Andara: Best Support

1647 Kata
Kamis pagi, harusnya menjadi hal yang paling membahagiakan. Gue kemarin telah melakukan hal dengan baik, dan maksimal, kaki gue juga bersahabat banget untuk ikut latihan. Semalem saja gue benar-benar senang sampai tertidur dengan senyum, perasaan tidak sabar menunggu hari esok bahkan memenuhi rongga d**a gue. Namun pagi ini, semua diputarbalikan. Pagi-pagi sekali, ketika gue membuka mata dan hendak bangun untuk pergi ke sekolah, gue ditampar dengan kenyataan pahit. Kaki gue mendadak tidak bisa digerakkan. Wajah gue yang awalnya happy bukan main kini mendadak pucat, kekhawatiran terbesar gue muncul. “Maaaaa, kaki Dara maaaaa.” Teriak gue histeris. Memanggil Mama yang sedang ada di dapur. Mama yang mendengar suara gue langsung lari ke sini. “Ada apa Ra?” Mama datang. Namun disusul Mas Rizal dan Papa di belakang. Gue meneteskan air mata. Gue kehilangan kebahagiaan itu dalam satu malam. “Kaki Dara sakit banget, padahal semalem Dara udah baik-baik aja.” Gue menceritakan dengan panik. Jika hari ini tidak menjadi hari pembuktian, gue enggak akan sekhawatir ini dengan kaki gue, karena rasa sakit itu sama dengan yang sebelumnya. Namun pagi ini berbeda. Rasa sakit itu benar-benar mengalahkan gue, layaknya bom waktu yang enggak gue tahu kapan meledaknya. “Sakit banget?” Tanya Mama khawatir, tangannya sudah memijit-mijit perlahan kaki gue. Gue mengangguk-angguk dengan berlinang air mata. Rasa sakitnya tidak seberapa jika hanya diam, namun akan terasa begitu menyakitkan apabila digunakan untuk bergerak. “Hari ini enggak masuk?” Papa menawarkan. Gue menatap Papa dengan mata berlinang. Gue benar-benar pengen sembuh hari ini. “Dara masuk ya Pa, pakai kruk.” Jawab gue akhirnya. Gue masih punya kesempatan beberapa waktu, semoga saja rasa nyeri ini hanya beberapa jam saja. Gue harap nanti siang sepulang sekolah kaki gue sudah sembuh. Gue harap itu dengan setulus hati gue. Gue pagi ini enggak mandi, cukup cuci muka karena wajah gue sudah sangat sembab karena menangis ketika bangun tidur. Mama menyiapkan seragam dan kruk gue. Gue sendiri masih menangis meratapi keadaan kaki gue. Gue menelpon Romeo, hanya sebentar nada sambung sudah terdengar dan Romeo mengangkatnya, “Yooo.” Lirih gue membuka obrolan. “And? Lo baik-baik aja kan?” nada suara Romeo terdengar khawatir. Mendengarnya gue semakin menangis. “And? Lo enggak papa?” Romeo mengucapkan kata itu lagi, sepertinya dia tahu apa yang terjadi pagi ini. semua dapat terbaca dari suara tangis gue. “Yooo. Gue harus nyerah atau tetap berusaha?” gue mengatakan itu sembari menatap langit-langit kamar gue. Bahkan gue yang tadinya sudah berhenti menangis, kini air itu merembes lagi melewati pipi. “Gue ke sana ya!” Romeo sepertinya begitu khawatir. Bahkan kini gue mendengar suara motor kesayangan gue yang siap melaju. “Enggak usah, kita ketemu di sekolah aja.” “Lo beneran enggak papa?” Tanya Romeo sangsi. “Iyaa, gue enggak papa. Kita ketemu di sekolah ya. Daah.” Gue menutup telepon, kini gue mengusap air mata gue. Gue siap berangkat ke sekolah. Gue ke sekolah diantar Mas Rizal seperti biasa dengan mobil. Gue yang harusnya hari ini tidak menggunakan kruk, harus membawa barang itu lagi. Gue juga harusnya sudah pakai sepatu, namun hari ini harus menahan dulu. Harusnya hari ini gue udah sembuh. “Dara, jangan banyak gerak hari ini. Biar cepet sembuh,” Mas Rizal, yang sedang mengemudi menatap gue dari kaca depan. Gue hanya membalas dengan gumam. Gue sampai di sekolah, dengan menggunakan kruk gue berjalan menuju kelas. Ketika hampir sampai di depan kelas, Romeo sudah berdiri di samping pintu. Romeo menghadang gue. “Lo serius enggak papa?” Romeo memegang bahu gue, menatap mata gue. Gue langsung mengalihkan pandangan, takut nangis di depan kelas. “Gue enggak papa kok,” ucap gue dengan berusaha normal, gue menambahkan senyum singkat ke arahnya. Lalu masuk ke dalam kelas. Gue pengen cerita dan nangis ke lo Yo, tapi enggak sekarang di kelas. Pelajaran pagi ini terasa begitu lama, suara dari penjelasan guru seakan tidak terdengar, semuanya kabur. Gue hanya bisa memandangi papan tulis dengan tatapan nanar, perasaan aneh berkali-kali menyeruak di d**a gue. Gue benar-benar pengen nangis, tapi tidak sekarang. ••• Ketika bel pulang berdentang, gue masih terpaku di bangku gue. Gue benar-benar tidak mood untuk melakukan hal apapun. Teman-teman gue terlihat buru-buru untuk pulang, sedangkan gue masih duduk diam di sini. Siang ini, harusnya kaki gue sudah sembuh, sehingga gue bisa melakukan pembuktian ke semua peserta pelatihan dan Pembina. Namun kini gue hanya memaku di sini, di kelas yang sudah sepi. Ketika semua sudah keluar, gue mulai menangis tersedu-sedu. Semuanya benar-benar sudah tidak bisa ditahan. Gue merasa tidak berguna, kaki gue yang harusnya hari ini sembuh malah terasa sakit kembali. Rasa nyeri itu kini menjalar ke d**a gue, membuat gue kehabisan napas. Ketika gue sedang menunduk untuk menyembunyikan suara tangis gue, tiba-tiba ada tangan yang memeluk gue, menepuk-nepuk pundak gue. Gue mengangkat wajah, melihat siapa yang ada di samping gue. Itu Romeo, kini ia menatap gue dengan wajah penuh kekhawatiran. Melihatnya, gue semakin menangis keras di pelukannya. “Nangis aja enggak papa,” suara Romeo bak melodi, lembut dan menyentuh hati gue yang sedang tersayat. “Jangan pernah ngerasa gagal, lo udah dengan baik, gue tahu sendiri seperti apa usaha lo.” Hibur Romeo dengan mengelus-elus rambut gue. Romeo memang tahu bagaimana cara membesarkan hati gue. Tapi gue benar-benar kecewa pada diri gue sendiri. Bagaimana bisa gue mengalami kegagalan ini dua kali, kegagalan yang gue lalui dengan tingkah konyol gue. Jika kemarin, gue enggak menforsir kaki gue untuk berlatih semalaman, kaki gue enggak akan sesakit ini. Bahkan, jika dulu gue enggak lari karena buru-buru gue enggak akan jatuh dan gue enggak akan merasakan kekonyolan ini. Gue enggak akan jadi orang yang begitu cengeng. Harusnya gue bisa menjaga diri gue lebih baik. “Yo, maafin gue.” Romeo memegang wajah gue, mengernyitkan alisnya, “Kenapa minta maaf?” tanyanya pelan, dengan suaranya yang lembut namun serak basah. “Harusnya gue dengerin lo, harusnya gue bisa menjaga diri gue. Enggak akan ada kecelakaan ini.” Ketika mengatakan ini, gue menangis lagi, suara gue bahkan kini sudah serak. “Enggak papa, And. Lo enggak perlu nyalain diri lo sendiri.” Romeo semakin memeluk gue dengan erat. Lagi-lagi gue membasahi seragamnya. Gue menangis hampir 30 menit. Kini gue sudah bisa mengatur diri, gue bisa bernapas dengan baik dan suara gue juga sudah mulai terlihat jelas. Romeo menatap gue dengan senyum, mengacak-acak rambut gue yang memang sudah berantakan. Gue ikut tersenyum, kalau saja enggak ada Romeo gue enggak yakin bisa sekuat ini. Dia selalu ada dengan tamengnya yang luar biasa, Romeo adalah power terbaik saat ini. “Pulang yuk,” ucap Romeo ketika gue sudah merasa baik. Gue mengangguk. Kami berjalan menuju keluar kelas, berjalan beriringan menuju parkiran barat. Lorong sekolah sudah sepi, sepertinya siswa sudah bosan berada di sekolah selama jam pelajaran, hingga mereka buru-buru meninggalkan sekolah ketika bel pulang berdentang. Ketika sampai di depan masjid, gue ketemu Bagas. Orang yang gue dulu kira adalah orang spesial, orang yang gue kira dia hebat dan pantas buat gue perjuangkan. Ternyata, dia sama sekali tidak merasa bersalah atas semua rasa sakit yang gue rasakan. “Hai And,” sapanya ramah. Seperti tidak ada rasa bersalah. “Hai,” balas gue singkat. “Gimana keadaan kaki lo? Udah mendingan? Kok sekarang enggak pernah main ke lapangan belakang.” Katanya tanpa beban. Pertanyaan basa-basi itu seperti pisau bermata dua, menghunus hati gue yang sekuat tenaga gue bangun untuk kuat. Seharusnya dia tidak mempertanyakan itu ketika tahu keadaan gue dan kondisi psikis gue. Kak Ela dan Kak Reno saja tahu apa yang harus dikatakan dan apa yang enggak dikatakan. Namun gue tetap mencoba terlihat baik-baik saja, seperti tidak tersinggung ucapannya. “Gue disuruh pulang cepet nyokap. Jadi maaf ya gue enggak bisa datang.” Ketika gue mengatakan kata itu, dari belakang Romeo mengelus-elus pundak gue, memberikan semangat yang membuat gue tetap tersenyum. “Ya udah, kapan-kapan mampir ya. Gue duluan, soalnya masih ada latihan.” Kata terakhir itu benar-benar menghancurkan pertahanan gue. Melihat Bagas pergi, gue langsung lemas. Gue mencoba untuk tidak menangis, sepedih apapun kata dari Bagas. “Lo keren And,” ucap Romeo kini. Gue menatapnya, tersenyum nanar. ••• Hari Sabtu, harusnya menjadi hari yang amat membahagiakan. Hari yang sudah gue tunggu selama satu bulan terakhir. Satu hari yang selalu membuat semangat gue terpacu, satu hari yang membuat gue tidak bisa tidur tiap malam karena terlalu mendebarkan. Kini gue hanya bisa merasakan kehampaan di hari ini. Hari yang kini tanpa sadar gue benci. Gue membuka w******p, melihat bar story yang menampilkan foto mereka menggunakan seragam lomba paskib. Bahkan, tanpa dosa Bagas memposting fotonya dengan seragam komandan peleton. Gue menelan ludah. Andai gue bisa memosting foto tersebut, dengan mengenakan seragam yang sama dengan senyum yang lebih lebar dan semangat yang lebih luar biasa. Lo kuat Andara, jangan sedih hanya karena masalah ini. Lo bisa lebih baik ke depannya, ambisi lo tidak hanya ini. Kaki lo bahkan sekarang sudah sembuh, lo harus semangat. Gue menelpon Romeo, gue pengen ke sana, ke perlombaan itu berada. Gue mau membuktikan bahwa gue enggak menyerah hanya karena enggak ikut lomba. Tak berapa lama, telepon terhubung. “Yo, ayok kita ke perlombaan.” Ucap gue mantab. Seperti dikomando, 30 menit kemudian Romeo datang. Menggunakan motornya, soalnya motor gue sudah dikembalikan kemarin. Katanya sudah diomelin Kak Sinta. Romeo datang dengan menggunakan hoodie warna dongker, melihat hoodie gue teringat hoodie Romeo yang masih gue simpen. “Lo yakin enggak papa datang ke lomba?” Tanya Romeo ketika sudah turun dari motor. Entah kenapa akhir-akhir ini Romeo selalu mengatakan ‘lo enggak papa’ di awal kalimat. Gue sudah cukup lebih baik sekarang. Selagi ada lo, gue yakin bisa baik-baik saja. “Lo enggak percaya sama gue.” Gue berkacak pinggang di depan Romeo, memamerkan wajah ceria gue. “Lo beneran enggak papa?” Romeo lagi-lagi sangsi. Sebenarnya gue juga enggak lagi baik-baik saja, tapi gue mencoba untuk tetap baik. Karena Andara kuat. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN