Romeo: Stay Cool

1292 Kata
Pagi hari adalah hari yang baik untuk menyegarkan diri. Bangun dengan santai dan memiliki energi yang positif. Maka sambutlah Romeo Cakra yang tampan, manis dan menawan ini. Gue menstater motor kesayangan gue, meski kredit tapi sayang pake banget sih. Baru juga gue menstater motor, hp gue udah getar aja. Gue membuka pesan dari Bu Indah, wali kelas gue yang baru. Romeo, nanti istirahat pertama ambil buku paket ya di perpus. Ada 4 jenis buku mapel. Nanti bisa minta tolong sama yg lain buat angkat. Dengan selesai membalas dengan “siap Bu” gue pun meluncur menuju jalan raya. Ini adalah hari kedua gue sekolah setelah liburan panjang. Dan, lagi-lagi di tahun ajaran baru, gue dijadikan ketua kelas oleh teman-teman gue. Gue heran sama mereka, padahal tahun lalu gue udah mencoba malas buat dilengserkan tapi kelas tetap memilih gue. Ya sudahlah, terima nasib, mereka tidak bisa mengabaikan gue sebagai orang penting di kelas. Gue nggak masalah sih sebenarnya, asal jangan dijadikan presiden aja sih gue. Tak butuh waktu lama, gue sudah sampai sekolah dengan aman sentosa dan tanpa kebut-kebutan dengan pengendara lain. Motor vixion gue parkirkan menuju parkiran bagian barat sekolah. Berhubung sudah siang, parkiran juga sudah terisi banyak motor. Motor gue terparkir di samping motor Scoopy warna biru tua, gue menepuk motor itu. Mengingat siapa pemilik kendaraan matic ini, ya Andara Puspita. Cewek yang judes, sombong, dan belagaknya selangit. Dan kabar kemarin membuat kenyataan buruk untuknya, dia sekarang menjabat sebagai wakil gue, ya! Wakil Ketua Kelas. Semoga kamu betah Andara… Syukur-syukur sadar biar nggak sombong mulu. Kelas pagi ini juga sudah ramai, gue melihat di bangku bagian barat, terdapat Andara sedang memainkan ponselnya dengan menyumpal telinganya menggunakan headset. Gue menuju ke arahnya, tersenyum di depannya, sesekali menyapa rekan gue lah. “Pagi, partner.” Sapa gue, gue memanggilnya partner untuk mendekatkan diri. Biar lebih akrab. Selama kelas satu, gue jarang banget komunikasi sama dia, lebih tepatnya dia memang tidak suka bergaul dengan manusia macam gue. Selain judes, dia juga terkenal galak, ya siapa sih yang mau ngobrol sama emak macan? Nggak ada. Karena takut tikam. Dan gue kali ini akan mencoba akrab dengannya, yah meski sekarang responnya kayak ilfeel gimana gitu sama gue sih. Dan lo tahu balasannya? Hanya menatap gue dengan tatapan “lo siapa? Sok kenal banget.” Pada gue. Gue mencoba lagi. “Partner? Kok dicuekin sih?” Gue pun memiliki ide untuk mencabut headset yang tersumpal di telinganya dan menarik ponselnya. “Partner, pagi-pagi gini tuh tidak baik kalau udah kena radiasi. Apalagi kuping kenapa disumpal gitu, kan kamu jadi nggak tau keadaan sekitarmu.” Gue tersenyum ke arah Andara, memberikan senyuman manis pada cewek macan. Siapa tahu dia luluh. Dia mengerang, “Lo nggak usah sok care sama gue deh. Males gue liat muka lu.” Dia menarik lagi kabel yang ada di tangan gue, menyumpalkan ke cuping telinganya. Menyetel lagu Attention milik Charlie Puth yang bisa terdengar dari luar headset. Gila nih cewek gak takut telinganya jebol dengerin lagu sekeras ini. “Anda! Gue mau ngomong.” Gue mencoba berbicara lagi. “Anda! Hello??” Dia masih tak menggubris. Kepalanya mengangguk-angguk dan matanya terpejam, semakin menikmati alunan lagu. Bisa-bisanya dia mengabaikan manusia tampan di depannya. “Andara. Gue mau kasih tugas ke elo. Penting.” Dia masih tak menggubris. Dasar nih cewek. Nyebelin. Tapi sabar Romeo, orang sabar nanti pacarnya dua. Kling. Ada notifikasi chat pagi-pagi begini, gue buka isinya dari Bu Indah. Romeo, cepetan kesini ambil jadwal pelajaran sama surat peminjaman buku. Gue pun memasukkan hp ke dalam saku seragam. Menatap Andara yang acuh tak acuh dengan kehadiran gue di depannya. Gue menghela napas panjang. Dasar ya, cewek ini tuh aneh. Sombong, belagu, egois, dan nggak mau dengerin orang lain. “Andara, lo mau nggak ikut gue?” gue berbicara. Seperti berbicara pada patung, dia sama sekali nggak merespon. Gue pun akhirnya meninggalkannya, langsung menuju kantor utama di mana tempat Bu Indah berada. Sepanjang koridor kelas gue berjumpa dengan kelas sepuluh yang menyapa gue dengan ramah. Aneh, gue kan bukan anggota OSIS, dan gue juga enggak anggota organisasi terkenal lainnya di sekolah ini, kok banyak cewek yang lihatin gue. Barangkali mereka terpesona dengan ketampanan gue kali ya. Gue pun menebar senyum kebaikan kepada mereka. Setidaknya lumayanlah, menghadapi kelakuan Andara yang masih membuat makan hati. Gue sampai di meja Bu Indah, guru muda itu malah celingukan di belakang gue. “Romeo sendirian? Andara mana?” tanya Bu Indah. Gue menggeleng, “Nggak ikut Bu,” “Kenapa nggak ikut?” Gue tidak langsung menjawab, mengingat perlakuan Andara yang tidak menyenangkan pagi akhir-akhir ini gue terpikir sesuatu pembalasan untuknya. “Itu Bu, tadi pas saya ajak dia itu nggak mau. Katanya dia nggak mau angkat buku, berat. Padahal saya sudah minta dia bawa buku yang sedikit, biar saya saja yang banyak. Tetep aja nggak mau bu. Dia juga lagi ngerjain PR bu, tidak mau diganggu.” Bu Indah berkerut. “Masak sih? Perasaan Andara rajin.” “Iya Bu. Kelihatannya aja rajin bu, padahal sebenernya sama aja.” “Ya sudah, sekarang kamu segera bawa ini ke Bu Bowo ya.” Bu Indah menyerahkan satu lembar kertas surat pernyataan peminjaman buku. Gue sudah biasa mengurusi ini, dulu kelas sepuluh gue juga sudah sering melakukan hal yang berurusan dengan guru. Dan, gue juga manut-manut saja ketika Bu Indah menugaskan gue. Memang sudah tanggung jawab. ●●● Gue datang ke perpustakaan untuk menyerahkan kertas itu, lalu mengobrol sedikit dengan Bu Bowo. Tahu-tahu, pelajaran ke dua sudah berlalu, gue segera masuk kelas dengan santai. Ketika gue sampai di depan kelas, terdapat Andara sudah menghadang di pintu. Tatapan tajam miliknya menuju gue. Dia sudah berkacak pinggang. “Maksud lo apa?!” itu kata pertama yang meluncur dari mulutnya. Gue diam, menatap heran ke arahnya. Belum juga gue jawab, dia meneruskan kalimatnya. “Fitnah apa yang lo bilang ke Bu Indah?!” dia menatap tajam gue. “Fitnah apaan ya?” gue bertanya dengan polos, sembari membenarkan dasi yang sedikit miring. Dia mengerang, tatapannya tajam dan tangannya mengepal. Ya, gue tahu dia. Emosinya tersorot dari matanya. Tapi gue yang nggak takut semakin memancing dia, seakan mengejek, tapi ngejek beneran. “Gue tadi dimarahi Bu Indah, katanya gue.... Ahhh!!!” Dua mengurungkan ucapannya, lebih memilih mengerang daripada meneruskan kalimatnya. Gue masih berlagak santai, tanpa dosa, yah kan emang gue nggak salah kan?! Dia langsung menabrak gue, meninggalkan kelas, pergi menuju koridor sepanjang utara. Ketika jaraknya sudah 50 meter gue berteriak ke arahnya. “Woy! Anda! Mau kemana? Bentar lagi Pak Banu masuk nih.” Dia berhenti berjalan dan menoleh ke arah gue. “Jangan bilangin ke siapa-siapa kalau gue bolos.” Kemudian dia mengepalkan tangannya di udara. Seperti mengancam gue agar tidak melakukan hal yang tidak diinginkan dia. Gue dengan senyum mengembang membalas ucapannya. ‘SIAP!!” Gue masuk kelas yang sedang berisik karena jam kosong. Maklumlah, jam pelajaran yang belum efektif membuat sering kosong. Gue pun juga tidak melarang teman-teman gue di kelas untuk berisik, selagi itu tidak melanggar norma dan ada batasnya itu sah-sah saja. Toh, siapa sih yang kelasnya tidak berisik kalau jam kosong. Yah, mungkin itulah sebabnya kenapa gue dipilih lagi sebagai ketua kelas. Karena gue tidak gak terlalu banyak peraturan yang mengekang. Ternyata, setelah berisik yang heboh, masuklah Pak Banu, guru berumur 34 tahun tersebut adalah guru Matematika baru kami. Kelas mendadak hening. Kami cukup bersyukur mendapatkan guru Matematika yang tidak rewel dan friendly, tapi sepertinya tidak bisa mengubah kebodohan gue menjadi sepintar Einstein sih. Pak Banu mengenalkan dirinya dan lalu melakukan presensi kelas. Ketika sampai di nama Andara, Pak Banu mengernyit, heran dengan keberadaan cewek macan tersebut di kelas. Ketika Pak Banu bertanya, ke mana keberadaannya dan tidak ada yang menjawab. “Andara, itu Pak, izin di kamar mandi. Katanya dia diare gitu, Pak. Kasian deh pokoknya,” jawab gue santai dan polos. Satu kelas pun tertawa mendengarnya. Bahkan, Rohman teman sebangku gue menonjok pinggul gue saking ketawa dan geli dengan jawaban gue. Rasakan Andara! Mampus kau malu-malu. ●●●
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN