Romeo: Teror Maura

1378 Kata
"Eh ntar abis nonton pingpong ke kantin yok!" ajak Fauzan. Saat ini kita tidak ada lomba jadi hanya santai-santai di kelas sampai gerbang sekolah di buka lagi ketika sudah waktunya pulang sekolah. Tiba-tiba dari arah depan ada Maura datang membawa selembar kertas. "Yo! Lo jadi pangeran ya. Lusa tampilnya." Tidak ada angin, tidak ada AC, Maura datang dan langsung mencetuskan. "Pangeran? yang lomba itu?" Rohman yang tadi sibuk bermain hp, langsung nimbrung. "Iya. Perwakilan kelas kita." kini Maura duduk di bangku dekat gue. Gue melihat kertas yang dibawa Maura, itu adalah formulir untuk perlombaan, pada kolom lomba Putri Pangeran, kolom itu masih kosong. "Kenapa sih harus Romeo, dia kan buruk rupa." Haikal sepertinya tidak setuju, tapi perkataannya begitu menyakitkan. "Masih jelekan elu lah." Fauzan yang diam ikut-ikutan nimbrung. "Emangnya lo mau Yo?" Rohman menatap gue. Gue menggeleng cepat. "Meskipun gue enggak ganteng, gue juga enggak mau tampil." cetus gue. "Ya udah gue aja," Haikal mengajukan diri. "NGGAK!" tolak Maura keras. "Gue maunya Romeo!" "Ya udah Rohman aja udah, yang mukanya agak tertolong." gue mengajukan Rohman, ya di sini cuma dia yang mukanya yang cukup pantes dipamerkan. Rohman kaget. Namun ia sekejap langsung bertanya, "Pasangannya siapa?" Maura berpikir, "Belum tahu sih, tapi yang pasti temen sekelas kita kok." "Nanti pas lomba gandengan tangan enggak?" tanya Rohman lagi. Bentar kenapa pertanyaannya semakin menjadi-jadi. Maura mengangguk. "Enggak mau gue, yang ada dimarahin cewek gue lagi." tolak Rohman akhirnya. Semua langsung memoles kepala Rohman dengan tangannya. "DASAR MANUSIA BUCIN!" teriak Haikal tepat di depan wajah Rohman. Kini Maura malah menatap gue. "Yo, lo mau ya." lirihnya, sepertinya memang dia tidak punya pilihan selain gue. "Gue enggak bisa Ra, dan gue juga enggak mau." Maura mendengus, namun sekejap kemudian ia membuat keputusan sepihak. "Pokoknya lo yang jadi Pangeran ya Yo! Titik." Maura menulis nama gue di kertas, menjadi peserta lomba pasangan model Pangeran Putri di Class Meeting. Gue padahal sejak tadi menolak. Gue tuh enggak suka pakai baju yang ribet lalu didandani dan dipertontonkan oleh banyak masyarakat, banyak orang maksudnya. Belum lagi gue kan kaku banget kalo jalan yang ala-ala model. Kalau jalan kayak preman, gue jagonya-jago mempermalukan maksudnya. "Kenapaa sih, enggak mau. Kan lo pede banget orangnya." Maura tetep ngeyel. "Beda konsep ibuuuu." Kenapa sih harus gue. "Ya udah, lo mau dipasangin sama siapa?" tawar Maura. Sepertinya Maura memang ngotot menjadikan gue badut kelas ini deh. "Sekali enggak ya enggak Maura." gue bangkit dari bangku, menuju keluar kelas. Lama-lama nyebelin juga kalau gue di sana terus. Melihat gue berdiri, Maura mengejar gue. "Yo! Pleaseeee." Gue bergeming, kini langkah gue cepat. Segera menghindari Maura yang semakin jadi cerewetnya. Ketika gue sampai pintu, gue malah menabrak seseorang. Cewek lagi. Gue melihat cewek tersebut, itu Andara. Duh, kenapa sih gue harus ketemu sama Andara di saat moment yang seperti ini. Gue mendadak canggung. "Sorry ya And," ucap gue lirih. Andara merapikan barang bawaannya, setumpuk kertas, sepertinya itu hasil ulangan. "Iya gapapa, kok." "Naaah, mau lari kemana lo!" Maura memegang seragam gue. Gue kaget karena Maura sudah menangkap gue. Harusnya tadi gue lari. "Ada apa sih?" tanya Andara. "Inii, Romeo nolak jadi pangeran," adu Maura. Rasa ingin menyumpal mulut Maura semakin tinggi. Bisa-bisanya dia ngomong gitu. "Kenapa nolak?" kernyit Andara. Gue yang saat itu mencoba melepas genggaman Maura langsung menoleh mendengar Andara ngomong. "Katanya dia tuh enggak pede, juga dia mau kalau bukan lo pasangannya." ujar Maura tanpa berpikir. Nih manusia kenapa mulutnya senyebelin ini sih. "HEH GUE CABEIN YA MULUT LO." Gue menatap Maura tajam. Gue yang canggung setengah mati malah diketawain sama Andara. Kondisi macam apa sih ini, kenapa gue merasa sebal. "Jadii, Romeo pengen gue jadi putrinya?" Andara melerai pertengkaran gue. "Iyaaa." jawab Maura mantab. "Ra, lo mending enggak usah ngarang deh." gue masih enggak terima dengan mulur licinnya Maura. Wajar saja dia dipanggil manusia cerewet, mulutnya saja licin enggak main-main kalau ngomong. "Gue sebenernya sih oke-oke aja, kalau harus jadi putri." Mendengar pernyataan dari Andara gue kaget, mendadak gue kelepasan "Serius?" "Tapi sayangnya, gue ketua panitia. Gue enggak bisa ikut serta jadi perwakilan kelas. Maaf ya teman-teman." kemudian Andara melenggang masuk ke dalam kelas, dengan senyum lebar yang ia tinggalkan. Harapan gue yang tinggi mendadak anjlok. Gue kecewa bukan main. Andara berlalu, menyisakan gue dan Maura yang berdiri di depan ruang kelas. Kini Maura menatap gue dengan harapan besar. "Ya udah kalau pasangannya sama aku gimana?" "Enggak Ra! Mau lu pasangin sama Pevita Pearch gue juga gak mau." lalu gue meninggalkan Maura yang jengkel di depan kelas. "Bener kata Andara. Lo tuh nyebelin." gue bergeming. Maura masih mencak-mencak. ●●● "Lo beneran mau jadi pangeran?" Fauzan kini duduk di samping gue. Dia membawa nampan berisi mie ayam. Kami berempat sekarang sedang di kantin dan selesai menonton pertandingan pingpong. Gue menggeleng, memang sampai sekarang pikiran gue belum berubah. Gue tetap enggak mau untuk menjadi pangeran dalam perlombaan ini. Kelas gue mendapatkan budaya Minang. Meskipun pakaian adatnya keren, gue tetap malu kalau tampil di depan masyarakat. Haikal menatap gue, "Gue pengen ikut malah dilarang sama Maura. Memang nasib orang enggak good looking tuh begini. Selalu dipandang rendah." Rohman merangkul Haikal, "Mau lo good looking pun, Maura enggak bakal memilih lo kok Kal." Haikal menatap Rohman heran, gue juga heran. "Karena dalam lomba seperti ini, ada pidato bahasa inggris, dan lo selalu remidi sama pelajaran ini." "But, i can...yes " jawab Haikal cukup sebal. Mimik wajahnya seakan ingin memakan Rohman hidup-hidup. "Gitu doang?" Haikal mengangguk, pupus sudah harapannya jadi pangeran. "Ta-tapi kan gue bisa ngapalin teksnya." Haikal seperti tidak kehabisan usaha." Rohman menggeleng. Kekejaman itu terasa hingga ulu hati, mematahkan harapan sahabat karibnya, Haikal. "Sudahi sedihmu, mari minum es teh bersamaku." Fauzan menengahi, kini dia mengacungkan es teh ke tengah meja, mengajak bersulang ala bangsawan Eropa. Reflek kami bertiga membalasnya dengan mengatakan "cheers" bersama-sama. Gue meneguk es teh, menikmati lagu Korea yang disetel oleh panitia OSIS. Pengawasnya cewek, jadi tidak ada alasan untuk menyetel lagu dangdut koplo, padahal kalau iya, dia bakal dapat duit dengan saweran oleh orang yang lewat. "Yolo yolo yolo..." lagu itu mengalun dengan bahasa yang aneh. Tapi asik, kepala gue aja geleng-geleng menikmati alunan lagu itu. "Yolo-yolo-yolo! eng-ing-eng eng-ing-eng." Rohman menyanyikan lagu itu dengan nada yang sama. Gue menoleh. "Lo tau lagu ini Man?" Rohman mengangguk sembari menyanyi lagu itu dengan lirik yolo yolo doang. "Ika sering banget dengerin ini, jadi gue tahu." gue mengeryit. Bisa-bisanya dia percaya diri mengatakan ini, padahal cuma tahu yolo-yolo doang. Akhirnya gue dan Rohman bernyanyi lagi ketika nada yolo-yolo keluar. "Yolo-yolo-yoloo yolo-yoloo-yolooo eng ing eng eng ing eng." Fauzan geleng-geleng melihat tingkah kita yang nyanyi mirip penyembahan sekte sesat. Haikal tidak mau kalah , ia juga menikmati lagunya namun lidahnya terpeleset tiap menyanyikan lirik tersebut. yolololololo, hanya lolongan yang ada dari mulut Haikal. Macam orang yang tidak diajari tata bahasa yang baik. Memang Fauzan adalah manusia paling waras di sini. Indahnya pertemanan ini bila diisi oleh keberagaman manusia. JOSAH adalah salah satu contohnya. Keseruan class meeting salah satunya memang ini, bebas dan semuanya terasa menyenangkan. Enggak ada ngeluh dan ngantuk di kelas, semuanya berpesta. Bahkan musik tersetel hampir selama jam sekolah. Coba kalau hari biasa, gue nyetel lagu pas jam pelajaran aja langsung disita hp gue. Dianggap mengganggu pembelajaran, katanya. Es teh gue habis, gue berdiri untuk memesan es itu. Enggak tahu kenapa gue candu banget sama minuman ini. Udah seger, murah lagi. Setelah es teh ditambah, gue segera meneguknya. Lalu perasaan bahagia ini semakin menjalar dalam hidup gue. Nikmatnya hiduuuuup. Seru gue dalam hati. Kalau gue sebutin takutnya disangka gue lagi iklan rokok. ••• Gue pikir dengan gue menolak Maura pada siang tadi selesai sudah urusan ini. Maura adalah manusia terniat yang pernah gue kenal. Bahkan sekarang ketika sudah malam dan saatnya tidur, Maura meneror gue dengan chatnya yang bernada sama "ROMEO LO HARUS MAU JADI PANGERAN" Gue mengabaikan pesan Maura, bahkan gue nge-hidden dia biar enggak ngeganggu gue. Kini gue mengirim pesan ke JOSAH karena resah dengan gangguan Maura. Romeo: Sahabat-sahabatku. Selamat malam. Haikal: Apaan sih, ganggu gue nonton utaran aja. Romeo: Oke baiiii. Gue menutup hp. Baru juga mau memulai curhat, teman-teman gue sudah berlaku tidak sopan. Pengen punya temen cewek deh, tapi takut baper. Gue jadi teringat Andara, mendadak gue menuju ke kolom chat Andara, di sana ada chat terakhir gue bersama Andara, terakhir ketika selesai lomba paskibra. Andara online, gue kaget. Takut kalau gue salah kepencet nelfon atau kepencet chat nomor itu. Gue segera keluar dari room chat Andara. Lalu tiba-tiba hp gue bergetar. Gue yang saat itu berpikir bahwa salah pencet tiba-tiba membuang hp gue dengan panik. Hp itu masih bergetar, lalu muncul nama Maura beserta selfienya di layar hp gue. Mendadak gue menolak telepon itu. Bisa-bisanya Maura mengganggu gue banget. Gue kan jadi kaget. Gue kembali pada room chat JOSAH, di sana ada beberapa obrolan dari teman-teman gue yang kunyuk. Rohman: Haikal, kamu jahat sekali. Kasian Romeo Haikal: Ya maaf, kan aku cuma bercanda. Fauzan: Hidupnya bercanda terus. Kurang bahagia ya mas? Haikal: Tapi saya sudah bahagia. Rohman: Bahagia lo aja yang lo rasain, liat Romeo sekarang malah ngilang. Dia sepertinya sakit hati dengan perkataanmu. Haikal: Romeo mah lagi buang hajat. Gue langsung membalas cepat pesan dari Haikal. Romeo: Sok tau. Rohman: Tuh lihat betapa judesnya Romeo. Haikal: Jika tidak buang hajat, apakah Romeo sedang pms. Haikal: Maksudnya pengen makan seblak. Rohman: Seblak ceker enak nih, kemaren gue makan seblak sama Ika di depan pasar. Fauzan: Pameer udah punya pacar. Haikal: Pameer udah punya pacar. Romeo: Pameer udah makan seblak. Haikal: Kok lo enggak serasi sih Yo sama kita! Rohman: Kan Romeo lagi pdkt. Wkwkwk Romeo: Sama siapa?! Haikal: Kok lo yang nanya, harusnya kan itu bagian gue sama Fauzan. Fauzan: Gue enggak mau nanya sih . Romeo: Suka-suka gue dong. Sebenarnya ketika Rohman mengatakan itu, pikiran gue langsung terbesit atas satu nama, Andara. Ya karena gue pikir, saat ini gue selalu merasa aneh kalau sama Andara. Gue menunggu balasan Rohman yang mengetik sejak tadi. Sepertinya Rohman tahu bahwa semua orang penasaran. Kling. Mendengar itu gue langsung membaca pesan dari Rohman Rohman: Sama maura. Gue langsung membalas, bisa-bisanya gue didapukkan sama orang yang udah meneror gue seharian. Romeo: Enggak! Bisa mati muda gue kalau pacaran sama Maura. Haikal: Tapi Maura perhatian tauu, lihat seharian ini aja lo udah dicari berapa kali sama dia. Kayaknya fix deh, Maura naksir sama lo. Romeo: Haikal, sekali lagi kamu begitu saya kick dari grup nih. Haikal: Mohon maaf Romeo, saya itu admin. Mana bisa kamu ngekick saya. Hahahahahaha Gue mengelus d**a, cobaan sekali memang kalau hidup berdampingan sama mereka, rasanya pengen jadi sayuran aja. Gue jadi haus. Gue segera pergi menuju dapur untuk mengambil air dingin. Memang disaat panasnya jiwa, minum air dingin adalah solusi. Gue sampai dapur, dan meraih botol minum di kulkas. Meneguk air itu dengan bersender di dekat meja. Tiba-tiba hp gue yang di atas kulkas bergetar. Ah pasti ini kerjaan Maura. Abaikan aja deh. Akhirnya gue meneruskan minum. Namun lama-lama gue merasa terganggu. Gue menggaet hp gue dan mendapati orang lain yang menelpon. Bukan dari Maura, namun itu bukan Maura. Itu orang yang sama sekali tidak gue duga. Andara. Itu Andara. Gue mematung memandangi telepon itu. Angkat nggak ya? Gue jadi ragu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN