TUMBANG

1566 Kata
“Bagus, Muthia, bagus. Keluarkan semua kekuatanmu sekarang.” Ridwan berteriak kegirangan. “Semakin kuat kamu, semakin bangga orang tuamu.” Suasana tiba-tiba hening. Tak ada suara sama sekali sampai akhirnya semua barang tiba-tiba jatuh berserakan. Muthia yang tadinya mengendalikan benda-benda itu terdiam setelah mendengar perkataan Ridwan. “A... ayah dan ibu tau kalah aku punya kekuatan?” tanya Muthia tak percaya. “Tentu saja. Mereka sudah tau sejak lama. Sejak kamu kecelakaan di Bandung, saat itulah aku yang membantu biaya pengobatanmu. Apa kamu lupa dengan wajah orang yang membantu biaya rumah sakitmu, Muthia?” “Mereka sudah tau kalau aku punya kekuatan ini?” Muthia masih tidak percaya. Dia menanyakan pertanyaan yang sama lagi. “Tentu saja. Aku yang memberitahu mereka, dan aku juga yang menyuruh mereka pindah ke kota ini. Tentu saja mereka akan mau, karena mereka berutang nyawa kepadaku.” Muthia tertegun, diam membisu setelah mendengar semua ucapan Ridwan. Tekanan darahnya meningkat, sesuatu yang meluap dalam diri Muthia seolah ingin meledak. Emosi Muthia semakin membendung selama dia mendengar kalimat provokasi Ridwan. “Jadi kamu ya yang sudah membuat ibu dan ayah bekerja seperti itu,” ucap Muthia marah. “Kamu juga yang sudah membuat Laila tidak masuk sekolah selama lebih dari seminggu ini.” “Iya, bisa dibilang seperti itu.” Ridwan mengakuinya. “Tapi lihat, berkat itu kekuatan terpendammu sudah muncul, bahkan bisa lebih kuat lagi. Itu semua karena aku asal kamu tau.” “Aku juga sudah tau saat kamu bergabung dengan Proteen yang bahkan sekarang pun terlihat lebih tidak berguna. Aku sengaja membiarkan temanmu itu menulis surat meminta tolong dan menitipkan ke tetangganya, itu semua hanya agar aku bisa melihat potensi kekuatan yang sudah terbentuk di dalam dirimu.” “Tapi ternyata sudah mendekati ekspetasiku, tinggal sedikit lagi agar sesuai yang diharapkan,” jelas Ridwan panjang lebar. “Sesuai harapanmu?” “Bagaimana ya caranya? Apa aku kirim saja orang tuamu kerja di luar kota dan meninggalkanmu di sini? Mungkin saja rasa rindu bisa menambah faktor kekuatannya.” Muthia mulai semakin menguatkan kepalan tangannya. Dia terlihat mulai muak dengan semua ucapan yang keluar dari mulut Ridwan. Aura mengerikan mulai terasa kembali. Sekarang semua benda yang ada di sana sudah kembali melayang dan mengarah ke arah Ridwan. “Serang aku, Muthia.” Ridwan tersenyum lebar. “Hiiiyyaaaa!!!” tangan kanan Muthia mengarah ke Ridwan, dan seketika senjata tajam melaju cepat ke arah Ridwan. Ridwan seketika menghilang dari hadapan Muthia, dan serangan yang barusan dilakukan meleset. Semua pisau itu menghujam tembok dengan kecepatan penuh. Muthia meningkatkan kewaspadaannya. Matanya menjalar mencari kemana perginya Ridwan. Tiba-tiba lehernya terasa seperti dilingkari oleh sebuah tangan. Tangan Muthia dengan cepat memegangi tangan yang melingkari lehernya, tapi itu terlambat. “Jangan lupa kalau lawanmu bisa menghilang, Muthia.” Ridwan yang tadi sempat menghilang tiba-tiba muncul tepat di depan Muthia dengan lengan kanannya yang sudah memegang leher Muthia dengan keras, mencekeknya sampai Muthia kesulitan bernapas. “Akkhh.” Nafas Muthia tertahan. “Cuma segitu ya. Sia sia aku membuat rencana gemilang seperti ini,” keluh Ridwan. Cengkeramannya pada leher Muthia semakin kuat, membuat Muthia semakin kesulitan bernapas. Muthia memejamkan matanya. Rasanya sudah tidak tahan lagi. Nafasnya perlahan berhenti, pegangannya pada tangan Ridwan mulai melemah, pandangannya sudah mulai kabur. Rasanya sudah seperti diujung kehidupan, tak ada lagi nafas yang bisa dihirup Muthia. “Ternyata hanya segini.” Ridwan melepaskan jeratan pada leher Muthia. Muthia seketika jatuh terkapar. “Proteen juga tidak bisa apa-apa. Mereka melakukan hal yang sia-sia untuk mencariku.” ∆∆∆ “Muthia belum pulang ya?” tanya Putra saat sampai di rumah. Dilihatnya Fidel, istri kesayangannya sedang sibuk dengan masakannya di dapur. “Iya. Paling lagi ada kegiatan di sekolah,” jawab Fidel. Hari ini Putra pulang lebih cepat dari biasanya. Dia terlihat kecewa saat sampai lebih dulu dari anaknya. Padahal dia sudah berharap mendapati wajah ceria anaknya saat dia sudah sampai lebih cepat dari biasanya. Bahkan Putra juga sudah menyiapkan kejutan untuk Muthia. “Kamu bawa apaan?” tanya Fidel saat melihat kantong plastik yang dipegang Putra. “Ini gelas untuk Muthia. Dia kan punya gelas khusus buat minum, jadi aku beli satu lagi biar dia bisa ganti ganti gelas,” jawab Putra. “Oh, bagus kalau begitu. Sini kucuci dulu,” pinta Fidel. Putra menyerahkan gelas itu ke Fidel. Saat sedang memberikan gelas itu, tiba-tiba lampu di rumah itu mati. “Kok mati?” gumam Fidel. Putra diam, menengadah ke atas sambil berpikir. “Ah iya, aku lupa beli token listrik.” “Ayaaah.” Fidel memanjang nada panggilannya. “Apaaa?” Putra mengikuti gaya bicara Fidel. “Beli token listrik sekarang!” “Siap Bu Bos.” Dengan cepat, Putra segera berlari keluar rumah untuk membeli token listrik sebelum istrinya berteriak lagi dan membuat seisi rumah penuh dengan teriakan istrinya. “Untung saja masih sore,” gerutu Fidel. Fidel pun membereskan barang yang ada di atas sebisa mungkin. Penglihatannya sudah mulai kabur, jadi dia berhati-hati takut ada yang jatuh. Tanpa sengaja, ternyata yang tidak dia inginkan terjadi. Tangannya menyenggol sesuatu dan kemudian pecah. Dengan panik Fidel langsung berjongkok berusaha untuk memungut pecahan yang jatuh sebisa mungkin. Tak lama listrik sudah kembali menyala, dapur kembali diterangi cahaya lampu. Kini Fidel sudah mampu melihat apa yang tadi dia senggol. “Eh ini kan, gelas Muthia,” Fidel tertegun saat melihat yang dia pungut. Sebuah gelas dengan warna biru polos sudah pecah berserakan di lantai. Itu adalah gelas yang tadi Putra bilang, gelas yang biasa Muthia gunakan sehari-hari di rumahnya. “Semoga pecahannya nggak susah dibersihin,” gumam Fidel sambil terus mengambil beberapa pecahan kaca. ∆∆∆ Laila menatap wajah Kakaknya yang seperti tidak melihat apa-apa, karena tentu saja karena Ridho buta. Terdiam sebentar, akhirnya Ridho pun memberikan jawaban yang entah diterima atau tidak oleh Laila. “Tentu saja tidak,” jawab Ridho singkat. “Kakak tidak bohong kan?” tanya Laila penuh selidik. Sedikit ada rasa tidak puas dalam diri Laila. “Tidak. Memangnya kenapa?” kali ini Ridho yang balik bertanya. “Nggak, hanya saja saat tadi, Kakak diajak keluar sama Kak Ridwan, rasanya dia menyebut Kakak seperti sudah mengenal kakak. Kakak juga bereaksi cukup santai dan hanya menurut.” “Itu hanya spekulasi aja kali. Lagian kan posisinya kita seperti sedang diculik, tidak mungkin kita memberontak,” bela Ridho. “Lagian aku juga buta. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk melawan dalam kondisi seperti ini.” Laila mengangguk setuju. Mungkin rasa penasarannya harus sedikit dihilangkan agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan orang lain. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Rasanya hari demi hari waktu mulai berjalan sangat lambat. Padahal mereka baru diculik selama semingu, tapi rasanya sudah tidak keluar selama 3 bulan penuh. “Oiya, sekarang sudah sore ya, Laila?” “Iya,” jawab Laila singkat. “Aku mau mandi dulu.” Ridho beranjak dari tempat duduknya, membuat Laila sedikit merubah posisi duduk dan membiarkan Ridho pergi menuju kamar mandi. Laila berniat membantu kakaknya, tapi Ridho segera menolak bantuan Laila. “Aku bisa kok.” Ridho berjalan menuju kamar mandi. Saat dia mau menutup kamar mandi dia berpesan kepada Laila. “Jangan kaget ya, bentar lagi bakal ada suara aneh.” Laila tidak mengerti dengan yang dimaksud Ridho. Laila pun memutuskan untuk membaca buku yang ada di ruangan itu. Tak berselang lama, terdengar dari luar suara tembakan dan seorang pria yang berteriak, lalu disusul suara langkah kaki yang bergemuruh. Laila penasaran lalu mendekati pintu dan menempelkan telinga ke pintu itu. Tidak terdengar apa apa, namun dia terkejut saat mendengar suara dari luar. Terdengar samar, tapi dia yakin yang barusan dia dengar adalah suara Muthia. Lalu suara selanjutnya yang dia dengar ada suara Ridwan. Mereka berdua sedang mengobrol. “Muthia, aku di sini. Muthia, Muthia!” Laila berteriak sekuat mungkin, namun percuma. Karena sepertinya yang dia panggil namanya tidak menggubris sama sekali. Bahkan Ridwan yang terdengar dekat dari pintu seperti tidak mendengar suara apapun. Laila masih terus berusaha mendengar apa yang terjadi di luar. Rasanya Laila ingin sekali keluar dan mendengar pembicaraan mereka, atau bahkan segera menghampiri Muthia. Tiba-tiba terdengar seperti pisau yang menancap di tembok. Tidak satu atau dua, tapi cukup banyak, dan bertubi-tubi menghujam tembok. Rasa penasaran Laila membuat dia berusaha menendang dan memaksa untuk membuka pintu yang memisahkan dia dengan Muthia. “Jangan,” ucap Ridho sambil memegang bahu Laila. Laila terkejut, tapi kemudian menurut dengan yang dikatakan Ridho. “Jangan sampai kamu keluar dan melihat apa yang terjadi di luar. Itu bisa merubah segalanya,” ucap Ridho. Laila tidak mengerti apa yang diucapkan kakaknya, tapi dia hanya bisa menurut. Sedari dulu tindakan kakaknya bukanlah satu-satunya hal aneh yang aneh pada dirinya. Ucapannya juga selalu terdengar seperti hal aneh, bahkan terasa seperti ramalan masa depan, namun hal itu selalu terbukti benar. Jadi sekarang Laila hanya bisa menurut. “Jadi sekarang kita harus bagaimana?” tanya Laila. “Kamu mandi, sekarang sudah sore. Setelah mandi kita akan menunggu di sini sampai ada yang membuka pintu itu.” Laila mengangguk dan menurut apa yang dikatakan kakaknya. “Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah alur waktu,” gumam Ridho. ∆∆∆ “Ayah mulai sekarang libur setiap hari Minggu.” “Maafkan ibu atas kejadian Minggu lalu.” “Kamu ayah tunggu di stan makanan ya.” “Kita hari ini akan bakar-bakar.” “Ibu minta maaf atas kepergian Ibu Sabtu lalu.” “Jaga diri baik baik ya.” “Aku yakin kamu pasti bisa mengatasi masalah keluargamu.” “Hati-hati ya, Muthia.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN