Embun mendengar jelas pembicaraan Raga dan teman teman nya. Embun meletakan telapak tangan nya di d**a menyentuh hatinya. Lirih tangisan dari suara Embun. Bersandar di pintu kamar. Hati Embun terasa hampa saat ini. Inilah yang tidak Embun inginkan, hanya untuk kebahagian nya harus mengorbankan hati dan perasaan orang lain.
Embun mengambil telpon selular di atas meja. Menatap sebuah foto yang tersimpan dalam memori telpon selularnya.
"Aku mencintaimu," bisik Embun memandang foto tersebut dengan senyuman tulus dari hati.
***
Pagi ini, Raga sengaja bangun pagi sekali sebelum Embun bangun. Saat ini Raga sudah berada di dapur menata hasil masakan yang telah dia buat. 2 piring nasi goreng telah berada di atas meja makan. Tidak lupa Raga membuat secangkir kopi panas untuknya dan secangkir teh untuk Embun.
Embun akhirnya keluar dari kamar dan bersiap siap untuk berangkat.
"Selamat pagi "Embun pagiku","panggil Raga lembut. "sarapan dulu, aku telah membuatkan nasi goreng untuk kita berdua."
Embun melihat ke arah meja makan tanpa ekspresi. Sarapan pagi yang telah disediakan oleh Raga.
Wajah yang datar Embun menimpali ajakan Raga."Aku tidak lapar,lagipula aku tidak suka nasi goreng."
"Sarapan lah sedikit Embun,nanti kamu sakit." bujuk Raga.
Embun tersenyum mengejek "Apa peduli mu!" Sinis Embun.
"Kamu istriku,aku berhak untuk khawatir. Ayoo kita sarapan! Kita tidak pernah makan bersama."
" eh" ejek Embun " kita seperti sepasang kekasih yang romantis"
"Kamu berusaha terlalu keras, ya" remeh Embun ."Makanlah, melihatnya aku tidak bernafsu" Embun pergi dari hadapan Raga.
Raga duduk di ruang tamu. Mengusap kedua telapak tangan ke wajah nya. Menumpuk kesabaran dihati. Raga juga baru menyadari Embun selalu memperlihatkan wajah perlawanan kepada dirinya.
Bi Sumi asisten rumah tangga Raga menatap sedih ke arah Raga yang tampak frustasi menghadapi k*******n kepala Embun. Bi Sumi selama ini sudah memperhatikan bagaimana kehidupan Raga. Dia hanya bisa diam dan berdoa agar semua cepat membaik. Bi Sumi yakin Raga bisa mengatasi hal ini.
"Bi" panggil Raga lembut " temani saya makan,bisa?" Ajak Raga.
Bi Sumi tersenyum mengangguk.
***
Semua sahabat Raga sangat merasakan perubahan Raga setelah menikah. Raga seperti memikul beban berat. Wajahnya jauh terlihat lebih kusut dan mereka sering melihat Raga banyak melamun. Biasanya dia selalu terlihat fresh dan wajah yang berseri setiap datang ke kantor.
" Ga" panggil Willy membuyarkan lamunan Raga. " lu makin hari malah makin nggak ada nyawa gua liat. Orang kalau udah nikah itu wajahnya lebih fresh,banyak tersenyum, pokoknya enak dipandang mata deh. Sedangkan lu kayak mayat hidup, gerak iya tapi nggak ada gunanya," ledek Willy.
"Noh, makanan lu udah dingin dari tadi dianggurin. Lu nunggu makanan itu basi dulu baru dimakan." ejek Nino
Saat ini mereka sedang berkumpul di salah satu cafe yang berada di Mall untuk membicarakan satu usaha yang mereka bangun berlima. Melihat Raga banyak diam daripada memberi pendapat membuat semua teman Raga kesal. Mereka melihat hanya tubuhnya saja berada di tengah tengah mereka. Tapi jiwanya entah berada di belahan bumi mana.
"Nyesel nggak lu nikah dengan Embun? wanita berdarah dingin," ledek Willy.
"Tidur di kamar terpisah, gua yakin hampir 2 mingguan kalian menikah paling satu atau beberapa kali kalian bicara"
Raga menghembuskan nafas gelisah.
"Gua nggak tahu mesti lakuin apalagi buat hati Embun mencair. Dia kalau liat gua seperti liat singa bawaannya mau ngebunuh gua terus. Pokoknya setiap gua bicara dengannya lembut. Dia bawaannya nge gas terus." kata Raga sedikit bercanda padahal hati nya sedang tidak baik saja.
"Embun itu maunya cuma satu," sela Julian
Semua menatap Julian penasaran " perceraian"
"tidak " kata Raga cepat " tidak ada kata perceraian yang akan keluar dari mulut gua, dan gua jamin tidak juga dari Embun. Gua yakin Embun suatu saat nanti akan menjadi istri gua seutuhnya, gua yakin sekali" kata Raga mantap.
Semua teman Raga meragukan hal itu.
" lu amnesia apa b**o. Cinta lu yang katanya tulus dari hati itu bakalan kalah kalau pria yang Embun cintai datang menjemput Embun. Bukankah Embun saat ini sedang menunggu pria tersebut. Dan ingat! Kesepakatan yang lu janjikan kepada Embun jangan sekali kali lu ingkari demi memenuhi ambisi buat menaklukan Embun," kata Ferdian.
Raga memahami apa yang disampaikan Ferdian.
"Jujur ya gua penasaran dengan Ardhan pria yang dicintai Embun. Jangankan gua, papa dan mama tidak pernah melihat pria itu sekalipun bersama Embun. Kami semua tidak tahu wajahnya seperti apa?" jawab Raga.
"Jangan jangan Embun cuman cari alasan buat pernikahan kalian batal" pikir Willy.
"Embun bengek kali liat lu,Ga." Ledek Nino
"Nggak mungkin!" sela Julian " secara dari yang Raga ceritakan Embun sudah menolak Raga jauh sebelum Raga datang bertemu Embun, dari awal Embun tidak pernah ingin dijodohkan oleh siapapun,bukan. Bisa jadi si Ardhan ini memang betul berusaha memantaskan diri untuk Embun"
"Bahasa lu,Yan" ledek Nino
"Memantaskan diri, lu kebanyakan baca quotes di akun remaja saat ini hahhaa. Kalau emang seperti itu, Ga" Nino menatap Raga serius "harapan lu tipis, bisa jadi Ardhan itu cinta pertama bahkan pacar pertama Embun yang benar benar dia cintai. Fix nggak ada nama lu di sudut kecil hati Embun. Gua jamin, lu yang katanya cinta sama Embun hanyalah bertepuk sebelah tangan."
"Duuuuh Embun tipe wanita yang setia sekali" lanjut Willy " kalau lu Ga, ditinggal Nadya bentar aja langsung anak orang lu putusin."
Raga yang sudah pusing semakin bengek mendengar celotehan para sahabatnya yang mengambang itu.
" Embun," panggil Raga menatap ke arah depan.
Raga melihat Embun jalan sendirian di mall ini.
"itu Embun!" tunjuk Ferdian.
Raga berusaha mengejar Embun dan disusuli oleh teman temannya.
"Embun" panggil Raga
Embun membalik kan badan nya,menghadap ke arah suara yang memanggil nama nya. Embun menatap Raga dan beberapa orang yang di belakang Raga. Embun yakin mereka teman teman Raga yang pernah datang ke rumah.
"Kamu mau beli sesuatu?" Tanya Raga lembut.
Embun hanya mengangguk " aku pergi dulu" lanjut Embun sedikit risih dengan kehadiran sahabat Raga.
" Embun,perkenalkan kami ini teman dekat Raga" Willy bersuara untuk pertama kali dan menyodorkan tangan nya ke arah embun.
Embun tidak membalas jabatan tangan Willy, dia hanya memandang sekilas dan memandang wajah semua teman Raga, setelah nya Embun langsung pergi dari Raga dan teman teman nya.
Raga memandang punggung Embun, kesedihan nampak di wajah Raga ketika Embun tidak juga memperdulikan sahabat nya.
" Sorry...guys" kata Raga kepada semua nya.
Ferdian mengerutkan kening nya menatap Embun yang sudah hampir menghilang dari mereka.
"Pantesan loe betah dengan kedinginan sifat Embun. Embun cantik oyyyy" goda Nino geleng geleng kepala masih takjub dengan wajah Embun.
"Bener, gua setuju Embun cantik sekali. Coba nggak cantik. Yakin gua 1 minggu loe bakalan cere." lanjut Julian.
"Sifatnya emang dari lahir seperti itu,Ga? Atau dia begitu karena benci sekali dengan loe?" Tanya Ferdian penasaran.
Raga menghela nafas nya "Dari foto Embun yang pernah diperlihatkan mama dan papa kepada gua. Jauh sekali melihat Embun yang asli. Dia bahagia dan sering terlihat ceria di dalam foto. Dia banyak tersenyum di foto itu. Yahh kata papa dia memang pendiam juga dari dulu. Pokoknya beda aja dilihat sekarang."
"Gua juga penasaran, Embun seperti itu karena memang benci sekali dengan gua atau tidak. Dia irit sekali kalau bicara, bahkan dengan bi Sumi sekalipun. Embun hanya akan keluar dari kamar nya hanya sekedar makan atau minum. Itupun baru satu mingguan ini. Di awal dia pindah ke rumah gua, dia sama sekali tidak pernah ke luar kamar. Dia selalu mengurung diri di dalam kamar."
Sahabat Raga mengangguk berusaha memahami situasi.
"Tapi sumpah Embun cantik sekali. Jujur Embun cantik dari Nadya hahha pantesan cepat kali loe move on" ledek Willy.
"Gua nikah dengan Embun bukan karena membandingkan dia dengan Nadya." Kesal Raga kepada temannya yang selalu membahas hubungannya dengan Nadya yang telah kandas bahkan sebelum papa memintanya untuk menikahi Embun.
"Alaaaaa, alasan basi nyet." sela Nino "gile bener loe nolak perjodohan, gile Embun glowing banget. Dia begitu aja sudah cakep, bagaimana banyak senyum makin naik kecantikannya."
"Cantik nggak bikin bahagia untuk apa?" Sela Julian. "Lo jangan ngandet aja Raga,lakuin sesuatu kek buat Embun berpaling kepada Loe. Bukannya diem aja kayak anak perawan."
Raga menghela nafas kesal " gimana gua bisa deketin dia. Lo liat kan dia lihat gua kayak virus yang harus dijauhi."
" oi...oi....ada berita bagus" Sela Willy tiba tiba sehinngga semuanya fokus ke arah Willy.
"Apaan?" Tanya mereka serentak.
" Raga " sahut Willy menatap Raga sambil menepuk nepuk bahu Raga. "Nadya sudah di Indo, gua liat snapgram nya."
Raga menelan air ludah nya mendengar berita kepulangan Nadya cinta pertama nya.
"Yakin deh Ga hidup lo bakalan lebih berwarna jika Nadya dan Embun bertemu" goda Ferdian membuat teman yang lain tertawa.
***