Fuse menghentikan motornya tepat di depan sebuah rumah yang terlihat seperti sebuah rumah biasa. Dia memakirkan motornya di teras rumah tersebut dan langdung masuk ke dalam rumah.
"Kamu tahu dari mana dia akan muncul?"
Ternyata sudah ada perempuan yang menunggu kedatangan Fuse. Perempuan itu bernama Epa, dialah yang tadi berbicara dengan Fuse di telepon saat Fuse sedang bersama dengan Muthia.
Fuse mengkerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Epa. Dia melakukan gerakan pantomim memberitahu kalau dia baru saja masuk ke dalam rumah.
Epa hanya memutar bola matanya sambil menghela nafas. Dia membiarkan Fuse sampai dia duduk di sofa tepat di tengah ruangan.
"Ingat Muthia Simamora yang belakangan ini selalu aku awasi dan sempat menelepon kemari?" Epa hanya mengangguk paham. "Dia bilang kalau dia dekat dengan Ridwan."
"Kamu tahu dari mana kalau itu Ridwan yang sama dengan yang kita cari?" tanya Epa lagi.
"Aku menunjukkan foto yang kupunya, dan dia mengatakan kalau foto dan Ridwan yang dia kenal memiliki wajah yang mirip."
“Kan hanya wajahnya yang mirip, itu masih bisa saja orang yang lain.”
Epa masih saja menyangkal omongan Fuse. Fuse menarik nafas panjang lalu kembali memberikan argumen kepada Epa.
“Berapa persen orang di dunia mampu menemui kembarannya dengan nama yang sama?”
Epa terdiam sejenak, memikirkan setiap kata yang dilontarkan Fuse. Ternyata ada benarnya juga perkataan Fuse. Epa pun lebih memilih mempercayai apa yang dikatakan Fuse barusan.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan dari sekarang? Jika dia tau kalau kita sudah bergerak pasti akan tambah sulit untuk menangkapnya."
Fuse tersenyum lebar kepada Epa. Dengan cepat dia mengeluarkan ponselnya dan memencek sebuah aplikasi yang sepertinya sudah dia siapkan sebelumnya.
"Tenang saja, aku sudah memberikan alat pelacak kepada Muthia."
Epa mengekerutkan dahinya. Dia heran kali ini benda aneh apa lagi yang dibuat oleh rekan satu timnya ini.
"Pelacak ini baru aku kembangkan kemarin. Memiliki cara kerja yang sama dengan perimeter kekuatan yang kita punya, kita hanya perlu melihatnya dari sini saja."
Epa memperhatikan dengan seksama. Fuse masih sibuk dengan aplikasi yang sedang dia kerjakan agar menampilkan area dari alat pelacak yang sudah diberikan kepada Muthia.
"Tunggu dulu," potong Epa.
"Kamu tidak membeli peralatan yang aneh-aneh lagi kan untuk membuat alat pelacak itu," tuding Epa.
"Tidak, tenang aja. Ini aku menggunakan alat yang ada gudang dan sisa sisa alat yang gagal kukembangkan," bela Fuse. "Ini alat yang hemat ekonomi."
"Berapa banyak yang kau buat?" Tangan Epa mulai bersandar di pinggangnya, menunjukkan sisi seriusnya.
"Kalau tidak salah ada lima," jawab Fuse singkat. "Tapi kalau tidak salah ada dua yang cacat fungsi jadi masih dalam perbaikan."
Fuse kembali lagi fokus ke layarnya. Dengan satu sentuhan terakhir, dia menekan tombol 'OKE' dan layar operasi dari alat pelacaknya sudah terpampang jelas.
"Dari sini hanya tinggal dilihat saja, jika ada titik merah disekitar titik bertuliskan ‘Muthia’, artinya ada Ridwan di sekitar Muthia. Radiusnya sekitar 10-12 meter," jelas Fuse.
Epa menatap layar itu dengan serius. Memperhatikan setiap tulisan dan tanda yang ada di dalamnya.
"Baiklah, aku paham," kata Epa setelah memperhatikan ponsel Fuse.
"Alat pelacak ini juga bisa dilihat lewat komputer yang ada di sini. Setelah ini kita tinggal menunggu esok hari saja, saat Muthia datang ke sekolah."
Epa pun mengangguk setuju. Dia sudah tak sabar, sebentar lagi mereka akan semakin dekat dengan teman SMP mereka.
∆∆∆
Muthia bangun pagi sekali kali ini. Tanpa harus dibangunkan oleh Fidel, ibunya. Dia segera pergi menuju kamar mandi dan mendahului ayahnya.
"Aku duluan ya, Yah." Putra hanya tersenyum dan mengangguk sekali untuk menanggapi.
Muthia segera masuk dan tak butuh waktu lama dia sudah selesai mandi. Dia segera berpakaian dan menggendong tasnya di punggung.
"Aku jalan ya, pamit Muthia sambil keluar rumah tanpa menyalimi kedua orang tuanya.
Fidel yang melihat itu hanya diam saja. Putra menghampiri Fidel dan menepuk pundak istrinya untuk kesekian kalinya.
"Dia masih marah padamu. Sabar lah, beri dia waktu."
Fidel mengangguk. Dia menyadari anaknya seperti itu adalah karena dirinya.
"Aku sudah menjelaskan situasi yang membuatmu harus pergi kemarin, tapi aku masih belum memberitahu yang sebenarnya kepada dia."
"Jangan, jangan beritahu dia tentang semua itu," pinta Fidel dengan nada lirih.
"Tenang saja, aku masih menyimpannya. Tapi suatu saat dia harus kita beritahu tentang kebenaran ini." Fidel mengangguk setuju dengan Putra.
"Iya, kita akan memberitahunya, saat waktu itu tiba."
∆∆∆
Lagi dan lagi, Muthia sampai di sekolah kelewat pagi. Biasanya dia akan sampai di sekolah seperti ini jika dia ingin diantar oleh ayahnya, tapi kali ini dia berangkat sendiri dan sampai layaknya diantar oleh Putra.
Alasannya sendiri kenapa datang sepagi ini adalah karena dia tidak ingin berlama-lama berada di rumahnya. Dia juga berencana agar pulang sedikit terlambat dan menghabiskan waktunya di luar rumah.
Waktu berlalu, semakin banyak anak yang datang dan memasuki kelasnya masing-masing. Muthia sedang duduk di teras dekat kelasnya menunggu Sahabatnya, Laila.
Hari semakin siang, jam sudah menunjukkan pukul 6.55, itu artinya lima menit lagi bel akan berbunyi. Muthia masih menunggu temannya datang sampai guru yang akan mengajar di kelasnya menghampiri dan menegurnya.
"Muthia nggak masuk?"
Muthia segera menoleh dan didapati gurunya menatap ke arahnya. "Iya, Bu saya masuk."
Muthia segera masuk dan duduk di bangkunya. Dia melihat ke arah meja Laila yang masih kosong.
"Tidak masuk ya," keluh Muthia pelan.
Hari berlalu begitu lama bagi Muthia. Sampai akhirnya tiba bel pulang berbunyi, Muthia masih berada di kelasnya.
Memang inginnya untuk berlama-lama pulang ke rumah, tapi jika tanpa sahabatnya, rasanya bosan juga. Sepi, rasa ingin pulang semakin besar.
Sampai kelas benar-benar kosong dia baru beranjak dari bangkunya. Sekolah mulai terasa sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih melaksanakan ekskul di hari Senin.
Muthia memutuskan untuk mampir ke minimarket terlebih dahulu, membeli minuman untuk menemani perjalanan pulangnya.
Saat memasuki minimarket, Muthia melihat Ridwan yang sedang membuka lemari minuman. Muhtia memasang wajah waspada lagi kepada Ridwan.
Dia mengambil jalan yang memutar, agar tidak berpapasan dengan Ridwan. Muthia membuka lemari minuman yang lain dan sedikit mecondongkan kepalanya ke dalam agar tidak terlihat oleh Ridwan.
Muthia melirik sedikit ke arah Ridwan, namun Ridwan ternyata sudah ada di sebelahnya dengan raut wajah yang bingung.
"Kamu sedang apa, Muthia?" tanya Ridwan.
Muthia yang tadinya memasukkan kepalanya ke dalam kulkas langsung menarik kepalanya dengan cepat.
"Nggak ngapa-ngapain."
Ridwan hanya mengangguk sambil tersenyum. Mereka pun pergi ke kasir bersama-sama. Tanpa Muthia sadari dia sudah hanyut dalam obrolan yang seharusnya dia waspadai.
"Kak Ridwan," panggil Muthia di tengah perbincangan mereka.
Ridwan hanya menoleh sambil tersenyum ke arah Muthia.
"Kenapa waktu itu, Kak Ridwan menyelamatkanku?" tanya Muthia.
Ridwan sedikit terkejut dengan pertanyaan Muthia. Ini pasti pertanyaan untuk alasan dirinya menyelamatkan Muthia Minggu lalu.
"Tidak ada alasan khusus, hanya Ingin menolong saja. Semua orang berhak untuk ditolong."
Muthia terdiam mendengar jawaban yang cukup simpel dari Ridwan.
"Kenapa kamu tanya seperti itu?" tanya Ridwan balik.
"Ya, aku hanya nanya aja. Waktu itu aku terkejut dengan mobil itu, dan untungnya mobil itu bisa berhenti, tapi tetap saja aku syok dan pingsan. Tapi, Kak Ridwan dengan baik hati mau membawaku ke puskesmas."
"Aku melakukannya secara otomatis saja, tidak usah dipusingkan," komentar Ridwan.
"Tapi tetap saja, terima kasih sudah menolongku," ucap Muthia.
"Iya sama-sama." Ridwan tersenyum ramah mendengar ucapan terima kasih Muthia.
Sampai di persimpangan jalan, mereka berpisah. Muthia merasa lega saat berpisah dengan Ridwan.
Dia merasa tidak ada yang harus dikhawatirkan dari Ridwan, tapi rasa waspadanya masih tetap dipasang untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu. Dia harap dia bisa sampai di rumah tanpa harus memikirkan hal rumit lainnya.
∆∆∆
“Fuse! Bintang! Kalian kenapa?” Epa melihat tubuh sahabatnya terkujur lemas dengan darah di sekitar mereka.
Terdengar suara tawa dari dalam bayang. Sosok itu berjalan mendekati Epa, tapi Epa tidak dapat melihat sosok itu. Perlahan tapi pasti, suara langkah kaki semakin mendekati Epa.
“Ridwan! Jangan bersembunyi! Tunjukkan diri kamu!”
Epa berteriak sambil terus melemparkan pandangannya ke sekeliling. Namun sekeliling tempat itu gelap. Berada di tempat yang sedikit cahaya dan menghadapi lawan yang bisa menghilang adalah skenario terburuk yang pernah dia hadapi.
“Aku di sini.”
Suara Ridwan yang halus namun menyeramkan membuat Epa seketika memutar kepalanya melihat ke belakang punggung, namun tidak ada siapa-siapa yang dia temukan.
‘Salah, tapi di sini.”
Epa dengan cepat memutar kembali kepalanya namun dikejutkan dengan Ridwan yang sudah ada dihadapannya dan dengan cepat mencekik leher Epa.
“Inilah resiko yang kalian terima jika berurusan denganku lebih jauh lagi.”
Cengkeraman Ridwan semakin kencang, membuat Epa mulai kesulitan bernafas. Yang bisa Epa lakukan hanyalah memejamkan matanya dan berteriak sekuat tenaga yang dia bisa.
“Tidaaaaakkkk!!!”
Mata Epa terbuka lebar, nafasnya tesengal-sengal seperti habis berlari maraton. Matanya melihat sekitar dan dia sadari dirinya sedang berada di atas kasur.
Epa memegang lehernya erat-erat. Rasanya seperti baru saja dicekik dengan kuat, padahal itu semua hanya dalam mimpi.
Epa beranjak perlahan dari kasur lalu berjalan menuju pintu kamarnya. Dia berpikir jika dia minum mungkin itu akan meredakan perasaannya yang sedang ketakutan.
Saat Epa mau membuka pintu, pintu itu tiba-tiba terbuka dengan cepat dari arah luar. Epa yang terkejut segera menjauh dan kembali memegangi lehernya.
“Kamu kenapa sayang?”
Epa tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia mengatur dulu nafasnya yang kembali tersengal-sengal akibat pintu terbuka tadi.
“Aku tidak apa-apa, Bu. Hanya mimpi buruk saja.”
“Mau Ibu temani?”
“Tidak, Bu, terima kasih. Aku mau minum dulu sebentar.”