Hai muThia, ini aku lailA.
Caku Sedang pergi berlibUr sama Keluarga, tapi sepertinya aku lupa mEmberitahumu dan pihak sekolah.
Bisa wakilkan aku memberiTahu mereka? Tolong ya, nanti aku bawa olEh oleh dari berlibur.
∆∆∆
Kembali ke waktu sekarang
Muthia sampai di sekolah sedikit lebih siang dari biasanya. Dia tau kalau Laila tidak akan datang lagi ke sekolah hari ini, jadi dia Memutuskan untuk datang ketika bel akan berbunyi. Ini sudah lebih siang dari biasanya Muthia datang.
Sesuai prediksi Muthia, Laila masih tidak datang ke sekolah. Ini sudah lebih dari seminggu Muthia melewati hari-hari di sekolah tanpa kehadiran Laila.
Muthia melewati jam pertama, lalu jam ke dua, jam istirahat dan sebelumnya. Jam jam yang tadinya bisa dilewati Muthia dengan cukup senang kini sedikit tidak senang karena Laila tidak masuk. Alasannya sendiri Muthia tidak tahu. Mungkin saja sakit atau ada urusan lain. Muthia berniat untuk menanyakannya nanti saat Laila sudah masuk sekolah.
Hari rasanya berlalu begitu lambat. Bel pulang yang sudah ia tunggu-tunggu akhirnya tiba. Muthia segera mengemas barangnya dan berjalan menuju gerbang sekolah.
Sesampainya di gerbang, jam tangan yang ia kenakan tiba-tiba berdering. Dilihatnya jam tangan itu menyala dengan warna yang berganti-ganti, itu tandanya ada telepon yang masuk. Dia menekan layar pada jam tangan itu dan memasang earphone.
“Halo, ini Bintang.”
Bintang langsung berbicara begitu telepon tersambung. Suara terdengar seperti orang yang terburu-buru.
“Iya ada apa?” tanya Muthia.
“Aku sudah menunggu di minimarket dekat sekolah. Kamu sudah pulang kan?”
Muthia mengernyitkan dahinya. Sudah lama rasanya dia tidak dijemput oleh anggota Proteen. Ini pertama kalinya semenjak dia dijemput untuk latihan pertama kali.
“Sudah. Kalau begitu aku langsung ke sana.”
Muthia segera mematikan teleponnya. Langkah kakinya langsung bergegas menuju minimarket. Di sana sudah ada seseorang dengan motor yang cukup besar berhenti tepat di depan minimarket yang terlihat cukup ramai di bagian dalam.
Orang itu tidak mengenakan helm, membuatnya mudah untuk dikenali Muthia yang ternyata adalah Bintang. Tanpa pikir panjang Muthia langsung menyebrangi jalan dan menghampiri Bintang.
“Sudah lama nunggu?” tanya Muthia basa-basi.
“Baru aja sampai,” jawab Bintang singkat.
Bintang yang melihat Muthia pun dengan sigap langsung memberikan helm kepada Muthia. Muthia segera menerima helm yang diberikan Bintang, lalu segera naik ke atas motor setelah diberi aba-aba oleh Bintang untuk naik ke atas motor. Setelah Muthia naik, Bintang langsung menjalankan motornya di jalan.
“Tumben, Kak Bintang jemput. Ada masalah apa?” tanya Muthia dengan suara sedikit keras.
“Ada yang mau dibicarakan,” jawab Bintang. “Ngomongnya nanti aja, takut nggak kedengeran.”
Muthia yang tadinya sudah menyiapkan beberapa pertanyaan langsung mengurungkan niat saat mendengar perkataan Bintang. Dalam kondisi sekarang pun dimana Bintang mengendarai motornya dengan kebut tak mungkin Muthia mengajak Bintang mengobrol.
Tak seperti saat mereka menggunakan mobil, perjalanan sekarang terasa sedikit lebih singkat. Hal itu Muthia rasakan juga saat dia ke markas Proteen menggunakan ojek online.
Tak perlu waktu lama, hanya sekitar 30 menit mereka sudah sampai di markas Proteen. Itu sudah 15 menit lebih cepat ketimbang menggunakan mobil. Muthia yang sudah beberapa kali datang ke markas sudah merasa terbiasa dengan hawa yang ada di sekitar lingkungan markas.
Muthia segera turun saat sudah sampai di markas, setelah itu diikuti Bintang yang turun belakangan. Dia menaruh helm di motor dan segera mengikuti Bintang memasuki markas yang sudah mendahuluinya.
“Fuse, Muthia sudah datang,” ucap Bintang saat membuka pintu markas.
Mata Fuse dan Epa sontak langsung melihat ke arah Muthia yang berjalan memasuki markas. Muthia yang baru sampai langsung merasa tidak enak saat melihat Fuse dan Epa yang sepertinya sedang dibebankan pikiran yang sangat berat.
“Duduklah, Mut.” Bintang mempersilahkan Muthia duduk.
Muthia pun duduk. Saat dia melihat ke depan, di hadapannya sudah bukan lagi pemandangan yang bisa dibilang nikmat untuk di pandang.
Suasana yang begitu berat, seakan-akan membuatnya ingin segera pergi dari tempat itu.
“Huh, di sini suasananya panas banget ya,” ucap Bintang menyindir.
Fuss yang mendengar ucapan Bintang hanya berdiam diri lalu memulai pembicaraan dengan Muthia. Sepertinya yang akan dia mulai adalah pembicaraan yang cukup penting.
“Mut,” panggil Fuse. Muthia menoleh ke arah Fuse.
“Kamu pasti tahu kalau temanmu, Laila sudah tidak masuk sekolah selama seminggu ini. Kamu pun Minggu kemarin sampai memintaku untuk melihat posisi temanmu, kan?”
Muthia hanya mengangguk. Itu benar dia yang meminta Fuse untuk mencari Laila. Tapi sampai sekarang pun Muthia masih belum memastikan posisi Laila lagi.
Fuse tiba-tiba meletakkan tangannya dan meletakkan kepalanya di meja tepat diantara ke dua tangannya.
“Maafkan aku lalai karena membiarkan Laila sampai diculik oleh Ridwan, aku benar-benar lalai.”
Muthia terdiam melihat tingkah Fuse. Muthia menengok ke arah Bintang, namun Bintang menyuruh Muthia melihat ke arah Epa. Muthia menoleh ke arah Epa, lalu dia juga terkejut dengan apa yang dilakukan Epa.
“Aku juga minta maaf, aku tau Laila teman terbaikmu di sekolah dan satu satunya yang akrab denganmu, maaf.”
Tangan Epa terkatup, tubuhnya sedikit membungkuk ke arah Muthia, matanya juga tertutup setengah.
“Aku juga minta maaf karena tidak bisa mencari Laila dengan cepat,” ucap Bintang tiba-tiba. Wajahnya berubah terlihat lesu.
Suasana ruangan terasa aneh bagi Muthia. Mendadak tiga orang yang pada dasarnya lebih tua darinya meminta maaf padanya. Muthia masih tidak mengerti hubungan antara permintaan maaf mereka, dirinya, dan juga Laila.
“Tunggu dulu,” potong Muthia, “kalian kenapa?”
“Sejak kamu meminta Fuse untuk melacak Laila, aku dengan iseng juga ikut memantau keberadaan Laila menggunakan pelacak di komputerku, dan tak sengaja aku melihat Ridwan yang datang ke rumah Laila secara rutin selama dua hari berturut-turut,” jelas Bintang.
“Ridwan di sana membawa Laila dan keluarganya juga, dan semenjak saat itu kami kehilangan jejak Ridwan dan juga keluarga Laila. Itu sekitar dua hari setelah kamu meminta bantuan ku,” sambung Fuse.
“Tunggu. Diculik?”
Muthia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Fuse dan Bintang. Maksudnya selama ini Laila diculik? Kenapa bisa begitu? Muthia menganga tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
“Iya, oleh sebab itu kami meminta maaf karena tidak bisa menemukan Laila, bahkan sejak kemarin kami belum bisa menemukannya,” jawab Epa.
“Tenang aja, kami akan segera menemukannya.”
“Dia sedang berliburan,” ujar Muthia tiba-tiba.
Fuse, Epa, dan Bintang saling menatap satu sama yang lain setelah mendengar ucapan Muthia.
“Liburan?” tanya mereka serentak.
“Iya,” jawab Muthia. “Aku sempat ke rumahnya kemarin, dan aku mendapat surat titipan dari Laila.”
Muthia mengeluarkan amplop yang sudah dia buka di rumah. Amplop yang berwarna putih itu terlihat sobek dibagian atasnya. Muthia mengeluarkan isi amplop itu yang masih sama dan tidak ada yang berubah.
“Justru tadinya aku mau ke sini untuk menanyakan tentang surat ini,” kata Muthia sambil meletakkan amplop itu di atas meja.
“Apa yang mau kamu tanyakan?” tanya Fuse.
“Aku sendiri tidak tau, tapi aku merasa kalau ada sesuatu di surat itu. Karena aku tidak bisa menemukannya aku ingin menanyakannya. Tapi aku sendiri yakin Laila pasti sedang berlibur.”
Bintang pun beranjak dari tempatnya dan mendekat ke belakang Fuse. Dia membaca surat itu. Matanya melotot seketika saat melihat surat itu.
“Kamu yakin kalau dia benar-benar berlibur?” tanya Epa.
“Yakin. Karena biasanya dia mengirimkan surat dan kartu pos kalau liburan bersama keluarganya. Tapi sepertinya sekarang dia tidak sempat dan menitipkannya ke tetangga.”
“Aku tidak menemukan sesuatu,” ujar Fuse. “Kamu menemukan sesuatu, Bintang?”
Bintang terdiam melihat surat itu. Matanya sangat fokus sekali. Dia baru menyahut panggilan Fuse saat surat itu dialihkan dari pandangannya.
“Iya?” Bintang bersuara dengan nada bertanya.
“Kamu tau sesuatu tentang surat itu?” tanya Fuse ulang.
“I-iya, aku tau.”
Bintang menjawab dengan terbata-bata. Kini dirinya yang masih meras tidak percaya. Dia meyakinkan dirinya dan berusaha menjawab dengan yakin apa isi surat itu yang sebenarnya dengan singkat dan padat.
“Jadi apa yang tersembunyi di surat itu?” tanya Muthia.
“Laila... Laila benar-benar diculik.”
∆∆∆
Laila terbangun dengan suara gaduh. Dia terbangun dengan suasana ruangan yang sama lagi selama seminggu ini.
Di sebelahnya ada ayah dan ibunya, sementara di sofa ada Ridho-Kakak Laila-yang masih tertidur.
Dengan gerakan perlahan, Laila berusaha turun dari kasur tanpa harus membangunkan kedua orang tuanya. Sebenarnya itu pun tidak perlu, karena orang tuanya sedang dihipnotis sejak mereka pergi dan pasti meskipun dibangunkan sekali pun, mereka pasti tidak akan bangun jika yang mengendalikan mereka tidak membangunkan mereka.
“Wah, kamu sudah bangun, Laila.” Terdengar suara seseorang dari speaker.
“Kenapa kamu ngurung kami di sini?” Laila berteriak ke arah kamera yang terpasang tak jauh dari speaker.
“Lagi-lagi pertanyaan itu lagi. Berhentilah menanyakan pertanyaan yang sama. Ini sudah ke delapan kalinya kamu bertanya seperti itu.”
“Ternyata Muthia benar, aku memang harus waspada terhadapmu, Kak.”
“Waspada? Sewaspada apapun kamu, meskipun kamu tidak pernah memberitahuku alamat rumahmu aku akan tetap tau dimana rumahmu, Laila.”
Laila berdecak kesal. Ternyata dia salah akrab dengan orang yang bernama Ridwan. Dia pun bepaling dari arah kamera, dan memutuskan untuk berpindah ruangan dari kamar menuju dapur.
“Sebaiknya kamu jangan teriak-teriak. Keluargamu sebentar lagi akan bangun, entar mereka mengira kamu gila karena berbicara sendiri.”
Ridwan langsung mematikan saluran setelah berbicara seperti itu. Laila hanya bisa menahan emosinya. Tak ada yang bisa dia lakukan untuk keluar dari ruangan itu.
“Mereka tidak akan bangun meskipun aku berteriak menggunakan speaker itu, bodoh,” bisik Laila pelan.
Jendela ruangan itu hanyalah hiasan, pemandangan yang dia lihat dibalik jendela itu hanyalah sebuah TV LED yang cukup besar. Kacanya pun tak bisa dihancurkan meskipun dihantam sekencang apapun.
Pintu yang menjadi satu-satunya akses mereka keluar dijaga ketat oleh penjaga bersenjata, dan makanan yang diantar pun juga masih dalam pengawasan.
Laila ingin segera keluar dari tempat itu. Dia tidak tau dimana dia berada sekarang. Dia berharap bisa segera kembali bersekolah dan bertemu lagi dengan Muthia.
“Muthia, kuharap kamu sudah menemukan surat itu,” ucap Laila berharap.