocok banget sih," Elisa nyeletuk. Namun segera gue tatap dengan bola mata gue yang besar. Tapi namanya Elisa, dia enggak bakal takut sama gue. "Eh, lo denger mitos gak?" Rohman iki juga ikut nimbrung. Gue menoleh kepo. "Kalo yang menang di Pangeran Putri tuh biasanya bakal kena cinlok. Kayak jamannya Viona Bimo." tambah Rohman. Gue langsung menggelengkan kepala. "Enggak! Kita enggak bakal menang kok." ucap gue menenangkan diri sendiri. Mata Andara menatap tajam gue, bahkan kini banyak pasang mata juga menatap gue dengan tatapan mematikan. Gue enggak mau pacaran sama Maura. Titiiik. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN