"Jadi, berapa hasil Sigma lima jika ditambah 4 pangkat 2?" Pak Banu mengetuk-ngetuk papan tulis menggunakan spidol hitam. Untuk kelompok tempat duduk depan, mereka sibuk berpikir dan mengerjakan soal di depan. Tapi untuk kelompok belakang, hanya melihat malas dengan Pak Banu yang membosankan.
"Jawabannya berapa?" Tanya Pak Banu pada siswa di depannya. Gue menguap mencoba memahami deretan angka di papan tulis. Sulit untuk dimengerti. Gue menoleh di sebelah, Rohman malah sibuk mengetik ria dengan hpnya. Mentang-mentang punya pacar, chattingan sembarangan. Ke gap dan hp lo di sita mampus dah lo, LDR-an sama Ika.
Gue menghela napas, menatap bangku nomor dua dari depan, bangku itu kosong. Ke mana pemiliknya? Kenapa sampai jam pelajaran hampir habis, dia malah belum nongol juga. Gue memang belum mengobrol sama sekali sih hari ini, tapi hilangnya dia pada jam pelajaran memang langka. Apalagi Andara anak yang rajin, dia enggak bakal meninggalkan pelajaran selama enggak ada rapat paskib sama rapat OSIS. Andara enggak mungkin rapat OSIS, karena Bimo juga pengurus OSIS tapi dia masih stay di kelas. Dan, kalau pun dia ikut rapat paskib atau latihan, kakinya kan sakit?
"Yo, pinjem catatan lo dong, gue belum selesai nih." Suara Fauzan menyadarkan gue. Gue langsung menoleh ke arahnya, menyerahkan buku Matematika ke arahnya.
Fauzan menerima buku gue, beberapa detik kemudian dia menyeletuk lagi.
"Lah, ini kan yang sebelumnya. Setelah ini ada lagi Yo."
"Ya udah lah. Kan gue belum nyatet," gue menarik lagi buku itu. "Kalau pengen lengkap minjem sono sama Viona."
“Eh motor lo kapan mau lo ambil, udah dua hari di rumah gue nih.” Fauzan tiba-tiba menyeletuk. Sialan nih anak, kenapa tiba-tiba bahas motor.
Rohman yang sejak tadi main hp kini mulai menengok. Mampus, mau ngomong apa gue?
“Lo kemaren nginep di rumahnya Fauzan? Kok enggak ajak-ajak sih.” Ucap Rohman kemudian. Gue yang mendengar itu langsung bernapas lega.
“I.. iya, kemaren nginep sebentar karena ujan, sama di rumah gue enggak ada orang.” Jawab gue seadanya. Lalu gue menatap Fauzan untuk setuju dengan gue.
“Iya, nginep semalem doang sih, sabtu pulang.” Jawab Fauzan selanjutnya.
“Kenapa lo ke rumahnya Fauzan, bukan ke rumah gue. Kan lo enggak pernah nginep di rumah gue.” Haikal ikut menyahut.
“Rumah lo jauh banget Kal, yang ada gue keburu basah,” gue kini sudah bisa menjawab dengan agak santai. Sudah pintar bohong ya sekarang.
Haikal kemudian mengangguk, “Oke, lain kali kalian nginep di rumah gue ya.”
Mereka semua memberikan jempol, “oke.”
Kelas kembali sunyi, kami berempat sudah mulai diam. Kemudian gue melihat hp gue, mengecek pesan yang gue kirimkan ke Andara. Sama sekali tidak ada jawaban, ternyata Andara enggak balas chat gue. Ke mana lagi deh tuh mak macan? Kaki sakit masih suka kelayapan aja sih ya.
Jam pelajaran Pak Banu berakhir juga, ditutup dengan doa pulang. Kepenatan hari Senin berakhir juga. Gue membereskan buku yang ada di meja dan segera menuju ruangan studio, biasa ekstra Fotografi. Tapi sesaat gue teringat lagi dengan Andara. Bel pulang sekolah sudah berdentang, dia sama sekali belum balik ke kelas? Mau bolos kok enggak bawa tas sih.
Dari pada gue kepo dan menebak-nebak keberadaan Andara, akhirnya gue memberanikan diri menanyakan Elisa, teman sebangkunya. Gue menuju bangku Andara. Elisa yang sedang memberesi buku-bukunya menoleh ke arah gue.
"Ada apa Yo?" tanyanya.
"Andara ke mana?"
"Lo pengen tahu Andara di mana?"
Gue mengangguk. "Pas banget ada lo nih." Balas Elisa. Apanya yang pas? Salon pass maksud lo?!
Bukannya menjawab dan menjelaskan posisi Andara, kini Elisa malah menyerahkan tas milik Andara ke gue. Maksudnya apa nih? Gue suruh bawa tasnya sedangkan pemiliknya tidak bertanggung jawab.
"Ayo ikut gue." Kemudian, Elisa malah menarik lengan gue, sebenarnya tuh induk macan ke mana dah. Dan bodohnya lagi gue mengikuti ke mana langkah Elisa pergi. Padahal kan gue ada ekstra fotografi, malah kesasar di lorong kelas IPS. Ngapain juga dah si Andara ke IPS.
Dugaan gue salah, lorong kelas IPS terlewati, kini gue menuju UKS. Pikiran gue soal Andara mulai terancang, gue bisa menyimpulkan kenapa Andara tidak masuk kelas selama dua jam pelajaran. Tapi kan, Andara orang yang ambisius, masak hanya masalah kaki keseleo dia harus di UKS.
"Ngapain sih gue harus ngikutin lo?" Tanya gue ketika sampai di pintu UKS. Elisa yang berada di depan gue menoleh. "Katanya tadi nanya Andara di mana. Ya udah, Andara ada di dalam."
"Nyari kan enggak harus ketemu sama orangnya, tau posisi juga udah cukup kan."
"Ya udah deh, Yo. Enggak usah bawel. Lo itu cowok lho." Lho memangnya cowok enggak boleh protes?
Elisa membuka pintu, masuk ke dalam ruangan UKS, dan lo tahu kegoblokan apa lagi yang gue lakukan? Gue ikut masuk ke dalam. Padahal bentar lagi kan ekstra bakal di mulai.
Gue bisa melihat Andara sedang tertidur di atas ranjang UKS. Elisa membangunkan teman sebangkunya. "And, bangun..."
"Andara... bangun, udah jam pulang nih." Sekali lagi Elisa membangunkan, dan usahanya yang ke dua berhasil, Andara membuka matanya. Menggeliat khas orang bangun tidur.
Dia mengerjap-erjapkan matanya, menatap Elisa terus ke gue. Gue pura-pura tidak menatapnya, membuka hp padahal enggak ada yang chat. Yah, begitu mirisnya jomblo.
"Lo udah enakan, kan?" Elisa memastikan. Andara mengatur posisi tubuhnya agar terduduk.
"Udah-udah kok." Seraknya, "Udah jam pulang ya?"
Gue menatap jam tangan gue yang ada di pergelangan tangan kanan, lima menit lagi ekstra akan segera di mulai. Dan gue masih di sini. Kapan selesainya sih? Dudududu...
"El, gue pulang bareng lo ya. Mas Rizal belum pulang kantor kalau jam segini."
"Aduh And, sorry, nih, ya. Bukan maksud gue mengkhianati lo, bukan juga enggak mau bantu lo." Elisa duduk di samping Andara, kemudian melanjutkan ucapannya. "Kan, lo tau sendiri, kalau Senin gue ada bimbel di rumahnya tante gue, kalau telat bisa habis gue."
Mendengar alasan Elisa, Andara berdecak kecewa. "Terus gue pulang sama siapa?"
"Sama Romeo aja." putus Elisa dengan cepat, dan sepihak. Gue yang mendengar keputusan sepihak itu gue langsung membelalakan mata ke arah Elisa.
"El? Maksud lo apaan dah?" Tanya gue meminta penjelasan.
"Udah deh Yo, biasanya kan juga kalian bareng. Lagian apa salahnya sih jika kalian bareng? Andara jomblo, lo juga jomblo, enggak ada pihak yang cemburu kan." Sial. Si Elisa ternyata ngajak gue ke sini biar gue nganterin Andara. Mana pake ngatain gue jomblo lagi.
"Jangan ngaco deh lo," ternyata Andara tak terima dengan keputusan sahabatnya. "Romeo kalau nganterin gue malah dua kali lipat jauhnya loh. Kenapa harus Romeo sih."
"Eleh, biasanya juga dianterin kan? Emangnya gue enggak tau soal kalian berdua?" Elisa menaik-turunkan alisnya, menggoda gue dan Andara.
"Soal apaan?" nyaris bareng, sahutan gue dan Andara.
Sialan! Sialan!
Elisa kini menarik gue, mendekatkan jarak gue dengan Andara. "Udah deh, jangan banyak cincong. Anterin si Andara, laki enggak lu?!"
“Gue juga tahu kok, kalau lo bawa motornya Andara kan,” sebelum meninggalkan ruangan, Elisa berbisik ke gue. Sialan, dia tahu aja.
Kemudian dia meninggalkan gue dan Andara. Belum sampai gue teriak, Elisa sudah menutup pintu UKS, membuat gue enggak bisa mengatakan apa-apa lagi, karena sudah dipastikan dia tidak bisa mendengarnya.
Mendadak suasana menjadi hening. Gue dan Andara dilingkupi canggung, gue enggak tahu harus berbuat apa selanjutnya. Sebelumnya enggak pernah gue jadi canggung gini sama Andara, biasanya selalu saja berantem sama hal sepele, seperti dia yang enggak mau dikalahkan dalam hal apa pun. Dan sekarang, suasananya beda.
"Lo mau pulang sama gue?" tawar gue dengan nada berat dan canggung. Andara mendongak menatap gue.
Gue mengerutkan dahi gue, bukan masalah jawaban Andara. Tapi ada apa dengan matanya, gue bisa melihat matanya yang sembab, apa karena bangun tidur? Enggak! Dua kali gue lihat Andara bangun tidur, tapi enggak seperti sekarang. Apa Andara menangis? Apa dia masih kesakitan dengan kakinya.
"And? Lo mau pulang sekarang atau mau ekstra dulu?" Tawar gue. Karena gue yakin Andara orang yang ambisius, dia berangkat sekolah karena ingin segera latihan paskib.
"Enggak, langsung pulang aja," jawab Andara lesu. Gue semakin khawatir jika ada apa-apa sama Andara? Dia kenapa sih. Kenapa dia tumben tidak bersemangat gini.
"Ya udah, pulang ya..." gue kini mengambil kruk yang tergeletak di bawah ranjang, menyerahkan pada Andara dan Andara menerima dengan pelan. Andara bangkit dari ranjang, dan mulai berdiri dengan tegak.
"Lo kayaknya belum makan, gimana kalau kita makan dulu?" tawar gue, yang kemudian diiyakan Andara. Gue dan dia meninggalkan UKS. Dia berjalan di depan gue, berjalan dengan tertatih, sedangkan gue mengikutinya dengan pelan sembari mencangklong dua tas ransel, milik gue sendiri dan milik Andara.
"Andara? Lo enggak mau latihan? Masih belum sembuh ya?" ketika gue sampai lorong anak IPS, gue bertemu dengan Bagas yang sedang lewat kayaknya dia mau latihan. Tapi respons Andara tidak seperti biasanya, dia diam. Seolah-olah Bagas bukanlah orang yang dia kenal, sorot mata itu berbeda. Biasanya Andara selalu berbinar ketika bertemu Bagas, kini gue hanya melihat sorot hampa. Andara melewatinya begitu saja, meninggalkan tanda tanya di kepala gue. Apa yang terjadi?
●●●
Sepanjang jalan, kami berdua hanya diam. Gue tahu Andara sedang kacau, tapi karena alasan apa? Ketika sampai di parkiran Andara menyerahkan kruknya pada gue, dan memegang tangan gue. Itu tandanya dia minta tolong. Dengan sigap gue segera menolongnya.
"Kita mau makan di mana And?" tanya gue ketika motor hendak distarter.
"Kita ke rumah lo aja, kakak lo belum pulang kan?" Balas Andara singkat.
Gue mengangguk, “Kak Sinta biasanya pulang habis magrib.”
Ingin rasanya bertanya apa yang terjadi pada dirinya. Tapi takut itu mengganggu hatinya. Gue pernah baca, jika seseorang ada masalah jangan Tanya apa masalahnya, entar juga cerita sendiri kalau memang mau cerita. Dan kalaupun dia cerita, jangan sok-sokan ngasih nasehat yang belum tentu diterima akal sehatnya. Karena, ketika seperti ini, orang hanya perlu ditemani dan didengarkan. Kalau gue nanya-nanya terus, yang ada Andara risi dan enggak mau cerita.
Tanpa banyak protes, gue segera ke rumah. 15 menit perjalanan, sampai lah ke rumah gue. Andara turun dengan bantuan gue. Lalu kami masuk rumah sama-sama. Rumah gue selalu sepi, kakak gue sibuk kerja part time sambal ngurus skripsi dan Ayah gue kerja sebagai Project Control di suatu perusahaan pembangunan, dan sering ke luar kota.
"Lo duduk di sini aja dulu. Gue masakin dulu ya." Gue menaruh tas Andara di bangku dekat ia duduk, Andara hanya mengangguk pelan dengan ucapan gue.
Gue segera menuju dapur, membuka kulkas dan mencari bahan apa yang akan gue masak. Sepertinya gue belum pernah cerita ya kalau gue pinter masak, itulah alasannya gue suka dimanfaatkan sama kakak gue. Gue selama ini, hidup dengan masakan gue sendiri, kalau males ya makan masakannya kakak gue. Siang ini gue memutuskan masak sop ayam.
Makanan kesukaan gue yang diajarkan dari orang tercinta juga. Jangan aneh-aneh, orang tercinta gue ya emak gue.
Memotong sayur, dan daging ayam, lalu dicuci dan di masak. Gue mengaduk-aduk sup dengan senyum-senyum, apa yang membuat gue hari ini merasa aneh. Sembari menunggu sopnya matang gue membuka freezer dan mengambil beberapa balok es batu. Gue ingin membuatkan es s**u untuk Andara, semoga dia suka.
Makanan siap, gue segera membawa nampan ke depan, segera menyuruh Andara untuk segera makan. Tapi ketika gue sampai di sana, gue malah menyaksikan Andara menangis.
Gue segera menaruh nampan tersebut di meja, dan menghampiri Andara yang menangis. Apa yang terjadi? Dan apa yang membebani pikirannya. "And, lo baik-baik aja kan?" tanya gue super duper lembut, gue lakukan itu untuk menjaga perasaannya.
Bukannya menjawab, Andara malah semakin menangis, gimana nih cara meredakan tangis perempuan? Gue enggak tahu caranya. Apa yang membuat emak macan menjadi menangis seperti ini. Apakah induk macan kehilangan anaknya? Cukup Yo, ini bukan saatnya bercanda.
Andara menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Gue mencoba duduk lebih dekat. Mengelus-elus pundaknya, barangkali itu bisa menjadi energi. Setelah lima menit berlalu, Andara mengangkat wajahnya yang sudah basah. Kini bahkan ia sudah tidak malu untuk memperlihatkan wajahnya yang kuyu.
"Yo…" Andara mengatur napas di dadanya, mencoba agar ia sanggup berkata dan menceritakan bebannya. Gue tidak memaksakan ia bercerita, tapi jika Andara bercerita, gue siap mendengarkannya dengan baik.
"Gue enggak tahu harus ngapain..." kemudian tangisnya makin pecah. Bahkan pipinya sudah banjir air mata sejak tadi, matanya memerah karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Pundaknya naik turun seiring suaranya yang sesenggukan. Gue mengelus-elus pundaknya lagi, kini bahkan gue menepuk-nepuk ringan.
"Gue, tadi dipanggil sama Pak Bakri, katanya gue udah enggak jadi komandan peleton di perlombaan minggu depan," Andara menarik napas, dia megap-megap. "Dan, katanya lagi, gue bakal jadi cadangan jika selama dua hari ini, gue enggak sembuh Yo. Jahat banget enggak sih mereka."
Ya, gue mengerti betapa terpukulnya seorang ambisius yang tiba-tiba harapannya dipukul pupus. Gue tahu betul bagaimana perjuangan Andara mendapatkan itu, komandan peleton. Gue menatap Andara yang sejak tadi menunduk.
"Gue sekarang enggak tahu harus ngapain, gue udah enggak ada minat buat ikut lomba ini Yo, ikut pun juga percuma kalau gue enggak maju," Andara menatap gue sendu, dapat gue lihat dari matanya, dia benar-benar putus asa. Matanya merah, hidungnya sudah mampat sejak tadi karena menangis terus menerus. Tapi air matanya belum juga habis, ia masih menangis.
Gue sebagai laki-laki amat menyayangkan tangis perempuan, apa pun masalahnya, dan siapa pun orangnya, asal dia perempuan, jiwa laki-laki gue terpanggil untuk melindunginya. Gue tahu betul, Andara kadang memang menyebalkan, tapi hati perempuan itu selembut kapas, ia hanya keras oleh gengsi-gengsinya.
Dengan segenap keberanian, gue memeluknya, untuk pertama kali, dan respons Andara positif, dia menerima pelukan gue dan menangis di d**a gue. Gue menyentuh pucuk kepalanya. Ini murni gue ingin membuat Andara lebih tenang. Gue enggak peduli baju gue penuh dengan ingusnya. Selagi Andara bisa baik-baik saja, semua itu hanya sepele.
"Jika dengan menangis bisa meredakan sakit, menangislah sekeras mungkin sampai rasa sakit itu hilang, tapi jika hanya akan membuat lo terpuruk, hapuslah air mata lo sekarang." ucapan gue malah disambut dengan derai tangisnya. Seragam osis yang gue pakai sekarang sudah basah dengan tangisnya.
“Gue tahu, tiap orang memiliki masalah dan mental yang berbeda, gue tahu ini membuat lo down. Enggak papa kalau sekarang memang lo nangis, gapapa nangis aja.” Andara tetap membisu, dia bahkan menyandarkan tubuhnya dengan sempurna dalam pelukan gue.
“Jika gue diperbolehkan memberi nasehat, gue pengen ngomong sesuatu ke elo,”
"And, gue tahu ini berat untuk lo. Tapi sekarang dengan lo nangis dan lari dari keadaan, akan membuat lo bisa kembali seperti semula? Enggak akan And," ucapan gue tidak direspon Andara, tapi gue yakin dia mendengarkan ini.
"Coba pikirkan ulang, apa jadinya jika lo masih menjadi komandan peleton sedangkan keadaan lo seperti ini? Apa lo masih bisa berlatih dengan baik sama temen-temen lo? Apa lo enggak kasihan sama mereka? Bener kata Pak Bakri," jeda, "kadang sesuatu yang terbaik tak selamanya menyenangkan hati."
Andara mendongak, menatap gue yang menunduk ke bawah, wajah kami sama-sama bertemu. Gue siap mendengar apa pun kalimatnya, meskipun itu amarahnya.
"Gue merasa bersalah Yo, gue bukan pemimpin yang baik. Di saat seperti ini harusnya bisa mengajak mereka untuk menjadi lebih baik, latihan bareng-bareng. sekarang apa yang gue lakukan? Gue enggak bisa apa-apa hanya karena keseleo yang konyol ini. Gue benar-benar bodoh." Ucapan itu dilanjut dengan tangisnya yang semakin kencang. Gue makin memeluk Andara, membiarkan tangisnya bungkam di d**a.
"Yang gue tahu, Anda tuh partner terbaik gue. Emak macan yang ganas banget, tiap hari bawel terus dan selalu aja enggak pernah mau ngalah. Mana selalu menganggap gue sebagai boneka lagi, suka-sukanya nyubit. Dia orangnya pantang menyerah, dia itu selaluuu aja pengen menang. Dia enggak pernah mau tuh minta maaf dan bilang makasih, terus lagi nih ya, sering sekali mendzolimi Romeo yang tampan ini." Ucapan gue mendadak menghentikan tangisnya, dia menatap gue tajam.
"Tadi lo bilang apa?" Andara langsung mengangkat wajahnya, menatap gue dengan mata sembabnya. Sepertinya jiwa induk macannya muncul. Tapi gue enggak takut, gue seneng. Akhirnya Andara terpancing untuk menyahuti ini.
"Romeo yang tampan..." jawab gue polos.
Andara melepas pelukannya, menatap gue seperti biasanya. "Sebelumnya g****k, bukan yang itu."
"Yang mana sih, gue ngomong banyak tadi."
"Yang bilang gue kayak emak macan ganas dan jahat." Jawab Andara sembari mencebik.
"Nah, tuh tau, ngapain nanya." Kemudian gue tertawa. Membuat Andara benar-benar berhenti menangis.
"ROMEO!! Lo nyebelin banget sih," Andara memukul gue, gue tidak merasakan sakit, gue malah tertawa melihat Andara akhirnya kembali senyum. Berarti dia enggak sedih lagi, yah meski harus merelakan tubuh panas karena cubitan ganasnya sih.
"Ya udah, sekarang lebih baik lo makan nih, keburu dingin." Gue meraih mangkok sop. Dan Andara menerima dengan senang, meski matanya sembab, tapi kali ini dia sudah mau tersenyum.
"Makasih ya, Yo." Ucapnya, gue tersenyum lebar.
"Makan yang banyak ya nak, biar cepet gede. Cup, cup jangan nangis lagi. Papa enggak selingkuh kok, suerr." Guyon gue. Memperagakan ucapan seorang ayah kepada anaknya.
Andara mendelik, kemudian tertawa. "Ih, jijik banget gue dengernya. Sumpah! Ahahahahahha."
"Ohya, ini kan hari Senin. Lo sendiri enggak berangkat ekstra fotografi?" tanya Andara, sembari mulutnya mengunyah bakso.
"Gue bolos, hehehe." Jujur gue apa adanya. Lagian tadi mau berangkat juga udah telat, malu dong gue sebagai kakak kelas berangkat telat, mana gue statusnya masih belajar lagi, belum mengajar. Persetan lah jika besok si Arya sama Anjar ngomelin. Enggak sampai bikin gue gila dan frustrasi hanya karena diomeli.
"Baru ikut udah bolos-bolos aja..."
"Biarin ah."
"Enggak baik tau bolos tuh. Dengerin nih dari orang bijak."
"Lah, lo juga bolos sendiri, mau ngatain gue nggak boleh bolos." Gue tak mau kalah dengan ucapannya.
"Ya, gue kan sakit." Alibinya.
"Eleh, ngeles aja lo. Bilang aja lo pengen ke rumah gue kan? Dan pengen gue anterin pulang. Ngaku deh lo."
"Gede rasaaa lo."
“Yo, sini deh.,” bukannya marah, Andara malah menyuruh gue mendekat. Ada apa nih, gue jadi deg-degan.
Ketika badan gue sudah condong, Andara mendekatkan wajahnya di baju gue, lalu menempelkan di hidungnya, membuang ingus-ingus yang membuat hidungnya tersumbat.
Seketika gue langsung teriak, “WOYY GILA NIH MAK MACAN!! GUE LAGI MAKAAAAAAN.”
Andara tertawa keras. Tadi gue enggak jijik karena lagi melankolis, sekarang suasananya udah berubah dan dia yahh, baju gue sempurna kotor. Padahal ini masih Senin dan besok seragam ini masih dipakai.
●●●