Bel pulang berbunyi tepat waktu. Lapangan sekolah mulai terasa ramai dipenuhi siswa yang keluar dari kelasnya.
Muthia yang masih beres-beres di mejanya segera dihampiri oleh Laila dan diajak untuk keluar bareng. Muthia dan Laila jalan pun bersama. Cukup banyak orang yang disapa oleh Laila saat pulang sekolah, tak luput Muhtia juga memberikan senyumnya.
Saat sudah keluar dari gerbang sekolah, Muthia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Dengan cepat dia segera memesan layanan ojek online untuk menjemputnya.
“Kamu bawa ponsel, Mut?”
Laila tampak terkejut saat melihat temannya ternyata membawa ponsel, sedangkan ponsel sendiri dilarang untuk di bawa ke dalam lingkungan sekolah.
“Iya, aku bawa ponsel. Lagian nggak apa-apa kan kalau dikeluarin sekarang? Kan aku udah di luar sekolah,” jawab Muthia.
Jawaban Muthia cukup masuk akal. Laila pun diam membiarkan temannya sedikit sibuk dengan ponselnya. Setelah selesai, dia segera memasukkan ponsel itu ke dalam saku roknya.
“Kok dimasukkin?”
“Aku Cuma mau pesan ojek online. Hari ini aku nggak naik angkot dulu ya, Lai.”
Laila hanya diam, namun dalam pikirannya bertanya-tanya sejak kapan sahabatnya pulang menggunakan ojek online. Laila pun memutuskan untuk menunggu ojek bersama Muthia. Mereka berbincang cukup banyak hal.
Tak butuh waktu lama, driver ojek online sudah datang menghampiri mereka.
“Muthia ya?”
“Iya.” Muthia langsung menghampiri driver itu dan menaiki motornya.
“Aku duluan ya, Lai,” pamit Muthia.
Laila hanya melambaikan tangannya ke arah sahabatnya yang sudah pergi terlebih dahulu, membiarkan dirinya ditinggal.
Laila pun melanjutkan langkahnya ke jalan utama agar bisa menaiki angkot. Saat sedang menunggu angkot yang mengarah ke rumahnya, Laila bertemu dengan Ridwan.
“Laila, kamu sendiri aja?”
Wajah Ridwan kali ini terasa agak berbeda. Wajah yang lumayan periang saat menyapanya dulu kini sedikit terlihat sedang marah, apalagi dia terlihat sedang mencari Muthia. Buktinya dia menanyakan soal Laila yang hanya sendirian.
“Iya,” jawab Laila singkat.
“Muthia kemana?” tanya Ridwan lagi.
“Katanya hari ini dia pulang pakai ojek online,” jelas Laila.
“Tumben. Ada apa memangnya?” tanya Ridwan lebih dalam.
“Aku kurang tau. Tadi dia ngasih taunya kurang jelas.”
Laila mulai waspada. Ini sudah lebih dari cukup menanyai soal orang lain meskipun kamu sendiri adalah kakak alumni dari sekolah yang sama. Laila memikirkan cara agar bisa tidak berbincang lebih lama lagi. Mengingat sikap Muthia yang selalu waspada saat ada Ridwan membuat dirinya juga ikut waspada sekarang.
Ridwan hanya bergumam panjang. Dia pun mengecek ponselnya. Jam menunjukkan pukul tiga sore.
“Sudah sore, kalau begitu aku pergi dulu ya. Kamu mau pulang kan?” Laila mengangguk. “Kalau begitu hati-hati, aku duluan ya.”
Tanpa Laila duga ternyata Ridwan jalan meninggalkannya terlebih dahulu. Laila memandangi Ridwan yang mulai menjauh. Entah kenapa Ridwan yang dia lihat sekarang tidak seperti saat dia ketemu pertama kali beberapa hari yang lalu.
“Mungkin sekarang aku harus tanya kenapa Muthia selalu waspada kalau ada Ridwan,” ucap Laila pelan.
∆∆∆
“Permisi,” ucap Muthia saat memasuki rumah utama dari markas Proteen.
“Masuk,” jawab orang yang berada di dalam.
Muthia mengenal suara itu. Itu adalah suara Epa. Epa sedang sibuk dengan laptopnya di ruang tengah.
“Kok tidak di bawah saja, Kak?” tanya Muthia.
“Aku udah di sini dari pagi. Rasanya malas untuk pindah tempat,” jawab Epa.
Muthia pun duduk di sebelah Epa. Dia melihat ke arah layar laptop. Terlalu banyak tulisan dan itu pun juga tidak ada yang dia mengerti.
“Kamu pusing ya?” tanya Epa saat melihat wajah bingung Muthia.
“I-iya,” jawab Muthia terbata-bata.
Epa pun beranjak dari sofa yang dia duduki. Tak lama dia kembali membawa dua botol minuman dingin dari dalam kulkas.
“Pilih saja mana yang kamu suka,” ucap Epa sembari meletakkan minuman itu di atas meja.
Muthia mengambil salah satu botol itu dengan acak dan membukanya. Rasanya segar sekali.
“Ini tugas sekolahku, besok sudah harus dikumpulkan jadi aku mengerjakannya sekarang.”
“Sekolah?” tanya Muthia.
“Iya.”
“Kak Epa masih sekolah?”
“Iya. Kan aku sudah bilang sebelumnya.”
“Ah iya, aku lupa. Kalau nggak salah Kak Fuse bilang dia sama Kakak satu angkatan ya.”
“Itu kamu tau.”
Ditengah perbincangan yang masih baru dan cukup seru, tiba-tiba Fuse datang dan merusak suasana yang sudah dibangun keduanya. Fuse datang dengan basa-basi yang keluar secara otomatis.
“Kalian sedang apa?” tanya Fuse spontan.
“Ini soal sekolah,” jawab Epa singkat.
“Oh Muthia sudah sampai ya.”
“Iya, baru aja,” jawab Muthia singkat.
“Jadi, Fuse, mau bahas di sini atau di bawah aja?” tanya Epa.
Muthia tidak mengerti dengan yang diucapkan Epa barusan, tapi tampaknya akan ada hal serius yang akan di bahas kali ini.
“Di sini saja deh kayaknya, soalnya di bawah masih berantakan. Bintang masih belum beresin bekas dia melatih,” sindir Fuse.
Muthia yang mendengar kalimat itu kemudian ingat dengan kejadian kemarin saat dirinya lepas kendali dan juga saat hari pertama latihan. Itu adalah hari yang kacau. Muthia pun sepertinya tidak ingin turun dan melihat seberapa berantakannya ruangan itu sekarang.
“Jadi Muthia,” kaya Fuse memulai obrolan, “sebenarnya aku ingin kamu datang ke sini hanya untuk mengakrabkan diri saja, agar terbiasa dengan kami. Tapi sepertinya Epa menemukan sesuatu yang menarik.”
Muthia sedikit heran. Apa yang selama ini dicari oleh Epa, dan kenapa harus ditujukan kepadanya. Tapi kali ini Muthia hanya diam mengikuti alur, Epa kemudian mengutak-atik laptopnya lalu sedikit di arahkan ke arah Muthia.
“Jadi tadi pagi aku mencoba mencari tahu tentang keluargamu, dan ada sesuatu yang mengganjal,” kata Epa menjelaskan.
“Mengganjal?”
Muthia sedikit memiringkan kepalanya, tidak mengerti maksud perkataan yang menyebut ada sesuatu yang mengganjal tentang keluarganya. Bagi Muthia, keluarganya baik-baik saja.
“Iya. Orang tuamu keduanya bekerja bukan?” Muthia hanya menangguk.
“Menurut data yang kucari, orang tuamu sepertinya memiliki jam kerja yang tidak sesuai dengan yang sudah ditetapkan.”
“Maksudnya?” tanya Muthia lagi.
“Misalnya ayahmu. Ayahmu pekerja kantoran kan? Bagaimana jadwal kerja ayahmu?”
“Jadwal kerja ayah? Dia selalu masuk pagi dan pulang malam, lalu dia libur biasanya Hari Rabu, di Hari Minggu kalau aku yang memintanya,” jawab Muthia singkat.
Minggu adalah hari libur baru yang ditetapkan ayahnya mulai kemarin. Tapi sepertinya dia masih ragu akan hal itu makanya dia mengatakan seperti itu, jaga-jaga kalau ternyata hari libur ayahny berubah lagi.
“Coba pikirkan ini, Muthia. Ayah kamu bekerja di kantor, bukan sesuatu yang berbentuk pelayanan masyarakat seperti di mall atau tempat wisata. Tapi beliau libur di hari Rabu bukan Minggu.”
“Sekarang kamu paham kan yang dimaksud jam kerja yang tidak sesuai?”
Epa dan Fuse bergantian memberikan penjelasan, terkesan sahut menyahut tapi Muthia apa yang dimaksud mereka berdua. Muthia hanya mengangguk tanda paham.
“Begitupun yang terjadi dengan ibumu.”
Epa membalik kembali laptopnya dan kembali mengerjakan sesuatu di sana. Dai tampak serius lalu berbicara Kembali.
“Kamu belakangan ini sedang ada masalah kan dengan ibu kamu?” ucap Epa tiba-tiba.
“Kenapa Kak Epa bisa tau?” tanya Muthia terkejut.
“Aku tau, karena aku punya kekuatan,” jawab Epa singkat.
Muthia menatap tak paham. Fuse yang melihat hal itu pun menjelaskan kepada Muthia.
“Kekuatan untuk mengetahui perasaan orang lain. Dia mampu merasakan perasaan orang yang berada di dekatnya,” jelas Fuse.
“Saat kamu ke markas Minggu lalu, rasanya seperti ada aura kekecawan dari dalam diri kamu. Setelah aku menemukan data ini, aku jadi tau apa yang sedang terjadi saat itu.”
Muthia mengangguk. Sebenarnya dia sedikit tidak paham, tapi dia tahu dasarnya. Setidaknya dia mengetahui mengapa Epa bisa tau permasalahannya.
“Sekarang kembali ke topik masalah,” kata Fuse mulai tegas. “Kamu tidak tau apa yang kamu lakukan orang tuamu selama ini?”
“Tidak.” Muthia menggeleng.
Selama ini dirinya hanya diharuskan untuk belajar. Setiap kali ingin tahu tentang pekerjaan orang tuanya, mereka selalu mengelak.
“Kalau begini rasanya semakin susah saja,” keluh Fuse.
“Ada apa memangnya?” tanya Muthia.
“Begini. Kekuatan yang kita miliki terdapat beberapa faktor. Salah satunya faktor keluarga. Aku takut ada sesuatu yang mengancam keluargamu yang membuat mereka seperti sekarang.”
“Apa?”
Muthia terkejut mendengar penjelasan Epa. Yang dia tahu kekuatan itu sudah seperti itu datang ke dirinya. Jika cukup bekerja keras untuk mengerti dengan yang diucapkan Epa.
Keluarga... berarti selama ini apakah alasan kedua orang tuanya bekerja dan membuat perasaannya seperti ini adalah untuk mengembangkan kekuatannya? Kalau begitu mungkin saja orang tuanya sudah tau kekuatan Muthia sebenarnya.
Muthia tampak mulai pusing dengan yang diucapkan Epa DNA yang sedang dia pikirkan. Rasanya dia tidak siap untuk melanjutkan perbincangan ini.